Cermin wastafel memantulkan wajah seorang perempuan yang nyaris tidak Karina kenali. Kantung matanya menghitam, kulitnya sepucat pualam, dan bibirnya kering. Namun, di balik sepasang bola mata cokelat gelap itu, tidak ada lagi kilat keputusasaan. Yang ada hanyalah sebuah rongga kosong yang perlahan diisi oleh kemarahan absolut.
Semalaman ia terjaga, menatap layar ponselnya hingga baterainya habis. Foto Luthfi bertelanjang dada memeluk Raisa di kamar hotel mewah itu telah membakar sisa-sisa kewarasannya menjadi abu. Ditambah lagi dengan pesan anonim misterius yang menjanjikan informasi tentang sertifikat rumahnya yang hilang. Semuanya menumpuk, membentuk sebuah bom waktu di dalam kepalanya.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan di pintu kamar mandinya membuyarkan lamunan Karina.
"Sayang? Kamu belum selesai mandinya? Keluarga besar udah kumpul semua di bawah lho. Nggak enak kalau Tante-tante nungguin kamu kelamaan." Suara Luthfi terdengar dari balik pintu, lembut dan penuh perhatian, seolah pria itu tidak memiliki dosa sebesar gunung.
Karina menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara dingin. Ia mengoleskan lipstik berwarna nude ke bibirnya, merapikan kerah gaun selutut berwarna hitam elegan yang baru saja ia kenakan, lalu membuka pintu.
Luthfi berdiri di sana, mengenakan kemeja batik sutra lengan panjang yang belikan Karina bulan lalu. Pria itu tersenyum manis, mengulurkan tangan untuk merapikan rambut Karina.
"Kamu cantik banget malam ini, Rin. Ayo turun. Ibu udah siapin makan malam spesial buat nyambut keluarga besar dari kampung," ucap Luthfi dengan mata berbinar.
"Keluarga besar dari kampung? Katanya cuma Tante Sari dan Tante Mira yang datang?" Karina menatap suaminya dengan pandangan menelisik.
Luthfi sedikit gelagapan, tapi dengan cepat menguasai diri. "Ya, ada beberapa sepupu jauh juga yang kebetulan lagi di Jakarta. Kan sekalian silaturahmi, Sayang. Rumah kita ini kan besar, sekalian syukuran karena kamu sekarang udah resmi pegang Wijaya Land. Ibu bangga banget sama kamu, makanya dia undang banyak orang buat pamer."
Rumah kita, batin Karina sinis. Pria ini sudah mulai mengklaim rumah peninggalan ayahnya sebagai milik bersama. Dan soal Bu Ratih yang bangga? Karina tahu persis malam ini bukanlah acara syukuran. Ini adalah arena gladiator, dan ia adalah mangsa yang sengaja dilemparkan ke tengah-tengah singa kelaparan.
"Ayo," jawab Karina singkat. Ia menepis halus tangan Luthfi yang hendak menggandengnya, beralasan harus memegang pegangan tangga karena masih sedikit pusing.
Saat Karina menuruni tangga pualam menuju ruang keluarga di lantai satu, hiruk-pikuk suara manusia langsung menghantam telinganya. Rumahnya yang biasanya tenang dan berwibawa, kini terasa seperti pasar malam kelas atas. Ada lebih dari dua puluh orang di sana. Bibi, paman, sepupu, hingga kerabat jauh Luthfi duduk memenuhi sofa-sofa mahal dari Italia yang dulu dibeli khusus oleh almarhum ayahnya.
Di tengah-tengah keramaian itu, Bu Ratih berdiri bak seorang ratu. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun kebaya brokat berwarna merah menyala, dipenuhi perhiasan emas yang bergelantungan di leher dan pergelangannya. Ia sedang sibuk memerintah tiga asisten rumah tangga untuk menata hidangan mewah di atas meja makan panjang.
"Nah, ini dia Nyonya Rumah kita!" seru salah satu bibi Luthfi dengan nada melengking begitu melihat Karina turun.
Semua mata menoleh ke arahnya. Senyum-senyum palsu mengembang di wajah mereka. Karina hanya mengangguk sopan, memaksakan senyum tipis di bibirnya. Ia melangkah menuju ruang makan, mencoba memainkan perannya sebagai nyonya rumah yang baik demi menjaga nama baik keluarga Wijaya.
Namun, belum sempat Karina duduk, suara bel pintu depan berbunyi nyaring.
"Biar Nisa yang buka, Bu!" seru Nisa antusias, berlari kecil menuju pintu utama seolah ia sudah sangat menantikan tamu tersebut.
Jantung Karina berdetak lebih cepat. Firasat buruk langsung menyelimuti dadanya. Ia berdiri mematung di dekat meja makan, menatap lurus ke arah lorong pintu depan.
Suara hak sepatu tinggi beradu dengan lantai marmer terdengar mendekat. Diikuti oleh suara tawa Nisa yang riang.
Dan detik berikutnya, dunia Karina seakan berhenti berputar.
Dari balik lorong, muncul sosok Raisa.
Perempuan itu mengenakan dress sutra berwarna emerald green yang melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan siluet tubuh yang mengundang decak kagum dari beberapa kerabat laki-laki di ruangan itu. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak hampers besar berisi buah-buahan impor dan wine mahal.
Karina menoleh cepat ke arah Luthfi. Suaminya itu tampak sedikit terkejut, namun matanya memancarkan kilat kekaguman yang tak bisa disembunyikan.
"Ya ampun, Raisa! Akhirnya kamu datang juga, Nak!" Bu Ratih langsung setengah berlari menghampiri Raisa. Wanita tua itu memeluk Raisa dengan sangat erat, jauh lebih erat dan hangat daripada pelukan yang pernah ia berikan pada Karina selama enam tahun terakhir. Ia mencium kedua pipi Raisa bergantian. "Ibu kira kamu sibuk ngurusin bisnis, makanya nggak bisa mampir."
"Mana mungkin Raisa nolak undangan Ibu Ratih yang baik hati," jawab Raisa dengan suara manjanya yang khas. Ia menyerahkan hampers itu pada Nisa. "Ini ada sedikit buah tangan buat keluarga. Oh, hai, Mas Luthfi. Hai... Mbak Karina."
Mata Raisa bertemu dengan mata Karina. Sebuah senyuman penuh kemenangan dan ejekan tersungging di bibir perempuan yang dilapis lipstik berwarna merah menyala itu.
Darah Karina mendidih hingga ke ubun-ubun. Perempuan ini, perempuan yang semalam ia pergoki sedang bermesraan dengan suaminya, perempuan yang fotonya sedang telanjang di kamar hotel bersama Luthfi masih tersimpan di ponselnya, kini berdiri dengan angkuh di dalam rumahnya. Diundang oleh ibu mertuanya sendiri dalam acara makan malam keluarga.
Ini bukan sekadar penghinaan. Ini adalah deklarasi perang terbuka.
"Ayo semuanya, kita mulai makannya! Raisa, kamu duduk di sini sayang, di dekat Ibu dan Luthfi. Biar gampang ngobrolnya," perintah Bu Ratih dengan suara lantang, sengaja menarik sebuah kursi kosong yang letaknya bersebelahan langsung dengan Luthfi.
Karina yang seharusnya duduk di sebelah suaminya sebagai nyonya rumah, justru dibiarkan berdiri mematung di dekat ujung meja. Luthfi sendiri tampak salah tingkah, ia melirik Karina sebentar, namun pada akhirnya ia tidak mencegah Raisa yang dengan anggun melangkah dan duduk di kursi sebelahnya.
"Rin, kamu duduk di situ aja ya, deket Tante Mira," ucap Luthfi pelan, menunjuk kursi di seberang meja yang jaraknya jauh dari dirinya. "Biar Ibu yang urus Raisa. Dia kan tamu kehormatan malam ini."
Tamu kehormatan.
Karina menarik napas dalam-dalam, menahan dorongan kuat untuk mengambil pisau steak di atas meja dan menancapkannya ke dada suaminya. Ia berjalan perlahan dengan kepala tegak, menarik kursi di sebelah Tante Mira, dan duduk dengan keanggunan seorang ratu yang sedang mengamati pengkhianat di istananya.
Makan malam pun dimulai. Namun alih-alih menikmati hidangan mewah yang dibeli menggunakan uang perusahaan ayahnya, Karina justru dipaksa menelan duri tajam penghinaan yang dilemparkan bertubi-tubi dari sekeliling meja.
"Raisa ini makin cantik aja ya. Terakhir Tante ketemu kamu zaman kuliah dulu. Sekarang udah sukses banget kelihatannya," puji Tante Sari, mulutnya sibuk mengunyah daging rendang. "Kerja di mana sekarang, Sa?"
"Aku punya beberapa bisnis kecil-kecilan kok, Tante. Ada boutique sama event organizer. Sekarang lagi bantu-bantu ngerapihin manajemen perusahaan orang juga, sebagai konsultan independen," Raisa menjawab dengan nada merendah yang palsu, matanya melirik tajam ke arah Karina. "Ya... hitung-hitung bantu teman lama yang lagi kesusahan ngurus warisan bapaknya."
"Wah, hebat banget!" sahut Tante Mira antusias, sama sekali tak memedulikan perasaan Karina. "Perempuan itu memang harus mandiri. Harus pintar cari uang sendiri, pinter bisnis. Jangan cuma bisa ngandelin harta warisan orang tua atau numpang hidup sama suami. Kalau nggak punya skill, nanti gampang dibodoh-bodohin orang. Iya nggak, Luthfi?"
Luthfi yang sedang menyesap minumannya hanya tertawa canggung. Ia tidak membela Karina sama sekali. "Iya, Tante. Makanya Luthfi juga lagi pelan-pelan ajarin Karina soal bisnis. Kasihan dia kalau harus ngurus PT Wijaya Land sendirian. Dunia properti itu kan keras."
"Makanya, Luthfi," potong Bu Ratih dengan suara keras, memastikan seluruh orang di meja panjang itu mendengarnya. "Kamu itu harusnya cepat-cepat ambil alih surat kuasa perusahaannya. Istrimu itu kan cuma lulusan S1 Sastra, mana ngerti dia urusan tender ratusan miliar? Bisa-bisa bangkrut itu perusahaan di tangannya. Beda sama Raisa, lulusan bisnis dari luar negeri, udah pengalaman pegang perusahaan besar."
Ruang makan mendadak hening sejenak. Dentingan sendok dan garpu terhenti. Beberapa kerabat yang masih punya sedikit rasa malu tampak menunduk, tak berani menatap Karina.
Namun Raisa justru tertawa kecil. "Ah, Ibu Ratih bisa aja. Mbak Karina pasti bisa kok belajar pelan-pelan. Walaupun memang, ngurus perusahaan raksasa itu nggak gampang. Kalau cuma modal nangis dan panik, ya aset bisa hilang pelan-pelan tanpa disadari."
Kalimat itu menohok ulu hati Karina. Aset bisa hilang pelan-pelan tanpa disadari. Raisa sedang mengejeknya. Perempuan ini sedang memberitahunya secara tidak langsung bahwa dialah dalang di balik hilangnya sertifikat rumah dan dokumen saham dari dalam brankas. Raisa menantangnya secara terbuka di rumahnya sendiri.
Karina mencengkeram garpu di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Ia melirik suaminya. Luthfi justru sedang menatap Raisa dengan pandangan memuja, senyum tipis menghiasi bibirnya seolah ia bangga melihat kecerdasan perempuan itu.
Pengkhianatan ini terlalu sempurna. Terlalu menjijikkan.
"Iya, Raisa itu paket komplit," lanjut Bu Ratih, semakin menjadi-jadi karena merasa Karina tidak memberikan perlawanan. Wanita tua itu meletakkan sendoknya, menatap lurus ke arah Karina dengan pandangan merendahkan yang tak lagi ditutupi. "Cantik, mandiri, pintar cari uang, auranya aura nyonya besar. Cocok banget bersanding sama pengusaha sukses."
Puncaknya, Bu Ratih menghela napas panjang dan mengucapkan kalimat yang akan menjadi awal dari kehancuran keluarganya sendiri.
"Kadang Ibu tuh mikir," ucap Bu Ratih dengan nada suara yang menggema di seluruh penjuru ruang makan. "Harusnya dari dulu Luthfi nikahnya sama Raisa. Kalau dari awal Luthfi didampingi perempuan yang ngerti bisnis kayak Raisa, pasti perusahaan Luthfi udah jadi raksasa sekarang. Nggak perlu nunggu ada tua bangka meninggal dulu buat bisa hidup enak."
Seketika, suasana di meja makan membeku. Keheningan yang sangat mencekam turun menyelimuti ruangan itu. Para asisten rumah tangga yang sedang menuangkan air di sudut ruangan bahkan sampai menghentikan gerakan mereka.
Menghina istri di depan umum adalah satu hal, tapi menghina ayah sang istri yang baru saja meninggal dunia di rumah peninggalannya sendiri adalah sebuah bentuk kebiadaban yang tak termaafkan.
Luthfi memucat. Ia sadar ibunya sudah bertindak terlalu jauh. "Ibu! Jaga bicaranya!" tegurnya panik, matanya melirik ke arah Karina dengan cemas.
Namun, teguran itu sudah terlambat.
Di ujung meja, Karina meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring porselen. Bunyi dentingannya terdengar begitu nyaring dan tajam memecah keheningan.
Ia mengambil serbet makan, menyeka sudut bibirnya dengan gerakan yang sangat lambat dan anggun. Kemudian, ia mengangkat wajahnya. Tidak ada air mata. Tidak ada wajah merah menahan tangis. Yang ada hanyalah raut wajah sedingin bongkahan es di kutub utara. Mata cokelatnya memancarkan aura membunuh yang membuat Tante Mira di sebelahnya refleks menggeser kursi menjauh.
Karina berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya tegak menantang.
"Iya, Bu," suara Karina memecah kesunyian. Suaranya tidak tinggi, tidak berteriak, namun intonasinya begitu tajam dan menusuk hingga ke sumsum tulang. "Saya sangat setuju dengan Ibu. Sayang sekali dulu Mas Luthfi tidak jadi menikah dengan Mbak Raisa."
Semua mata terbelalak menatap Karina. Bu Ratih mengernyitkan dahi, bingung melihat reaksi menantunya yang biasanya hanya akan menunduk dan menangis di kamar.
"Kalau saja dari dulu Mas Luthfi menikah dengan perempuan mandiri dan pintar bisnis seperti Mbak Raisa..." Karina melanjutkan, melangkah perlahan mengitari meja makan, mendekati posisi Bu Ratih dan Raisa. "Pasti Mas Luthfi tidak perlu merengek-rengek berlutut di kaki saya tiga tahun lalu, memohon agar saya mau menjual perhiasan warisan nenek saya untuk membayar utangnya pada rentenir."
Wajah Luthfi seketika berubah pasi. "Karina! Apa-apaan kamu!"
Karina mengabaikan suaminya. Ia terus berjalan hingga berdiri tepat di belakang kursi Bu Ratih. Ia menundukkan wajahnya, berbisik namun cukup keras untuk didengar seluruh meja.
"Dan kalau Mas Luthfi menikah dengan Raisa, pasti Ibu tidak perlu susah-susah pura-pura baik pada saya satu bulan terakhir ini. Ibu tidak perlu capek-capek memasakkan saya kepiting atau memuji saya di depan tetangga, hanya untuk merayu saya agar mau menandatangani surat kuasa mutlak atas perusahaan ayah saya."
"K-kamu... dasar perempuan nggak tahu diuntung!" Bu Ratih tergagap, wajahnya merah padam karena rahasianya dibongkar secara brutal di depan keluarga besarnya. Ia mencoba berdiri, namun Karina menahan punggung kursinya dengan kuat.
"Oh, saya sangat tahu diuntung, Bu," jawab Karina sambil tersenyum sinis. Ia menoleh ke arah Raisa yang kini tampak gelisah di tempat duduknya. "Dan Mbak Raisa yang luar biasa pintar, saya sarankan Anda berhati-hati kalau ingin menikahi Luthfi sekarang. Karena kalau bukan karena uang ratusan juta yang baru minggu lalu saya cairkan dari kas perusahaan ayah saya, Luthfi mungkin sudah masuk penjara karena tidak bisa membayar tagihan supplier tokonya. Pengusaha raksasa? Tolong jangan membuat saya tertawa."
"Karina, cukup!! Kamu sudah gila?!" Luthfi membentak keras, ia menggebrak meja hingga beberapa gelas bergetar. Pria itu berdiri, wajahnya merah padam menahan rasa malu yang tak tertahankan. Harga dirinya sebagai kepala keluarga baru saja dikuliti habis-habisan di depan perempuan yang ia puja dan seluruh keluarganya.
"Aku gila?" Karina menatap lurus ke dalam mata suaminya. "Mungkin. Karena hanya orang gila yang mau menampung sekumpulan benalu di dalam rumahnya sendiri."
Karina menegakkan tubuhnya, mengedarkan pandangan ke seluruh orang di meja makan itu. Auranya memancar kuat, mendominasi seluruh ruangan.
"Dengar baik-baik," suara Karina menggema keras, tegas tanpa keraguan sedikit pun. "Rumah mewah yang sedang kalian injak ini, kursi empuk yang sedang kalian duduki, dan makanan mahal yang sedang kalian kunyah itu, semuanya dibeli menggunakan uang almarhum ayah saya. Ayah yang baru saja kalian sebut tua bangka."
Keheningan total menyelimuti ruangan. Tidak ada satu pun yang berani bernapas terlalu keras. Nisa menunduk pucat. Tante-tante Luthfi pura-pura sibuk melihat ponsel mereka.
"Mulai detik ini, saya tidak akan menoleransi siapa pun yang menghina keluarga saya di dalam rumah saya sendiri," Karina menatap tajam pada Raisa, lalu beralih pada Bu Ratih. "Yang merasa tidak bisa menghargai tuan rumah, silakan angkat kaki dari sini sekarang juga. Pintu keluar ada di sana."
Karina tidak menunggu jawaban mereka. Ia membalikkan badan, melangkah dengan langkah mantap menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, meninggalkan ruang makan yang kini dipenuhi aura kehancuran dan rasa malu yang mencekik.
Di belakangnya, ia bisa mendengar suara kursi yang digeser kasar, suara isakan tangis Bu Ratih yang memanipulasi keadaan, dan suara Tante Mira yang mengajak keluarganya pulang. Acara makan malam pamer itu hancur berantakan.
Sesampainya di kamar, Karina mengunci pintu dan bersandar pada daun pintu. Dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya gemetar hebat, sisa-sisa adrenalin yang mengalir deras di darahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melawan. Ia tidak peduli lagi pada citra istri penurut. Jika mereka menginginkan perang, maka ia akan memberikan perang yang paling brutal.
Di lantai bawah, terdengar suara keributan, bantingan pintu, dan suara mesin mobil yang dihidupkan dengan kasar.
Beberapa saat kemudian, suasana rumah mendadak hening.
Tiga jam berlalu. Luthfi tidak kunjung menyusul ke kamar. Pria itu pastilah sibuk mengantarkan Raisa pulang dan menenangkan ibunya yang pura-pura sakit jantung.
Karina menggunakan waktu itu untuk mengemas beberapa dokumen pribadi ke dalam koper kecil. Ia tidak bodoh. Setelah kejadian malam ini, rumah ini tidak akan lagi aman untuknya. Luthfi bisa saja melakukan tindakan nekat untuk membalas dendam.
Menjelang pukul satu dini hari, terdengar suara langkah kaki berat memasuki kamar. Luthfi membuka pintu dengan kasar. Wajah pria itu kusut masai, memancarkan amarah yang luar biasa. Ia menatap Karina yang sedang duduk di sofa dengan pandangan penuh kebencian.
"Kamu benar-benar sudah gila, Karina. Kamu mempermalukan aku dan Ibu di depan semua orang! Kamu menghina Raisa yang cuma tamu di rumah ini!" desis Luthfi, urat di lehernya menonjol keluar.
"Aku cuma mengatakan fakta, Mas," jawab Karina dingin, sama sekali tidak terintimidasi.
"Fakta?!" Luthfi tertawa sumbang. Ia melepas kemeja batiknya dengan kasar, lalu melemparkannya ke lantai begitu saja. "Kamu pikir dengan harta peninggalan bapakmu itu kamu bisa bertingkah sombong?! Kamu bukan siapa-siapa tanpa bapakmu, Rin! Malam ini kamu tidur sendiri. Aku muak lihat wajahmu."
Tanpa menunggu balasan Karina, Luthfi berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi, membanting pintunya dengan sangat keras hingga bingkai foto pernikahan mereka di dinding sedikit miring. Tak lama, terdengar suara gemericik air dari shower.
Karina menatap nanar ke arah pintu kamar mandi, lalu pandangannya turun ke arah kemeja batik yang tergeletak sembarangan di atas karpet.
Napas Karina terhenti. Ia bangkit dari sofa, berjalan mendekati kemeja itu.
Dengan tangan bergetar, ia memungut kemeja batik yang tadi dipakai Luthfi. Aroma wine mahal dan parfum wanita menguar kuat dari serat kainnya. Bukan itu yang membuat darah Karina membeku.
Di bagian kerah kemeja bagian dalam, tepat di bawah lipatan leher, terdapat sebuah noda merah menyala yang sangat kontras dengan warna dasar kain sutra tersebut.
Sebuah bekas lipstik.
Bentuknya begitu tercetak jelas, menunjukkan bahwa bibir yang mengoleskannya telah menempel sangat erat di leher Luthfi. Warna merah yang sama persis dengan yang dipakai Raisa saat makan malam tadi.
Cengkeraman Karina pada kemeja itu mengerat hingga kainnya berderak. Foto di hotel, lipstik di kerah, dan penghinaan di meja makan. Semuanya telah membuktikan satu hal: pernikahan ini sudah mati.
Di tengah keheningan malam yang mencekam itu, layar ponsel Karina yang tergeletak di atas kasur tiba-tiba menyala, menampilkan sebuah pesan masuk.
Karina meletakkan kemeja itu, berjalan menghampiri ponselnya. Pesan dari nomor anonim yang sama seperti semalam.
Perselingkuhan itu cuma kulit luarnya. Temui aku besok jam 10 pagi di Cafe Senandika. Bawa mentalmu. Karena apa yang akan kamu lihat tentang suamimu, jauh lebih buruk dari sekadar bekas lipstik di kemejanya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar