Kalimat itu jatuh ke udara seperti vonis mati yang diketuk oleh palu hakim, menghancurkan sisa-sisa harapan yang telah susah payah Rania kumpulkan selama sepuluh tahun terakhir.
"Maafkan saya, Ibu Rania. Dari hasil pemeriksaan menyeluruh yang kita lakukan minggu lalu, peluang rahim Anda untuk bisa mempertahankan janin... bisa dibilang hampir mustahil."
Dokter Anita, seorang spesialis kandungan senior dengan kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidungnya, menatap Rania dengan sorot mata yang sarat akan belas kasih. Namun, bagi Rania, belas kasih adalah hal terakhir yang ingin ia lihat hari ini. Ia lebih memilih dokter itu berbohong. Ia lebih memilih mendengar kalimat klise seperti, 'Kita coba lagi program bulan depan, ya,' atau 'Mukjizat itu selalu ada, Ibu.' Tapi tidak. Dokter Anita adalah orang yang realistis, dan Rania membayar mahal untuk mendengar kenyataan.
Udara di ruang praktik bernuansa putih bersih itu mendadak terasa tipis. Rania merasakan telinganya berdenging, sebuah dengungan panjang yang meredam suara mesin pendingin ruangan dan detak jam dinding. Tangannya yang bertumpu di atas pangkuan meremas ujung tas kulitnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Hampir... mustahil, Dok?" Rania mengulang kata-kata itu. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Bergetar, serak, dan terlampau rapuh. "Bukannya bulan lalu sel telur saya merespons terapi hormonnya dengan baik? Bukannya ketebalan dinding rahim saya sudah membaik?"
Dokter Anita menghela napas panjang, melipat kedua tangannya di atas meja yang dipenuhi lembaran hasil laboratorium. "Respons awal memang positif, Ibu Rania. Namun, ada jaringan parut dan kondisi endometriosis yang ternyata jauh lebih masif dari perkiraan kita sebelumnya. Kondisi ini membuat implantasi embrio tidak akan pernah berhasil. Jika pun dipaksakan melalui bayi tabung, risiko keguguran berada di angka sembilan puluh lima persen. Dan itu... akan sangat membahayakan nyawa Ibu sendiri."
Dunia Rania berhenti berputar.
Sepuluh tahun. Seratus dua puluh bulan. Tiga ribu enam ratus lima puluh hari. Ia dan Arga telah mencoba segalanya. Dari ramuan tradisional yang rasanya membuat mual, pengobatan alternatif yang menguras tabungan, hingga prosedur medis modern yang menyiksa fisik dan mentalnya. Setiap bulan, Rania selalu menghitung hari dengan jantung berdebar. Setiap kali bercak darah itu muncul di pakaian dalamnya, ia akan menangis di lantai kamar mandi, menyalakan pancuran air deras-deras agar Arga tidak mendengar isak tangisnya.
Dan kini, perjalanan panjang yang melelahkan itu telah tiba di ujung jalan buntu. Sebuah tembok beton raksasa yang tidak bisa dipanjat, dihancurkan, atau diakali.
"Saya mengerti ini sangat berat," Dokter Anita menyodorkan sekotak tisu ke hadapan Rania. "Tetapi saya harus menyampaikan kondisi medis ini apa adanya. Anda dan Pak Arga masih memiliki opsi lain. Adopsi adalah jalan yang indah untuk membangun keluarga."
Adopsi. Kata itu terdengar manis, namun Rania tahu betul bagaimana reaksi ibu mertuanya jika kata itu sampai terucap. Darah daging, kata wanita tua itu selalu. Keluarga Danuwirdja hanya mewariskan nama pada darah dagingnya sendiri.
Rania tidak ingat bagaimana ia berpamitan kepada Dokter Anita. Ia berjalan keluar dari rumah sakit seperti manekin tak bernyawa. Langkahnya gontai melewati lorong-lorong bangsal bersalin. Dari balik kaca inkubator, ia melihat bayi-bayi mungil yang dibedong rapat, beberapa ayah baru yang tertawa lebar sambil mengambil foto, dan bau khas minyak telon yang mengudara di lorong itu. Dulu, pemandangan ini selalu memercikkan harapan di dadanya. Kini, pemandangan yang sama terasa seperti pisau tak kasat mata yang menyayat ulu hatinya tanpa ampun.
Rania masuk ke dalam mobilnya di area parkir, menyalakan mesin, dan menutup rapat semua kaca. Barulah di sana, di dalam ruang kedap suara beroda empat itu, pertahanannya runtuh.
Ia memukul setir mobil dengan kedua tangannya, menjerit hingga tenggorokannya terasa perih. Air mata menetes deras, merusak riasan tipis yang ia pulas susah payah pagi tadi.
"Kenapa, Tuhan? Kenapa harus aku?" ratapnya dalam isak yang menyayat hati. "Apa dosaku? Apa kekuranganku sampai Engkau menutup rapat rahimku?"
Bayangan wajah Arga berkelebat di benaknya. Arga yang selalu sabar. Arga yang selalu mengecup keningnya setiap kali Rania menangis melihat hasil test pack yang kembali menunjukkan satu garis. Arga yang bekerja banting tulang dari pagi hingga malam demi membiayai program bayi tabung mereka. Arga yang pantas menjadi seorang ayah yang luar biasa.
Rania menatap wajahnya sendiri di kaca spion tengah. Matanya bengkak, hidungnya memerah, dan ada gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan oleh kosmetik apa pun. Ia tidak bisa pulang dengan keadaan seperti ini. Ia tidak boleh terlihat hancur. Tidak di depan suaminya.
Rania mengambil tisu basah, menghapus sisa air mata, dan merapikan kembali riasannya dengan tangan gemetar. Ia berlatih tersenyum di depan kaca. Tarik sudut bibir. Lembutkan sorot mata. Jangan biarkan luka itu terlihat.
Satu jam kemudian, Rania membuka pintu rumah mereka. Aroma tumis bawang putih dan kecap manis dari dapur langsung menyambutnya. Bi Sumi, asisten rumah tangga mereka, sedang menyiapkan makan malam.
"Eh, Ibu sudah pulang," sapa Bi Sumi.
"Bapak sudah pulang, Bi?" Rania memaksakan suara yang ceria.
"Sudah, Bu. Sedang mandi di atas."
Rania melangkah menaiki tangga. Di ambang pintu kamar, ia melihat Arga baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan kaus putih polos dan celana piyama kotak-kotak. Rambutnya masih basah. Pria itu menoleh dan senyumnya langsung mengembang begitu melihat Rania.
"Hei, Sayang. Gimana tadi ke kliniknya? Antreannya panjang?" Arga berjalan menghampiri, mengecup lembut kening Rania seperti kebiasaannya selama sepuluh tahun ini.
Jantung Rania berdebar menyakitkan. Bohong. Ia harus berbohong demi melindungi binar bahagia di mata suaminya malam ini.
"Lumayan antre," Rania tersenyum, sebuah senyum sempurna yang telah ia latih di mobil. "Dokter Anita bilang... kita harus bersabar sedikit lagi. Kondisiku butuh waktu untuk pemulihan sebelum coba program lagi."
Arga mengusap bahu Rania dengan penuh kasih. "Kan, aku sudah bilang. Jangan terlalu dipikirkan. Santai saja. Kita nikmati waktu berdua. Kalau memang rezeki, pasti dititipkan Tuhan."
Kata-kata Arga begitu menenangkan, tapi di saat yang sama justru merobek hati Rania lebih dalam. Arga tidak tahu bahwa Tuhan tidak akan pernah menitipkan apa pun di rahimnya. Rania memeluk pinggang suaminya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arga agar pria itu tidak melihat matanya yang kembali berkaca-kaca.
"Terima kasih ya, Mas," bisik Rania pelan.
Malam itu berjalan seperti biasa. Mereka makan malam sambil mengobrol tentang pekerjaan Arga di kantor, menonton televisi sebentar, lalu bersiap untuk tidur. Semuanya tampak normal. Sempurna. Sebuah rumah tangga harmonis yang selalu membuat iri tetangga dan teman-teman mereka.
Namun, tepat saat jam dinding menunjuk pukul sebelas malam dan napas Arga sudah terdengar teratur dalam tidurnya, ponsel di atas nakas bergetar singkat.
Rania yang belum bisa memejamkan mata perlahan meraih ponsel tersebut. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan masuk dari nama kontak yang selalu membuat detak jantungnya berpacu karena cemas. Ibu Mertua.
Rania membuka pesan itu dengan tangan dingin.
[Besok malam kalian harus datang makan malam ke rumah Ibu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Pastikan kamu dan Arga tidak terlambat. Ini soal masa depan keluarga kita, Rania.]
Pesan itu singkat, padat, dan tidak menyisakan ruang untuk penolakan. Namun, bukan kalimat itu yang membuat darah Rania seakan membeku. Di bawah pesan teks itu, ibu mertuanya mengirimkan sebuah tautan profil Instagram seorang perempuan muda yang terlihat anggun sedang menggendong anak kecil, disertai satu kalimat tambahan yang menghancurkan sisa kewarasan Rania malam itu:
[Ibu rasa, Arga sudah terlalu lama membuang waktunya bersamamu.]
Rania membekap mulutnya sendiri, menahan isak tangis yang siap meledak di tengah malam yang sunyi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar