Suara deru hujan yang menghantam atap beton auditorium perlahan memudar saat aku melangkah keluar dari gedung Fakultas Bisnis. Atau mungkin, telingaku yang mendadak tuli sementara karena tekanan darah yang memompa terlalu keras di gendang telingaku.
Udara dingin Santa Barbara langsung menyapu wajahku, membawa aroma petrikor dan aspal basah. Adrenalin yang sejak tadi mendidih di pembuluh darahku—yang memberikanku keberanian gila untuk memaki seorang pewaris perusahaan raksasa di depan wajahnya—kini menguap dengan cepat, meninggalkan cangkang tubuhku yang gemetar dan kelelahan.
Aku bersandar pada dinding bata di luar gedung, membiarkan ranselku melorot dari bahu. Tanganku yang dingin naik dengan gemetar, menyentuh pangkal leherku.
Akh. Sensasi terbakar langsung menyengat ujung jariku. Tekanan jari-jari Tyler yang brutal tadi telah meninggalkan jejak yang sangat nyata. Kulit di sekitar tulang selangkaku terasa bengkak dan berdenyut selaras dengan detak jantungku.
Aku memejamkan mata, menggigit bibir bawahku kuat-kuat untuk menahan air mata yang mendesak keluar. Aku menolak menangis. Menangis berarti mengakui bahwa dia telah berhasil mematahkanku. Ibuku tidak pernah membesarkan anak perempuan yang luluh lantak hanya karena cengkeraman seorang laki-laki arogan yang sedang tantrum.
Aku mengambil napas dalam-dalam, mengatur ritme paru-paruku yang berantakan.
Dia yang hancur, Cordelia. Bukan kamu, bisik rasionalitasku. Aku telah melihat bagaimana sorot mata tiran itu berubah menjadi kengerian yang tidak terbantahkan saat dia menatap tangannya sendiri. Aku telah melihat fondasi egonya retak dan runtuh. Tyler Vance baru saja menyadari bahwa topeng monster yang ia banggakan telah menempel terlalu erat hingga menembus dagingnya.
Aku membenarkan letak kerah jaketku, menariknya ke atas untuk menyembunyikan kulit leherku yang mulai berubah warna menjadi kemerahan, lalu melangkah menerobos hujan menuju halte bus. Aku masih punya shift kerja, dan memar di leher ini tidak akan membayar tagihan pemanas ruanganku bulan depan.
Di sudut tempat parkir timur kampus yang temaram, hujan badai turun dengan brutal, menyapu bersih semua orang dari jalanan.
Sebuah mobil SUV hitam pekat dengan kaca film gelap terparkir serampangan, nyaris memakan dua garis batas parkir. Di dalam kabin mobil beraoma kulit dan cedarwood yang mencekik itu, Tyler Vance sedang kehilangan kewarasannya.
Kedua tangannya yang besar mencengkeram setir mobil berbalut kulit itu dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, nyaris merobek lapisannya. Napasnya terdengar kasar, pendek-pendek, dan putus asa. Paru-parunya seolah menolak menarik oksigen. Udara di dalam mobil terasa terlalu padat, terlalu sempit, menekan tulang rusuknya dari segala arah.
Dia mengalami serangan panik. Sebuah serangan panik yang sangat hebat dan mematikan.
Tyler memejamkan matanya rapat-rapat, tapi kegelapan di balik kelopak matanya justru memutar ulang memori mengerikan itu seperti kaset rusak.
Dia merasakan kembali sensasi kulit leher Cordelia di bawah telapak tangannya. Dia mengingat bagaimana jarinya menekan daging gadis itu, bagaimana Cordelia tidak mengerang kesakitan, dan yang paling parah... dia mengingat sepasang mata cokelat terang itu menatapnya tanpa secercah pun rasa takut. Mata gadis itu menatapnya dengan kekecewaan dan rasa iba.
Kamu hidup dalam bayang-bayang seseorang... dan ketakutan terbesarmu adalah perlahan-lahan berubah menjadi orang itu..
Suara Cordelia menggema di kepalanya, tumpang tindih dengan suara rintik hujan yang menghantam kaca depan mobilnya. Kata-kata itu seperti asam sulfat yang disiramkan langsung ke atas luka terbukanya.
Tyler membuka mata, terengah-engah mencari udara. Matanya liar, memindai kabin mobil seolah mencari jalan keluar dari tubuhnya sendiri. Tanpa sadar, dia menatap kaca spion tengah. Di sana, melalui pantulan yang temaram, dia melihat wajahnya sendiri.
Dia melihat garis keloid yang melintang kejam di pipi kirinya. Luka yang ayahnya berikan padanya sebagai sebuah "pelajaran".
Tiba-tiba, pantulan di cermin itu berubah. Itu bukan lagi wajahnya. Melainkan wajah Nathaniel Vance, sang konglomerat kejam. Ayahnya menatapnya dengan senyum merendahkan yang sangat khas, seolah pria tua itu sedang duduk di kursi belakang mobilnya saat ini juga.
"Kamu bisa berpura-pura menjadi mahasiswa pemberontak sesukamu, Tyler," gema suara bariton ayahnya mengiris isi kepalanya, "Tapi darah yang mengalir di nadimu adalah darahku. Kamu akan menghancurkan apa pun yang mencoba mengubahmu. Kelemahan punya harga, dan kamu membayarnya malam ini."
"Shut the fuck up!" geram Tyler, suaranya pecah dan bergetar.
Dia menghantamkan tinjunya ke setir mobil dengan tenaga penuh. Bunyi klakson berbunyi pendek, tertelan oleh suara guntur di luar. Dia memukulnya lagi, dan lagi, membiarkan rasa sakit di buku-buku jarinya mengalihkan rasa sesak di dadanya.
Tyler menyandarkan kepalanya ke setir, napasnya tersengal. Bahu lebarnya gemetar hebat.
Selama bertahun-tahun sejak kematian ibunya, Tyler telah membangun dinding beton yang sangat tebal untuk mengisolasi dirinya dari rasa sakit. Dia memilih untuk menjadi tiran, menjadi delinquent bergelimang harta yang ditakuti semua orang di kampus ini, karena itu adalah satu-satunya cara untuk memastikan tidak ada yang berani mendekatinya. Dia mengusir orang-orang dengan rasa takut sebelum mereka punya kesempatan untuk meninggalkannya, atau lebih buruk, mengasihininya.
Namun, Cordelia berbeda. Gadis miskin dari Seattle itu menolak dindingnya. Gadis itu tidak takut padanya. Gadis itu menatapnya dan melihat sisi kemanusiaannya yang paling rapuh. Cordelia adalah satu-satunya entitas di dunia ini yang memperlakukannya seperti manusia biasa.
Dan apa yang baru saja dia lakukan?
Dia mencekik gadis itu. Dia menggunakan kekuatan fisiknya yang jauh lebih besar untuk menyakiti wanita yang sama sekali tidak bersenjata, hanya karena egonya tidak sanggup menerima kenyataan.
Dia telah menjadi monster yang sama dengan pria tua yang selalu ia benci.
Ponsel di konsol tengah mobil bergetar berulang kali. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Marco'. Tyler mengabaikannya. Dia mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin dan sisa air hujan dengan kasar. Tangannya masih gemetar. Perasaan jijik pada dirinya sendiri menggerogoti perutnya hingga dia merasa mual.
Malam itu, di dalam mobil mewahnya yang dingin, Tyler Vance meringkuk, sendirian, menyadari bahwa dia baru saja menghancurkan satu-satunya jangkar kewarasannya.
Keesokan harinya, langit Santa Barbara belum juga kehabisan air matanya.
Hujan turun dengan ritme konstan yang membuat hawa dingin menusuk tulang. Aku duduk di kelasku dengan secangkir kopi hitam panas yang kubeli dari kantin seharga dua dolar, menempelkan cangkir kertas itu ke telapak tanganku untuk mencari kehangatan.
Aku mengenakan sweter rajut turtleneck berwarna hitam hari ini. Kerah tingginya melingkari leherku dengan rapat, menyembunyikan memar keunguan berbentuk sidik jari yang kini tercetak jelas di atas tulang selangkaku. Setiap kali aku memutar kepala terlalu cepat, rasa nyeri itu mengingatkanku pada kejadian kemarin sore di auditorium.
Dosen mulai membagikan salinan materi untuk dikerjakan. Ratusan mahasiswa fokus pada kertas mereka. Tapi fokusku terpecah.
Tanpa bisa kukendalikan, mataku melirik ke arah belakang kelas. Ke barisan teratas yang biasanya menjadi zona radiasi mematikan.
Kursi di sudut itu kosong.
Hanya ada Marco yang duduk di sana sendirian. Pria berkemeja rapi itu terlihat sangat tegang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, dan dia terus mengecek layar ponselnya setiap lima menit sekali.
Tyler tidak datang.
Ini adalah sesuatu yang sangat tidak biasa. Tyler mungkin seorang bully dan tiran, tapi secara akademik, dia memiliki kehadiran yang cukup konsisten—sebuah syarat dari ayahnya agar aset keuangannya tidak dibekukan. Absennya Tyler hari ini membuat rumor baru menyebar seperti api. Ada yang bilang dia kembali terlibat perkelahian di luar kampus, ada yang bilang dia dikeluarkan.
Namun, melihat raut wajah Marco yang cemas, aku tahu kebenarannya. Tyler tidak sedang mencari masalah. Tyler sedang bersembunyi.
Aku memutar pulpenku dengan gelisah. Sensasi kasar dari sweter turtleneck yang bergesekan dengan memarku membuatku meringis pelan. Dia menyakitiku secara fisik, sebuah tindakan yang tidak bisa dimaafkan.
Tetapi, kenapa ada rasa bersalah yang diam-diam menyusup ke dalam hatiku?
Aku mengingat kembali rentetan kalimat yang kulontarkan kemarin. Kamu bukan monster, Tyler. Kamu hanya memakai topeng monster itu karena kamu terlalu takut menghadapi apa yang sebenarnya mengejarmu.. Aku telah menelanjangi trauma masa lalunya. Kata-kataku mungkin tidak meninggalkan bekas memar di lehernya, tapi secara psikologis, aku telah menguliti pria itu hidup-hidup.
"You good, Cordelia?"
Teguran pelan itu mengagetkanku. Aku menoleh ke sebelah kanan. Marco entah sejak kapan sudah berpindah tempat duduk, menyelinap ke kursi kosong di sebelahku.
Aku menatap Marco dengan waspada, menarik kerah sweterku sedikit lebih tinggi. "Aku baik-baik saja, Marco. Kenapa nanya?"
Marco menghela napas berat. Matanya, yang selalu terlihat lebih rasional daripada Tyler, menatapku lurus. "Tyler tidak bisa dihubungi sejak kemarin sore."
"Aku bukan babysitter-nya," balasku dingin, "Kalau anak emas itu mau bolos kelas, bukan urusan aku."
"Anak-anak fraternity udah nyari dia keliling kota dari semalam," bisik Marco, menolak menghentikan penjelasannya. "Mobilnya ketemu terparkir asal-asalan di pinggir pantai utara subuh tadi. Pintunya nggak dikunci, kuncinya masih nempel di dashboard, tapi Tylernya nggak ada. HP-nya mati total."
Aku menelan ludah. Rasa nyeri kembali menjalar di leherku. "Lalu?"
Marco mencondongkan tubuhnya. "Gue nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua kemarin, Cordelia. Tapi Tyler nggak pernah lari dari masalah. Kalau dia marah, dia ngamuk dan ngancurin barang. Tapi kalau dia menghilang dan ninggalin mobilnya gitu aja... itu berarti kepalanya lagi bener-bener kacau. Gue cuma harap dia nggak ngelakuin hal bodoh."
Kata-kata Marco membungkamku.
Aku tidak membalas apa pun sampai kelas itu bubar. Kata-kata Marco terus berdengung di telingaku, beradu dengan suara hujan yang turun semakin lebat di luar sana. Tyler Vance, pangeran kampus yang arogan itu, menghilang.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar