Pagi harinya, Aruna turun ke meja makan dengan mata yang bersih—semalam ia menangis, tapi ia juga tidur, dan tidur adalah hadiah yang jarang ia dapatkan dalam kondisi normal. Ada sesuatu yang ironis dari fakta bahwa justru malam paling menyakitkan dalam beberapa bulan terakhir memberikan tidur yang lebih solid dari biasanya. Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam lama, ada sesuatu yang konkret untuk ia hadapi—bukan hantu samar dari masa lalu, tapi kenyataan yang terdefinisi dengan jelas.
Elang sudah ada di meja. Tabletnya terbuka, kopi di tangan kanan, dan wajahnya menampilkan ekspresi netral yang sudah Aruna hafal—ekspresi orang yang sedang mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan sekaligus.
"Pagi, Run. Tidur nyenyak?" tanya Elang tanpa menoleh.
"Nyenyak banget, Bang. Saking nyenyaknya, aku sampai dapet pencerahan," jawab Aruna sambil duduk di seberangnya dengan gerakan yang jauh lebih tenang dari malam sebelumnya. Ia meraih segelas air dan menatap Elang di atas bibir gelasnya. "Ngomong-ngomong. Citra bilang kalian sudah pacaran setahun, kan?"
"Iya."
"Aneh ya. Setahun itu 365 hari. Aku sama Citra itu sahabat yang tahu warna sikat gigi masing-masing. Tapi selama 365 hari itu, tidak ada satu foto kalian di HP dia. Tidak ada satu momen di mana dia ijin telat jemput aku karena harus kencan sama kamu." Aruna menyesap airnya. "Kalian mainnya bersih banget, atau kalian memang jago sulap?"
Elang meletakkan tabletnya. "Cinta nggak selamanya harus dipamerin di media sosial atau diomongin ke orang lain, Run. Gue cuma mau lindungin Citra."
"Lindungin dia atau lindungin kebohongan kalian?"
"Aruna, sudah. Ini masih pagi," tegur Ayah yang baru masuk.
Aruna berdiri dengan senyum yang terlalu manis. "Tentu, Yah. Aruna berangkat kerja dulu." Ia mengambil tas dan kunci mobilnya. "Hati-hati ya, Bang. Jangan sampai ada pasal yang terlanggar."
Elang menatap punggung adiknya—merasakan kalimat terakhir itu menggantung di udara seperti asap yang tidak bisa dikipas pergi.
Misi di Pos Ronda
Aruna tidak mengarah ke kantornya. Mobilnya berbelok di tikungan ketiga menuju rumah Pak RT, di mana ia menemukan Baim sedang mencuci motor besar dengan sabun dan senyum yang mengambang-ambang antara bahagia dan bersalah—konfigurasi wajah yang Aruna, yang sudah kenal Baim sejak kecil, bisa baca tanpa kode.
"Waduh, Neng Aruna! Tumben mampir pagi-pagi. Mau nyari surat domisili apa mau nyari jodoh?"
Aruna turun dari mobil. Kacamata hitamnya masih bertengger di hidung. "Gue mau nanya satu hal, Im. Jawaban jujur. Kalau lo bohong, gue laporin ke bokap lo soal lo yang sering balapan liar di BSD."
Baim langsung meletakkan sponsnya. "Galak amat. Oke, nanya apa?"
"Cewek yang dibawa Bang Elang semalam. Citra. Lo yang ngenalin?"
Ada jeda. Satu detik yang terlalu lama untuk sebuah "tidak."
"Ya... dia emang kerja di salah satu relasi bisnis gue, Run. Kenapa emang? Cantik kan? Cocoklah sama si Elang yang kaku kayak kanebo kering."
"Kerja di mana? Setahu gue Citra itu freelance desainer."
"Aduh, gue mana hafal semua portofolio orang—"
"Baim."
Satu kata. Dengan volume yang rendah dan tekanan yang bisa menghentikan debat DPR. Baim menutup mulutnya.
"Lo terlibat dalam skenario ini, kan?" Aruna menatap matanya. "Gue nggak butuh konfirmasi. Gue cuma butuh tahu seberapa dalam lo ikut di dalamnya, supaya gue bisa tentukan seberapa marah gue sama lo nantinya."
Baim menghela napas panjang seperti orang yang baru saja kehilangan argumen satu-satunya. "Run... gue nggak bisa kasih detail. Ada kontrak kerahasiaan. Tapi yang bisa gue bilang adalah—ini lebih kompleks dari yang lo pikir. Citra bukan orang jahat. Elang juga. Ini... situasi yang semua orang masuk karena alasan yang menurut mereka masing-masing masuk akal."
Aruna mencerna jawaban itu. "Itu jawaban paling jujur yang lo bisa kasih?"
"Dari gue? Iya. Dari orang yang lebih tahu? Lo harus ngomong sama Citra atau Elang langsung."
Aruna mengangguk pelan. "Oke." Ia kembali ke mobilnya, membuka pintu, lalu berbalik satu kali lagi. "Dan Baim—makasih karena nggak bohong sepenuhnya. Itu lebih dari yang bisa gue minta dari kebanyakan orang hari ini."
Baim menatap mobilnya yang berbelok pergi, lalu menarik napas. "Anak itu akan jadi detektif paling berbahaya di Jakarta kalau dia mau," gumamnya pada motor yang sedang bercanda.
Bagas: Dari Patah Hati ke Tanggung Jawab
Sementara itu, Bagas sudah ada di gang belakang kompleks—bukan di kampus, bukan di kantor freelance imajiner yang ia ceritakan tadi pagi. Tas punggungnya berisi kotak susu protein, roti gandum, dan beberapa obat-obatan dasar yang ia beli menggunakan uang hasil kurir kemarin. Dua ratus ribu rupiah yang hari ini ia belanjakan untuk orang lain.
Ia berdiri di depan rumah Nadin. Suara radio tua dari dalam. Langkah kaki di lantai papan yang berderit.
Nadin muncul dari balik pintu dengan celemek plastik dan wajah yang, dalam kosakata lain mungkin akan disebut "sabar," tapi Bagas melihatnya sebagai sesuatu yang lebih akurat: lelah yang sudah melampaui titik keluhan.
"Bagas? Lo beneran dateng?"
"Gue bukan cowok yang cuma jago ngomong, Din." Ia menyerahkan tas plastiknya. "Ini buat Ibu. Dan ini buat lo. Lo harus makan yang bener biar nggak pingsan."
Nadin menerima pemberian itu dengan ragu. "Gas, ini mahal. Gue nggak bisa—"
"Anggap aja investasi. Gue mau belajar jadi orang dewasa, dan orang dewasa itu harus bisa bantu temannya yang lagi susah."
Ia dipersilakan masuk. Rumah itu bersih—lebih bersih dari banyak rumah mewah yang pernah Bagas kunjungi sebagai tamu kakaknya—tapi kecil dan sunyi dengan cara yang terasa seperti sunyi yang sengaja diciptakan, bukan dipilih. Di kursi goyang dekat jendela, seorang wanita paruh baya duduk sambil menatap ke arah yang tidak ada—matanya terbuka tapi tidak melihat ke sana.
"Tadi pagi sempat ngamuk karena nyari Ayah," bisik Nadin. "Sekarang sudah tenang."
Bagas duduk di kursi kayu kecil. Ia tidak tahu harus berkata apa—bukan karena ia tidak peduli, justru karena ia terlalu peduli dan kata-kata terasa tidak cukup. Akhirnya ia berkata sesuatu yang sederhana dan jujur: "Kenapa lo nggak cerita sama Kak Aruna? Dia sahabat lo."
"Karena Aruna itu rapuh, Gas." Nadin menatap lantai. "Lo tahu sendiri kan, dia ke psikiater. Dia punya trauma yang bikin dia sering panic attack. Kalau gue cerita soal Ibu, gue takut dia malah makin terbebani. Persahabatan kita adalah satu-satunya hal normal dalam hidupnya. Gue mau tetap jadi bagian dari hal normal itu buat dia."
Bagas terdiam. Selama ini ia melihat Aruna sebagai kakak yang galak, yang menyebalkan, yang selalu tahu lebih banyak dari yang seharusnya. Ia tidak tahu—benar-benar tidak tahu—bahwa di balik semua ketajaman itu ada seseorang yang sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak bisa ia tunjukkan kepada siapa pun.
"Gue bakal bantu lo, Din. Setiap pagi sebelum kampus, gue bakal ke sini. Gue bisa bantu angkat-angkat atau jaga Ibu pas lo harus kerja," tawar Bagas.
Nadin menatapnya lama—dengan pandangan yang tidak bisa sepenuhnya dibaca tapi mengandung sesuatu yang menyerupai kepercayaan yang belum tuntas diverifikasi. "Makasih, Gas. Lo beneran penyelamat hari ini."
Bagas tersenyum. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa ukuran itu pas. Bukan "si bungsu yang ditolong." Bukan "anak Pak Santoso yang dimanja." Hanya seseorang yang berguna, yang ada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, karena ia memilih untuk ada.
Pertemuan di Teras Rumah Nomor 07
Sore hari, Aruna pulang lebih awal. Ia melewati rumah nomor 07 dan melihat sesuatu yang membuat mobilnya melambat: Lulu, anak empat tahun berambut keriting itu, sedang duduk di teras sambil menggenggam selembar kertas gambar yang ia jaga seperti dokumen penting.
"Tante Una!" Lulu berdiri begitu melihat mobil Aruna. "Tante Una! Ini! Gambar Lulu!"
Aruna terpaksa parkir dan mendekat. Gambar yang dimaksud Lulu adalah tiga sosok berbentuk lidi yang berdiri berjejeran di atas garis yang mungkin tanah atau mungkin meja—sulit dibedakan. Di bawah sosok pertama tertulis "PAPA" dengan huruf kapital semua, di tengah "LULU", dan di kanan "TANTE UNA" yang huruf N-nya terbalik.
"Kenapa ada Tante di situ, sayang?" tanya Aruna sambil berjongkok.
"Karena Tante Una cantik. Dan Papa bilang Tante Una butuh banyak pelukan," jawab Lulu dengan kepercayaan diri anak kecil yang belum mengenal konsep filter sosial.
Aruna melirik ke atas. Adrian berdiri di ambang pintu dengan ekspresi tenang yang—ia mulai curiga—memang bawaan lahir dari pria ini. Tangannya memegang dua gelas teh.
"Dokter," kata Aruna sambil berdiri, "jangan ajarkan anak kecil untuk terlalu jujur."
"Kejujuran itu menyembuhkan, Aruna," sahut Adrian. "Saya lihat kamu lagi banyak pikiran. Mau cerita?"
Mereka duduk di teras. Lulu sibuk meniup gelembung sabun di sudut halaman. Teh yang diberikan Adrian terasa seperti teh biasa—panas, sedikit pahit—tapi cara ia memberikannya, tanpa meminta imbalan cerita, tanpa tatapan yang menilai, membuat Aruna merasakan otot di bahunya yang sudah tegang sejak semalam akhirnya sedikit mengendur.
"Adrian," panggilnya. Tanpa "Dok"—untuk pertama kali.
"Ya?"
"Apa mungkin seseorang yang kita percaya selama bertahun-tahun ternyata menyimpan sesuatu yang besar dari kita, dan alasan mereka menyimpannya justru karena mereka peduli?"
Adrian menatap teh di tangannya. "Mungkin. Tapi itu bukan berarti rasa sakitnya jadi lebih kecil. Kamu boleh terluka sekaligus mencoba mengerti. Dua hal itu bisa berjalan bersamaan."
Aruna tidak menjawab. Ia menatap Lulu yang berlari mengejar gelembung sabun yang tertiup angin—berlari dengan seluruh tubuhnya, tanpa menyimpan tenaga untuk nanti, tanpa rencana cadangan. Seperti anak kecil yang tidak tahu bahwa tidak semua yang dikejar bisa ditangkap.
Mungkin itu yang paling ia rindukan dari dirinya sendiri.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar