Pukul dua dini hari. Angka digital berwarna merah pada jam beker di atas nakas seolah mengejek Rania yang masih terjaga. Suara detaknya tidak ada, namun di kepala Rania, waktu terasa berteriak, memekakkan telinga.

Kamar utama ini—kamar yang selama sepuluh tahun menjadi saksi tawa, tangis, bisikan cinta, dan pelukan hangat—kini terasa sebesar lapangan sepak bola, sekaligus sedingin ruang pendingin mayat. Rania berbaring miring menghadap sisi ranjang yang kosong. Tangannya terulur, jemarinya menyentuh permukaan seprai yang membeku. Tidak ada lekuk tubuh Arga di sana. Tidak ada aroma sabun maskulin bercampur wangi tubuh suaminya yang biasanya menjadi penenang Rania setiap malam.

Cahaya bulan purnama menembus celah gorden, menciptakan bayangan panjang di atas lantai kayu jati. Rania menarik napas perlahan, namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa seperti pecahan kaca. Sakit. Begitu menyayat hingga ia harus meringkuk, memeluk lututnya sendiri di atas ranjang yang terlalu besar untuk satu orang yang merasa hancur.

Kata-kata ibu mertuanya di meja makan tadi kembali berputar layaknya kaset rusak di kepalanya.

“Kamu tidak lebih dari sekadar istri mandul yang menjadi beban bagi masa depan anak saya!”

Dan kemudian, disusul oleh suara putus asa Arga di dalam mobil.

“Apa salah kalau sesekali... aku juga merasa lelah dengan kenyataan kita?”

Air mata yang sedari tadi mengering kini kembali menggenang. Rania bangkit dari ranjang dengan gerakan lambat, seolah gravitasi tiba-tiba bertambah berat di pundaknya. Ia melangkah tanpa suara dengan kaki telanjang menuju kamar mandi. Lampu neon putih yang terang benderang langsung menyilaukan matanya begitu sakelar ditekan.

Rania berdiri di depan wastafel, menatap pantulan dirinya di cermin besar yang membingkai dinding. Apa yang ia lihat di sana bukanlah sosok Rania yang ceria dan penuh harapan seperti saat ia pertama kali mengenakan gaun pengantin sepuluh tahun lalu. Yang menatapnya balik dari balik kaca itu adalah seorang wanita berusia awal tiga puluhan yang matanya bengkak, lingkar hitam tebal menghiasi bawah matanya, dan bahunya melorot karena memikul beban rasa bersalah yang tak kasatmata.

Perlahan, Rania menurunkan pandangannya ke arah perutnya. Tangannya yang gemetar terangkat, menyentuh permukaan perutnya yang rata dari balik piyama sutra yang ia kenakan.

Rahim ini. Organ kecil di dalam tubuhnya ini telah mengkhianatinya. Ia merawat tubuhnya dengan baik, ia meminum semua vitamin yang diresepkan, ia menjaga pola makan, ia berdoa di sepertiga malam hingga suaranya habis, tapi mengapa tubuhnya sendiri menolak untuk bekerja sebagaimana mestinya?

"Kenapa kamu jahat sekali padaku?" bisik Rania pada pantulannya sendiri. Suaranya serak dan pecah. "Kenapa kamu tidak bisa melakukan satu hal saja yang membuat suamiku bahagia? Kenapa kamu harus rusak?"

Isakan pertama lolos dari bibirnya. Rania segera membekap mulutnya dengan kedua tangan, menahan agar suara tangisnya tidak pecah dan terdengar hingga ke luar kamar. Dadanya naik turun dengan hebat. Ia menangis hingga bahunya bergetar keras.

Sepuluh tahun ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa cinta Arga sudah cukup. Bahwa keluarga mereka utuh meskipun hanya berdua. Bahwa mereka bisa menua bersama, duduk di teras rumah sambil meminum teh di masa tua, berpegangan tangan meski tanpa kehadiran suara tawa anak kecil di sekitar mereka. Namun malam ini, realitas menamparnya dengan kejam.

Cinta saja tidak cukup untuk membungkam tuntutan dunia.

Rania tidak sanggup lagi berdiri. Kakinya lemas. Ia melorot turun hingga terduduk di atas ubin kamar mandi yang dingin. Ia memeluk lututnya rapat-rapat, membiarkan air mata membasahi piyamanya. Di dalam kepalanya, ia mulai mempertanyakan eksistensinya sebagai seorang istri. Apa gunanya seorang Rania jika ia hanya menjadi tembok penghalang bagi kebahagiaan suaminya? Arga adalah pria yang luar biasa. Pria itu mapan, tampan, penyabar, dan penuh kasih. Arga pantas mendapatkan seorang anak yang akan berlari menyambutnya sepulang kerja. Arga pantas mendapatkan garis keturunan untuk meneruskan nama besar Danuwirdja.

Dan Rania menyadari dengan sangat menyakitkan: ia tidak pantas berada di sisi Arga.

Setelah hampir satu jam menangis di lantai kamar mandi, Rania mencuci wajahnya dengan air dingin. Ia mengeringkan wajahnya dengan handuk, menatap cermin untuk terakhir kalinya malam itu. Pandangannya kini berbeda. Bukan lagi pandangan wanita yang berharap ada mukjizat, melainkan pandangan seorang pesakitan yang telah menerima vonisnya.

Ia keluar dari kamar mandi, berjalan perlahan keluar dari kamar utama menuju lorong lantai dua yang remang-remang. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar tamu yang tertutup rapat. Garis cahaya kuning masih memancar dari celah bawah pintu.

Arga belum tidur.

Rania mengangkat tangannya, berniat memutar kenop pintu. Ia ingin masuk, memeluk suaminya, meminta maaf untuk kelemahan tubuhnya, dan menceritakan diagnosis fatal dari Dokter Anita sore tadi. Ia ingin menangis di pelukan Arga dan mendengar pria itu berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh logam dingin kenop pintu, Rania mendengar sesuatu dari dalam kamar.

Suara isakan tertahan.

Rania menahan napas. Tubuhnya membeku di tempat. Ia menempelkan telinganya ke daun pintu kayu tersebut.

Di dalam sana, Arga—suaminya yang selalu terlihat tegar, yang selalu tersenyum menenangkannya setiap kali ia haid, yang selalu melindunginya dari tatapan mencemooh kerabat—sedang menangis. Rania bisa mendengar suara tarikan napas Arga yang berat, disusul oleh gumaman putus asa yang menyayat hati di sela-sela tangis pria itu.

"Ya Allah... sampai kapan... hamba harus terus berpura-pura kuat? Hamba juga ingin menggendong anak hamba sendiri..."

Dunia Rania berhenti. Tangannya jatuh lemas ke sisi tubuh. Kalimat Arga yang diucapkan dalam doa malamnya itu terasa lebih tajam dari seribu belati yang dihujamkan tepat ke jantung Rania.

Pria itu menderita karenanya. Arga tersiksa karena Rania.

Rania mundur selangkah. Dua langkah. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata kembali mengalir deras bak anak sungai yang bendungannya telah jebol. Ia berbalik dan berlari gontai kembali ke kamarnya, mengunci pintu rapat-rapat, lalu menenggelamkan wajahnya di bawah bantal agar jeritannya tidak terdengar oleh siapa pun. Malam itu, di tengah kehancuran jiwanya, Rania sadar bahwa mempertahankan pernikahan ini mungkin adalah bentuk keegoisan terbesarnya.