Suara dosen di depan auditorium pagi tadi hanya tertinggal sebagai dengung lebah yang samar di telingaku. Selama sisa hari ini, fokusku secara memalukan tersedot oleh kotak sandwich mahal dan botol jus jeruk kosong yang kini sudah bersemayam di tempat sampah. Benda-benda itu adalah sebuah anomali. Sebuah glitch mematikan dalam simulasi kehidupan Tyler Vance yang selama ini dikalibrasi hanya untuk kekerasan dan intimidasi.
Aku memakan sandwich itu sampai habis di jam istirahat. Daging panggang artisan itu terasa seperti campuran antara rasa bersalah dan permintaan maaf yang disamarkan dengan ego pria yang terluka. Aku memakannya bukan karena aku memaafkannya atas ancaman di loker kemarin, melainkan karena kebanggaan dan harga diri tidak akan pernah bisa mengenyangkan perut kosong. Di duniaku, nutrisi gratis adalah mekanisme bertahan hidup.
Sore ini, matahari Santa Barbara mulai condong ke barat, melemparkan cahaya keemasan yang menembus jendela kaca patri perpustakaan pusat UC Santa Barbara. Perpustakaan ini adalah sebuah labirin megah yang terbuat dari kayu jati berpelitur gelap, memancarkan aroma kertas tua, debu halus, dan keheningan akademik yang menenangkan.
Langkah kakiku yang terbalut sepatu kanvas nyaris tidak bersuara di atas karpet tebal saat aku berjalan menyusuri lorong menuju area belakang. Sesuai kesepakatan sepihak tadi pagi, kami akan mengadakan pertemuan kelompok untuk tugas rantai pasokan.
Aku menemukan Tyler dan Marco di barisan paling ujung, di area referensi yang jarang dilewati mahasiswa. Mereka duduk di sebuah meja kayu panjang yang membelakangi dinding batu.
Mataku langsung bekerja secara otomatis, mengumpulkan data perilaku.
Tyler duduk dengan gaya khasnya: tubuh besar yang bersandar kaku, kaki terentang lebar di bawah meja, dan jaket kulit hitam yang tersampir di sandaran kursi. Namun, yang menarik perhatianku adalah posisi duduknya. Dia sengaja memilih kursi yang memberikan pandangan 180 derajat ke seluruh area perpustakaan. Punggungnya terlindungi oleh dinding, dan matanya terus bergerak secara berkala, memindai setiap orang yang masuk atau keluar dari lorong rak buku.
Dia tidak bertingkah seperti raja yang menguasai istananya. Dia bertingkah seperti seorang buronan yang menunggu eksekutornya tiba.
Marco duduk di seberangnya, sudah membuka laptop dan menyusun beberapa buku referensi tebal. Saat aku mendekat, Marco mendongak dan mengangguk pelan. Aku menarik kursi di sebelah Marco, secara otomatis memosisikan diriku berhadapan langsung dengan Tyler.
"Kamu telat dua menit," kata Marco, nada suaranya profesional.
"Bus kampus tertahan parade fraternity di blok utara," balasku datar, mengeluarkan buku catatanku dan meletakkannya di atas meja. "Aku udah buat kerangka untuk mitigasi risiko rantai pasokan farmasi. Sesuai kesepakatan."
Aku menggeser catatanku melintasi meja. Marco mengambilnya, matanya dengan cepat memindai tulisanku. Namun, Tyler sama sekali tidak menatap kertas itu.
Mata kelamnya, yang masih menyembunyikan badai yang sama seperti semalam, terkunci sepenuhnya pada wajahku. Dia tidak repot-repot menyembunyikan fakta bahwa dia sedang mengawasiku. Tatapannya menelusuri garis rahangku, turun ke kerah bajuku, lalu kembali ke mataku. Ada sesuatu yang menekan dan menuntut dari tatapan itu, seolah dia sedang berusaha mencari tahu apakah kotak sandwich tadi pagi telah berhasil membeli ketakutanku atau tidak.
"Fokus kita ada di disrupsi jalur dingin," kataku, mengabaikan tatapan Tyler yang membakar kulitku dan memilih berbicara pada Marco. "Vaksin dan insulin butuh suhu konstan. Kalau truk logistik rusak di tengah jalan, atau suhu gudang berubah satu derajat saja karena mati listrik, produk itu otomatis jadi sampah. Itu titik lemah bisnis ini. Kita butuh protokol darurat untuk generator cadangan dan rute pengalihan."
Marco mengangguk setuju, jari-jarinya mulai mengetik dengan cepat di keyboard. "Masuk akal. Aku akan masukkan data statistik kegagalan logistik farmasi di Amerika Selatan sebagai studi kasus."
"Kenapa lo pilih farmasi?"
Suara berat dan serak Tyler tiba-tiba memecah diskusi akademis kami. Nada suaranya rendah, nyaris seperti geraman yang dipaksa keluar.
Aku mendongak, mempertemukan mataku dengan matanya. Tangannya yang besar dan berhiaskan urat-urat biru sedang memainkan sebuah pulpen perak yang tampak sangat mahal. Dia memutar-mutar pulpen itu di antara jemarinya dengan gerakan ritmis yang menggelisahkan.
"Karena itu bidang yang paling aku pahami risikonya," jawabku jujur, menolak memalingkan wajah. "Ibu aku perawat UGD. Aku tumbuh besar di lorong rumah sakit. Aku tau persis gimana kacaunya sebuah ruangan kalau kiriman obat analgesik atau persediaan darah nggak datang tepat waktu. Di bisnis lain, keterlambatan logistik bikin perusahaan rugi uang. Di farmasi, keterlambatan bikin orang mati."
Tyler terdiam. Putaran pulpen di tangannya melambat. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan sikunya di atas meja kayu. Jarak di antara kami menyempit.
"Lo obsesif sama keamanan, Vasquez," ucapnya. Tatapannya menukik tajam, mencoba menguliti jalan pikiranku. "Semua draf yang lo tulis isinya cuma soal 'mitigasi', 'rencana cadangan', 'perlindungan', dan 'kegagalan sistem'. Lo nggak percaya sesuatu bisa jalan lancar tanpa ada yang hancur, ya?"
Pertanyaan itu membuat tanganku yang sedang memegang pensil terhenti. Itu adalah observasi psikologis yang sangat tajam. Terlalu presisi untuk seorang pria yang reputasinya hanya dibangun dari tulang rusuk orang yang dipatahkannya.
Aku bersandar di kursiku, menatap lurus ke dalam pupil matanya yang melebar. "Di duniaku, Tyler, kalau sesuatu nggak hancur hari ini, itu cuma masalah waktu sebelum semuanya berantakan besok. Jadi, lebih baik aku siapin perban dan obat bius sebelum lukanya benar-benar menganga."
Rahang Tyler mengetat mendengar kata 'luka'.
Secara instingtif, tanpa bisa kucegah, pandanganku turun sepersekian inci. Mataku menelusuri garis keloid tebal yang melintang di sisi kiri wajahnya. Luka sayat itu tampak kontras di bawah cahaya perpustakaan. Jaringan parutnya kasar dan tidak rata.
"Dan siapa yang paling sering nyakitin lo sampai lo harus sehebat itu bikin rencana cadangan?" desis Tyler, suaranya berubah sedingin es. Dia menyadari arah tatapanku, dan postur tubuhnya seketika berubah kaku.
"Dunia," jawabku pendek. "Sama persis kayak kamu."
Trak.
Tyler membanting pulpen peraknya ke atas meja. Suara dentingan logam itu bergema keras di antara rak-rak buku. Marco yang sejak tadi mengetik langsung berhenti, tubuhnya menegang di kursi. Beberapa mahasiswa di meja seberang menoleh dengan wajah pucat, lalu buru-buru menundukkan kepala mereka ke dalam buku, menolak mencari mati.
"Lo ngeliatin ini lagi," desis Tyler. Matanya memancarkan peringatan mematikan. Dia tidak memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan luka itu, tapi otot lehernya menegang menahan amarah yang meletup-letup.
Aku merasakan jantungku memompa darah lebih cepat, tapi otak rasionalitasku mengambil alih kemudi. Ini bukan waktunya untuk menjadi dinding. Ini waktunya untuk menjadi cermin.
"Aku nggak ngeliatin lukanya, Tyler. Aku ngeliatin cara kamu mati-matian nyembunyiin diri di baliknya," kataku pelan, suaraku dijaga agar tetap datar dan terukur, memastikan Marco tidak menjadi penonton yang terlalu mencolok.
