Matahari Santa Barbara siang itu terasa terlalu terang, nyaris menyilaukan, seolah-olah sengaja mengejek sepasang sepatu kanvas usang yang membalut kakiku.

Di sini, udaranya berbau garam laut bercampur dengan wangi parfum desainer yang harganya mungkin setara dengan sewa apartemenku di Seattle selama sebulan penuh. Aku menarik napas panjang, membiarkan paru-paruku beradaptasi dengan atmosfer California yang masih terasa asing ini. Tidak ada awan kelabu tebal, tidak ada gerimis konstan yang membuat jaket selalu lembap, dan yang paling penting, tidak ada tumpukan tagihan medis yang sengaja disembunyikan ibuku di bawah taplak meja makan.

Aku membetulkan letak tali ranselku yang memberat, merasakan rajutannya menekan pundakku hingga meninggalkan jejak kemerahan. Berat ransel ini tidak seberapa dibandingkan berat keputusan yang membawaku melintasi negara bagian. UC Santa Barbara. Gedung-gedung kampusnya berdiri megah dengan arsitektur gaya Spanish Colonial, dikelilingi pohon palem yang berayun malas tertiup angin pantai. Mahasiswa berlalu-lalang dengan tawa lepas, kacamata hitam trendi, dan secangkir kopi iced matcha di tangan mereka. Mereka terlihat begitu hidup, begitu tanpa beban.

Aku menelan ludah, merasakan kerongkonganku yang mendadak kering.

Bukan mimpi, ambisi yang berapi-api, atau gairah masa muda yang memaksaku menandatangani formulir pertukaran mahasiswa di pertengahan tahun ketigaku. Melainkan deretan angka di rekening bank. Beasiswa penuh ditambah stipend—uang saku bulanan—yang jumlahnya cukup besar untuk membuatku bisa mengirimkan tiga perempatnya kembali ke Seattle. Ibuku, dengan seragam perawat birunya yang sudah memudar, shift malam di UGD yang merenggut jam tidurnya secara brutal, dan punggungnya yang semakin membungkuk setiap kali dia mengira aku tidak melihatnya. Dia membutuhkan uang itu lebih dari aku membutuhkan kenyamanan rumah.

"Jangan biarkan beban ibu menahan langkahmu, Delia," kata ibuku malam itu, saat aku menyodorkan surat penerimaan di atas meja dapur. Senyumnya lelah tapi tulus, memancarkan ketegaran yang selalu menjadi jangkarku. "Pergi. Cari matahari."

Jadi, di sinilah aku. Mencari matahari, meski aku sendiri jauh lebih terbiasa hidup dan bernapas di dalam bayang-bayang.

Aku berjalan menyusuri jalan setapak beton yang membelah halaman tengah kampus. Tujuanku adalah gedung Fakultas Bisnis Internasional. Sambil berjalan, mataku secara otomatis mulai memindai sekeliling. Ini adalah kebiasaan yang tidak pernah bisa kuhilangkan, sebuah insting yang tertanam kuat setelah belasan tahun mendengar cerita ibuku tentang kerasnya ruang gawat darurat.

Jangan menilai orang dari bagaimana mereka berpakaian atau seberapa keras mereka tertawa, Cordy. Nilai mereka dari apa yang mereka sembunyikan saat tidak ada yang melihat.

Di sebelah kiriku, sekelompok gadis sorority sedang berfoto, senyum mereka terlalu lebar dan identik, tapi mataku menangkap bagaimana jari-jari salah satu gadis itu meremas ujung roknya hingga buku-buku jarinya memutih—sebuah manifestasi kecemasan yang ditelan mentah-mentah. Di sebelah kanan, seorang mahasiswa laki-laki berbicara keras di telepon, nadanya terdengar angkuh, tapi pupil matanya terus bergerak liar melirik ke sekeliling, mencari validasi dari orang-orang yang melewatinya.

Semua orang di kampus ini memakai topeng. Dan tugasku di sini sangat sederhana: jangan sampai menarik perhatian salah satu dari topeng itu.

Mode bertahanku selalu sama di mana pun aku berada. Jadilah tidak terlihat. Jangan jadi yang paling pintar sampai dosen menghafal namamu dan memanggilmu ke depan kelas, jangan pula jadi yang paling bodoh sampai kamu harus mencari tutor dan berinteraksi lebih dari yang diperlukan. Jadilah dinding. Dinding tidak pernah terluka, dinding tidak pernah diajak bicara, dan dinding tidak pernah diharapkan untuk menetap.

Setelah berurusan dengan staf administrasi yang menatapku dengan senyum mekanis, aku akhirnya mendapatkan jadwal kelasku. Kelas pertamaku hari ini adalah Global Supply Chain Management. Terdengar seperti kelas teoritis yang membosankan di mana aku bisa duduk diam di barisan tengah, mencatat sampai tanganku kebas, tanpa perlu berinteraksi dengan siapa pun. Rencana yang sempurna.

Aku mendorong pintu kayu besar berpelitur gelap yang menuju ke auditorium kelas. Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyapu wajahku, sangat kontras dengan panasnya cuaca California di luar sana. Ruangan itu didesain dengan undakan yang menurun, menghadap ke sebuah podium kayu jati dan layar proyektor raksasa di depan. Kapasitasnya mungkin sekitar seratus orang, dan lebih dari separuhnya sudah terisi penuh.

Suara dengungan percakapan tumpang tindih, tawa yang menggema, dan denting keyboard laptop yang mulai dibuka memenuhi udara. Sangat berisik, sangat khas ekosistem anak kuliahan yang belum tersentuh kerasnya realita.

Aku berjalan menuruni tangga berkarpet marun, mataku mencari tempat duduk yang paling strategis. Tidak di barisan paling depan karena itu adalah zona radiasi para ambisius, tidak juga di paling belakang karena itu tempat anak-anak yang sengaja mencari masalah atau sekadar ingin tidur sampai kelas bubar. Aku memilih baris keempat dari belakang, di sudut kiri, dekat dengan lorong kecil. Posisi ini memberikanku visibilitas yang sempurna untuk mengamati seluruh ruangan tanpa harus memutar kepala secara mencolok.

Aku meletakkan ranselku di lantai, mengeluarkan buku catatan bersampul hitam yang ujung-ujungnya sudah terlipat aus, dan sebuah pulpen plastik biasa. Aku tidak memakai laptop. Menulis dengan tangan membantuku mengingat struktur materi lebih baik, dan alasan yang lebih realistis: aku tidak punya anggaran darurat untuk memperbaiki laptop jika benda itu rusak karena kecerobohan.

Sambil menunggu dosen datang, aku menopang dagu dengan tangan kiri, membiarkan mataku mengembara dalam mode observasi pasif.

Di depanku, dua orang mahasiswa sedang berdebat sengit tentang pesta fraternity akhir pekan lalu. Di ujung kanan, seorang gadis berambut pirang sibuk memulas lipstik merahnya sambil menggunakan kamera depan ponsel sebagai cermin. Dunia berjalan dalam orbitnya yang normal dan membosankan.

Namun, tepat pukul sembilan lewat lima menit, sesuatu yang sangat ganjil dan tidak wajar terjadi.

Itu tidak terjadi secara instan seperti lampu yang dimatikan, melainkan seperti gelombang tekanan udara yang kasat mata menyapu ruangan dari arah pintu masuk di bagian atas auditorium. Tawa renyah gadis berlipstik merah tiba-tiba terputus di tenggorokannya. Perdebatan tentang pesta fraternity mati di tengah suku kata. Dengungan ratusan mahasiswa yang mengobrol perlahan-lahan mereda, digantikan oleh keheningan pekat yang turun dengan sangat cepat.

Sangat sunyi.

Bukan sunyi yang tenang dan mendamaikan, melainkan sunyi yang tegang dan mencekik. Udara di dalam auditorium mendadak terasa menipis, seolah seseorang baru saja menyedot semua cadangan oksigen keluar dari ruangan ini. Aku bisa merasakan perubahan tekanan atmosfernya. Bulu kuduk di tengkukku bereaksi—berdiri tegak—bahkan sebelum mataku melihat apa penyebabnya.

Suara langkah kaki yang berat, berayun lambat, presisi, dan penuh perhitungan, terdengar menuruni tangga berkarpet. Tuk. Tuk. Tuk. Ketukannya memiliki ritme ancaman yang absolut. Bahkan dosen paruh baya yang baru saja meletakkan tas kerjanya di atas podium menghentikan gerakannya, menelan ludah dengan jakun yang bergerak kentara.

Aku mengamati reaksi orang-orang di sekitarku. Mahasiswa laki-laki di depanku secara serempak menundukkan kepala, punggung mereka menegang, dan tiba-tiba mereka terlihat sangat sibuk menatap layar laptop yang masih kosong. Gadis-gadis menahan napas, mata mereka terpaku ke arah meja kayu masing-masing, seolah-olah melakukan kontak mata dengan apa pun yang sedang berjalan turun itu adalah sebuah dosa mematikan yang akan menghapus eksistensi mereka.

Mereka menyusut. Ratusan orang di ruangan ini menyusut secara fisik, melipat bahu mereka ke dalam, mencoba menjadikan diri mereka sekecil dan setidak terlihat mungkin.

Rasa penasaranku akhirnya mengalahkan insting wallflower-ku. Dengan gerakan tenang dan terukur, aku memutar kepalaku sedikit ke arah lorong kanan, mencari anomali yang baru saja mematikan seluruh ruangan hanya dengan keberadaannya.

Dan saat itulah mataku menangkap sosoknya.

Dia berjalan menuruni tangga dengan kedua tangan masuk dengan santai ke dalam saku jaket kulit hitamnya yang tampak berat. Tubuhnya tinggi menjulang, melampaui rata-rata tinggi mahasiswa di ruangan ini, dengan bahu lebar yang bergerak rileks namun memancarkan aura predator mematikan. Pakaiannya serba gelap, seakan-akan serat kainnya menyerap semua cahaya di sekitarnya.

Namun, bukan postur tubuhnya yang membuat dadaku tiba-tiba terasa sesak. Melainkan wajahnya.

Garis rahangnya setajam pecahan kaca, dipahat dengan proporsi yang secara objektif luar biasa tampan. Rambut gelapnya sedikit berantakan, jatuh menutupi sebagian dahinya yang berkerut tipis. Tapi ketampanan aristokrat itu dirusak—atau paradoksnya, justru disempurnakan—oleh sebuah luka sayat panjang yang melintang sangat kasar di sisi kiri wajahnya.

Mata pengamatku langsung menganalisisnya. Luka itu sudah mengering, meninggalkan jejak keloid berwarna kemerahan yang membentang dari tulang pipi hingga nyaris mencapai sudut bawah rahangnya. Luka itu bergerigi di bagian ujungnya. Itu bukan luka hasil kecelakaan jatuh dari sepeda atau goresan paku. Itu luka sayatan bilah pisau. Dan melihat bentuk jaringan parutnya, luka itu tidak pernah dijahit secara medis dengan benar. Seseorang telah membiarkan pria ini berdarah, membiarkan dagingnya menganga hingga sembuh sendiri dan membentuk cacat permanen.

Tapi hal yang paling mengerikan dari pria itu bukanlah lukanya, melainkan matanya.

Kelam, kosong, dan luar biasa dingin. Ada pendar abu-abu di pinggir irisnya, seperti langit mendung yang menyimpan badai mematikan. Matanya menyapu ruangan dengan arogansi absolut, menguliti setiap kepalsuan di ruangan ini tanpa minat sedikit pun. Dia berjalan seperti seorang lalim yang tengah melewati barisan tawanannya yang gemetar. Dia tahu semua orang di ruangan ini ketakutan setengah mati padanya, dan dia memakai ketakutan mereka sebagai jubah kebesarannya.

Ibuku bilang, orang yang datang ke UGD dengan berteriak, mengamuk, dan memaki biasanya adalah orang yang paling panik dan lemah di dalam. Tapi pria ini tidak perlu berteriak. Dia diam. Dan diamnya memancarkan ancaman yang jauh lebih nyata daripada seribu makian.

Tempat duduk di barisan paling belakang, tepat di tengah, entah bagaimana dibiarkan kosong seolah memang dikhususkan untuk menjadi singgasananya. Dia melangkah menuju kursi itu, menariknya dengan suara decitan kaki logam yang membelah keheningan yang menyakitkan. Dia duduk, meluruskan kaki panjangnya dengan angkuh, dan tidak mengeluarkan buku, laptop, atau alat tulis apa pun.

Tepat di sampingnya, seorang pria lain yang tampak jauh lebih rapi dan rasional—dengan kemeja gelap yang dilinting hingga siku—duduk menemaninya. Pria kedua itu menatap sekeliling dengan waspada, gerakannya luwes namun terukur, persis seperti anjing penjaga yang siap menerkam atas perintah tuannya.

Dosen di depan mendehem canggung, memecah kesunyian dengan memaksakan senyum tipis yang bergetar. "Ehem, baiklah. Kita... kita mulai kelas hari ini. Selamat datang di Manajemen Rantai Pasokan Global."

Suara sang dosen terdengar satu oktaf lebih tinggi dari seharusnya.

Ketegangan di ruangan perlahan mencair hanya sebatas toleransi agar mereka bisa bernapas, tapi atmosfernya tidak pernah benar-benar kembali normal. Aku mengalihkan pandanganku kembali ke depan. Otakku bekerja dengan presisi analitis, mengumpulkan data lapangan. Siapa pun pria dengan bekas luka itu, dia memegang kendali penuh atas rasa takut di ekosistem ini. Dia adalah puncak rantai makanan.

Jangan berurusan dengannya, Cordelia, bisik rasionalitasku.

"Kamu gila," sebuah suara berbisik panik dari sebelah kananku.

Aku menoleh perlahan. Seorang gadis dengan rambut pirang sebahu yang dikuncir kuda acak-acakan tengah menatapku dengan mata membelalak lebar. Namanya Chloe, jika aku tidak salah ingat dari absen yang dibacakan sekilas tadi. Dia sudah duduk di sana sejak aku masuk, tapi baru berani membuka suara sekarang.

Aku mengangkat alis. "Apanya yang gila?"

"Kamu menatapnya. Lebih dari tiga detik," desis Chloe, matanya bergerak panik ke arah belakang, seolah menyebut keberadaan pria itu bisa mendatangkan kutukan. "Pria itu... kamu anak pindahan, kan? Kamu tidak tahu siapa dia?"

"Dan secara logis, aku tidak punya alasan untuk repot-repot tahu," balasku datar, mulai menuliskan tanggal di sudut buku catatanku.

Chloe menelan ludah, mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat. Aroma parfum stroberinya yang terlalu manis sedikit menusuk hidungku. "Namanya Tyler Vance. Dan kamu tidak menatap mata Tyler Vance kecuali kamu ingin rahangmu dipasang pelat baja di rumah sakit."

Aku terdiam, membiarkan ujung pulpenku mengambang di atas kertas.

"Seorang senior dari Sigma Chi masuk ICU bulan lalu," lanjut Chloe, suaranya bergetar karena campuran antara horor dan gosip yang meletup-letup. "Rumornya, senior itu cuma nggak sengaja nabrak Tyler di lorong dan numpahin sedikit kopinya. Tyler nggak mukul dia di kampus. Dia nunggu sampai cowok itu keluar dari bar malam harinya. Tiga tulang rusuk patah, rahang retak, dan cowok malang itu ditarik paksa dari kampus oleh keluarganya besoknya. Tidak ada polisi yang datang. Tidak ada laporan. Tyler bahkan tidak dapat surat peringatan dari dekan."

Di kepala Chloe, cerita itu mungkin terdengar seperti film thriller kriminal yang mendebarkan. Tapi di kepalaku, itu adalah anatomi murni dari sebuah kekuasaan yang korup. Kamu tidak menghancurkan wajah seseorang karena noda kopi. Kamu melakukannya di tempat gelap, di luar radar hukum, untuk menanamkan pesan. Pesan bahwa hukum manusia tidak berlaku untukmu. Tyler Vance tidak bertindak karena emosi murahan; dia sedang membangun sebuah ekosistem teror.

Ibuku sering menceritakan tentang korban perkelahian bar yang masuk ke UGD di pertengahan malam. Bau darah yang amis, anyir alkohol, gigi yang berserakan, dan erangan kesakitan yang membuat ngilu tulang. Kekerasan bukanlah hal yang romantis atau keren. Itu kotor, menjijikkan, dan sangat menyedihkan.

"Jadi, dia orang kaya yang kebal hukum dengan masalah temperamen serius. Noted," balasku datar, tanpa memberikan secuil pun reaksi ketakutan yang diharapkan Chloe. "Terima kasih infonya. Aku akan pastikan nggak bawa kopi kalau lewat di depannya."

Chloe menatapku seolah aku baru saja berbicara menggunakan bahasa alien.

Sebelum dia sempat memprotes kewarasanku, mikrofon di depan berdengung keras, memotong percakapan kami. Sang dosen mengusap peluh di dahinya yang mengkilap. "Perhatian semuanya. Sebelum kita masuk ke silabus, saya akan membagi kalian ke dalam kelompok untuk tugas akhir semester. Ini adalah simulasi rantai pasokan. Tugas ini bernilai empat puluh persen dari nilai akhir kalian."

Keluhan tertahan terdengar bergema dari seluruh penjuru ruangan.

"Untuk menghindari mahasiswa yang hanya menumpang nama, saya sudah mengacak kelompok menggunakan sistem," lanjut dosen itu tanpa belas kasihan. "Satu kelompok terdiri dari tiga orang. Saya akan menampilkan daftarnya. Cari nama kalian, berkumpul dengan kelompok kalian sekarang untuk menentukan topik, lalu kelas bubar."

Layar proyektor menyala terang. Ratusan nama bergulir ke bawah dalam format tabel Excel. Ruangan kembali riuh saat mahasiswa mulai berdiri dan menyipitkan mata.

Kerja kelompok. Sial. Ini adalah mimpi buruk bagiku. Ini berarti aku harus berkompromi dengan jadwal orang lain, mengatur waktu di antara shift kerjaku yang padat, dan kemungkinan besar berujung mengerjakan seluruh beban laporannya sendirian.

Mataku memindai kolom demi kolom secara sistematis, mencari huruf 'V'.

Vasquez, Cordelia.

Ketemu. Kelompok 12. Aku menggeser pandanganku ke kolom di sebelahnya untuk melihat dua nama malang yang harus menyesuaikan diri dengan jadwal kerjaku yang tidak fleksibel.

Sistem saraf pusatku seketika berhenti merespons selama dua detik penuh.

Di sebelah namaku, tercetak dengan huruf hitam tegas yang tampak seperti hukuman mati, adalah dua nama:

Salazar, Marco. Vance, Tyler.

Di sebelahku, Chloe memekik tertahan dan tersedak ludahnya sendiri. Dia menatap layar proyektor, lalu menatapku dengan ekspresi duka cita yang luar biasa dalam. "Ya Tuhan, Cordelia. Senang bisa mengenalmu walau cuma sebentar."

Gadis itu segera menyandang tasnya dan melarikan diri ke arah kelompoknya, meninggalkanku sendirian di kursi seolah aku baru saja divonis membawa wabah mematikan.

Aku memejamkan mata, memijat pangkal hidungku pelan. Dari seratus mahasiswa di ruangan ini, probabilitas statistik memutuskan untuk melemparku ke dalam pusaran masalah. Orang seperti Tyler Vance tidak mungkin mengerjakan tugas akademik. Dan jika aku memaksanya bekerja, aku akan berakhir dengan rahang retak.

"Ini cuma tugas kampus," gumamku pada diri sendiri, menghembuskan napas berat.

Aku tidak beranjak dari kursiku. Jika mereka berdua ingin mendiskusikan topik, mereka yang harus menemukanku. Aku menolak berkeliling mencari predator berjaket kulit.

Suara bising mahasiswa yang bertukar posisi mulai mereda di satu sisi ruangan. Layaknya efek domino, kerumunan yang berdiri di lorong segera menyingkir, menempel kuat pada dinding. Mereka memberi jalan seolah membelah lautan.

Langkah kaki itu terdengar lagi. Tuk. Tuk. Tuk. Dan kali ini, tujuannya lurus ke arahku.

Suhu udara di sekitarku anjlok drastis. Insting pertahanan diriku berteriak liar untuk segera berdiri dan pergi, tapi aku memaksakan otot punggungku untuk tetap bersandar tegak. Dinding. Jadilah dinding.

Pria berkemeja gelap yang tadi duduk di sebelah Tyler—anjing penjaganya—berhenti di depanku. Dia memutar kursi di barisan depan, duduk berhadapan denganku. Wajahnya memiliki garis Latin yang tegas, matanya cerdas dan penuh perhitungan.

"Vasquez?" tanyanya, nada suaranya tenang tapi sarat akan kontrol.

"Ya," jawabku singkat.

Pria itu mengangguk tipis. "Marco Salazar. Dan kamu pasti sudah tahu siapa yang ada di belakangku."

Sebelum aku sempat menjawab, aura gelap itu menabrakku layaknya dinding beton. Kursi kosong di sebelah kananku berderit nyaring. Tubuh besar Tyler Vance mengempaskan diri ke atas kursi berlengan sempit itu.

Aroma cedarwood, sisa pembakaran tembakamu mahal, dan bau dingin udara malam merangsek masuk ke dalam indra penciumanku. Dia berada di radius yang sangat tidak aman.

Aku menolak menoleh. Mataku tetap terkunci pada Marco. "Cordelia. Kita harus pilih sektor industri mana yang mau—"

Kalimatku terpotong saat sudut mataku menangkap pergerakan Tyler.

Dia tidak duduk menghadap ke depan seperti mahasiswa normal. Dia duduk menyamping, memutar tubuhnya hingga sepenuhnya menghadap ke arahku. Kaki kanannya yang berbalut denim gelap terentang lebar, lututnya dengan sengaja menyenggol dan menekan lututku, merampas ruang gerakku dengan paksa. Belum cukup sampai di situ, dia menyampirkan lengan kanannya di sepanjang sandaran kursiku. Jaket kulit tebalnya bergesekan dengan kamus katunku. Dia benar-benar mengurungku, memblokir satu-satunya jalur evakuasiku ke arah lorong.

Dia menciptakan sangkar fisik di tengah ruangan yang terang benderang.

Aku bisa merasakan tatapannya. Berat, menghakimi, dan membakar kulitku. Marco yang duduk di hadapan kami langsung terdiam, matanya menatap Tyler dengan sebersit ketegangan. Marco tahu apa yang sedang terjadi. Bosnya sedang bermain. Tyler sedang memancing reaksi.

Tyler menunggu. Dia menunggu tarikan napasku yang berubah menjadi isakan kecil. Dia menunggu pupil mataku membesar karena teror. Dia menunggu tanganku gemetar dan meminta maaf sebelum aku memohon untuk pindah kelompok.

Dia menginginkan kehancuran mentalku sebagai pertunjukan perdananya hari ini.

Sangat perlahan, aku menoleh ke kanan.

Jarak wajah kami terlalu dekat. Hanya terpisah kurang dari dua jengkal. Di jarak ini, aku bisa melihat setiap lekuk dari luka sayat di wajahnya. Cacat yang menodai kesempurnaannya. Rahang Tyler menegang sesaat saat menyadari arah tatapanku, sebuah reaksi pertahanan diri yang tersembunyi di balik matanya yang kosong.

Udara di antara kami memadat. Tekanannya membuat dadaku sesak, tapi ibuku tidak pernah membesarkan anak perempuan yang pengecut. Saat kamu tidak punya uang, kamu tidak punya kemewahan untuk takut, karena dunia akan menggilasmu tanpa sisa.

Tyler mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak lebih ekstrem. Dia mengulurkan tangannya yang besar, buku-buku jarinya memutih, meraih pulpenku yang tergeletak di atas buku catatan. Dia memutarnya di antara jemarinya yang terampil dengan gerakan mengancam, matanya tidak berkedip menatapku.

Trak.

Dia membanting ujung pulpen itu ke atas mejaku dengan tenaga yang disengaja. Sebuah penanda teritori. Kamu milikku sekarang, Vasquez.

Ekspektasinya meletup-letup di udara. Dia menunggu permohonan ampunku.

Aku menatap pulpenku yang malang, lalu kembali mengangkat pandangan lurus ke arah matanya yang segelap obsidian. Aku tidak memundurkan wajahku. Tidak berkedip. Aku mengumpulkan seluruh rasa lelah dari kurang tidur, beban tagihan, dan shift kerjaku, lalu mengubahnya menjadi perisai ketidakpedulian yang absolut.

Bibirku terbuka, dan dengan nada suara yang sangat datar, kering, dan dipenuhi oleh kebosanan mutlak yang tidak dibuat-buat, aku berkata.

"Bisa geser sedikit? Kamu ngabisin oksigen aku."