Suara hak sepatu Alya menggema pelan di sepanjang lorong berlantai marmer hitam itu.

Sudah tiga hari ia resmi menempati kediaman utama Pradipta. Namun, alih-alih merasa seperti seorang nyonya rumah, Alya lebih merasa seperti tamu tak diundang yang sedang terjebak di dalam sebuah museum modern yang dingin dan tak bernyawa.

Rumah ini terlalu besar. Langit-langitnya terlalu tinggi. Dinding-dindingnya didominasi kaca tebal yang menampilkan lanskap taman belakang yang luas, namun ironisnya, cahaya matahari seolah enggan menetap lama di dalam ruangan ini. Semuanya serba tertata. Serba simetris. Serba kaku. Tidak ada pigura foto keluarga yang hangat, tidak ada vas bunga dengan warna mencolok, tidak ada barang yang diletakkan sembarangan.

"Nyonya Alya."

Sebuah suara datar dan berat mengejutkan Alya. Ia berbalik dan mendapati Bi Sumi, kepala pelayan wanita paruh baya dengan seragam abu-abu yang selalu disetrika rapi tanpa sehelai benang pun yang keluar dari tempatnya. Wajah Bi Sumi tidak pernah menyunggingkan senyum sejak hari pertama Alya menginjakkan kaki di rumah ini.

"Ya, Bi?" Alya memaksakan senyum tipis, menyembunyikan keterkejutannya. Ia meremas ujung kardus kecil berisi beberapa buku novel miliknya yang baru saja ia keluarkan dari koper.

"Tuan Raka berpesan sebelum berangkat ke kantor pagi tadi," Bi Sumi melipat tangannya di depan perut, posturnya tegak lurus bagai prajurit. "Beliau meminta saya untuk mengingatkan kembali beberapa aturan rumah yang mungkin belum Nyonya hapal."

Alya menghela napas tertahan. Aturan. Sejak kapan sebuah rumah tinggal memiliki buku manual seperti alat elektronik?

"Aturan apa lagi, Bi? Bukankah kemarin Bibi sudah memberitahuku soal jam makan malam dan larangan membuka gorden di ruang kerja Raka?" tanya Alya, nada suaranya sedikit meninggi. Ia lelah. Fisik dan mentalnya terkuras.

"Masih ada beberapa hal mendasar, Nyonya," balas Bi Sumi, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada protes Alya. Matanya yang tajam menatap kardus di tangan Alya. "Pertama, Tuan Raka tidak menyukai barang-barang pribadi yang tidak sesuai dengan estetika rumah ini diletakkan di ruang terbuka. Buku-buku Nyonya, harap disimpan di dalam laci tertutup di kamar. Jangan diletakkan di meja ruang tamu atau perpustakaan utama."

Dada Alya bergemuruh. "Ini hanya buku novel, Bi. Apa salahnya diletakkan di rak perpustakaan? Di sana masih banyak ruang kosong."

"Itu aturan Tuan Raka, Nyonya. Saya hanya menyampaikannya." Bi Sumi menatap lurus ke mata Alya. "Kedua, jadwal makan malam adalah pukul tujuh malam tepat. Jika Tuan Raka belum pulang, Nyonya diwajibkan menunggunya di meja makan. Nyonya tidak diperkenankan makan lebih dulu, atau makan di kamar."

"Bagaimana kalau dia pulang jam dua belas malam?" tanya Alya tak percaya. "Aku harus menunggunya sambil duduk diam di meja makan selama lima jam?"

"Tepat sekali, Nyonya."

Jawaban singkat itu menghantam kesadaran Alya. Ia menatap Bi Sumi lekat-lekat, mencari jejak simpati di wajah wanita tua itu, namun hasilnya nihil. Pelayan ini lebih mirip sipir penjara daripada pengurus rumah tangga.

"Dan yang terakhir, Nyonya," Bi Sumi melangkah setengah meter lebih dekat, suaranya kini sedikit merendah, hampir terdengar seperti peringatan. "Sayap kiri rumah ini, tepat di ujung lorong lantai dua, adalah area pribadi Tuan Raka. Ruangan dengan pintu kayu jati berukir di sana terkunci rapat. Tuan Raka sangat membenci siapa pun yang mencoba mendekati, apalagi membuka ruangan tersebut. Termasuk Nyonya."

Alya mengerutkan kening. "Apa isi ruangan itu?"

"Bukan kapasitas saya untuk menjawab, dan bukan hak Nyonya untuk bertanya," sahut Bi Sumi cepat dan tajam. "Saya permisi ke dapur. Jika Nyonya butuh sesuatu, tekan saja tombol interkom di dinding."

Wanita paruh baya itu menunduk kaku, lalu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tanpa suara, meninggalkan Alya yang terpaku di tengah lorong yang dingin.

Alya menunduk menatap kardus bukunya. Tangannya gemetar. Emosi yang selama ini ia tahan perlahan mulai mendidih. Ia bukan boneka pajangan. Ia manusia. Tapi di rumah ini, ia diperlakukan lebih rendah dari sekadar furnitur mahal.

Malam harinya, apa yang dikatakan Bi Sumi benar-benar terjadi.

Pukul tujuh malam tepat, Alya sudah duduk di kursi meja makan yang terbuat dari marmer hitam sepanjang empat meter. Di atas meja, hidangan mewah bergaya fine dining telah tersaji. Asap tipis masih mengepul dari steak wagyu di hadapannya.

Pukul delapan. Raka belum pulang. Pukul sembilan. Lilin di tengah meja mulai mencair habis. Pukul sepuluh malam. Perut Alya perih melilit. Asam lambungnya naik akibat stres dan perut kosong, tapi pelayan yang berdiri di sudut ruangan tak beranjak sedikit pun, mengawasi setiap gerak-geriknya layaknya kamera CCTV bernyawa.

Pukul sebelas lewat seperempat, suara mobil memasuki garasi akhirnya terdengar.

Pintu utama terbuka. Raka melangkah masuk, masih mengenakan setelan jas lengkap, namun wajahnya terlihat lelah. Pria itu menyerahkan tas kerjanya pada pelayan, melonggarkan dasinya, dan berjalan menuju ruang makan.

Alya menatapnya dengan rahang terkatup rapat. Ia sudah duduk diam selama empat jam penuh.

Raka menarik kursi di ujung meja, tepat berhadapan dengan Alya namun terpisah jarak hampir empat meter. Ia duduk dengan tenang, menatap Alya yang wajahnya sudah pucat pasi.

"Kenapa makanannya tidak dihangatkan?" suara Raka memecah keheningan, matanya menatap piring steak yang lemaknya sudah membeku.

Alya meremas serbet di pangkuannya. "Kau menyuruhku menunggu. Bi Sumi bilang aku tidak boleh makan, dan makanan sudah disajikan sejak jam tujuh."

Raka menoleh sedikit pada pelayan di sudut ruangan. "Hangatkan semuanya. Beri aku waktu lima menit."

Pelayan itu mengangguk patuh dan dengan cepat membereskan meja. Alya nyaris berteriak melihat piringnya dibawa pergi.

"Kau bisa saja meneleponku, Raka, memberitahuku kalau kau pulang terlambat!" sergah Alya, tak mampu lagi menahan suaranya. "Aku bukan anjing penjaga yang harus disuruh duduk diam menunggu majikannya pulang!"

Gerakan tangan Raka yang sedang menuang air putih terhenti di udara. Pria itu meletakkan teko kristal itu secara perlahan. Sangat perlahan. Suasana ruangan yang sudah dingin tiba-tiba terasa membeku.

Raka menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Matanya yang segelap malam menatap Alya tajam.

"Sejak kapan kau berani meninggikan suaramu padaku, Alya?"

"Sejak kau memperlakukanku seperti tawanan di rumah ini!" Alya balas menatapnya, matanya berkaca-kaca menahan marah. "Apa maksud semua aturan konyol ini? Buku-bukuku harus disembunyikan? Aku tidak boleh makan sebelum kau datang? Kau pikir kau siapa mengatur hidupku sampai ke hal-hal remeh seperti itu?!"

Raka tersenyum tipis. Senyum yang membuat perut Alya semakin mual. Pria itu bangkit berdiri, berjalan perlahan memutari meja makan panjang itu, langkahnya menggema seperti detak jarum jam yang menghitung mundur waktu eksekusi.

Raka berhenti tepat di belakang kursi Alya. Alya menahan napas saat merasakan hembusan udara dingin dari jas pria itu.

Kedua tangan Raka bertumpu di sandaran kursi Alya, mengurungnya. Pria itu membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga kiri Alya.

"Aku suamimu. Dan ini rumahku," bisik Raka, suaranya berat, halus, namun penuh racun. "Semua yang ada di dalam rumah ini, termasuk kau, harus mengikuti ritmeku. Kau mengeluh soal buku? Buku-buku murahanmu itu merusak pemandangan perpustakaanku. Kau mengeluh soal menunggu? Itu untuk mengajarimu disiplin dan rasa hormat pada pria yang sudah menyelamatkan leher ayahmu dari tali gantungan."

Alya memejamkan mata erat-erat, air mata pertama lolos melintasi pipinya. "Kau benar-benar sakit jiwa."

Tangan Raka tiba-tiba menyusup ke rambut panjang Alya yang diikat kuda. Dengan satu gerakan cepat namun kasar, pria itu menarik ikatan rambut Alya hingga putus.

"Aw!" Alya memekik tertahan, memegangi kepalanya saat rambutnya tergerai berantakan menutupi bahu.

"Dan satu lagi," Raka memutar tubuh Alya beserta kursinya menghadapnya. Tangan besarnya menangkup rahang Alya, memaksanya mendongak menatap matanya yang memancarkan dominasi mutlak. "Aku tidak suka melihatmu mengikat rambutmu. Biarkan tergerai. Wajahmu terlihat terlalu kaku kalau rambutmu diikat."

"Lepaskan aku," desis Alya, mencoba menepis tangan Raka, namun cengkeraman pria itu terlalu kuat.

"Mulai besok, penata rias dan asisten belanja pribadiku akan datang kemari," Raka melanjutkan tanpa memedulikan perlawanan Alya. Ibu jarinya mengusap pelan air mata di pipi Alya, sebuah sentuhan lembut yang sangat kontradiktif dengan kekejamannya. "Mereka akan membuang semua baju-baju murahmu dan menggantinya dengan pakaian yang pantas dikenakan oleh Nyonya Pradipta. Kau tidak akan keluar rumah ini tanpa izin dariku, dan kau tidak akan memakai sesuatu yang tidak kusukai."

"Kau tidak bisa mengurungku seperti ini!" Alya menangis keras. "Aku punya pekerjaan! Aku punya hidupku sendiri!"

"Pekerjaanmu sekarang adalah menjadi istriku," potong Raka dingin. Ia melepaskan rahang Alya, menatap wanita itu dengan tatapan merendahkan. "Kalau kau masih berani membantah, aku akan memastikan besok pagi bank menyita sisa aset ayahmu, dan kau bisa melihatnya menangis di pinggir jalan dari balkon kamarmu."

Raka menegakkan tubuhnya, merapikan jasnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Makan malammu sebentar lagi siap. Habiskan. Aku tidak suka melihat istriku terlihat kurus dan penyakitan di depan kamera."

Pria itu berbalik dan berjalan menuju tangga lantai dua, meninggalkan Alya yang menangis tersedu-sedu di atas kursinya. Ruang makan yang luas itu kini terasa seperti peti mati yang menguburnya hidup-hidup.

Di sela isaknya, mata Alya tanpa sengaja menatap ke arah lantai dua. Tepat ke arah lorong sayap kiri yang gelap. Area yang dilarang keras oleh Bi Sumi.

Di sana, di balik bayang-bayang pilar, Alya berani bersumpah ia melihat siluet seseorang berdiri mematung menatap ke arahnya. Namun saat ia mengerjapkan matanya yang kabur oleh air mata, siluet itu menghilang. Meninggalkan hawa dingin yang merayap naik ke tengkuknya.

Ada rahasia gelap yang disembunyikan Raka di rumah ini. Dan Alya tahu, cepat atau lambat, rahasia itu akan menghancurkannya.