Aku mencondongkan tubuhku ke depan, membalas intimidasinya. "Kamu pakai luka itu buat nakutin orang di kampus ini. Kamu bertingkah kayak predator supaya orang gemetar di depanmu, supaya mereka nggak sadar kalau kamu sebenarnya sedang ketakutan setengah mati."
Wajah Tyler memucat, sangat kontras dengan matanya yang kini menggelap seperti langit malam badai. "Lo aggak tau apa-apa soal gue, Vasquez."
"Aku tau satu hal," balasku tajam, tak kenal ampun. "kamu hiper-waspada. Kamu sengaja milih meja ini supaya punggung kamu nempel ke tembok. Kamu merhatiin setiap orang yang masuk ke lorong ini dari ujung matamu. Setiap ada suara buku jatuh, otot bahumu menegang."
Aku menutup buku catatanku dengan bunyi bruk yang lumayan keras. Tyler sedikit tersentak oleh suara itu, sebuah bukti nyata dari diagnosisku.
"Kamu bukan bertingkah kayak penguasa yang lagi duduk di singgasananya, Tyler. Kamu bertingkah kayak prajurit yang terjebak di garis depan," ujarku, setiap suku kata kulepaskan dengan nada datar yang terukur. "Orang yang benar-benar berkuasa nggak perlu terus-menerus menengok ke belakang karena mereka merasa aman. Seseorang, atau sesuatu, bikin kamu merasa terancam setiap detik dalam hidupmu."
Aku menatap lurus ke matanya yang kini memancarkan badai. "Kamu hidup dalam bayang-bayang seseorang... dan ketakutan terbesarmu adalah perlahan-lahan berubah menjadi orang itu. Itu sebabnya kamu memilih untuk bersikap brutal. Karena di kepalamu, menyerang lebih dulu adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Kamu bukan monster, Tyler. Kamu hanya memakai topeng monster itu karena kamu terlalu takut menghadapi apa yang sebenarnya mengejarmu."
Hening.
Keheningan yang mencekik menguasai meja kami. Marco menatapku dengan mata membelalak, wajahnya pucat pasi seolah aku baru saja menarik pin granat dan meletakkannya di tengah meja.
Tyler mematung sempurna. Jakunnya bergerak naik turun dengan susah payah. Dan untuk satu detik yang sangat singkat dan rapuh, aku melihat sesuatu yang sangat langka di balik mata kelamnya: kerentanan murni yang berdarah-darah. Seolah-olah aku baru saja merobek jaket kulitnya, menguliti dadanya, dan mengekspos jantungnya yang masih berdetak ketakutan di bawah sana.
Egonya hancur berkeping-keping di hadapanku.
Aku berdiri, meraih ranselku, menolak memberikannya waktu untuk memungut kembali pecahan topengnya. "Aku ada jam kerja. Marco, kirim draf bagian kamu lewat email."
Tanpa menunggu balasan, aku memutar tubuh dan berjalan menjauh dari meja itu, melangkah cepat menyusuri lorong panjang di antara deretan rak buku ensiklopedia tinggi. Dadaku bergemuruh. Aku tidak tahu dari mana keberanian gila itu berasal. Aku baru saja membedah jiwa seorang psikopat kampus di depan tangan kanannya sendiri.
Namun, baru lima belas langkah aku menjauh, suara derap langkah sepatu bot yang berat dan kasar terdengar mengejarku. Langkah itu menyapu karpet dengan kecepatan predator yang memburu.
"Cordelia!"
Tangan besar Tyler mencengkeram lengan atas kiriku. Cengkeramannya kuat, mematikan pergerakanku, namun entah bagaimana, ibu jarinya sengaja tidak menekan ototku terlalu keras. Dia tidak bermaksud meninggalkan memar. Kekuatannya mutlak, tapi terkendali.
Dengan satu sentakan bertenaga, dia menarikku dan memutar tubuhku, memojokkanku ke celah sempit di antara dua rak buku raksasa yang tertutup bayang-bayang.
Bruk. Punggungku membentur deretan buku bersampul keras. Tyler segera melangkah masuk, memblokir satu-satunya jalan keluar dengan tubuh besarnya. Kedua tangannya menghantam rak kayu di sisi kiri dan kanan kepalaku, menciptakan sangkar yang sama seperti di lorong kampus kemarin.
Namun kali ini, energinya berbeda. Ini bukan sangkar seorang predator yang ingin menyiksa mangsanya. Ini adalah sangkar seorang pria putus asa yang sedang mencari udara.
Aroma cedarwood, mint dingin, dan maskulinitas yang pekat langsung merangsek masuk ke paru-paruku. Jarak kami sangat dekat hingga dada bidangnya yang naik-turun menahan emosi nyaris bersentuhan dengan dadaku.
"Who the fuck do you think you are, huh?" desisnya. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Napasnya yang panas menerpa pipiku. Suaranya bergetar dengan amarah yang tercampur aduk dengan keputusasaan. "Lo pikir karena ibu Lo perawat, Lo bisa keliling kampus bawa stetoskop imajiner lo dan diagnosa mental semua orang?"
Aku menekan punggungku ke rak buku, mendongak menatap wajahnya. "Aku nggak diagnosa kamu, Tyler. Aku cuma ngomong kebenaran dari apa yang mata aku liat."
"Kebenaran lo itu sampah!" bentaknya tertahan. Urat di lehernya menonjol, dan kilatan matanya menunjukkan seberapa parah kerusakan batin yang ia tanggung.
Tyler memindahkan tangan kanannya dari rak buku, mencengkeram leherku dengan jemarinya yang besar, kuat-kuat. Dia mengangkat wajahku agar tidak bisa memutus kontak mata dengannya. Sentuhannya sangat kasar dan dalam, namun anehnya, jari-jarinya sedikit bergetar. Aku berusaha keras untuk tidak menyernit ketika aku merasakan jarinya menekan nadiku. Aku hampir kesulitan bernafas.
"Dengerin gue baik-baik, Vasquez," bisiknya, suaranya pecah di ujung kalimat. Matanya memancarkan rasa sakit yang tak terukur. "Dunia ini nggak butuh analisa lo. Dan gue... gue nggak butuh tatapan kasihan lo."
"Aku nggak kasihan sama kamu," balasku, memaksakan suaraku keluar dari tenggorokan yang tercekat oleh jemarinya. Aku tidak memberontak. Aku membiarkan dia memegang leherku, memberikannya ilusi kendali yang sangat ia butuhkan saat ini. "Aku ngasih kamu cermin, Tyler. Kalau kamu ngerasa jijik sama bayangan kamu sendiri yang ketakutan di dalam sana, itu bukan salah cerminnya."
Napas Tyler tercekat. Jemarinya yang mencengkeram leherku mengendur secara perlahan, seolah kulitku tiba-tiba berubah menjadi lahar panas yang membakarnya.
Matanya menelusuri wajahku, mencari secercah ketakutan, mencari air mata, atau sekadar rasa jijik. Tapi dia tidak menemukan apa-apa selain penerimaan yang melelahkan. Aku melihat dinding pertahanannya runtuh tepat di depan mataku. Bahunya merosot turun. Badai di matanya mereda, menyisakan kekosongan yang sangat menyedihkan.
Tiba-tiba, dia menarik tangannya dari wajahku seolah tersengat listrik. Dia mundur satu langkah, menjauhkan tubuhnya dariku dengan gerakan panik, seolah-olah menyadari bahwa membiarkanku berada terlalu dekat akan menghancurkan satu-satunya mekanisme pertahanan hidup yang ia punya.
Wajah tampannya yang cacat itu memucat. Rahangnya kembali mengeras, menahan mati-matian badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Jangan pernah kasih empati lo ke gue, Cordelia," bisiknya. Suaranya serak, berat, dan terdengar seperti sebuah permohonan yang menyayat hati, bukan ancaman.
Dia menatapku satu kali terakhir, matanya memancarkan kebingungan yang sangat brutal, sebelum akhirnya dia berbalik dan melangkah cepat meninggalkan lorong rak buku itu. Punggung lebarnya menghilang di balik tikungan perpustakaan, meninggalkanku sendirian dalam bayang-bayang.
Aku berdiri mematung bersandar pada rak buku, mendengarkan gema langkah kakinya yang perlahan menjauh. Jantungku berdegup gila-gilaan, menyakitkan tulang rusukku. Tanganku secara otomatis naik, menyentuh leherku yang masih kemerahan akibat dari tekanan jemarinya. Aku yakin beberapa saat lagi akan muncul seberkas memar samar.
Aku baru saja membangunkan iblis di dalam dirinya, tapi entah mengapa, iblis itu terlihat lebih mirip seperti anak laki-laki yang menangis sendirian di dalam kegelapan. Dan celakanya, aku mulai peduli.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar