Meja makan kayu jati bernuansa klasik di kediaman keluarga Danuwirdja selalu menjadi saksi bisu atas dua hal: kemewahan yang diwariskan turun-temurun, dan penghakiman yang tiada henti bagi Rania.

Malam itu, Rania mengenakan gaun selutut berwarna navy berlengan panjang. Ia berdandan lebih rapi dari biasanya, mengoleskan lipstik berwarna nude untuk menutupi bibirnya yang pucat akibat kurang tidur semalaman. Di sebelahnya, Arga tampak tenang, menyetir mobil menembus jalanan perumahan elite Pondok Indah. Pria itu tidak tahu-menahu soal pesan terakhir ibunya malam tadi. Bagi Arga, ini hanyalah makan malam keluarga rutin.

"Kamu kedinginan, Ran?" Arga menoleh sejenak, melihat Rania yang sedari tadi terus meremas tangannya sendiri. Ia mengecilkan suhu AC mobil. "Tanganmu dingin banget."

"Ah, nggak apa-apa, Mas. Mungkin karena agak lelah," Rania berbohong lagi. Kebohongan demi kebohongan mulai terasa seperti bahasa ibunya yang baru.

"Nanti selesai makan kita langsung pulang saja. Aku juga capek," hibur Arga sambil menepuk pelan punggung tangan Rania.

Mobil memasuki pekarangan luas yang dipenuhi tanaman hias mahal. Pilar-pilar besar bergaya Romawi menyambut mereka. Begitu Rania melangkah turun, udara malam terasa lebih mencekik dari biasanya.

Di ruang makan, Ibu Nawang—ibu kandung Arga—telah duduk anggun di ujung meja. Wanita berusia awal enam puluhan itu mengenakan kebaya sutra santai, rambutnya disanggul rapi tanpa sehelai pun yang berani keluar dari tempatnya. Di sisi kanan meja, duduk Dinar, adik perempuan Arga, bersama suaminya dan anak balita mereka yang terus berceloteh riang.

"Akhirnya datang juga," suara Ibu Nawang memotong suara tawa Dinar. Nada bicaranya datar, sedingin pualam di bawah kaki mereka. Matanya memindai Rania dari atas ke bawah, seolah menilai barang cacat di etalase toko. "Duduk."

"Maaf, Ma. Tadi jalanan agak macet," Arga beralasan sambil menarik kursi untuk Rania.

Makan malam dimulai dengan keheningan yang canggung. Hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Rania mengambil sedikit nasi dan lauk, mengunyahnya tanpa selera. Makanan mewah sekelas restoran bintang lima ini terasa seperti sekam di tenggorokannya.

"Kenzi bulan depan sudah mulai masuk preschool, Mas," Dinar tiba-tiba membuka percakapan, menyuapi putranya yang berusia tiga tahun. "Padahal rasanya baru kemarin Dinar melahirkan. Cepat banget gedenya."

Arga tersenyum tulus, mengusap kepala keponakannya. "Pintar-pintar ya, Kenzi. Nanti Om Arga belikan tas baru."

"Oh, jelas dong. Kenzi kan cucu pertama keluarga ini," Ibu Nawang menyela. Ia meletakkan sendoknya, mengambil serbet, dan menyeka sudut bibirnya perlahan. "Meski sebenarnya, gelar cucu pertama itu seharusnya milik anak dari anak laki-laki tertua. Begitu kan tradisinya, Arga?"

Suasana di meja makan mendadak kaku. Dinar menunduk, pura-pura sibuk dengan makanan anaknya. Suami Dinar tiba-tiba sangat tertarik pada gelas air putihnya. Rania merasakan jantungnya berhenti berdetak selama satu detik. Ini dia. Serangan itu dimulai.

"Ma, kita lagi makan," tegur Arga dengan suara rendah.

"Mama cuma menyatakan fakta, Arga. Apa yang salah?" Ibu Nawang menatap tajam ke arah putra sulungnya, lalu tatapannya beralih pada Rania. Sorot mata wanita tua itu tidak menyimpan sedikit pun empati. "Rania, Mama dengar kemarin kamu ke dokter kandungan lagi? Bagaimana hasilnya? Sama saja, kan?"

Rania menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. "I-iya, Ma. Dokter bilang..."

"Dokter bilang kamu harus bersabar lagi? Terus mencoba? Sampai kapan?" Ibu Nawang memotong tanpa ampun. Suaranya tidak membentak, namun setiap suku katanya mengandung racun yang mematikan. "Sepuluh tahun, Rania. Usia Arga sudah tiga puluh lima tahun. Teman-teman sebayanya sudah punya anak yang masuk SD, bahkan SMP. Sementara dia? Dia sibuk mengantarmu dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain tanpa hasil."

"Ma, cukup!" Arga meletakkan garpunya dengan kasar hingga menimbulkan suara denting yang keras. "Masalah ini sudah kita bahas berkali-kali. Arga nggak masalah. Arga dan Rania bahagia."

"Kamu bahagia, Arga, karena kamu mencoba menipu dirimu sendiri!" Ibu Nawang menaikkan nada suaranya. Matanya menyala penuh amarah. "Kamu anak laki-laki kebanggaan keluarga Danuwirdja. Kamu yang akan meneruskan perusahaan ayahmu. Apa gunanya semua kekayaan dan nama besar ini kalau kamu tidak punya ahli waris? Mau diserahkan ke panti asuhan?!"

Rania menundukkan kepala dalam-dalam. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya kabur. Tangannya bergetar di atas pangkuan. Ia terbiasa dengan sindiran, ia terbiasa dengan tatapan meremehkan, tapi malam ini, Ibu Nawang sepertinya berniat mengakhirinya.

"Mama tidak mau tahu," lanjut Ibu Nawang, kali ini menatap Rania tepat di kedua manik matanya yang basah. "Seorang istri itu tugas utamanya adalah memberikan keturunan bagi suaminya. Kalau itu saja tidak bisa dilakukan, untuk apa pernikahan ini dipertahankan? Kamu tidak lebih dari sekadar istri mandul yang menjadi beban bagi masa depan anak saya!"

Istri mandul.

Dua kata itu berdengung di ruang makan, memantul di dinding-dinding mewah, meresap ke dalam pori-pori kulit Rania, dan menghancurkan hatinya menjadi serpihan debu. Dinar menahan napas. Suaminya mematung.

Rania tidak bisa bernapas. Rasanya ada batu besar yang menimpa dadanya. Ia ingin lari, ia ingin berteriak bahwa ia pun tidak menginginkan hal ini, bahwa rahimnya yang rusak bukanlah sebuah kutukan yang ia minta kepada Tuhan. Namun suaranya tertahan di tenggorokan.

Dengan tangan gemetar, Rania menoleh perlahan ke arah Arga. Ia mencari perlindungan. Ia menunggu suaminya berdiri, mengebrak meja, dan membelanya mati-matian seperti yang selalu Arga janjikan di awal pernikahan mereka.

Namun, ketika mata Rania bertubrukan dengan mata suaminya, dunia Rania benar-benar runtuh.

Arga memang menatap ibunya dengan rahang mengeras, tapi pria itu tidak berdiri. Pria itu tidak membawa Rania pergi dari neraka ini. Arga hanya mematung, meremas serbet di pangkuannya. Dan di kedalaman mata suaminya yang lelah, Rania melihat sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada hinaan ibu mertuanya.

Ia melihat keraguan.