Keheningan yang mengikuti kalimat kejam Ibu Nawang terasa sangat pekat, seolah udara di ruang makan itu telah disedot habis. Rania menatap Arga, memohon dengan matanya agar pria itu melakukan sesuatu. Apa saja. Katakan bahwa ia mencintai Rania, katakan bahwa ibu mertuanya melewati batas, katakan bahwa mereka akan pulang sekarang juga.

Arga menarik napas panjang. Dadanya naik turun. Ia akhirnya menatap ibunya.

"Ma... tolong, jangan bicara begitu. Bahasanya terlalu kasar. Rania juga tersinggung," ucap Arga.

Rania membeku. Itu saja? Suara Arga tidak menggelegar penuh amarah. Suaranya terdengar seperti seorang anak laki-laki yang kelelahan, mencoba membujuk ibunya agar tidak memarahi temannya. Itu bukan pembelaan seorang suami yang martabat istrinya baru saja diinjak-injak hingga rata dengan tanah. Itu adalah kompromi.

"Tersinggung?" Ibu Nawang tertawa sinis, tawa yang kering dan tidak mencapai matanya. "Orang tua yang mengatakan kebenaran demi masa depan anaknya dianggap kasar? Kenyataannya memang begitu, Arga. Mama ini ibu yang melahirkanmu. Mama berhak memikirkan masa depanmu. Kalau istrimu tersinggung dengan kenyataan, itu masalahnya, bukan masalah Mama."

"Ma, sudahlah. Kita lagi makan. Arga capek habis pulang kerja," keluh Arga, mengusap wajahnya dengan frustrasi. Pria itu bersandar di kursinya, mengalihkan pandangan dari Rania maupun ibunya.

Dia menyerah. Arga memilih untuk mundur dari medan perang, meninggalkan Rania berdiri sendirian menahan gempuran peluru.

Rania merasakan dingin yang merambat dari ujung kaki hingga ke dadanya. Selama sepuluh tahun, Arga adalah tamengnya. Sekalipun ibu mertuanya menyindir, Arga selalu menjadi orang pertama yang menggenggam tangannya di bawah meja dan membawanya pergi. Tapi malam ini, tameng itu telah retak. Arga terlalu lelah untuk mengangkatnya.

Sisa makan malam itu dihabiskan dalam diam yang menyiksa. Rania tidak menyentuh makanannya lagi. Begitu Arga memberi isyarat untuk pulang setengah jam kemudian, Rania berdiri seperti robot. Ia mencium tangan Ibu Nawang yang menerima uluran tangannya tanpa melihat wajahnya, lalu berjalan membuntuti Arga menuju mobil.

Perjalanan pulang terasa sepuluh kali lipat lebih lama. Lampu jalanan Jakarta yang kuning keemasan menerobos masuk ke dalam kabin mobil, menyinari wajah Arga yang kaku. Tidak ada musik yang menyala. Tidak ada obrolan. Hanya suara mesin dan embusan AC yang menemani mereka.

Rania duduk menyamping, menatap keluar jendela. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, mengalir turun melewati pipinya dalam diam. Ia tidak menangis tersedu. Kehancurannya terlalu dalam untuk diungkapkan dengan isakan. Ia merasa telanjang, terhina, dan sama sekali tidak berharga.

Arga menoleh sekilas, menyadari istrinya sedang menangis. Pria itu menghela napas panjang—helah napas yang Rania kenali sebagai tanda kelelahan mental.

"Ran... sudahlah," panggil Arga pelan, memecah kesunyian. Matanya tetap fokus pada jalan tol yang lengang. "Kamu kan tahu Mama memang seperti itu karakternya. Kalau bicara memang suka blak-blakan. Jangan dimasukkan ke hati."

Rania menoleh dengan cepat. Matanya yang merah menatap Arga tak percaya. "Jangan dimasukkan ke hati? Ibumu menyebutku istri mandul yang membebani hidupmu, Mas. Dan kamu menyuruhku jangan memasukkannya ke hati?"

"Lalu aku harus apa, Rania?" Nada suara Arga perlahan naik, memendam kekesalan. "Aku harus melawan ibuku sendiri? Aku sudah menegurnya tadi, kan? Aku sudah bilang jangan bicara begitu."

"Itu bukan teguran, Mas!" Suara Rania akhirnya pecah, bergetar menahan amarah dan luka yang menganga. "Kamu cuma memintanya berhenti karena kamu capek, bukan karena kamu marah istrimu dihina! Dulu kamu tidak pernah membiarkan ibumu menghinaku di depan Dinar dan suaminya. Dulu kamu akan membelaku! Tapi tadi? Kamu diam, Mas. Kamu membiarkan ibumu menginjak-injak harga diriku."

"Aku diam karena kalau aku melawan, perdebatan itu tidak akan pernah selesai!" Arga membalas, tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Setiap kali kita ke sana, kita selalu berdebat soal hal yang sama. Aku capek, Ran. Aku kerja seharian di kantor menghadapi masalah perusahaan, dan ketika pulang, aku harus menghadapi masalah ini lagi. Aku butuh ketenangan!"

"Oh, jadi sekarang aku yang merusak ketenanganmu?" Rania tertawa getir. Air matanya mengalir semakin deras. "Karena aku tidak bisa memberimu anak, keberadaanku sekarang cuma jadi sumber masalah buatmu, begitu?"

Mobil mendadak mengerem keras sebelum berbelok tajam ke pekarangan rumah mereka, membuat tubuh Rania sedikit terhempas ke depan. Arga mematikan mesin secara kasar. Suasana di dalam mobil menjadi gelap gulita.

Arga menoleh sepenuhnya ke arah Rania. Wajah pria itu diliputi bayang-bayang kegelapan malam, namun Rania bisa melihat rahang suaminya yang menegang keras.

"Bisa nggak, untuk satu malam saja, kita nggak bertengkar soal anak?" desis Arga, suaranya rendah tapi penuh dengan tekanan emosi yang meledak-ledak. "Aku tahu kamu menderita, Ran. Aku tahu kamu kesakitan dengan ucapan ibuku. Tapi apa kamu pernah memikirkan posisiku? Aku terjepit! Aku terjepit di antara perempuan yang aku cintai dan perempuan yang melahirkanku!"

Arga menunjuk ke dadanya sendiri. "Tiap hari ibuku menelepon, menangis, menuntut cucu. Tiap hari aku melihat teman-temanku menjemput anak mereka di sekolah. Dan tiap hari aku harus pura-pura tegar, pura-pura semuanya baik-baik saja di depanmu supaya kamu tidak merasa bersalah! Kamu pikir aku tidak capek? Kamu pikir aku tidak hancur setiap kali dokter bilang program kita gagal?!"

Rania terdiam. Kata-kata Arga menamparnya telak. Selama ini ia berpikir Arga adalah tempatnya bersandar, batu karang yang tak pernah goyah. Ia tidak pernah menyadari bahwa batu karang itu perlahan-lahan terkikis oleh ombak ekspektasi dan kekecewaan yang tak ada habisnya.

Suaminya terluka. Dan Rania lah penyebab luka itu.

"Aku cuma pengen ngerasain jadi ayah, Ran..." Suara Arga mendadak parau. Pertahanannya runtuh. Pria itu menundukkan kepala, memijat pangkal hidungnya dengan tangan gemetar. "Apa salah kalau sesekali... aku juga merasa lelah dengan kenyataan kita?"

Kalimat itu jauh lebih tajam dari hinaan ibu mertuanya. Arga merindukan seorang anak. Sangat merindukannya hingga pria itu tidak sanggup lagi berbohong. Dan rahasia yang disimpan Rania—bahwa rahimnya telah divonis tidak akan pernah bisa mengandung—terasa seperti bom waktu yang siap menghancurkan segalanya jika ia mengatakannya sekarang.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Arga membuka pintu mobil, keluar, dan membanting pintu dengan keras. Pria itu melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang.

Rania duduk membeku di dalam mobil. Malam itu, di tengah kegelapan garasi yang dingin, Rania mengerti satu hal yang sangat mengerikan. Cinta Arga kepadanya mungkin masih ada, tetapi cinta itu tidak lagi cukup untuk menutupi kekosongan di rumah tangga mereka.

Dengan langkah terseok, Rania akhirnya masuk ke dalam rumah. Rumah dua lantai yang biasanya terasa hangat itu kini terasa sangat asing. Ia melangkah menuju lantai dua, membuka pintu kamar utama mereka. Kosong.

Rania menoleh ke ujung lorong. Dari bawah celah pintu kamar tamu, cahaya lampu tampak menyala.

Sepuluh tahun menikah, melewati suka dan duka, tidak pernah sekalipun Arga tidur terpisah darinya walau sehebat apa pun pertengkaran mereka. Ini adalah malam pertama. Malam di mana pondasi pernikahan mereka benar-benar patah.

Rania berdiri di depan pintu kamarnya yang sepi, meletakkan tangannya di atas perutnya yang datar. Sambil menatap nanar cahaya dari kamar tamu tempat suaminya mengasingkan diri, sebuah pikiran gila, nekat, dan menghancurkan diri perlahan-lahan mulai merasuki benak Rania. Sebuah pikiran yang akan mengubah hidup mereka bertiga selamanya.