Kilatan cahaya blitz dari puluhan kamera menyilaukan mata. Suara riuh wartawan dan jurnalis infotainment tumpang tindih memanggil satu nama.
"Pak Raka! Toleh sini, Pak!" "Mbak Alya, senyumnya sedikit lagi, Mbak!" "Bagaimana rasanya menjadi pengantin baru, Pak Raka? Adakah rencana honeymoon dalam waktu dekat?"
Pintu mobil Rolls-Royce Phantom hitam itu terbuka. Seorang pria berseragam membungkuk hormat. Raka Pradipta melangkah keluar lebih dulu. Ia mengenakan setelan tuxedo navy blue yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Senyum hangat—senyum yang sangat jarang Alya lihat di rumah—kini terkembang lebar di wajah tampannya, membuat para jurnalis wanita menahan napas kagum.
Raka berbalik, mengulurkan tangannya yang besar ke dalam mobil.
Alya menarik napas panjang, memasang topeng terbaiknya, lalu menyambut uluran tangan itu. Saat jemari mereka bertaut, Raka menggenggamnya dengan sangat erat, nyaris menyakitkan, seakan mengirimkan peringatan tak kasat mata melalui kulit mereka.
Alya melangkah keluar. Ia mengenakan gaun malam haute couture berwarna merah marun berbahan sutra, dengan belahan dada rendah dan punggung terbuka. Gaun seharga ratusan juta itu memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, membuat siapa pun yang melihatnya tak bisa mengalihkan pandangan. Kalung berlian bertahtakan ruby merah melingkar di leher jenjangnya.
Namun, hanya Alya yang tahu betapa berat kalung itu terasa. Seberat rantai yang mengikat lehernya.
Raka menarik tubuh Alya merapat ke sisinya. Tangannya melingkar posesif di pinggang ramping Alya, sesekali mengusap punggung terbuka wanita itu dengan gerakan yang terlihat sangat intim dari luar, namun membuat bulu kuduk Alya meremang jijik.
"Senyum, sayang," bisik Raka tepat di telinga Alya, bibirnya nyaris menyentuh daun telinga istrinya. Di depan kamera, itu terlihat seperti bisikan mesra seorang suami yang dimabuk asmara. "Jangan mempermalukanku. Sudut bibirmu terlalu kaku."
Alya menelan ludah, memaksa otot-otot wajahnya untuk melengkung ke atas. "Aku sedang tersenyum, Raka."
"Kurang lebar. Tunjukkan pada dunia betapa beruntungnya kau memilikiku," balas Raka lirih, telapak tangannya di pinggang Alya menekan sedikit lebih keras ke arah tulang rusuknya, memaksanya untuk berdiri lebih tegak.
Mereka berjalan di atas karpet merah menuju aula Grand Ballroom hotel bintang lima tempat perayaan Anniversary ke-50 Pradipta Group diselenggarakan. Sorot mata kagum dan bisik-bisik iri mengiringi setiap langkah mereka.
"Mereka serasi sekali, ya." "Alya Maheswari benar-benar beruntung. Ayahnya hampir bangkrut, tapi dia malah dinikahi miliarder paling tampan se-Asia." "Lihat cara Pak Raka menatapnya. Penuh cinta sekali."
Mendengar bisikan-bisikan itu, perut Alya mual. Penuh cinta? Orang-orang ini buta. Mereka tidak tahu monster apa yang bersembunyi di balik jas mewah dan senyum menawan ini.
Di dalam ballroom, suasananya jauh lebih megah. Ratusan tamu dari kalangan elit bisnis, pejabat pemerintahan, dan sosialita papan atas hadir. Denting gelas wine dan tawa renyah menggema di seluruh ruangan.
"Raka! Akhirnya jagoan Papa datang juga." Johan Pradipta, ayah Raka, berjalan menghampiri mereka dengan cerutu di tangan kanannya. Di sebelahnya berdiri ibu Raka, Laksmi Pradipta, yang menatap Alya dengan senyum angkuh yang khas.
"Malam, Pa, Ma," Raka mencium pipi ibunya, lalu memeluk ayahnya sekilas. Ia kemudian menarik Alya sedikit ke depan. "Lihat istriku, Ma. Cantik sekali, bukan? Aku sendiri yang memilihkan gaun ini untuknya."
Laksmi menatap Alya dari atas ke bawah, seolah menilai barang dagangan di etalase. "Lumayan. Seleramu selalu bagus, Raka. Setidaknya dia tidak memakai baju-baju kampungan yang biasa dia pakai sebelum masuk keluarga kita."
Alya mengepalkan tangannya di sisi tubuh, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Ia ingin berteriak, membalas hinaan wanita tua itu, tapi genggaman Raka di pinggangnya kembali mengencang.
"Tentu saja, Ma. Alya sangat penurut," Raka tersenyum menatap Alya, tangannya naik menyelipkan seuntai rambut Alya yang jatuh ke belakang telinga. Sebuah gestur manis yang memuakkan. "Bukankah begitu, sayang?"
"Iya, Raka," Alya menjawab parau, menatap mata suaminya dengan penuh kebencian yang terselubung sempurna di balik bulu mata lentiknya.
"Alya!"
Suara yang tak asing membuat Alya menoleh cepat. Di sudut ruangan, Ratna dan Herman Maheswari—kedua orang tuanya—berjalan menghampirinya. Herman kini mengenakan jas mewah, terlihat jauh lebih segar dan berisi dibandingkan bulan lalu saat ia berniat menembak kepalanya sendiri.
"Papa! Mama!" Mata Alya berbinar lega. Ia setengah berlari melepaskan diri dari Rangkulan Raka dan memeluk ibunya erat-erat. Aroma parfum sang ibu membuatnya ingin menangis saat itu juga.
"Sayangku, anak Mama," Ratna mengelus punggung Alya dengan penuh kasih sayang. "Kamu cantik sekali malam ini, Nak. Ya ampun, lihat perhiasan ini."
Herman menjabat tangan Raka dengan penuh rasa hormat yang berlebihan, nyaris menjilat. "Raka, terima kasih banyak. Pestanya luar biasa. Dan proyek di Surabaya itu... stafku bilang dana dari Pradipta Group sudah cair seratus persen. Kau benar-benar penyelamat keluarga kami."
"Sama-sama, Papa mertua," balas Raka dengan senyum sopan yang elegan. "Sudah kewajibanku menjaga keluarga istriku tercinta."
Ratna menangkup wajah Alya, menatap putrinya dalam-dalam. "Kamu bahagia kan, Nak? Raka memperlakukanmu dengan baik? Kudengar dia membelikanmu mobil baru minggu lalu."
Tenggorokan Alya tercekat. Bahagia? Raka memang membelikannya Porsche keluaran terbaru, tapi kuncinya dipegang oleh supir pribadi yang disewa Raka khusus untuk memata-matai setiap pergerakan Alya.
Alya melirik Raka dari sudut matanya. Pria itu sedang menyesap champagne-nya, menatap Alya dengan sorot mata yang tak terbaca, menunggu jawaban.
"Iya, Ma," suara Alya bergetar pelan, ia menundukkan pandangannya agar air matanya tidak terlihat. "Alya bahagia. Raka... dia sangat sempurna."
Kebohongan itu meluncur mulus, mengoyak sisa-sisa harga dirinya yang masih tersisa. Herman dan Ratna tersenyum lega, tanpa menyadari luka menganga di dada putri semata wayang mereka.
Malam itu terasa seperti penyiksaan yang tak berujung. Alya harus tersenyum hingga rahangnya kaku, berdiri mematung di samping Raka, menyapa puluhan orang asing yang terus memuji betapa serasinya mereka. Raka memerankan perannya dengan sangat sempurna. Ia menyuapkan sepotong canapé ke mulut Alya di depan kamera, mengecup pelipisnya saat Alya pura-pura kedinginan, dan tertawa renyah menanggapi candaan para kolega bisnis.
Aktor peraih Oscar pun akan kalah melihat sandiwara Raka Pradipta malam ini.
Tepat pukul sebelas malam, Raka akhirnya berpamitan. Mereka masuk kembali ke dalam mobil Rolls-Royce.
Pintu mobil ditutup. Kaca pemisah antara kursi penumpang dan sopir dinaikkan, menciptakan ruang kedap suara yang privat.
Begitu bunyi klik kaca pemisah terdengar, senyum hangat di wajah Raka lenyap tanpa sisa. Wajahnya kembali sedingin es. Perubahan drastis itu terjadi hanya dalam hitungan detik. Atmosfer di dalam mobil seketika berubah mencekam.
Raka melepas jasnya kasar, melemparnya ke kursi kosong di sebelahnya, lalu membuka dua kancing kemeja teratasnya. Ia mengambil gelas dari mini bar mobil dan menuangkan whiskey.
Alya menggeser duduknya menjauh, merapatkan tubuhnya ke pintu mobil. Tangannya memeluk dadanya sendiri yang terasa dingin meski heater mobil menyala.
Hening menguasai ruang sempit itu selama beberapa menit, hanya diselingi suara putaran ban mobil yang membelah jalanan aspal ibu kota.
"Kau berbohong pada ibumu," suara berat Raka tiba-tiba memecah keheningan. Pria itu menatap lurus ke depan, menggoyangkan gelas di tangannya.
Alya menoleh pelan. "Apa maksudmu?"
"Saat ibumu bertanya apakah kau bahagia. Matamu bergetar, dan nadamu turun setengah oktaf," Raka menoleh menatap Alya, matanya menembus kegelapan mobil. "Orang bodoh pun tahu kau sedang berbohong."
"Lalu aku harus bilang apa?" Alya membalas, suaranya naik. Rasa muak yang ia tahan berjam-jam akhirnya tumpah. "Haruskah aku bilang pada mamaku kalau aku dikurung di dalam rumah? Kalau aku tidak boleh menyentuh barang-barangku sendiri? Kalau suamiku yang 'sempurna' ini sebenarnya adalah monster manipulatif gila kendali?!"
Prang!
Raka melempar gelas kristalnya ke lantai mobil hingga hancur berkeping-keping. Cipratan whiskey mengenai ujung gaun Alya. Alya memekik tertahan dan memejamkan mata, memeluk lututnya dengan gemetar.
"Tutup mulutmu!" bentak Raka, suaranya menggelegar di ruang sempit itu. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Alya, mencengkeram lengan atas wanita itu kuat-kuat hingga Alya meringis kesakitan.
"Sudah kubilang, Alya. Tugasku adalah membuat keluargamu tetap bernapas, dan tugasmu adalah membuatku terlihat sempurna di depan dunia! Kalau kau tidak bisa melakukan hal semudah itu dengan benar, aku akan memastikan ayahmu mengembalikan setiap sen uang yang sudah kukeluarkan besok pagi!"
"Lepaskan... sakit," Alya menangis, berusaha melepaskan cengkeraman Raka yang terasa seperti capit besi. "Kau menyakitiku, Raka!"
"Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kehancuran keluargamu kalau kau berani melawan," bisik Raka tepat di depan wajah Alya, matanya menyala dalam amarah yang gelap. "Jangan pernah lagi menunjukkan kelemahanmu di depan orang lain. Mengerti?!"
Alya hanya bisa mengangguk pelan di sela isak tangisnya. Raka menghempaskan lengan Alya dengan kasar, membuang muka, dan kembali duduk bersandar di kursinya dengan dada naik turun.
Alya menatap keluar jendela mobil yang gelap. Lampu-lampu jalanan ibu kota berkelebat membentuk garis-garis buram. Ia menangis dalam diam, meratapi nasibnya. Di mata dunia, ia adalah ratu yang hidup di istana kaca. Namun di dunia nyata, ia hanyalah seorang budak yang dirantai oleh pria iblis bernama Raka Pradipta.
Dan malam ini, Alya menyadari satu hal yang mengerikan. Raka tidak hanya gila kendali, tapi pria itu juga menikmati rasa takut yang ia ciptakan di mata Alya.
Mobil tiba-tiba berhenti mendadak di tepi jalan sepi, jauh dari keramaian kota.
Alya terkejut. "Kenapa kita berhenti?"
Raka menekan tombol intercom ke ruang sopir. "Keluar," perintahnya dingin.
Alya menatap Raka panik. "Apa? Ke—kenapa kau menyuruhnya keluar?"
Raka menoleh pada Alya, tersenyum miring yang sangat mengerikan. "Bukan dia. Kau."
Jantung Alya berhenti berdetak sesaat. "Apa? Kau gila?! Ini sudah tengah malam, Raka! Tempat ini sepi, aku tidak bawa tas, tidak bawa ponsel!"
Raka mencondongkan tubuhnya, menekan tombol unlock pada pintu di sisi Alya. Pintu terbuka perlahan, embusan angin malam yang dingin langsung menusuk kulit lengan dan punggung Alya yang terbuka.
"Kau butuh waktu untuk merenungkan kesalahanmu, Alya. Jalan kaki akan membantu mendinginkan kepalamu," ucap Raka tanpa belas kasihan. "Anggap ini hukuman karena kau nyaris mengacaukan citraku di depan ayah mertuamu tadi."
"Raka, kumohon, jangan tinggalkan aku di sini!" Alya memohon, air matanya tumpah menderas. Ia mencengkeram lengan jas Raka. "Aku takut! Di luar gelap!"
Raka menepis tangan Alya dengan kasar. Ia menendang pelan kaki Alya agar keluar dari mobil. "Keluar sekarang, atau kupaksa kau keluar."
Dengan tubuh gemetar hebat dan tangis yang meledak, Alya perlahan turun dari mobil mewah itu. Begitu kakinya yang terbalut sepatu hak tinggi menyentuh aspal yang kasar, Raka langsung menarik pintunya dan membantingnya tertutup.
Mobil Rolls-Royce hitam itu melaju pergi, membelah kegelapan malam, meninggalkan Alya sendirian di trotoar sepi, menangis terisak dalam balutan gaun merah ratusan jutanya, kedinginan dan hancur berantakan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar