Pagi itu, suasana di kediaman Baskara tidak lagi sekadar dingin, melainkan sudah berada pada titik beku yang menyakitkan. Arini terbangun sebelum alarm berbunyi, dengan mata yang terasa seperti berpasir dan kepala yang berat akibat kurang tidur. Ia berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Tidak ada lagi binar di sana. Yang tersisa hanyalah sepasang mata yang waspada, mencatat setiap detail kehancuran hidupnya untuk kemudian ia jadikan senjata di meja hijau.
Sesuai saran Dania, Arini mulai menjalankan strateginya: Observasi tanpa konfrontasi. Ia harus terlihat tenang, meski di dalam dadanya ada bara yang siap meledak.
Saat ia turun ke lantai bawah, ia mendapati Liora sedang sibuk di ruang tengah. Wanita muda itu tidak lagi mengenakan baju lusuhnya, melainkan setelan tunik sutra berwarna pastelβsalah satu hadiah dari Baskara kemarin. Ia sedang menata bunga sedap malam di atas meja sudut, posisi yang biasanya Arini gunakan untuk meletakkan koleksi majalah seninya.
"Pagi, Mbak Arini," sapa Liora dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Bunganya harum sekali, ya? Mas Baskara yang membelikannya tadi pagi sebelum dia berangkat ke gym."
Arini berhenti sejenak, menatap bunga-bunga itu. Sedap malam adalah bunga favoritnya, dan Baskara tahu itu. Memberikan bunga favorit istri pertama kepada istri kedua adalah bentuk penghinaan yang paling halus namun mematikan.
"Letakkan saja di sana, Liora," jawab Arini datar, tanpa sedikit pun emosi di wajahnya. "Tapi jangan sentuh majalah-majalah di bawahnya. Itu kurasi kerjaan saya."
Liora tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini Arini sadari mengandung sedikit kemenangan. "Tentu, Mbak. Saya hanya ingin rumah ini terasa lebih segar. Mas Baskara bilang Mbak sedang stres, jadi saya pikir bunga ini bisa membantu."
Arini tidak menyahut. Ia berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan Kenzo. Namun, ia kembali mendapati pemandangan yang menguji kesabarannya. Di atas meja makan, sudah tersaji nasi goreng dengan hiasan telur mata sapi yang sempurna.
"Saya sudah buatkan sarapan untuk Kenzo juga, Mbak," Liora muncul di ambang pintu dapur. "Tadi Mas Baskara bilang Kenzo suka nasi goreng yang tidak terlalu pedas."
Arini merasakan tangannya gemetar di sisi tubuhnya. Liora mulai merambah ke wilayah yang paling sakral: peran sebagai ibu. Ia bukan hanya mencoba menjadi istri, tapi juga mencoba menjadi figur ibu bagi Kenzo.
"Liora," Arini berbalik, menatap wanita itu tepat di manik matanya. "Saya menghargai niatmu untuk 'membantu'. Tapi Kenzo adalah anak saya. Saya tahu persis apa yang dia makan dan bagaimana cara menyiapkannya. Jangan pernah campuri urusan anak saya lagi. Apakah itu cukup jelas?"
Liora tampak tersentak, matanya mulai berkaca-kaca lagi. "S-saya tidak bermaksud apa-apa, Mbak... saya hanya ingin meringankan beban Mbak..."
Tepat saat itu, Baskara masuk dari pintu samping dengan handuk melingkar di lehernya, masih berkeringat setelah berolahraga. Ia melihat Liora yang tampak gemetar dan Arini yang berdiri tegak dengan wajah kaku.
"Ada apa lagi ini?" tanya Baskara dengan nada yang langsung menghakimi.
"Mas... Mbak Arini marah karena saya membuatkan nasi goreng untuk Kenzo," isak Liora pelan, menundukkan kepalanya.
Baskara mendesah frustrasi. Ia menatap Arini dengan pandangan kecewa yang mendalam. "Arini, demi Tuhan. Dia hanya memasak nasi goreng. Kenapa semuanya harus menjadi masalah besar bagimu? Kau bertindak seolah-olah dia menaruh racun di sana."
"Bagi mental anakku, kehadirannya adalah racun, Baskara," sahut Arini dingin. "Kenzo tidak butuh dua ibu. Dia butuh satu ibu yang tidak harus berbagi ayahnya dengan wanita asing di rumah ini."
"Dia bukan wanita asing! Dia istriku!" Baskara membentak, suaranya menggema di ruang makan yang luas itu.
Keheningan mengikuti bentakan itu. Kenzo, yang baru saja turun tangga dengan seragam sekolahnya, terpaku di anak tangga terakhir. Wajah kecilnya pucat pasi mendengar teriakan ayahnya.
Arini segera menghampiri Kenzo, memeluk bahunya dan menuntunnya menjauh dari sana. "Ayo, Kenzo. Kita sarapan di luar saja. Mama ingin makan bubur ayam di dekat sekolahmu."
"Tapi Pa..." Kenzo menatap ayahnya dengan ragu.
Baskara tidak melihat ke arah Kenzo. Ia justru sibuk menenangkan Liora yang masih terisak. "Sudah, Liora. Jangan menangis. Arini hanya sedang tidak stabil."
Arini membawa Kenzo keluar tanpa menoleh lagi. Di dalam mobil, Kenzo duduk diam, tangannya memainkan tali tas sekolahnya.
"Ma... Tante Liora itu jahat ya?" tanya Kenzo tiba-tiba.
Arini terdiam sejenak, memutar kunci kontak mobil. Ia ingin mengatakan 'ya' dengan segenap hatinya. Namun, ia teringat nasihat Dania. Ia tidak boleh meracuni pikiran Kenzo secara gamblang karena itu bisa digunakan Baskara untuk menuduhnya melakukan parental alienation di pengadilan nanti.
"Tante Liora hanya orang baru, sayang. Tapi di rumah itu, Mama tetap Mama-nya Kenzo. Tidak ada yang bisa menggantikan itu," jawab Arini sambil mengelus pipi putranya.
Siang harinya, Arini tidak pulang ke rumah. Ia pergi ke galeri seninya, mencoba menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Namun, konsentrasinya buyar saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Itu dari grup WhatsApp keluarga besar Baskara.
Sebuah foto diunggah oleh ibunda Baskara, mertua Arini. Di foto itu, Baskara, Liora, dan ibu mertuanya sedang makan siang di sebuah restoran mewah. Keterangan fotonya berbunyi: "Menyambut anggota keluarga baru. Semoga berkah dan rukun selalu."
Arini merasa bumi di bawah kakinya amblas. Ibu mertuanya, wanita yang selama ini ia puji dan ia rawat saat sakit, dengan begitu cepat menerima Liora. Tidak ada telepon untuk menanyakan kabar Arini. Tidak ada simpati untuk tujuh tahun pengabdiannya. Mereka semua telah berpaling, terpesona oleh narasi 'amanah' dan 'perlindungan' yang dibangun Baskara.
Ia segera menelepon Dania.
"Dan, mereka sudah membawanya ke keluarga besar. Ibu mertuaku memposting foto mereka," suara Arini terdengar pecah.
"Tenang, Rin. Bernapaslah," ujar Dania di seberang sana. "Ini justru bagus untuk kita. Biarkan mereka merasa di atas angin. Biarkan mereka mempublikasikan hubungan itu. Itu adalah bukti otentik bahwa Baskara secara sadar dan publik telah melakukan poligami tanpa izin pengadilan dan tanpa persetujuan istri sah. Rekam semua postingan itu. Screenshot semuanya."
"Tapi hatiku sakit, Dan. Mereka memperlakukanku seolah aku sudah tidak ada."
"Itu karena mereka ingin kau menyerah, Rin. Mereka ingin kau pergi dengan tangan kosong karena tidak tahan lagi. Jangan beri mereka kemenangan itu. Tetaplah di sana. Jadilah duri di dalam daging mereka."
Arini menutup telepon dan menghapus air matanya. Dania benar. Ia tidak boleh pergi hanya karena sakit hati. Ia harus pergi dengan kemenangan hukum.
Sore itu, Arini pulang lebih awal dengan rencana baru. Jika Baskara ingin Liora menjadi bagian dari keluarga, maka Arini akan memperlakukan Liora sebagaimana mestinya seorang "tamu" yang tidak diinginkan namun harus dilayani secara formal.
Saat sampai di rumah, ia mendapati Liora sedang berada di taman belakang, mencoba memberi makan ikan di kolam koi kesayangan Arini.
"Liora," panggil Arini.
Liora menoleh, tampak waspada. "Ya, Mbak?"
"Mulai besok, saya akan membuat jadwal penggunaan fasilitas rumah. Karena Mas Baskara bilang kita harus 'dewasa' dalam berbagi, maka pembagian itu harus jelas secara administratif. Kamu punya jadwal dapur jam berapa, jadwal ruang cuci jam berapa, dan jadwal penggunaan ruang tamu jam berapa. Saya tidak ingin kita berpapasan terus-menerus dan menciptakan ketegangan bagi Kenzo."
Liora tampak bingung. "Mbak... apa harus seperti itu? Bukankah kita bisa hidup santai saja?"
"Tidak ada yang santai saat privasi saya dirampas," sahut Arini tajam. "Dan satu lagi. Karena kamu sudah resmi menjadi 'istri' di sini, saya harap kamu berkontribusi pada pengeluaran rumah tangga. Mas Baskara mungkin memberimu uang jajan, tapi listrik, air, dan pemeliharaan rumah ini juga butuh biaya. Saya akan mengirimkan rincian tagihan bulananmu."
Liora ternganga. "Tapi... Mas Baskara tidak bilang begitu."
"Mas Baskara mungkin terlalu sibuk menjadi pahlawan sampai lupa pada detail finansial. Tapi sebagai manajer rumah ini, saya yang mengatur. Jika kamu keberatan, silakan bicarakan pada suamimu."
Arini berbalik masuk ke dalam, meninggalkan Liora yang kini tampak benar-benar terpojok. Untuk pertama kalinya sejak badai ini dimulai, Arini merasakan sedikit kendali kembali ke tangannya.
Namun, kendali itu tidak bertahan lama.
Malam harinya, Baskara menyerbu masuk ke kamar Arini. Wajahnya merah padam, tangannya memegang secarik kertas jadwal yang dibuat Arini.
"Apa-apaan ini, Arini? Menagih biaya listrik pada Liora? Membuat jadwal dapur? Kau pikir ini asrama?" teriak Baskara.
Arini yang sedang membaca buku di tempat tidur, menurunkan bukunya perlahan. "Kau bilang dia adalah istri. Istri memiliki tanggung jawab, bukan hanya hak untuk dilindungi. Jika dia tinggal di sini, dia harus memikul beban rumah ini bersamaku. Kecuali jika kau mengakuinya sebagai beban tambahan, maka aku akan menagihnya langsung padamu."
"Dia tidak punya uang, Arini! Kau tahu itu!"
"Lalu carikan dia pekerjaan. Jangan biarkan dia menjadi parasit di rumahku."
Baskara melemparkan kertas itu ke lantai. "Ini rumahku juga! Aku yang membayar cicilannya!"
"Benar. Tapi aku yang mengisi roh di dalamnya selama tujuh tahun. Dan sekarang kau membawa kotoran ke dalamnya. Jika kau keberatan dengan aturanku, silakan bawa dia keluar. Apartemenmu di Kuningan masih kosong, bukan?"
Baskara terdiam. Apartemen itu adalah investasi mereka bersama. Ia tahu Arini punya hak atas aset itu.
"Aku tidak akan membawanya keluar. Dia tetap di sini," ucap Baskara dengan nada yang lebih rendah namun mengancam. "Dan jangan coba-coba menekan Liora lagi. Jika kau melakukannya, aku akan memindahkan Kenzo ke rumah Ibu. Ibu sudah setuju untuk merawatnya agar dia tidak melihat ibunya yang menjadi 'monster' karena cemburu."
Ancaman itu menghujam jantung Arini. Monster karena cemburu? Baskara benar-benar telah memutarbalikkan fakta. Pengkhianatannya dianggap sebagai amanah, dan rasa sakit Arini dianggap sebagai kegilaan.
"Kau berani menyentuh Kenzo, Baskara... maka kau akan melihat monster yang sesungguhnya," desis Arini dengan suara yang bergetar karena amarah yang ditahan.
Baskara tidak menjawab. Ia hanya menatap Arini dengan kebencian, lalu keluar dan membanting pintu.
Arini jatuh terduduk di tepi tempat tidur. Ia menyadari bahwa ancaman Baskara bukan gertakan sambal. Ibu mertuanya sudah dipihak mereka. Liora sudah dipihak mereka. Ia sendirian di rumah ini, dikelilingi oleh orang-orang yang ingin melenyapkannya dari sejarah hidup mereka sendiri.
Ia mengambil ponselnya, jarinya gemetar saat mengetik pesan untuk Dania.
Dan, Baskara mengancam akan mengambil Kenzo. Dia melibatkan ibunya. Aku butuh langkah yang lebih cepat. Aku tidak bisa menunggu 30 hari lagi.
Sambil menunggu balasan, Arini berjalan menuju kamar Kenzo. Ia melihat putranya yang sedang tidur, memeluk boneka beruangnya. Arini berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan tangan-tangan itu menyentuh dunianya.
Di luar, hujan kembali turun. Di bawah sana, di kamar tamu, ia bisa mendengar suara tawa kecil Liora dan gumaman rendah Baskara. Mereka sedang merayakan kemenangan kecil mereka di atas reruntuhan hati Arini.
Arini mematikan lampu kamar Kenzo. Ia berdiri di kegelapan, matanya menatap tajam ke arah pintu. Istana ini memang sudah retak, namun Arini tidak akan membiarkan puing-puingnya menimpa dirinya. Jika istana ini harus runtuh, maka ia akan memastikan dialah satu-satunya yang keluar dengan selamat sambil membawa hartanya yang paling berharga: Kenzo.
Babak baru telah dimulai. Ini bukan lagi soal berbagi suami. Ini adalah soal bertahan hidup dalam perang dingin yang baru saja berubah menjadi sangat personal dan berbahaya. Arini baru saja menyadari bahwa dalam drama ini, tidak ada peran untuk pahlawan. Hanya ada pemenang dan pecundang. Dan dia menolak untuk kalah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar