Layar tablet di depan Aruna memancarkan cahaya yang terasa jauh lebih terang dari biasanya—atau mungkin itu hanya efek dari jantung yang berdegup terlalu keras. Malam itu, ia berhasil masuk ke tablet Elang menggunakan password yang sudah ia curigai sejak lama: tanggal lahir Ibu. Sebuah sentimentalitas yang tersembunyi di balik wajah keras seseorang, dan Aruna—yang tahu kakaknya lebih dari yang Elang sadari—sudah menebak ini sejak setahun lalu. Ia hanya tidak pernah punya alasan untuk membuktikannya.

Sampai sekarang.

Di dalam folder yang diberi nama generik "Dokumen Kantor 2024" ada satu subfolder yang tidak memiliki konten presentasi atau laporan bisnis: "EasyDate - Contract No. 009 - Citra Anindya."

Aruna membukanya.

Perjanjian Jasa Pendamping Profesional. Pihak Pertama: Elang Adiwangsa. Pihak Kedua: Citra Anindya. Nominal: delapan ratus juta rupiah untuk enam bulan, dibayar dua ratus juta per triwulan. Ruang lingkup pekerjaan: berperan sebagai pasangan tetap dalam acara keluarga, pertemuan sosial, dan konteks publik sesuai kebutuhan Pihak Pertama.

Aruna menyandarkan punggungnya ke kursi.

Jadi ini nyata. Bukan kecurigaan. Bukan interpretasi berlebihan dari seorang adik yang terlalu protektif. Ini hitam di atas putih, dengan tanda tangan keduanya di halaman terakhir.

Ia tertawa—tawa kecil yang getir, yang lebih terdengar seperti napas yang tersedak. "Setahun? Satu tahun kalian pacaran? Bahkan untuk berbohong pun kalian terlalu malas untuk kreatif."

Ia menutup file itu. Menaruh tablet Elang kembali di tempatnya.

Dan berdiri di kegelapan kamarnya, memikirkan bukan apakah ia akan membongkar ini—tapi kapan, dan bagaimana, dan dengan cara yang tidak akan menghancurkan Ibu yang tadi malam tertidur dengan senyum paling tulus yang sudah lama tidak Aruna lihat di wajahnya.

Tidak sekarang. Bukan dengan cara meledak.

Ada yang lebih efektif dari meledak.

Pagi yang Tegang dan Krisis yang Tidak Terduga

Pagi harinya, Aruna duduk di meja makan dengan wajah yang—bagi siapa pun yang tidak tahu—terlihat biasa. Elang ada di seberangnya. Bagas makan dengan cepat sambil melihat jam.

"Bang, gimana kalau minggu depan kita adain makan malam lagi? Kali ini ajak orang tua Citra. Kan sudah setahun, masa kita nggak kenal sama calon besan?" tanya Aruna dengan senyum yang terlalu manis—senyum yang Elang kenali sebagai senyum audit.

Elang meletakkan kopinya pelan. "Keluarga Citra di Bali, Run. Mereka sibuk."

"Oh gitu ya. Kirain ada kontrak yang melarang mereka dateng."

Ibu menoleh bingung. "Kontrak apa, Aruna?"

"Kontrak kerja Citra maksudnya, Bu. Kan dia baru mulai kerja lagi," Elang memotong cepat. Di bawah meja, tangannya yang memegang lutut sedikit menegang.

Aruna mengangkat bahu dan berdiri. "Ya udah. Hati-hati ya, Bang."

Setengah jam setelah Aruna berangkat "ke kantor", ponsel Bagas berbunyi. Ia sedang di gang belakang saat membaca pesan itu—dari Nadin, singkat dan tanpa tanda seru tapi entah kenapa terasa seperti alarm: "Gas. Ibu kambuh. Parah. Gue nggak bisa tangani sendiri."

Bagas tidak berpikir dua kali. Ia bergerak.

Yang ia temukan di dalam rumah Nadin adalah sesuatu yang tidak ada dalam pengalaman hidupnya sebelumnya: ibu Nadin melolong ketakutan pada sesuatu yang hanya bisa ia lihat, menunjuk ke sudut kamar kosong, sementara Nadin berusaha menenangkannya dengan tubuh yang sudah bergetar karena kelelahan.

"Din, obatnya mana?!"

"Habis, Gas! Uangnya kemarin kepakai buat bayar kontrakan yang nunggak!"

Bagas melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan: menelepon Baim.

Baim datang dalam sepuluh menit dengan mobil operasional EasyDate-nya—wajah kocaknya berubah serius total saat melihat kondisi ibu Nadin. Mereka bertiga membawa perempuan malang itu ke RSJ terdekat dengan deposit yang Bagas ambil dari tabungannya yang memang sudah sangat tipis.

Tabrakan Dua Dunia

Aruna menerima pesan dari Bagas saat ia sedang duduk dalam rapat koordinasi divisi. Layar ponselnya menyala dengan pesan yang membuat seluruh presentasi di depannya tiba-tiba tidak relevan: "Kak, gue di RSJ Dharma Medika. Nadin butuh bantuan. Ibunya kambuh parah."

Ia meninggalkan rapat.

Di rumah sakit, ia menemukan Bagas duduk di kursi plastik ruang tunggu dengan kaos yang kotor dan wajah seseorang yang baru saja mengalami sesuatu yang mengubah cara ia melihat dunia. Di sampingnya, Baim duduk dengan kaki yang gelisah. Nadin ada di dalam ruang administrasi.

"Bagas." Aruna berdiri di depan adiknya.

Bagas mendongak. Ada sesuatu yang berbeda di matanya—tidak ada lagi Bagas yang mencuri uang jajan tambahan atau merayu Elang untuk dibelikan sepatu. Yang ada adalah seseorang yang baru saja melewati sesuatu yang berat dan memilih untuk tidak lari.

"Lagi diurus, Kak. Tapi... Nadin hancur banget sekarang."

Aruna melangkah ke ruang administrasi. Ia melihat Nadin berdiri di depan loket dengan pundak yang bergetar. Dan tanpa berpikir panjang, Aruna memeluk sahabatnya itu dari belakang.

"Nadin... maafin gue. Gue nggak tahu."

Nadin berbalik dan menumpahkan tangisnya. "Maafin gue, Run. Gue nggak mau lo sedih."

Saat itulah, sesuatu dalam diri Aruna mengalami shift yang tidak bisa ia sederhanakan dengan kata-kata. Selama ini ia merasa paling menderita—traumanya, obat-obatannya, kepanikannya. Tapi di sini, Nadin menanggung dunia sendirian, tanpa pernah meminta apa pun, tanpa pernah mengeluh—bukan karena ia kuat, tapi karena ia terlalu takut menjadi beban.

Adrian muncul di lorong dengan jas dokter yang masih terpasang rapi—hari Rabunya memang jadwal jaga di sini. Ia melihat situasi, tidak bertanya berlebihan, dan langsung mengambil alih urusan administrasi. Tindakan yang tidak perlu diminta, tidak perlu dijelaskan, tidak perlu dibayar dengan utang emosional apa pun.

Aruna menatapnya dari jauh. Ada rasa syukur yang naik ke tenggorokan tapi tidak tahu bentuknya apa.

Kebenaran yang Tidak Menuntut Balasan

Malam itu, di kantin rumah sakit yang masih terbuka, Aruna, Bagas, dan Baim duduk bertiga menunggu update kondisi ibu Nadin. Nadin ada di kamar perawatan.

"Run," Baim mulai, hati-hati, "soal Citra... lo udah tahu?"

"Gue sudah tahu semuanya, Im."

Baim tersentak. Gelas plastiknya hampir jatuh. "Waduh. Gimana?"

"Tablet Bang Elang." Aruna menatap mejanya. "Gue baca kontraknya."

Hening sebentar. Lalu Aruna melanjutkan, dengan suara yang lebih tenang dari yang Baim harapkan: "Gue nggak bakal laporin startup lo. Tapi gue butuh tahu satu hal: siapa sebenarnya Citra? Kenapa dia mau ngelakuin ini?"

Baim menatap mejanya sebentar, lalu—dengan pertimbangan yang tampak berlangsung di wajahnya seperti film—memutuskan untuk jujur. "Citra itu anak orang kaya di Bali. Pengusaha hotel besar. Dia kabur karena mau dijodohin sama rekan bisnis ayahnya. Dia butuh uang cash yang nggak bisa dilacak keluarganya. Makanya dia masuk ke gue."

Aruna menyerap informasi itu dengan tenang. Citra—yang selama ini ia anggap berkhianat demi uang—ternyata sedang melakukan hal yang persis sama dengan apa yang Aruna sendiri ingin lakukan tapi tidak pernah punya keberanian: melarikan diri dari penjara emas yang dibuat atas nama keluarga.

Bedanya, Citra melakukannya. Dan dalam pelariannya, ia secara tidak sengaja mendarat di penjara emas yang sama—dengan akses ke ruang makan yang sama, dengan taplak renda yang sama, dengan ekspektasi yang sama.

Dunia ini kecil. Dan ironisnya tidak pernah berhenti terasa seperti sengaja.

Malam di Teras

Larut malam, Aruna pulang sendirian. Elang menunggu di teras—wajahnya menampilkan campuran lega dan khawatir yang, dalam situasi lain, mungkin akan Aruna anggap menyentuh.

"Lo dari mana aja, Run? HP nggak aktif."

Aruna berhenti di depannya. Menatap wajah kakaknya—wajah yang mewarisi struktur tulang ayahnya tapi ekspresi ibunya, dan yang selama bertahun-tahun ia baca sebagai "dingin" tapi malam ini terlihat seperti sesuatu yang jauh lebih manusiawi: takut.

"Bang," kata Aruna pelan. "Kontrak itu. Gue tahu."

Elang mematung.

"Gue tahu semuanya. Tapi gue nggak bakal bongkar sekarang. Bukan karena gue maafin kalian—" ia mengambil napas, "—tapi karena gue baru sadar bahwa kita semua di rumah ini sebetulnya cuma orang-orang kesepian yang takut jujur."

Aruna masuk ke dalam, meninggalkan Elang yang berdiri di teras dengan angin malam yang bergerak di antara pohon-pohon kamboja.

Di rumah nomor 09, Aira baru saja menyelesaikan satu kalimat terakhir dari bab terbarunya: "Kadang, rahasia adalah satu-satunya cara kita melindungi orang yang kita cintai, meski itu menyakiti kita sendiri." Ia menyimpan file-nya, menatap layar yang gelap sesaat, lalu melirik ke jendela. Baim baru saja pulang dengan langkah yang lelah tapi mata yang lega. Aira menatapnya dari balik gorden yang hanya terbuka setengah jari.

Besok, mungkin ia akan membuka gordennya lebih lebar.