Siang itu, udara di dalam rumah terasa lebih berat daripada mendung yang menggantung di langit Jakarta. Arini berdiri di balkon lantai dua, memerhatikan sebuah sedan hitam yang perlahan memasuki halaman rumahnya. Itu Dania. Kedatangan sahabatnya itu bukan sekadar kunjungan sosial; itu adalah kedatangan seorang jenderal ke medan perang yang sudah porak-poranda.

Arini turun menemui Dania di pintu depan. Wajah Dania yang biasanya ceria kini tampak tegang, tas kulitnya yang berisi dokumen hukum ia dekap erat. Saat pintu terbuka, Dania tidak mengucapkan salam basa-basi. Ia langsung memeluk Arini dengan kuat.

"Aku di sini, Rin. Aku di sini," bisik Dania.

Arini hanya bisa mengangguk pelan, tenggorokannya tercekat. Ia menuntun Dania menuju ruang tamu kecil yang letaknya agak tersembunyi dari ruang tengah, berharap pembicaraan mereka tidak terdengar oleh telinga-telinga asing. Namun, langkah mereka terhenti saat melewati ruang tengah.

Liora ada di sana. Ia sedang duduk di sofa beludru, sedang memegang sebuah bingkai foto. Itu adalah foto pernikahan Arini dan Baskara di Paris tujuh tahun lalu. Liora tampak begitu khusyuk memperhatikan foto itu, jemarinya mengusap permukaan kaca tepat di wajah Baskara.

"Letakkan itu," suara Arini terdengar dingin, memotong kesunyian.

Liora tersentak. Ia segera meletakkan bingkai foto itu kembali ke meja dengan tangan gemetar. "M-maaf, Mbak Arini. Saya hanya... foto ini sangat bagus. Mbak cantik sekali di sini."

Dania menyipitkan mata, menatap Liora dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan predator yang sedang menilai mangsa. "Jadi, ini 'amanah' itu?" tanya Dania tanpa berusaha menyembunyikan nada sarkasmenya.

Arini tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah ruang tamu kecil. "Ayo, Dan. Kita bicara di sana."

Liora tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung kedua wanita itu dengan sorot mata yang sulit dibaca—antara ketakutan yang dibuat-buat atau keingintahuan yang berbahaya.

Di dalam ruang tamu kecil, Dania langsung mengeluarkan beberapa lembar kertas. "Dengar, Arini. Aku sudah memeriksa status pernikahan siri di bawah hukum kita. Secara negara, dia tidak punya hak apa pun atas harta gono-gini. Tapi secara agama, Baskara sudah merasa sah. Yang paling krusial sekarang bukan hartamu, tapi Kenzo. Baskara adalah tipe pria yang akan menggunakan anak untuk menahanmu tetap di sini."

Arini memijat pangkal hidungnya. "Dia sudah mengatakannya semalam, Dan. Dia ingin aku tetap jadi 'istri dewasa' yang menerima semua ini. Dia pikir dengan memberikan fasilitas dan tetap mencintaiku, semuanya akan baik-baik saja."

"Pria selalu berpikir begitu," Dania mendengus. "Mereka pikir hati wanita adalah benda elastis yang bisa ditarik ke mana saja tanpa pernah putus. Tapi masalahnya, Rin, wanita di depan itu... Liora. Dia bukan sekadar anak piatu yang malang. Lihat matanya. Dia sedang mengobservasi rumah ini. Dia sedang mempelajari kelemahanmu."

"Maksudmu?"

"Dia tidak pergi ke hotel atau rumah kerabat. Dia memilih masuk ke sini, ke jantung pertahananmu. Jika dia benar-benar merasa bersalah, dia akan menolak tinggal di rumah istri pertama. Tapi dia tidak melakukannya, kan?"

Arini terdiam. Benar. Sejak kedatangannya, Liora tidak menunjukkan keinginan untuk pergi. Ia justru mulai "membantu", mulai masuk ke dapur, mulai menyentuh barang-barang Arini. Itu bukan perilaku orang yang merasa rendah diri; itu perilaku seseorang yang sedang menancapkan benderanya.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu ruang tamu kecil yang sedikit terbuka.

"Permisi... Mbak Arini?"

Itu Liora lagi. Ia membawa nampan dengan dua cangkir teh hangat. "Saya membuatkan teh untuk Mbak dan tamu Mbak. Saya lihat Mbak tadi tampak pucat."

Dania memberikan senyum miring yang tajam. "Terima kasih, Liora. Tapi Arini punya pelayan untuk melakukan ini. Kamu tidak perlu repot-repot berperan sebagai asisten rumah tangga di sini."

Liora menunduk, bibirnya sedikit gemetar. "Saya hanya ingin membantu, Mbak. Saya tidak enak hati hanya berdiam diri."

"Kalau tidak enak hati, carilah tempat tinggal lain," sahut Dania telak. "Rumah ini sudah penuh."

"Dania, sudah," sela Arini, bukan karena ingin membela Liora, tapi karena ia tidak ingin Kenzo mendengar keributan jika bocah itu turun dari kamarnya. "Letakkan saja tehnya di sana, Liora. Dan tolong, jangan ganggu kami lagi."

Liora meletakkan nampan itu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Sebelum keluar, ia sempat melirik ke arah dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja. Mata mudanya tampak tajam saat melihat kop surat kantor hukum Dania. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya membungkuk kecil dan menutup pintu.

"Lihat itu?" Dania berbisik setelah Liora pergi. "Dia baru saja memata-matai kita. Dia tahu aku pengacara. Dia tahu kau sedang merencanakan sesuatu."

Arini merasa bulu kuduknya meremang. "Apa yang harus aku lakukan, Dan?"

"Kita butuh bukti bahwa kehadiran Liora di sini membahayakan stabilitas mental Kenzo. Itu adalah senjata terkuatmu untuk mendapatkan hak asuh penuh tanpa syarat jika nanti kau benar-benar melayangkan gugatan. Tapi untuk sekarang, jangan biarkan dia memprovokasimu. Jika kau marah-marah, kau akan terlihat sebagai istri yang 'histeris' di mata Baskara, dan Liora akan terus menjadi 'korban' yang manis."

Sore harinya, Baskara pulang lebih awal. Suasana rumah mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang melelahkan. Baskara membawa beberapa kantong belanjaan besar—pakaian, tas, dan kebutuhan wanita lainnya. Arini melihatnya dari balkon, hatinya mencelos melihat suaminya begitu sibuk menurunkan barang-barang itu untuk Liora.

"Mas, kamu pulang?" Liora menyambut di pintu dengan wajah yang jauh lebih ceria daripada saat ia bersama Arini.

"Iya. Ini ada beberapa keperluan untukmu. Besok aku akan minta sekretarisku mencarikan pengajar untuk pelatihan kerja, jadi kamu punya kesibukan," ujar Baskara hangat.

Arini turun ke bawah, langkahnya tenang meski dadanya bergemuruh. "Banyak sekali belanjanya, Mas. Sepertinya kamu sangat menikmati peranmu sebagai penyelamat."

Baskara menoleh, ekspresinya langsung berubah menjadi defensif. "Arini, jangan mulai lagi. Dia butuh pakaian layak."

"Aku tidak melarangmu membelikannya baju, Mas. Tapi perhatikan di mana kamu meletakkannya. Rumah ini bukan panti asuhan, apalagi tempat penampungan istri siri," ucap Arini sambil berjalan menuju dapur.

Liora tampak ragu-ragu mengambil tas belanjaan itu. "Mas... mungkin Mbak Arini benar. Saya terlalu merepotkan. Apa tidak sebaiknya saya di kos-kosan saja?"

"Tidak," tegas Baskara sambil menatap Arini dengan tajam. "Kamu aman di sini. Di luar sana banyak orang yang ingin menagih hutang ayahmu padamu. Di sini, aku bisa melindungimu."

Kalimat itu—aku bisa melindungimu—terdengar seperti lonceng kematian bagi Arini. Baskara tidak menyadari bahwa dengan melindungi satu orang, ia sedang menghancurkan orang lain.

Malam itu, meja makan kembali menjadi saksi bisu ketegangan. Arini sengaja duduk di kepala meja, posisi yang biasanya ia berikan pada Baskara. Kenzo duduk di sampingnya, tampak bingung melihat Liora yang kini duduk di kursi yang biasanya kosong untuk tamu.

"Kenzo, makan sayurnya, sayang," ujar Arini lembut.

"Tante itu siapa, Pa?" tanya Kenzo tiba-tiba, menunjuk ke arah Liora dengan sendoknya.

Baskara berdeham, tampak tidak siap. "Itu... Tante Liora. Dia teman Papa. Dia akan tinggal di sini sementara."

"Kenapa tinggal di sini? Tante tidak punya rumah?" tanya Kenzo lagi dengan kepolosan anak kecil.

Liora tersenyum kecil, sebuah senyum yang menurut Arini tampak sangat dipaksakan. "Rumah Tante sedang diperbaiki, Kenzo. Jadi Tante numpang sebentar ya?"

Arini meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras. "Dia bukan hanya numpang, Kenzo. Dia adalah orang yang Papa pilih untuk masuk ke dalam keluarga kita. Kenzo harus tahu, hidup kita tidak akan sama lagi seperti dulu."

"Arini!" tegur Baskara dengan nada peringatan.

"Apa? Kenapa harus berbohong pada anak sendiri, Mas? Dia akan melihatmu masuk ke kamar bawah setiap malam. Dia akan melihatmu memberikan perhatian pada wanita ini. Lebih baik dia tahu pahitnya sekarang daripada merasa dikhianati nanti," sahut Arini tanpa ekspresi.

Kenzo menunduk, ia mulai merasakan ketegangan yang merambat. "Mama marah sama Papa?"

Arini meraih tangan kecil Kenzo dan mengecupnya. "Mama tidak marah sama Kenzo. Mama hanya lelah dengan kebohongan."

Suasana makan malam itu hancur berantakan. Baskara tidak melanjutkan makannya. Ia berdiri, menarik tangan Liora untuk menjauh dari meja makan, meninggalkan Arini dan Kenzo dalam keheningan yang menyakitkan.

Tengah malam, Arini terbangun karena rasa haus yang luar biasa. Ia turun ke dapur dengan langkah perlahan agar tidak membangunkan Kenzo yang tidur di sampingnya. Namun, saat melewati lorong lantai bawah, ia mendengar suara-suara dari ruang keluarga.

Lampu ruang keluarga temaram. Arini melihat Baskara dan Liora duduk di sofa. Liora tampak sedang menangis, kepalanya bersandar di bahu Baskara.

"Saya merasa bersalah pada Mbak Arini, Mas... sepertinya kehadiran saya benar-benar menghancurkan hatinya," isak Liora.

Baskara mengusap rambut Liora dengan gerakan yang begitu familiar di mata Arini—gerakan yang dulu hanya milik Arini. "Sshhh... jangan bicara begitu. Arini hanya butuh waktu. Dia wanita yang kuat, dia akan mengerti nantinya. Kamu jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu sakit lagi."

"Tapi saya mencintai Mas... saya tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang peduli pada saya," bisik Liora.

Arini terpaku di balik pilar. Mencintai? Jadi ini bukan sekadar hutang budi. Ada pengakuan cinta yang sudah terjalin, entah sejak kapan. Mungkin wasiat Pak Hermawan hanyalah pintu masuk yang nyaman bagi mereka berdua.

Arini merasakan jantungnya seperti diremas oleh tangan besi. Ia ingin melabrak mereka saat itu juga, melempar gelas di tangannya ke wajah mereka. Namun, ia teringat kata-kata Dania: Jangan terlihat histeris. Jadilah pengamat.

Dengan kekuatan yang tersisa, Arini membalikkan badan dan kembali ke lantai atas. Ia tidak jadi minum. Rasa hausnya telah digantikan oleh rasa haus akan keadilan.

Di dalam kamar, Arini mengambil buku catatan kecil dari laci mejanya. Ia menuliskan tanggal malam ini, jam, dan apa yang ia lihat.

Jam 01:15. Baskara dan Liora di sofa. Kontak fisik dan pernyataan cinta. Keamanan mental Kenzo terancam oleh kehadiran figur otoritas yang tidak konsisten.

Arini menutup buku itu. Air matanya jatuh di atas sampul kulit buku tersebut. Ia menyadari satu hal yang pasti: pertempuran ini tidak akan dimenangkan dengan air mata atau teriakan. Ia harus menjadi sedingin es jika ingin keluar dari reruntuhan istana ini dengan kepala tegak.

Arini menatap Kenzo yang tertidur lelap. "Mama akan membawamu keluar dari sini, sayang. Kita akan membangun istana yang baru, yang tidak akan pernah retak karena pengkhianatan."

Malam itu, di bawah atap yang sama, tiga orang terjaga dengan isi kepala yang berbeda. Baskara dengan rasa bersalah yang tertutup ego pahlawan, Liora dengan ambisi yang tersembunyi di balik tangisan, dan Arini dengan rencana yang mulai mengeras seperti baja. Istana itu memang sudah retak, dan Arini baru saja memutuskan bahwa ia tidak akan mencoba memperbaikinya. Ia akan membiarkannya runtuh, agar ia bisa berjalan di atas puing-puingnya menuju kebebasan.