Kegelapan di kamar Kenzo terasa lebih mencekik daripada ruang tamu yang penuh drama di bawah sana. Arini duduk bersandar di pintu yang terkunci, merasakan dinginnya kayu jati meresap ke tulang punggungnya. Di luar, suara hujan yang menghantam jendela kaca terdengar seperti ribuan jemari yang mencoba masuk, menuntut jawaban atas kehancuran yang baru saja terjadi.
Di dalam pelukannya, Kenzo bergerak gelisah dalam tidurnya. Bocah itu tidak bangun, namun napasnya yang tidak teratur menjadi pengingat paling kejam bagi Arini bahwa hidup putranya telah berubah tanpa sempat ia setujui. Arini memejamkan mata, namun yang ia lihat hanyalah kilatan piring porselen yang pecah—lambang dari tujuh tahun pengabdiannya yang hancur dalam hitungan detik.
Suara langkah kaki berat terdengar di lorong. Arini menahan napas. Ia mengenali langkah itu. Itu adalah langkah kaki pria yang selama ini ia tunggu dengan rindu setiap sore, namun sekarang, suara itu memicu rasa mual yang hebat di perutnya.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar Kenzo.
"Arini," suara Baskara terdengar rendah, teredam oleh daun pintu. Tidak ada nada kemarahan di sana, hanya nada kelelahan yang bagi Arini terasa sangat egois. "Buka pintunya. Kita perlu bicara seperti orang dewasa. Tidak perlu ada adegan banting piring lagi."
Arini tidak bergerak. Ia menatap kosong ke arah kegelapan. Orang dewasa? Pikirnya sinis. Apakah orang dewasa adalah mereka yang mengkhianati komitmen suci demi sebuah alasan moral yang dipaksakan?
"Pergi, Baskara," bisik Arini. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Bawa 'tanggung jawab moralmu' itu menjauh dariku malam ini."
"Dia punya nama, Arini. Liora. Dan dia ketakutan di bawah sana. Kamu membuatnya merasa seperti penjahat," balas Baskara, ada nada pembelaan yang tajam kali ini.
Arini berdiri dengan lutut yang masih lemas. Ia mendekatkan wajahnya ke pintu, hanya terpisah beberapa inci dari pria yang kini terasa seperti orang asing. "Dia adalah penjahat, Baskara. Dan kamu adalah otaknya. Kamu membawa wanita lain ke rumah istri sahmu di malam ulang tahun pernikahan kalian, dan kamu mengharapkan aku menjadi tuan rumah yang ramah? Kamu sudah gila."
"Ini sementara, Arini. Aku hanya ingin dia tenang dulu. Dia tidak punya tempat tujuan."
"Lalu kenapa harus menikahinya secara siri?" Arini menekan pertanyaannya, menuntut kejujuran yang paling dalam. "Kenapa tidak cukup dengan memberinya tempat tinggal di apartemen atau biaya hidup? Kenapa harus menyatukan tubuh dan jiwamu dengannya jika ini hanya tentang bantuan?"
Hening. Sunyi yang panjang itu adalah jawaban yang paling menyakitkan bagi Arini. Baskara tidak bisa menjawab karena ia tahu, jauh di dalam lubuk hatinya, ada sesuatu yang lebih dari sekadar belas kasihan. Atau mungkin, egonya sebagai pria yang ingin dianggap pahlawan telah mengaburkan batas antara empati dan nafsu.
"Kita bicara besok pagi," ucap Baskara akhirnya. Langkah kakinya menjauh, perlahan tapi pasti, menuju lantai bawah.
Arini merosot kembali ke lantai. Ia tahu ke mana Baskara pergi. Ke kamar tamu di lantai bawah, tempat di mana Liora berada. Pemikiran bahwa malam ini suaminya mungkin akan mendekap wanita lain untuk menenangkannya, sementara ia meringkuk di lantai kamar anaknya, membuat Arini ingin berteriak sampai paru-parunya pecah.
Pagi hari datang tanpa permisi. Cahaya matahari masuk melalui celah gorden, menyinari debu-debu yang beterbangan di kamar Kenzo. Arini terbangun dengan leher kaku dan mata yang sangat sembap. Ia melihat Kenzo sudah duduk di tepi tempat tidur, menatapnya dengan wajah bingung.
"Mama kenapa tidur di lantai?" tanya Kenzo polos.
Arini memaksakan senyum yang paling sulit dalam hidupnya. "Mama hanya ingin menjaga Kenzo lebih dekat semalam. Ayo, mandi. Mama siapkan sarapan."
Saat Arini membuka pintu kamar, aroma kopi tercium dari bawah. Untuk sesaat, otaknya secara otomatis berpikir bahwa ini adalah pagi yang normal. Baskara akan duduk di meja makan membaca tabletnya, dan ia akan menyiapkan omelet. Namun, saat ia melangkah ke balkon lantai dua dan melihat ke bawah, kenyataan menghantamnya kembali.
Pecahan piring semalam sudah dibersihkan. Lantai marmer itu kembali mengkilap. Namun, pemandangan di meja makan telah berubah secara permanen.
Liora sedang berdiri di dapur, mengenakan salah satu celemek milik Arini—celemek berwarna merah muda yang dibeli Arini saat mereka berlibur ke Kyoto. Ia sedang menuangkan kopi ke cangkir Baskara. Baskara duduk di sana, menyesap kopi itu sambil sesekali mengangguk pada Liora. Mereka tampak seperti potongan gambar dari keluarga bahagia yang baru, dan Arini adalah hantu yang mengintip dari bayang-bayang.
Arini mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Itu adalah wilayahnya. Dapur itu, celemek itu, rutinitas itu—semuanya adalah milik Arini.
Ia turun tangga dengan langkah yang sengaja dikeraskan. Kehadirannya membuat suasana di meja makan mendadak kaku. Liora hampir menjatuhkan teko kopi yang dipegangnya.
"Pagi, Arini," sapa Baskara datar, seolah-olah kejadian semalam hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat. "Liora menyiapkan sarapan. Dia bilang dia ingin membantu sebagai tanda terima kasih."
Arini berjalan lurus ke arah dapur, melewati Baskara seolah pria itu adalah udara. Ia mendekati Liora, yang kini menunduk dalam, bahunya gemetar.
"Buka celemek itu," kata Arini dengan nada dingin yang menusuk.
Liora mendongak, matanya berkaca-kaca. "M-maaf, Mbak... saya hanya ingin—"
"Aku bilang buka," ulang Arini, suaranya naik satu level namun tetap terkontrol. "Jangan pernah menyentuh barang-barangku. Jangan pernah merasa kau punya hak untuk melayani suamiku di dapurku sendiri."
"Arini, cukup!" Baskara berdiri, kursinya berderit tajam di atas lantai marmer. "Dia hanya berniat baik. Jangan mulai lagi."
Arini berbalik menghadap Baskara. "Niat baik? Mas, jika dia ingin membantu, dia bisa pergi dari rumah ini. Itu adalah bantuan terbaik yang bisa dia berikan. Tapi menggunakan barang-barangku? Mencoba mengambil peranku di pagi pertama dia di sini? Itu bukan niat baik. Itu agresi."
Baskara memijat pelipisnya. "Dia tidak punya pakaian, Arini. Pakaiannya hanya yang dia pakai kemarin. Aku yang menyuruhnya meminjam apa yang ada di sini untuk sementara."
"Kenapa tidak kau belikan saja satu mal untuknya, Baskara? Kau punya banyak uang, kan? Kau bahkan punya cukup uang untuk membeli istri kedua, masa membelikan baju saja tidak mampu?" sindir Arini tajam.
Liora mulai terisak. Suara isakannya terdengar kecil dan rapuh, jenis suara yang biasanya memicu naluri pelindung pada pria. Dan benar saja, Baskara segera melangkah mendekati Liora, menyentuh lengannya dengan lembut.
"Sudah, Liora. Masuk ke kamar dulu. Biar aku yang bicara dengan Arini."
Liora mengangguk patuh, melepaskan celemek itu dengan tangan gemetar dan meletakkannya di atas meja dapur. Ia berjalan melewati Arini dengan kepala tertunduk, namun Arini sempat menangkap sekilas tatapan mata wanita muda itu. Di balik air mata itu, tidak ada rasa bersalah yang tulus. Ada sesuatu yang lain—sebuah ketahanan, atau mungkin kepuasan kecil karena melihat Arini kehilangan kendali.
Setelah Liora hilang di balik pintu kamar tamu, Baskara berbalik menghadap Arini dengan wajah merah padam.
"Kau keterlaluan, Arini. Kau tidak seperti ini biasanya. Mana Arini yang lembut? Mana Arini yang penuh empati yang aku kenal?"
Arini tertawa pahit. Air mata mulai menggenang lagi, tapi ia menolaknya untuk jatuh. "Arini yang itu sudah mati semalam, Baskara. Kau yang membunuhnya. Kau mengharapkan kelembutan dari wanita yang baru saja kau khianati? Kau mengharapkan empati dari istri yang kau paksa berbagi ranjang dengan orang asing?"
"Aku tidak memintamu berbagi ranjang! Aku hanya meminta tempat tinggal untuknya!"
"Dan pengakuan sebagai istri? Mas, kau pikir aku bodoh? Sekali kau menikahinya, kau memberikan dia hak yang sama denganku. Hak atas waktumu, hak atas uangmu, dan hak atas perhatianmu. Kau pikir aku bisa hidup dalam sandiwara ini?"
Baskara menghela napas panjang, mencoba merendahkan suaranya. "Dengar, Liora sedang dalam masa sulit. Ayahnya meninggal dalam keadaan tragis. Dia depresi. Kalau aku melepaskannya sekarang, dia bisa melakukan hal-hal nekat. Apa kau ingin aku memikul beban dosa jika terjadi sesuatu padanya?"
"Lalu bagaimana dengan bebanku, Baskara? Bagaimana dengan kesehatan mentalku? Bagaimana dengan Kenzo?" Arini menunjuk ke arah lantai atas. "Dia sudah mulai bertanya-tanya. Apa yang harus aku katakan? Bahwa ayahnya sekarang memiliki 'proyek kemanusiaan' berbentuk istri muda?"
Baskara terdiam. Ia tidak punya jawaban untuk Kenzo. Keheningan itu kembali merayap di antara mereka, menciptakan jurang yang semakin lebar.
"Aku akan pergi ke kantor," ucap Baskara akhirnya, menghindari konfrontasi lebih lanjut. "Dan aku harap saat aku pulang nanti, rumah ini sudah tenang. Tolong, Arini. Satu kali ini saja, jadilah wanita yang dewasa."
Baskara mengambil tas kerjanya dan pergi tanpa mencium kening Arini—sebuah tradisi yang tidak pernah terlewatkan selama tujuh tahun terakhir. Suara pintu depan yang tertutup terasa seperti palu hakim yang mengetuk putusan bersalah bagi pernikahan mereka.
Arini berdiri sendirian di dapur. Ia melihat meja makan yang kini berantakan dengan sisa kopi dan omelet yang dibuat Liora. Dengan gerakan lambat, ia mengambil cangkir kopi milik Baskara yang masih tersisa separuh. Ia menatap cairan hitam itu, lalu dengan sengaja menjatuhkannya ke lantai.
Prang!
Satu kepingan lagi pecah. Namun, rasa sesak di dadanya tidak berkurang.
Ia kemudian berjalan ke arah telepon rumah, jemarinya bergerak cepat menekan sebuah nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.
"Halo, Dania?" suara Arini bergetar.
"Arini? Ada apa? Suaramu kedengaran aneh," suara sahabatnya, sang pengacara perceraian, terdengar di seberang sana.
"Dania... aku butuh bantuanmu," Arini berhenti sejenak, menghirup udara sebanyak yang ia bisa. "Baskara membawa wanita lain. Dia sudah menikah lagi. Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa, tapi aku tahu aku tidak bisa tinggal di sini."
Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara Dania berubah menjadi sangat serius. "Jangan lakukan hal bodoh, Arini. Jangan keluar dari rumah itu dulu tanpa persiapan. Kalau kau keluar sekarang tanpa strategi, kau bisa kehilangan hak asuh Kenzo. Dengarkan aku, tetap di sana, kumpulkan bukti, dan bersikaplah seolah-olah kau sedang mengamati musuhmu. Aku akan ke rumahmu siang ini."
Arini menutup telepon. Ia melihat ke arah pintu kamar tamu yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, ada seorang wanita yang kini menjadi saingannya. Seorang wanita yang mungkin tampak rapuh, namun telah berhasil mengguncang fondasi istananya.
Arini berjalan menuju meja makan, mengambil celemek merah mudanya yang tergeletak begitu saja. Ia meremas kain itu kuat-kuat. Ia sadar, air mata tidak akan mengusir Liora. Teriakannya tidak akan membuat Baskara sadar.
Jika Baskara ingin ia menjadi "dewasa", maka ia akan menunjukkan apa artinya menjadi wanita dewasa yang sedang mempertahankan harga dirinya. Arini tidak akan menjadi korban yang menangis di pojok kamar. Ia akan menjadi kurator dalam hidupnya sendiri—memilah mana yang pantas dipertahankan, dan mana yang harus dibuang sebagai sampah sejarah.
Namun, saat ia berbalik, ia melihat Kenzo berdiri di tangga, menatap pecahan cangkir kopi di lantai dengan mata yang penuh ketakutan.
"Mama... kenapa semuanya pecah terus?" tanya Kenzo dengan suara gemetar.
Arini terpaku. Ia menyadari bahwa dalam perang ini, Kenzo adalah satu-satunya yang tidak boleh menjadi korban. Ia berlari memeluk putranya, menyembunyikan wajahnya di bahu kecil itu.
"Maafkan Mama, sayang. Mama hanya sedang merapikan barang yang sudah lama rusak," bisik Arini, meski ia tahu, yang rusak bukan hanya cangkir atau piring.
Yang rusak adalah kepercayaan, dan di rumah ini, perbaikan tidak akan semudah membelikan porselen baru. Konflik ini baru saja dimulai, dan Arini tahu, badai yang lebih besar sedang bergerak mendekat, siap meruntuhkan apa pun yang tersisa dari istana yang kini mulai retak itu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar