Rintik hujan mulai turun membasahi kaca depan taksi yang ditumpangi Karina, membiaskan cahaya merah dari lampu rem mobil Honda CRV hitam di depannya. Tangan Karina mencengkeram erat tepi kursi jok penumpang hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Matanya menatap tajam, tak berkedip sedikit pun, mengawasi setiap pergerakan mobil suaminya di tengah kemacetan Jalan Senopati malam itu.

Jarum jam di dasbor taksi menunjukkan pukul 19:45 malam.

Setengah jam yang lalu, Karina menelepon Luthfi. Dengan nada suara yang begitu meyakinkan dan diiringi suara bising mesin di latar belakang, Luthfi berkata bahwa ia sedang berada di bengkel rekanannya di daerah pinggiran kota.

"Ada komplain pelanggan, Sayang. Mobilnya mogok setelah pasang alarm di toko Mas. Ini Mas lagi debat sama mekaniknya. Keringetan banget, kotor. Mas pulang agak larut ya, kamu tidur duluan aja. I love you."

Begitu kata Luthfi. Kalimat penutup yang selalu berhasil membuat Karina luluh selama enam tahun terakhir.

Namun hari ini, Karina tidak lagi luluh. Ia justru merasa jijik. Suara mesin yang menjadi latar belakang telepon itu adalah suara dari speaker bluetooth yang sengaja diputar Luthfi di dalam mobilnya. Karina tahu, karena ia hafal letak stiker kecil di kaca belakang CRV suaminya yang kini berada tepat sepuluh meter di depannya, melaju mulus menuju salah satu kawasan restoran paling elite di Jakarta.

Mobil Luthfi berbelok masuk ke pelataran parkir Le Jardin, sebuah restoran fine dining bergaya Prancis yang terkenal dengan daftar antrean berbulan-bulan dan harga makanan yang bisa menghabiskan gaji UMR dalam satu malam.

"Berhenti di sini saja, Pak," ucap Karina dengan suara yang dipaksakan setenang mungkin. Ia menyerahkan selembar uang seratus ribuan kepada sopir taksi tanpa meminta kembalian, lalu membuka pintu.

Udara malam yang dingin dan lembap langsung menerpa wajahnya. Karina berdiri di trotoar, di balik bayangan pohon palem besar, memperhatikan suaminya turun dari mobil. Luthfi tidak terlihat kotor atau berkeringat seperti pengakuannya di telepon. Sebaliknya, pria itu mengenakan kemeja biru dongker bermerek yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna, dipadukan dengan celana bahan yang disetrika licin dan sepatu pantofel kulit yang mengkilap. Rambutnya ditata rapi menggunakan pomade. Pria itu menyemprotkan parfum ke pergelangan tangannya sebelum menyerahkan kunci mobil kepada petugas valet.

Itu bukan penampilan pria yang sedang mengurus komplain pelanggan di bengkel kumuh. Itu adalah penampilan seorang pria yang akan melakukan kencan romantis.

Dada Karina bergemuruh hebat. Fakta tentang hilangnya dokumen peninggalan ayahnya dari dalam brankas semalam masih menyisakan trauma dan amarah yang belum reda, dan kini suaminya menambah daftar pengkhianatan itu dengan sangat terang-terangan.

Karina melangkah masuk menyusul suaminya. Pintu kaca restoran dibuka oleh seorang penyambut tamu berseragam rapi. Alunan musik jazz klasik dan aroma truffle mahal langsung menyambut indra penciumannya. Interior restoran itu temaram, dihiasi lampu-lampu kristal dan meja-meja bundar berlapis taplak putih bersih. Tempat yang terlalu mewah untuk Luthfi yang minggu lalu merengek mengaku tokonya nyaris bangkrut.

Karina menolak tawaran pelayan untuk mencarikan meja. Ia beralasan sedang mencari temannya. Matanya yang tajam bak elang menyapu seluruh penjuru restoran, mengabaikan tatapan beberapa pengunjung yang menatap heran pada penampilannya yang hanya mengenakan kemeja kasual dan celana bahan sederhana.

Lalu, pandangannya membeku pada satu titik di sudut restoran, di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke taman lampu.

Luthfi duduk di sana. Wajah pria itu berbinar-binar. Senyumnya terkembang sangat lebar, memancarkan pesona yang dulu membuat Karina jatuh cinta padanya. Namun senyum itu tidak ditujukan untuk Karina.

Senyum itu ditujukan untuk perempuan di seberang mejanya.

Raisa Andara.

Perempuan itu mengenakan gaun malam tanpa lengan berwarna merah marun yang memperlihatkan leher jenjang dan belahan dadanya dengan provokatif. Rambutnya yang di-blow sempurna dibiarkan tergerai ke satu sisi bahu. Riasan wajahnya tebal namun berkelas. Di lehernya, melingkar sebuah kalung berlian yang menyilaukan mata.

Tangan Luthfi terjulur ke tengah meja, menggenggam erat kedua tangan Raisa. Ibu jari suaminya mengelus punggung tangan perempuan itu dengan gerakan memuja. Raisa tertawa pelan, mencondongkan tubuhnya ke depan, membisikkan sesuatu yang membuat Luthfi ikut tertawa lepas.

Di atas meja mereka, terdapat sebotol wine merah yang Karina kenali mereknya. Sebotol anggur yang harganya lebih dari sepuluh juta rupiah.

Napas Karina terasa tersumbat. Jantungnya berdentang keras di telinga, menenggelamkan alunan musik jazz di sekitarnya. Pemandangan di depannya begitu nyata, begitu brutal, menghancurkan sisa-sisa kewarasan yang masih coba ia pertahankan. Uang ayahnya, uang duka dari kematian pria yang paling ia sayangi di dunia, sedang digunakan suaminya untuk membayari gaya hidup mewah perempuan masa lalunya.

Jangan menangis. Jangan terlihat lemah. Jangan biarkan mereka menang.

Karina merapal mantra itu berulang kali di dalam kepalanya. Ia menegakkan punggungnya. Ia menarik napas panjang, menahan getaran di tangannya, lalu melangkah membelah deretan meja menuju sudut neraka tersebut. Langkahnya mantap, tanpa ragu, memancarkan aura seorang perempuan yang tak lagi bisa diinjak-injak.

"Mekanik bengkelnya cantik juga, Mas."

Suara Karina, yang sedingin es batu dan setajam silet, memotong tawa mereka secara mendadak.

Luthfi tersentak hebat. Cengkeramannya pada tangan Raisa terlepas seketika, seolah baru saja menyentuh bara api. Pria itu mendongak, dan wajah tampannya langsung memucat seputih kertas saat melihat istrinya berdiri menjulang di samping meja mereka. Mata Luthfi melebar, mulutnya setengah terbuka tak mampu mengeluarkan suara. Garpu di tangannya terjatuh ke atas piring porselen, menimbulkan bunyi dentingan nyaring yang mengundang perhatian meja di sebelahnya.

"K-Karina?" Luthfi tergagap, suaranya pecah. Ia refleks menarik tubuhnya menjauh dari meja, mencoba menciptakan jarak ilusi dari Raisa. "K-kamu kok ada di sini? K-katanya kamu di rumah?"

"Kalau aku di rumah, aku nggak akan tahu kalau komplain pelanggan bengkel Mas ternyata diselesaikan pakai wine seharga sepuluh juta di restoran bintang lima," jawab Karina datar. Tatapannya menusuk tajam ke bola mata suaminya, menelanjangi setiap kebohongan pria itu.

Namun, yang membuat darah Karina mendidih bukanlah kegugupan suaminya. Melainkan reaksi perempuan di hadapannya.

Alih-alih panik, kaget, atau merasa bersalah karena tertangkap basah berselingkuh, Raisa justru tersenyum. Sebuah senyuman tenang, penuh perhitungan, dan luar biasa merendahkan. Perempuan itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai, lalu mengangkat gelas wine-nya, menyesapnya perlahan sebelum menatap Karina dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan menilai yang mengisyaratkan bahwa Karina sama sekali bukan tandingannya.

"Astaga, ini Mbak Karina ya?" Suara Raisa mengalun lembut, namun sengaja dikeraskan agar beberapa pengunjung di meja terdekat bisa mendengarnya. "Ya ampun, Luthfi sering banget cerita soal kamu. Katanya kamu lagi depresi berat semenjak Bapakmu meninggal ya? Kasihan sekali. Sampai halusinasi ngikutin suami malam-malam begini."

Karina menoleh pada Raisa. Matanya berkilat marah, namun ia menolak terpancing. "Saya rasa perempuan yang waras tidak akan berpegangan tangan dengan suami orang lain jam delapan malam, Mbak Raisa."

Raisa tertawa renyah, meletakkan gelasnya dengan anggun. "Berpegangan tangan? Astaga, Mbak Karina, kamu ini terlalu cemburuan ya ternyata. Pantas Luthfi sering pusing. Kami ini sedang meeting bisnis. Kamu pasti nggak paham soal beginian kan? Ya maklum, kamu kan seumur hidup cuma jadi ibu rumah tangga yang tiba-tiba dapat warisan bapaknya. Luthfi minta tolong aku buat bantu merapikan manajemen Wijaya Land. Aku kan punya banyak koneksi pengusaha besar, sesuatu yang jelas nggak kamu punya."

Penghinaan itu dilontarkan dengan nada yang sangat sopan, namun efeknya bagaikan tamparan keras di wajah Karina. Beberapa tamu di meja sebelah mulai berbisik-bisik, melirik ke arah Karina dengan tatapan menilai. Raisa dengan cerdik membalikkan keadaan. Ia memosisikan dirinya sebagai rekan bisnis profesional yang sukses dan elegan, sementara Karina digambarkan sebagai istri kampungan, posesif, dan tidak berpendidikan yang membuat keributan karena cemburu buta.

Karina mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menoleh ke arah Luthfi, menunggu suaminya berbicara. Menunggu pria yang telah bersumpah di depan altar untuk melindunginya itu membela harga dirinya yang sedang diinjak-injak di depan umum.

Namun, Luthfi justru menatapnya dengan tatapan tajam penuh peringatan.

"Rin, tolong jaga sikapmu," desis Luthfi pelan tapi tegas, rahangnya mengeras. "Raisa benar. Kami sedang bahas proyek untuk perusahaan Bapakmu. Raisa ini klien penting, dia bersedia bantu kita cari investor baru karena perusahaan Bapakmu kondisinya lagi nggak stabil. Kamu jangan bikin malu di sini. Banyak orang lihat."

Dada Karina terasa seperti dihujam ribuan jarum. Jangan bikin malu. Luthfi mengatakan itu padanya? Pria yang diam-diam mentransfer tiga ratus lima puluh juta uang duka ayahnya untuk apartemen perempuan ini, menyuruhnya untuk tidak bikin malu?

"Perusahaan Bapakku butuh investor?" Karina tersenyum sinis, senyum yang membuat wajahnya terlihat luar biasa menakutkan. "Sejak kapan, Mas? Setahuku pembukuan Wijaya Land sangat sehat. Kecuali, ada tikus di dalam rumah yang diam-diam menggerogoti kas perusahaan dan menggelapkan dananya ke rekening perempuan lain."

Wajah Raisa seketika menegang. Senyum sombongnya luntur sesaat, matanya memicing menatap Karina.

Luthfi langsung berdiri dari kursinya. Kepanikannya kini berubah menjadi kemarahan karena merasa terpojok. Ia mencengkeram lengan Karina dengan kasar.

"Karina, cukup!" bentak Luthfi dengan suara tertahan. Ia setengah menarik Karina mendekat padanya agar suara mereka tak terlalu terdengar, tapi cengkeramannya di lengan Karina terasa menyakitkan. "Kamu ini kenapa sih? Sejak Bapak meninggal kamu jadi paranoid nggak jelas. Kamu bikin aku malu di depan rekan bisnis. Pulang sekarang! Nanti kita bahas di rumah. Jangan bertingkah kampungan di tempat seperti ini!"

Kampungan.

Kata itu bergema di telinga Karina. Enam tahun ia melayani pria ini. Enam tahun ia mengorbankan masa mudanya untuk merawat ibu mertuanya yang cerewet. Enam tahun ia membiayai utang-utang pria ini. Dan kini, demi membela selingkuhannya, Luthfi memanggilnya kampungan.

Karina menatap tangan Luthfi yang mencengkeram lengannya, lalu menatap wajah suaminya dengan pandangan yang benar-benar kosong. Segala rasa hormat, segala cinta, segala rasa iba yang tersisa untuk pria ini hangus menjadi debu saat itu juga.

"Lepaskan tanganmu, Mas," ucap Karina pelan, suaranya sangat tenang, tapi nadanya memancarkan ancaman yang membuat Luthfi merinding.

Luthfi ragu-ragu sejenak, namun sorot mata Karina yang tak kenal ampun memaksanya melepaskan cengkeramannya perlahan.

Karina merapikan lengan kemejanya yang kusut. Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak. Ia menoleh kembali menatap Raisa yang kini kembali memasang senyum kemenangannya.

"Mbak Raisa," Karina mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas meja, mendekatkan wajahnya ke arah perempuan itu. "Silakan nikmati makan malam yang dibayari pakai uang warisan ayah saya ini. Dan silakan pakai terus jepit rambut mutiaramu itu. Tapi ingat satu hal, maling yang masuk ke rumah orang dan mengambil sesuatu dari brankas yang bukan miliknya, biasanya akan membusuk di penjara."

Wajah Raisa langsung pucat pasi. Matanya terbelalak kaget. Ia refleks meraba rambutnya, seolah mencari-cari jepit rambut yang dimaksud Karina. Senyum kemenangannya hancur berkeping-keping.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Raisa untuk membalas, dan tanpa memedulikan Luthfi yang mematung dengan mulut terkunci, Karina membalikkan badannya. Ia berjalan meninggalkan meja itu dengan kepala tegak. Hak sepatunya berbunyi ritmis di atas lantai kayu restoran, mengabaikan tatapan semua orang yang menonton drama singkat itu.

Ia melangkah keluar dari restoran, disambut oleh udara malam Jakarta yang basah oleh hujan. Napasnya memburu. Dadanya naik turun dengan cepat. Begitu ia berada di luar jangkauan pandangan mereka, pertahanannya sedikit goyah. Tangan Karina gemetar hebat saat ia mencoba membuka aplikasi taksi online di ponselnya.

Air matanya akhirnya menggenang, mengaburkan pandangannya. Namun itu bukan tangisan kesedihan seorang istri yang patah hati. Itu adalah tangisan kemarahan. Tangisan seorang anak yang tidak rela harga diri ayahnya, uang ayahnya, dan perusahaannya diinjak-injak oleh lintah darat berkedok suami dan ibu mertua.

"Aku akan buat kalian miskin. Aku akan buat kalian mengemis," desis Karina di tengah rintik hujan.

Ia berhasil memesan taksi. Sambil menunggu, Karina bersandar pada pilar batu di depan restoran. Tubuhnya terasa lelah luar biasa, seolah seluruh energinya terkuras habis untuk berdiri tegak di depan dua ular berbisa tadi. Luthfi benar-benar telah membuangnya secara mental. Pria itu bahkan tidak mengejarnya keluar. Pria itu memilih tetap duduk di sana, di dalam restoran hangat itu, bersama selingkuhannya.

Sebuah mobil taksi berhenti di depannya. Karina membuka pintu belakang dan masuk ke dalam.

"Sesuai aplikasi ya, Mbak?" tanya sopir taksi itu.

"Iya, Pak. Tolong agak cepat," jawab Karina sambil menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Ia memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya yang masih tak beraturan.

Ia harus segera menghubungi Septian besok pagi. Pengacara ayahnya itu adalah satu-satunya orang yang bisa ia percaya sekarang. Ia harus mencari tahu bagaimana Luthfi dan Raisa bisa mencuri sertifikat rumah dan dokumen saham dari brankasnya. Dan ia harus memblokir semua akses keuangan perusahaan yang selama ini dititipkan Luthfi secara lisan.

Namun, saat mobil taksi itu baru saja melaju meninggalkan kawasan Senopati, ponsel di dalam genggaman Karina tiba-tiba bergetar panjang.

Bzzzt.

Mata Karina terbuka. Ia mengangkat ponselnya. Layar yang menyala terang dalam kegelapan kabin taksi itu menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari aplikasi WhatsApp.

Nomor yang tertera di layar tidak ada dalam kontak Karina. Hanya sederet nomor acak dengan kode negara lokal. Tidak ada foto profil.

Dahi Karina berkerut. Ia menekan notifikasi tersebut, membuka ruang obrolan.

Pesan itu bukan berupa teks biasa. Melainkan sebuah lampiran foto.

Karina menekan tombol unduh pada foto tersebut. Jaringan internet yang lambat membuat gambar itu loading perlahan, berputar lambat, menunda eksekusi psikologis yang siap menghantam kepalanya.

Begitu gambar itu terbuka dengan sempurna, aliran darah di seluruh tubuh Karina seolah membeku seketika.

Foto itu diambil di dalam sebuah ruangan minim cahaya. Sebuah kamar hotel yang terlihat sangat mewah dengan ranjang besar berseprai putih berantakan di latar belakang.

Namun, bukan ranjang itu yang membuat napas Karina terhenti.

Fokus utama foto itu adalah dua orang yang sedang berdiri saling berpelukan di depan cermin besar. Luthfi, suaminya, bertelanjang dada, memeluk Raisa dari belakang. Wajah Luthfi terbenam di ceruk leher Raisa, matanya terpejam seolah sedang menikmati sesuatu. Sementara Raisa, yang hanya mengenakan piyama tidur berbahan sutra tipis yang mengekspos bentuk tubuhnya, memegang ponsel ke arah cermin, mengambil foto pantulan diri mereka dengan senyum provokatif yang sangat menjijikkan.

Di bagian bawah foto itu, terdapat sebaris teks singkat yang diketik dengan huruf kapital.

SUAMIMU BUKAN CUMA MILIKMU. BUKALAH MATAMU, NYONYA WIJAYA.

Tangan Karina bergetar sangat hebat hingga ponsel itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas karpet mobil. Dadanya terasa seperti dipukul palu godam. Rasa mual kembali menyerang lambungnya dengan sangat brutal.

Foto itu bukan foto lama. Rambut Luthfi di foto itu adalah potongan rambutnya dua minggu yang lalu, saat pria itu beralasan menginap di luar kota untuk survei cabang toko baru.

Dua minggu yang lalu. Saat tanah makam ayahnya bahkan belum kering. Saat Karina menghabiskan malam-malamnya menangis di kamar, mengirimkan pesan mengkhawatirkan kesehatan suaminya di luar kota. Saat itu jugalah pria ini sedang meniduri perempuan lain di hotel mewah, menggunakan uang dari perusahaan yang ia warisi.

Karina membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, menahan jeritan frustrasi yang siap meledak dan menghancurkan kaca mobil taksi. Air matanya mengalir deras, namun pandangannya menajam, menatap nanar ke arah ponsel yang tergeletak di lantai mobil.

Perang ini ternyata jauh lebih kotor dari yang ia bayangkan. Seseorang dari luar sana sengaja mengirim foto ini untuk menghancurkannya. Seseorang mengawasi setiap gerak-geriknya.

Ponsel di bawah kakinya kembali bergetar pelan. Satu pesan teks baru masuk dari nomor tak dikenal yang sama.

Kalau kamu mau tahu ke mana sertifikat rumahmu pergi, temui aku besok.