Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar, menyilaukan mata Karina yang sembab. Ia berkedip perlahan, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja dilindas truk bermuatan besi. Semalaman suntuk ia tidak tidur sedetik pun. Otaknya terus berputar, memutar ulang rekaman suara tawa menjijikkan dari ruang kerja suaminya dan angka tiga ratus lima puluh juta yang tertera di layar ponsel.

Di sebelahnya, Luthfi menggeliat pelan. Pria itu merentangkan tangan, lalu dengan mata masih setengah terpejam, ia menarik pinggang Karina, memeluknya dari belakang. Hembusan napas hangat Luthfi menerpa tengkuknya.

"Pagi, Sayang," gumam Luthfi dengan suara serak khas bangun tidur. Ia mengecup bahu Karina sekilas. "Nyenyak tidurnya?"

Karina menahan napas. Rasa mual yang semalam ia rasakan kembali bergejolak, kali ini lebih hebat. Sentuhan pria ini terasa seperti sengatan lintah yang sedang mengisap darahnya. Dengan sekuat tenaga, Karina menekan emosinya, memaksa sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis saat ia memutar tubuh menghadap suaminya.

"Pagi, Mas. Lumayan nyenyak," dusta Karina lancar. Suaranya terdengar begitu tenang, sebuah pencapaian yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.

"Kok matanya sembab begitu? Kamu nangis lagi ingat Bapak ya?" Luthfi mengusap pipi Karina dengan ibu jarinya, menatap istrinya dengan sorot penuh keprihatinan palsu yang membuat Karina ingin muntah di wajahnya detik itu juga.

"Iya, semalam tiba-tiba kebangun dan ingat Bapak. Tapi nggak apa-apa, Mas," Karina menepis halus tangan Luthfi dengan dalih merapikan selimut. "Aku mandi dulu ya. Bau masakan dari bawah udah kecium sampai sini. Ibu masak apa pagi ini?"

Mendengar kata 'Ibu', senyum Luthfi makin lebar. "Ibu kan sayang banget sama kamu, Rin. Semenjak Bapak meninggal, Ibu selalu bilang mau nemenin kamu, mau masakin kesukaanmu biar kamu nggak sedih terus. Tadi subuh-subuh Ibu udah minta diantar ke pasar beli kepiting. Katanya mau bikin kepiting saus Padang kesukaanmu."

Karina turun dari ranjang, meraih handuknya, dan memunggungi Luthfi agar pria itu tidak melihat matanya yang menajam.

Ibu kan sayang banget sama kamu.

Kalimat itu terdengar seperti lelucon paling tidak lucu abad ini.

Enam tahun. Selama enam tahun penuh, jangankan kepiting saus Padang, Bu Ratih bahkan selalu memisahkan lauk ayam goreng bagian dada dan paha untuk Luthfi dan Nisa, lalu menyisakan bagian leher, sayap, atau kepala untuk Karina. Alasan Bu Ratih selalu sama: Luthfi itu laki-laki, pencari nafkah, butuh gizi banyak. Kamu kan cuma di rumah, Rin, makan yang ada saja.

Ketika Karina sakit tifus tahun lalu dan harus terbaring di rumah selama dua minggu, Bu Ratih tidak pernah sekali pun memasakkan bubur untuknya. Wanita tua itu malah mengeluh karena Karina tidak bisa mengepel lantai dan mencucikan baju Nisa.

Namun semuanya berubah drastis empat puluh hari yang lalu. Tepat setelah notaris membacakan surat wasiat di ruang tengah rumah ini.

Ayah Karina, Haris Wijaya, memang dikenal sebagai pengusaha properti yang sederhana. Tidak ada yang tahu seberapa besar kekayaan aslinya selain pengacaranya, Septian. Hingga surat itu dibacakan: PT Wijaya Land dengan aset triliunan, belasan hektar tanah di kawasan strategis, beberapa ruko di pusat kota, dan rumah mewah bergaya klasik yang kini mereka tempati, semuanya jatuh seratus persen ke tangan putri tunggalnya, Karina Maharani.

Hari itu juga, neraka di rumah ini berganti wujud. Bu Ratih yang biasanya memanggil Karina dengan nada tinggi, mendadak memanggilnya 'Nak'. Nisa, adik iparnya yang selalu memandang Karina dengan sebelah mata, mendadak rajin membelikan Karina makanan manis dan mengajaknya mengobrol.

Dulu, Karina mengira musibah kematian ayahnya telah melunakkan hati keluarga Luthfi. Ia mengira mereka akhirnya menerimanya sebagai keluarga. Betapa bodohnya ia.

Mereka tidak memuja Karina. Mereka sedang memuja triliunan rupiah yang kini melekat pada namanya.

"Aku turun duluan ya, Mas," ucap Karina memutus lamunannya, segera masuk ke kamar mandi sebelum pertahanannya runtuh.

Setengah jam kemudian, Karina menuruni tangga pualam melingkar di rumahnya. Suara gelak tawa dan obrolan ramai terdengar dari arah ruang makan. Karina mengernyitkan dahi. Suara itu bukan hanya suara Bu Ratih dan Nisa. Ada banyak suara lain.

Karina mempercepat langkahnya. Saat tiba di ambang pintu ruang makan, matanya terbelalak.

Meja makan kayu jati raksasa peninggalan ayahnya yang mampu menampung dua belas orang itu kini penuh sesak. Bu Ratih, Nisa, dua bibi Luthfi dari pihak ayah, serta tiga orang tetangga perumahan yang dikenal hobi bergosip sedang duduk manis menikmati hidangan mewah. Berbagai macam lauk terhampar di atas meja: kepiting saus Padang, udang bakar madu, gurame asam manis, dan iga bakar.

"Nah, ini dia menantu kesayangan saya!" seru Bu Ratih lantang begitu melihat Karina muncul. Wanita paruh baya itu langsung bangkit dari kursinya, berjalan menghampiri Karina dengan senyum sumringah yang dipaksakan. Ia menarik tangan Karina dengan lembut, membawanya ke kursi utama di ujung meja. Kursi yang dulu selalu diduduki mendiang ayahnya.

"Ayo duduk sini, Sayang. Ibu masak spesial buat kamu hari ini. Kamu harus banyak makan biar kuat ngurusin perusahaan Bapak," ucap Bu Ratih sambil meletakkan sepotong daging kepiting capit besar ke atas piring Karina.

Para bibi dan tetangga menatap Karina dengan pandangan penuh kekaguman yang sarat akan rasa iri.

"Aduh, Ratih. Beruntung banget kamu punya menantu secantik dan sekaya Karina. Sekarang jadi direktur utama lho, Jeng!" puji salah satu bibi Luthfi, tersenyum lebar hingga memamerkan deretan giginya. "Dulu kan Bapaknya Karina merintis dari bawah, sekarang Karina tinggal nikmatin hasilnya. Perusahaan properti terbesar di kota ini lho!"

"Iya dong," Bu Ratih membusungkan dada, tampak sangat bangga. "Karina ini kan sudah seperti anak kandung saya sendiri. Dari awal nikah sama Luthfi, saya sudah tahu kalau Karina ini pembawa hoki. Makanya saya selalu bilang sama Luthfi, jagain Karina baik-baik. Ya kan, Rin?"

Karina menatap tumpukan kepiting di piringnya dengan perut yang melilit. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah mata ibu mertuanya.

Pembohong.

Karina ingat dengan sangat jelas bagaimana tiga tahun lalu di acara arisan keluarga, Bu Ratih pernah membentaknya di depan bibi-bibi ini karena Karina tidak sengaja memecahkan piring kaca kesayangannya. Saat itu Bu Ratih menyebutnya 'perempuan ceroboh yang nggak ada harganya'.

Dan kini? Ia memujinya seolah Karina adalah dewi penyelamat keluarga.

"Terima kasih, Bu," Karina menjawab dengan nada datar. Ia meraih garpu, menusuk daging kepiting itu tanpa niat memakannya. "Ibu repot-repot masak sebanyak ini, ada acara apa? Kok tumben undang Tante dan Ibu-ibu tetangga?"

"Nggak ada acara apa-apa, Mbak Rin," sela Nisa dengan mulut masih mengunyah udang bakar. "Ibu cuma mau syukuran kecil-kecilan. Kan masa iddah duka udah lewat. Sekalian ngenalin status baru Mbak Rin ke keluarga besar. Biar semua tahu kalau Mbak Rin sekarang direktur utama PT Wijaya Land. Bangga dong kita!"

"Oh ya, Karina," sela tetangga sebelah rumah, Bu Tika, dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. "Kata Bu Ratih, Luthfi bakal diangkat jadi direktur pelaksana ya di perusahaan almarhum Bapakmu? Wah, hebat banget Luthfi. Suami istri bahu-membahu jalanin bisnis triliunan."

Tangan Karina yang memegang garpu seketika terhenti di udara. Matanya menajam. Ia menatap Bu Ratih, lalu beralih ke Nisa. Kedua wanita itu tampak sedikit salah tingkah, namun berusaha menutupinya dengan senyum dipaksakan.

Diangkat jadi direktur pelaksana?

Karina bahkan belum pernah membicarakan hal ini secara resmi, apalagi menyetujuinya. Luthfi baru mulai merayunya, tapi Bu Ratih ternyata sudah menyebarkan gosip ini ke seluruh keluarga dan tetangga. Ini adalah taktik sosial. Bu Ratih sengaja menjebaknya. Membangun opini publik sehingga Karina akan merasa malu jika tidak memberikan jabatan itu kepada suaminya.

Karina menarik napas panjang. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun, tapi wajahnya tetap memancarkan ketenangan yang mematikan.

"Wah, Bu Tika dapat kabar dari mana?" tanya Karina dengan suara lembut, memutar garpunya perlahan di atas piring. "Mas Luthfi kan punya toko aksesoris mobil sendiri, Bu. Tokonya lagi butuh perhatian ekstra karena omzetnya lagi turun drastis. Mas Luthfi sibuk banget. Saya nggak mau dong membebani suami saya dengan urusan perusahaan Bapak yang rumit. Lagi pula, posisi direksi di Wijaya Land itu tidak bisa diisi sembarang orang. Harus ada fit and proper test dari dewan komisaris."

Hening sejenak. Suasana di meja makan mendadak berubah canggung.

Wajah Bu Ratih memerah padam menahan malu. Pernyataan Karina, meski diucapkan dengan nada halus, secara tidak langsung menampar wajahnya di depan para tetangga dan kerabat. Karina baru saja secara halus mengatakan bahwa Luthfi tidak kompeten.

"Lho? Kata ibumu..." Bu Tika tampak bingung, melirik Bu Ratih dengan canggung.

"Ibu mungkin cuma berharap yang terbaik buat Mas Luthfi," potong Karina sambil tersenyum manis ke arah mertuanya. "Iya kan, Bu? Tapi Ibu tenang aja. Mas Luthfi tetap suami yang baik, kok. Meskipun belum bisa bantu di perusahaan besar."

Bu Ratih tertawa sumbang, matanya memancarkan kilat kebencian yang nyaris tak bisa disembunyikan. "I-iya, Karina. Ibu cuma... asal ngomong kemarin."

Tepat saat ketegangan memuncak, Luthfi muncul di ruang makan, sudah rapi dengan kemeja polo dan celana chino. Ia tampak terkejut melihat keramaian di meja makan, tapi dengan cepat memasang senyum ramah andalannya.

"Wah, ramai banget. Ada apa ini pagi-pagi?" sapa Luthfi sambil menarik kursi tepat di sebelah Karina. Ia langsung melingkarkan lengannya ke pinggang Karina, mencium pipi istrinya di depan semua orang, memamerkan kemesraan palsu yang membuat isi perut Karina bergejolak.

"Biasa, Mas. Ibu ngundang tetangga sama Tante, katanya syukuran kecil-kecilan," jawab Karina santai, melepaskan lengan Luthfi secara halus dengan alasan mengambilkan nasi.

Sepanjang sarapan yang terasa seperti penyiksaan itu, Karina hanya makan tiga suap. Begitu tamu-tamu mulai pamit pulang dan Nisa sibuk membersihkan sisa makanan, Luthfi menarik tangan Karina menuju taman belakang rumah yang sepi.

Gemericik air dari kolam ikan koi memecah keheningan. Luthfi menyentuh kedua bahu Karina, menatapnya dengan tatapan memohon yang terlihat begitu tulus.

"Sayang, soal obrolan kita semalam," Luthfi memulai aksinya. Suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar berat dan penuh wibawa, tapi juga protektif. "Mas udah pikirin matang-matang. Mas nggak tega lihat kamu nanti harus rapat sama kontraktor kasar, atau ngurusin pembebasan lahan yang banyak premannya. Dunia properti itu kotor, Rin. Kamu terlalu lembut untuk itu."

Karina melipat kedua tangannya di depan dada. "Terus, maksud Mas?"

"Kamu serahkan urusan lapangan ke Mas," Luthfi mengelus pipi Karina. "Kita ke Notaris hari ini. Kamu buatkan Surat Kuasa Mutlak atas nama Mas. Jadi, semua dokumen tender, perizinan, dan akses rekening operasional perusahaan, Mas yang tanda tangani. Kamu tetap bos besarnya. Kamu cukup tanda tangan laporan akhir bulan sambil arisan atau jalan-jalan ke mal sama teman-temanmu. Biar Mas yang capek, Sayang. Mas ini suamimu, imammu. Sudah tugas Mas pasang badan buat kamu."

Karina menatap lekat-lekat bibir suaminya yang sedang menguntai kebohongan. Di balik kata-kata manis pelindung itu, Karina bisa melihat seringai serigala lapar yang sedang meneteskan air liur. Surat Kuasa Mutlak berarti Luthfi memiliki kendali penuh atas uang dan aset perusahaan tanpa perlu izin Karina lagi.

Uang yang mungkin akan digunakan untuk membelikan Raisa apartemen yang lebih mewah, mobil sport, atau bahkan membiayai rencana untuk menyingkirkan Karina selamanya.

"Gimana dengan toko aksesoris Mas? Bukannya Mas baru minta suntikan dana tiga ratus lima puluh juta minggu lalu buat nutupin kerugian?" Karina sengaja melempar umpan, menatap langsung ke dalam pupil mata Luthfi.

Luthfi sedikit tersentak. Hanya sepersekian detik, tapi Karina melihatnya. Ada kepanikan kecil di mata pria itu.

"Toko gampang, bisa diurus anak buah. Uang yang kamu kasih kemarin udah Mas pakai bayar utang supplier kok, aman semuanya," dusta Luthfi tanpa berkedip. "Sekarang fokus kita adalah aset triliunan milik Bapak. Jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah, Rin. Apalagi pengacaramu si Septian itu, Mas agak nggak percaya sama dia. Kayaknya dia mau manfaatin posisinya buat ambil untung dari kamu."

Luar biasa, batin Karina. Luthfi bahkan mencoba memfitnah satu-satunya orang kepercayaan ayahnya.

"Aku akan pikirkan, Mas," jawab Karina akhirnya, mencoba mengulur waktu. "Surat kuasa itu bukan hal sepele. Aku harus baca-baca dulu. Lagian kepalaku masih pusing banget hari ini."

Luthfi terlihat kecewa, tapi ia dengan cepat menutupinya. "Ya sudah, nggak apa-apa. Mas nggak maksa kok. Mas cuma ngasih saran demi kebaikanmu. Kamu istirahat aja ya hari ini." Pria itu mencium kening Karina lagi sebelum berjalan pergi menuju garasi.

Karina berdiri mematung di taman, menatap punggung suaminya hingga menghilang di balik pintu. Rasa muaknya kini telah bertransformasi menjadi kewaspadaan tingkat tinggi. Jika Luthfi berani meminta Surat Kuasa Mutlak hari ini, berarti pria itu sedang terburu-buru. Raisa pasti mendesaknya.

Pikiran Karina tiba-tiba melayang. Jika Luthfi sudah berani menggelapkan uang ratusan juta, apa lagi yang sudah ia sentuh?

Satu hal terlintas di kepala Karina bagaikan sambaran petir. Aset ayahnya yang paling berharga bukan hanya perusahaan. Tapi juga rumah ini. Tanah ini. Dan semua sertifikat aslinya.

Jantung Karina mulai berdegup kencang. Ia setengah berlari meninggalkan taman belakang, melewati ruang tengah, mengabaikan Bu Ratih yang memanggilnya, dan langsung menuju ruang kerja peninggalan ayahnya yang berada di sayap kiri lantai satu.

Begitu masuk, Karina mengunci pintu ruangan itu dari dalam. Tangannya gemetar pelan saat menyentuh saklar lampu. Ruangan ini beraroma kayu tua dan sedikit bau cerutu, mengingatkannya pada sosok ayahnya yang tegas namun penuh kasih sayang.

Di sudut ruangan, tersembunyi di balik lukisan besar bergambar pemandangan sawah, terdapat brankas baja tertanam di dinding. Ayah Karina selalu menyimpan dokumen paling krusial di sana. Dan Karina adalah satu-satunya orang yang diberi tahu kombinasi angkanya sebelum ayahnya koma di rumah sakit.

Karina menggeser lukisan itu dengan cepat. Jari-jarinya menekan tombol-tombol digital.

Enam-kosong-dua-satu-sembilan. Tanggal lahir ibunya.

Layar brankas berwarna hijau. Klik. Terdengar suara besi berat terbuka.

Karina menarik pintu brankas dengan napas tertahan. Matanya langsung menyapu isi brankas. Ada beberapa kotak perhiasan ibunya, tumpukan berkas asuransi jiwa, dan emas batangan. Semuanya masih pada tempatnya.

Namun, mata Karina langsung tertuju pada rak paling bawah. Tempat di mana sebuah map merah tebal bersampul kulit seharusnya berada. Map merah yang berisi Sertifikat Hak Milik (SHM) rumah mewah yang sedang ia injak ini, serta beberapa lembar saham asli PT Wijaya Land atas nama ayahnya.

Karina menarik map merah itu.

Tangannya langsung merasakan ada yang salah. Terlalu ringan.

Dengan panik, Karina membuka ikatan tali pada map tersebut. Ia membalikkan posisinya hingga terbuka lebar.

Jantung Karina seakan berhenti berdetak di rongga dadanya. Udara di sekitarnya mendadak terasa menghilang.

Kosong.

Tidak ada kertas tebal bercap Badan Pertanahan Nasional. Tidak ada sertifikat tanah. Tidak ada dokumen kepemilikan saham. Semuanya bersih, lenyap tak bersisa.

Karina membongkar seluruh isi brankas dengan tangan bergetar hebat. Ia memindahkan kotak perhiasan, mengobrak-abrik tumpukan asuransi, mencari di setiap sudut gelap di dalam kotak besi itu. Nihil.

Dokumen senilai ratusan miliar rupiah itu hilang.

Bagaimana mungkin? Brankas ini tidak bisa dibuka tanpa kombinasi. Tidak ada tanda-tanda kerusakan atau congkelan dari luar. Seseorang telah membukanya dengan sandi yang benar.

Luthfi? Luthfi tidak tahu kombinasi ini. Tapi Luthfi tahu di mana Karina menyimpan buku catatan kecil warna biru miliknya—buku rahasia tempat Karina mencatat semua PIN dan kata sandi karena sifat pelupanya. Buku itu tersimpan di laci nakas kamar mereka. Laci yang kuncinya selalu terpasang.

Tiba-tiba, mata Karina menangkap sesuatu. Di dasar brankas, tepat di sudut yang tadi tertutupi oleh map merah, tergeletak sebuah benda kecil yang sangat tidak pada tempatnya.

Karina mengambil benda itu. Sebuah benda berbahan logam tipis dengan ujung bertahtakan mutiara buatan.

Itu adalah jepit rambut wanita.

Napas Karina memburu. Ia memandangi jepit rambut itu. Perutnya kembali mual, kali ini disertai pusing yang luar biasa. Ia mengenali jepit rambut ini. Sangat mengenalinya.

Ini adalah jepit rambut yang persis sama dengan yang dipakai Raisa saat perempuan itu tidak sengaja menabrak Karina di lobi sebuah mal tiga bulan lalu, jauh sebelum ayah Karina meninggal. Waktu itu Raisa hanya tersenyum mengejek sambil berkata "Maaf, Mbak, nggak lihat ada orang."

Fakta mengerikan ini menghantam kewarasan Karina.

Luthfi mencuri sandi dari buku catatannya. Dan pria itu tidak beraksi sendirian. Raisa... perempuan murahan itu pernah masuk ke rumah ini. Raisa pernah masuk ke ruangan sakral ini, berdiri di titik yang sama dengan tempat Karina berpijak sekarang, membuka brankas peninggalan ayahnya, dan merampok harta keluarganya.

Di rumahnya sendiri. Saat ia mungkin sedang tertidur lelap di lantai atas, dibuai oleh dongeng cinta palsu dari suaminya.

Darah Karina mendidih. Kemarahannya kini melampaui rasa sakit hati. Ini bukan lagi soal suami yang berselingkuh. Ini adalah pencurian, perampokan, dan konspirasi untuk menghancurkan hidupnya hingga tak tersisa.

Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar mendekat di lorong luar. Diikuti suara kenop pintu yang diputar dari luar.

Ceklek. Terkunci.

"Karina?"

Itu suara Luthfi. Berat, dalam, dan sedikit mendesak.

"Kamu di dalam, Sayang? Kok dikunci?" Luthfi mengetuk pintu kayu itu dua kali. "Mas ada dokumen yang ketinggalan di laci meja Bapak."

Karina membeku. Tangannya masih menggenggam erat map merah yang kosong dan jepit rambut milik Raisa. Mata Karina menatap tajam ke arah pintu kayu yang terkunci itu, membayangkan wajah manipulator berdarah dingin yang berdiri di baliknya.

"Tunggu sebentar, Mas," balas Karina dengan suara lantang, mengendalikan getaran di tenggorokannya.

Ia memasukkan jepit rambut itu ke dalam saku celananya, lalu mengembalikan map kosong itu ke dalam brankas dan menutupnya rapat-rapat.

Permainan baru saja dimulai. Dan Karina bersumpah, ia tidak akan menjadi pihak yang kalah.