Lampu kristal di ruang makan kediaman Baskara memantulkan cahaya keemasan yang mewah, menyinari deretan hidangan kelas atas yang tertata rapi di atas meja marmer. Harum truffle oil dan roasted lamb memenuhi ruangan, sebuah aroma yang biasanya melambangkan keberhasilan dan kenyamanan. Bagi Arini, malam ini seharusnya menjadi puncak perayaan tujuh tahun pernikahan mereka—sebuah angka yang sering disebut orang sebagai fase kritis, namun ia yakin mereka telah melaluinya dengan gemilang.

Arini berdiri di depan cermin besar di lorong menuju ruang makan, merapikan gaun sutra berwarna emerald yang membalut tubuh rampingnya. Ia memulas sedikit lipstik merah gelap, memberikan kesan tegas pada wajahnya yang lembut. Di usia tiga puluh dua tahun, Arini adalah definisi wanita yang memiliki segalanya: karier yang dihormati sebagai kurator seni, seorang putra yang tampan dan pintar bernama Kenzo, dan seorang suami, Baskara, yang merupakan bintang di dunia bisnis properti.

"Mama, apakah Papa akan pulang membawa hadiah besar?" suara kecil Kenzo memecah lamunan Arini. Bocah berusia enam tahun itu sudah rapi dengan kemeja flanelnya, duduk di kursi tinggi sambil mengayunkan kakinya.

Arini tersenyum, menghampiri putranya dan mengusap rambutnya lembut. "Papa selalu membawa hadiah, sayang. Tapi hadiah terbesar adalah Papa pulang tepat waktu untuk makan malam kita."

Namun, di dalam hatinya, ada debaran halus yang tak bisa ia jelaskan. Baskara sudah terlambat tiga puluh menit. Hal yang tidak biasa untuk acara sepenting ulang tahun pernikahan. Arini mencoba menepis pikiran negatif. Mungkin macet di Sudirman, pikirnya.

Tepat saat jarum jam menunjuk angka tujuh lewat empat puluh lima menit, suara deru mobil terdengar di halaman depan. Arini menarik napas lega. Ia bergegas menuju pintu depan, diikuti Kenzo yang berlari kecil dengan penuh semangat.

Pintu besar kayu jati itu terbuka. Baskara berdiri di sana. Ia tampak gagah seperti biasa dengan setelan jas abu-abu gelapnya, namun wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Ada garis ketegangan di dahinya yang tidak bisa disembunyikan oleh senyum tipisnya.

"Mas, akhirnya kamu sampai," sapa Arini hangat, hendak meraih tangan suaminya untuk menciumnya.

Namun, langkah Arini terhenti. Baskara tidak datang sendirian.

Di belakang punggung suaminya yang lebar, muncul seorang wanita muda. Wanita itu tampak sangat muda, mungkin awal dua puluhan. Ia mengenakan terusan sederhana berwarna putih tulang, rambut hitamnya terurai panjang, dan matanya yang besar tampak sembap, seolah baru saja menghabiskan waktu berjam-jam untuk menangis. Ia berdiri dengan bahu yang merosot, memegangi tali tas selempangnya dengan erat, seolah-olah dunia di sekitarnya adalah tempat yang sangat menakutkan.

"Mas?" tanya Arini, suaranya naik satu oktav. Senyumnya membeku. "Siapa dia? Rekan kerjamu? Kenapa tidak bilang kalau ada tamu?"

Baskara menarik napas panjang, sebuah napas yang terdengar sangat berat, seolah ia sedang memindahkan gunung dari dadanya. Ia tidak menjawab pertanyaan Arini dengan segera. Sebaliknya, ia melangkah masuk, menarik pelan lengan wanita muda itu untuk ikut masuk ke dalam rumah.

"Kenzo, masuk ke kamar dulu ya, Nak. Biar Bi Ijah temani main game sebentar," ujar Baskara dengan nada rendah namun tidak bisa dibantah.

Kenzo, yang merasakan suasana mendadak berubah dingin, hanya mengangguk takut-takut dan berlari naik ke lantai atas.

Setelah sunyi menyelimuti ruang tamu yang luas itu, Arini berdiri tegak. Instingnya sebagai seorang istri mulai mengirimkan sinyal bahaya. "Siapa dia, Baskara?"

Baskara menatap mata Arini. Ada rasa bersalah di sana, tapi yang lebih mendominasi adalah sebuah keteguhan yang aneh—keteguhan yang justru membuat Arini merasa mual.

"Namanya Liora," ucap Baskara pelan. "Dia putri tunggal almarhum Pak Hermawan. Mentor saya, orang yang membukakan jalan bagi saya saat saya bukan siapa-siapa di industri ini."

Arini mengerutkan kening. Ia tahu nama Pak Hermawan. Pria tua itu baru saja meninggal dua bulan lalu karena serangan jantung setelah perusahaannya dinyatakan pailit. "Ya, aku tahu. Tapi kenapa dia ada di sini? Malam ini? Mas, ini ulang tahun pernikahan kita. Kenapa kamu membawa orang asing ke rumah kita di saat seperti ini?"

"Dia bukan orang asing lagi, Arini," potong Baskara cepat. Ia melirik Liora yang masih menunduk, lalu kembali menatap istrinya. "Liora tidak punya siapa-siapa lagi. Semua aset ayahnya disita bank. Dia diusir dari kontrakannya sore tadi. Saya tidak bisa membiarkan putri dari orang yang sudah saya anggap ayah sendiri terlunta-lunta di jalanan."

Arini tertawa hambar, sebuah tawa yang lahir dari rasa tidak percaya. "Jadi kamu membawanya ke sini? Untuk menginap? Baik, aku mengerti sisi kemanusiaanmu. Dia bisa tinggal di kamar tamu untuk satu atau dua malam sampai kita mencarikannya apartemen atau pekerjaan. Tapi apakah harus sekarang? Di malam ini?"

Baskara melangkah maju, mencoba meraih bahu Arini, namun Arini mundur satu langkah.

"Arini, dengarkan aku baik-baik," suara Baskara kini terdengar lebih bergetar. "Aku tidak hanya membawanya untuk menginap. Aku sudah menikahinya."

Dunia seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantam Arini lebih keras daripada tamparan fisik mana pun. Telinganya berdenging. Ia menatap Baskara, mencari tanda-tanda bahwa ini adalah lelucon yang sangat buruk atau mungkin dia sedang bermimpi buruk. Namun, wajah Baskara tetap serius, dan wanita di belakangnya—Liora—kini mulai terisak pelan.

"Apa... apa yang kamu katakan?" bisik Arini. Suaranya hampir hilang.

"Dua minggu lalu. Di sebuah masjid di pinggiran kota. Hanya secara siri," Baskara melanjutkan, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti sembilu yang menyayat hati Arini. "Saya melakukannya untuk melindunginya secara sah. Agar saya bisa menjaganya tanpa fitnah. Ini adalah wasiat terakhir Pak Hermawan kepada saya sebelum beliau wafat. Beliau meminta saya menjaga Liora, menjadi pelindungnya."

"Dengan cara menikahinya?!" teriak Arini. Kali ini suaranya pecah. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mengalir deras, merusak riasan wajah yang telah ia persiapkan dengan penuh cinta. "Kamu memiliki istri, Baskara! Kamu memiliki anak! Kamu memiliki janji yang kamu ucapkan tujuh tahun lalu di depan Tuhan! Dan kamu melanggarnya hanya karena sebuah 'hutang budi'?"

"Ini bukan tentang melanggar janji, Arini. Cintaku padamu tidak berubah," Baskara mencoba membela diri dengan logika yang cacat. "Tapi Liora rapuh. Dia butuh sandaran. Aku hanya menjalankan tanggung jawab moral."

Arini menunjuk ke arah Liora dengan tangan gemetar. "Tanggung jawab moral? Kamu menyebut pengkhianatan ini sebagai tanggung jawab moral? Kamu membawa wanita lain ke rumah yang aku bangun dengan keringat dan air mataku? Kamu ingin aku berbagi suami, berbagi tempat tidur, berbagi ayah dari anakku?"

Liora tiba-tiba bersuara, suaranya sangat lirih, hampir seperti bisikan angin. "Maafkan saya, Mbak Arini... saya benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi... Mas Baskara hanya ingin membantu..."

"Diam!" bentak Arini. "Jangan panggil aku Mbak. Jangan bicara padaku seolah-olah kamu adalah korban di sini! Kamu masuk ke rumah ini, menghancurkan perayaan pernikahan kami, dan kamu berani meminta maaf?"

Baskara menarik Liora ke belakang tubuhnya, sebuah gerakan protektif yang membuat hati Arini semakin hancur. Suaminya, pelindungnya selama tujuh tahun ini, kini menggunakan tubuhnya untuk melindungi wanita lain dari kemarahannya.

"Cukup, Arini! Jangan limpahkan amarahmu padanya. Ini keputusanku. Aku yang bersalah jika kamu ingin menyalahkan seseorang, tapi jangan perlakukan dia seperti sampah. Dia sekarang adalah bagian dari keluarga ini. Dia adalah madumu. Aku ingin kamu menerimanya, demi aku, demi wasiat Pak Hermawan."

Arini merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Ia memegangi dadanya yang sesak. "Menerimanya? Kamu ingin aku tersenyum dan menyediakan piring untuknya di meja makan yang sudah aku hias untuk kita berdua?"

Ia melihat ke arah meja makan di ruang sebelah. Lilin-lilin yang mulai meleleh, piring-piring cantik yang kosong, dan botol anggur yang belum dibuka. Semuanya tampak seperti pemakaman sekarang. Pemakaman bagi cintanya, bagi kepercayaannya, dan bagi masa depan yang ia bayangkan.

"Mas," Arini menatap Baskara dengan tatapan yang kini kosong, "malam ini adalah ulang tahun pernikahan kita yang ketujuh. Kamu memberikan aku hadiah yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku."

"Arini, tolong mengertilah—"

"Tidak ada yang perlu dimengerti, Baskara," potong Arini dengan dingin yang mematikan. "Kamu tidak sedang menolongnya. Kamu sedang menghancurkanku. Kamu sedang meruntuhkan istana yang kita bangun bersama, bata demi bata, hanya untuk menampung satu orang yang kamu sebut 'amanah'."

Arini berbalik, meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Ia berjalan menuju ruang makan, dengan tangan gemetar ia menarik taplak meja marmer itu dengan satu sentakan kuat.

Pranggg!

Suara piring porselen mahal yang pecah berkeping-keping di lantai menggema ke seluruh penjuru rumah. Makanan yang ia masak dengan sepenuh hati tumpah ruah, bercampur dengan pecahan kaca dan air mata. Arini tidak peduli. Ia terus berjalan menuju tangga, melewati suaminya tanpa menoleh sedikit pun.

"Arini! Mau ke mana kamu?" seru Baskara.

"Ke kamar Kenzo," jawab Arini tanpa berhenti. "Karena mulai malam ini, kamar kita bukan lagi tempat yang aman bagiku. Selamat menikmati malam pernikahanmu yang baru di rumah ini, Baskara. Tapi ingat satu hal, setiap kepingan piring yang pecah itu adalah gambaran hatiku. Dan kamu tidak akan pernah bisa menyatukannya kembali."

Arini masuk ke kamar Kenzo dan mengunci pintu. Di dalam kegelapan, ia merosot ke lantai, memeluk lututnya, dan terisak tanpa suara agar putranya tidak terbangun. Di bawah sana, di ruang tamunya sendiri, ia tahu suaminya sedang menenangkan wanita lain.

Malam itu, hujan mulai turun membasahi Jakarta. Dinginnya menembus dinding-dinding rumah mewah itu, namun tak ada yang lebih dingin daripada hati Arini yang kini menyadari bahwa istana kebahagiaannya ternyata hanyalah sebuah bangunan dari pasir yang hancur dalam satu sapuan ombak bernama poligami.

Ini baru permulaan. Arini tahu, hari esok tidak akan pernah sama lagi. Ia bukan lagi sang ratu di rumah ini. Ia hanyalah seorang istri yang dipaksa berbagi, di dalam rumah yang kini terasa seperti penjara. Babak baru kehidupannya yang menyakitkan baru saja dimulai, tepat di saat lilin pernikahan mereka padam untuk selamanya.