Tiga hari berlalu sejak malam di mana rumah tangga mereka kehilangan kehangatannya.
Tiga hari itu pula Arga dan Rania hidup seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi atap yang sama. Mereka masih saling menyapa di pagi hari, Arga masih memakan sarapan yang disiapkan Rania, dan Rania masih menyetrika kemeja kerja suaminya. Namun, tatapan mereka tidak pernah lagi bertubrukan. Ada jurang menganga di antara mereka, diisi oleh kata-kata tak terucap dan rasa bersalah yang saling mencekik.
Sabtu pagi biasanya menjadi hari favorit Rania. Arga libur, dan mereka akan menghabiskan waktu menonton film di ruang tengah atau merawat tanaman di taman belakang. Namun pagi ini, udara terasa sangat berat. Arga sedang memotong rumput di halaman depan dengan mesin pemotong, sengaja menenggelamkan dirinya dalam kesibukan agar tidak perlu berada dalam satu ruangan yang sama dengan Rania.
Rania baru saja selesai menata kue bolu pisang yang baru matang di atas meja makan ketika suara deru mesin mobil mewah yang tak asing memasuki pekarangan rumah mereka.
Jantung Rania langsung berpacu cepat. Dari jendela dapur, ia mengintip. Sebuah mobil sedan hitam mengilat milik keluarga Danuwirdja terparkir tepat di belakang mobil Arga. Sopir bergegas turun dan membukakan pintu penumpang. Sosok anggun nan dingin Ibu Nawang melangkah keluar, mengenakan kacamata hitam besar dan tas bermerek di lekuk lengannya.
Arga segera mematikan mesin pemotong rumput, tampak terkejut dengan kunjungan ibunya yang tanpa pemberitahuan. Mereka berbicara sebentar di halaman sebelum Arga membimbing ibunya masuk ke dalam rumah.
"Bi Sumi," Rania memanggil asisten rumah tangganya dengan suara yang diusahakan setenang mungkin. "Tolong buatkan teh chamomile kesukaan Ibu Mertua, ya. Sama tolong bawa bolu ini ke ruang tamu."
"Baik, Nyonya," sahut Bi Sumi cepat, seakan menyadari ketegangan majikannya.
Rania menarik napas panjang, merapikan rambutnya, dan bersiap menyambut sang jagal. Ia melangkah keluar dari dapur menuju ruang tamu. Namun, langkahnya terhenti di balik dinding sekat yang memisahkan ruang makan dan ruang tamu ketika telinganya menangkap percakapan tajam dari arah sana.
"Mama sengaja datang ke sini pagi-pagi, Arga, karena Mama rasa kita tidak bisa menunda pembicaraan tempo hari lagi," suara Ibu Nawang membelah kesunyian rumah. Terdengar ketukan kuku berpoles rapi di atas meja kaca.
"Ma, Arga mohon. Ini hari libur. Arga sedang tidak ingin berdebat," suara Arga terdengar memelas, lelah.
"Siapa yang mau berdebat? Mama datang membawa solusi."
Rania berdiri mematung di balik sekat. Kakinya terpaku pada lantai porselen. Ia menahan napasnya, tidak berani membuat suara sekecil apa pun.
"Solusi apa lagi, Ma?" tanya Arga.
Terdengar suara ritsleting tas yang dibuka, disusul suara selembar kertas foto yang diletakkan di atas meja kaca.
"Ini anak temannya Tante Ratna. Namanya Almira. Umurnya dua puluh enam tahun, lulusan S2 dari luar negeri, dari keluarga yang jelas bibit bebet bobotnya, dan yang paling penting... keluarganya sehat. Kakak-kakaknya semua subur, sudah punya anak banyak," ucap Ibu Nawang dengan nada yang penuh kemenangan, seolah sedang menawarkan barang investasi yang menjanjikan.
Dada Rania terasa seperti dihantam palu godam. Almira. Dua puluh enam tahun. Subur. Kata-kata itu berputar di kepalanya bagai racun yang menyebar ke seluruh aliran darahnya.
"Ma! Apa-apaan ini?!" Arga meninggikan suaranya. Terdengar suara kertas yang didorong kasar. "Singkirkan foto ini, Ma. Arga sudah punya istri!"
"Istri yang tidak bisa memberimu keturunan maksudmu?" balas Ibu Nawang, suaranya naik satu oktaf, tidak gentar sedikit pun. "Sampai kapan kamu mau buta, Arga? Sepuluh tahun! Kalian sudah mencoba segalanya, menghabiskan ratusan juta, dan hasilnya apa? Nihil! Rania itu perempuan cacat, Arga. Kamu mau mengorbankan masa depanmu dan masa depan keluarga kita demi perempuan yang rahimnya kering?!"
"Jaga ucapan Mama!" bentak Arga. Rania mendengar suaminya berdiri dari sofa. "Rania itu menantu Mama. Istri Arga. Dia tidak cacat!"
"Lalu kenapa sampai sekarang tidak ada bayi di rumah ini?!" Ibu Nawang ikut berdiri, suaranya menggelegar menguasai ruangan. "Kamu anak laki-laki pertama, Arga! Papamu semakin tua, perusahaan butuh pewaris. Mama tidak minta kamu menceraikan Rania kalau memang kamu masih merasa kasihan pada perempuan itu."
Jantung Rania rasanya berhenti berdetak. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak lebar menatap dinding di depannya. Kalau kamu masih merasa kasihan. Jadi, dalam pandangan keluarga ini, cinta Arga padanya kini hanyalah sebatas rasa kasihan?
"Lalu... apa maksud Mama membawa foto ini?" suara Arga kini terdengar gemetar.
Keheningan yang mencekam menggantung di udara. Rania bisa membayangkan ibu mertuanya tersenyum puas.
"Menikahlah lagi, Arga," ucap Ibu Nawang, suaranya kini tenang, manipulatif, dan sangat mematikan. "Poligami itu sah. Agama mengizinkan, hukum negara mengizinkan. Rania tetap bisa tinggal di rumah ini sebagai istri pertamamu. Dia tidak perlu tahu kekurangan finansial. Tapi kamu harus menikahi Almira atau perempuan mana pun yang subur, agar keluarga ini mendapatkan ahli waris. Beri Mama cucu, Arga. Itu saja permintaan Mama sebelum Mama mati."
Air mata Rania merembes keluar membasahi sela-sela jarinya yang membekap mulut. Kakinya lemas. Ia bersandar pada dinding agar tidak jatuh tersungkur. Ia menunggu. Ia menunggu suaminya berteriak, mengusir ibunya, merobek foto itu, dan menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak akan pernah menduakan istrinya. Ia menunggu Arga mengatakan bahwa ia lebih memilih tidak memiliki anak seumur hidup daripada harus membagi cintanya dengan wanita lain.
Satu detik. Tiga detik. Lima detik berlalu.
Hanya ada keheningan.
"Arga?" desak Ibu Nawang. "Mama bisa atur pertemuannya minggu depan. Kamu hanya perlu setuju."
Rania memejamkan matanya kuat-kuat, berdoa dalam hati, Katakan tidak, Mas. Tolong, katakan tidak. Jangan hancurkan aku lebih dari ini.
Namun, apa yang keluar dari bibir Arga selanjutnya adalah sebuah kalimat yang menjadi jurang kebinasaan bagi kewarasan Rania.
"Ma..." Suara Arga serak, terdengar seperti orang yang telah kehabisan tenaga untuk bertarung. "Arga... Arga nggak bisa mikir sekarang. Kepalaku mau pecah rasanya."
"Arga—"
"Tolong," Arga memotong suara ibunya, nadanya terdengar memohon dan hancur. "Tolong kasih Arga waktu... buat memikirkan semua ini."
Memikirkan semua ini. Bumi di bawah kaki Rania seakan terbelah. Arga tidak menolak. Suaminya yang selalu berjanji setia di altar pernikahan sepuluh tahun lalu, kini meminta waktu untuk mempertimbangkan tawaran mengambil istri kedua. Arga mempertimbangkan untuk membawa wanita lain ke dalam ranjangnya, hidupnya, dan hati mereka.
Pertahanan Rania hancur tak tersisa. Pandangannya menggelap, napasnya tersengal, dan tepat sebelum Bi Sumi keluar dari dapur membawa nampan teh, Rania berlari terseret-seret melalui pintu samping menuju garasi. Ia harus pergi dari rumah ini sebelum ia benar-benar mati rasa.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar