Cahaya matahari pagi yang menembus celah gorden tebal tidak mampu menghangatkan ruangan itu. Alya terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, bukan karena sentuhan, melainkan karena tidur meringkuk di atas sofa semalaman. Ia menolak tidur di ranjang yang sama dengan Raka.
Saat ia membuka mata, ranjang king-size itu sudah kosong. Seprainya rapi, seolah tidak pernah ditiduri. Raka sudah pergi.
Alya memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Ia bangkit perlahan, berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan. Pantulan dirinya terlihat menyedihkan. Kantung matanya menghitam, wajahnya pucat, dan matanya bengkak.
Sebuah koper kecil miliknya tergeletak di sudut ruangan, belum dibongkar. Matanya tertuju pada ritsleting depan koper itu. Perlahan, ia mendekat, berlutut, dan menarik ritsletingnya. Di sana, terselip sebuah map cokelat yang sedikit lecek.
Tangan Alya gemetar saat menyentuh map itu. Itu adalah salinan laporan keuangan Maheswari Corp tiga bulan yang lalu. Laporan yang menjadi awal dari hancurnya hidup Alya.
Ingatannya terlempar kembali ke malam hujan deras itu. Tiga bulan yang lalu.
Flashback
"Kita bangkrut, Ma. Semuanya habis."
Suara berat dan putus asa itu berasal dari Papanya, Herman Maheswari. Pria yang seumur hidup Alya selalu terlihat tangguh dan tak terkalahkan itu, malam itu, berlutut di lantai ruang kerja sambil menangis memeluk kaki istrinya.
Alya yang baru saja pulang dari kafe, berdiri kaku di ambang pintu. "Papa? Ada apa? Apa yang habis?"
Herman menoleh, wajahnya sembap, matanya merah. Ia terlihat menua sepuluh tahun dalam semalam. Ibunda Alya, Ratna, sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat.
"Alya..." Ratna memanggil di sela isak tangisnya. "Perusahaan Papa... ditipu rekan kerjanya. Semua aset kita sudah diagunkan. Bulan depan, bank akan menyita rumah ini. Semuanya, Al. Kita tidak punya apa-apa lagi."
Dada Alya terasa sesak. "Bagaimana mungkin? Bukankah proyek di Surabaya itu—"
"Bodong, Al! Semuanya bodong!" Herman memukul lantai dengan kepalan tangannya hingga berdarah. "Papa terlalu percaya! Papa menjaminkan semuanya! Jutaan dolar, Al! Papa hutang di mana-mana. Kalau ini bocor ke media, bukan cuma kita jatuh miskin, Papa bisa dipenjara karena dituduh menggelapkan dana investor!"
Alya berlari menghampiri ayahnya, memegang pundak pria tua itu. "Pa, tenang dulu. Pasti ada jalan keluar. Kita bisa jual mobil, jual perhiasan—"
"Tidak akan cukup!" bentak Herman, meski air matanya terus mengalir. Tiba-tiba, ia mencengkeram kedua lengan Alya. Tatapannya berubah liar, penuh keputusasaan yang mengerikan. "Tapi... ada satu cara. Satu-satunya cara, Alya."
"Apa, Pa? Katakan. Alya akan bantu."
Herman menelan ludah kasar. "Keluarga Pradipta. Johan Pradipta, teman lama Papa. Dia bersedia menyuntikkan dana tanpa batas untuk menutupi semua hutang dan mengambil alih proyek itu."
Rasa lega sempat mampir sepersekian detik di dada Alya. "Syukurlah. Berarti—"
"Tapi ada syaratnya," suara Ratna memotong, pelan dan bergetar. Wanita paruh baya itu menatap putrinya dengan tatapan memelas yang mengiris hati. "Mereka tidak mau ada hitam di atas putih sebagai pinjaman. Mereka mau penggabungan aset lewat ikatan keluarga."
Otak Alya berhenti bekerja selama beberapa detik. "Maksud Mama?"
"Mereka ingin kau menikah dengan pewaris mereka," ucap Herman parau. "Raka Pradipta."
Alya membeku. "Raka? Pria dingin yang sombong itu? Pa, Alya bahkan tidak mengenalnya! Kita baru bertemu dua kali di acara amal, dan dia nyaris tidak pernah tersenyum! Lagipula... Papa dan Mama tahu Alya sudah punya Adrian!"
"Adrian hanya manajer level menengah, Alya!" bentak Herman, suaranya naik. "Apa yang bisa dia lakukan?! Apa dia bisa membayar hutang ratusan miliar?! Apa dia bisa menyelamatkan Papa dari penjara?!"
"Tapi aku mencintainya, Pa! Kami berencana menikah tahun depan!" air mata Alya akhirnya pecah. Ia mundur selangkah, menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Alya tidak mau. Ini hidup Alya, Pa. Papa tidak bisa menjual Alya seperti aset perusahaan!"
Ratna tiba-tiba berlutut di hadapan Alya. "Alya, Mama mohon... Mama tidak bisa membayangkan Papa di penjara. Mama tidak sanggup tidur di jalanan di usia seperti ini, Nak. Tolong... selamatkan keluarga kita. Menikahlah dengan Raka."
"Ma, bangun! Jangan begini!" Alya panik, berusaha menarik ibunya berdiri, tapi Ratna menolak.
"Kalau kau tidak mau menikah dengan Raka," Herman bangkit berdiri, berjalan menuju laci meja kerjanya. Tangannya dengan cepat menarik sebuah pistol revolver yang selama ini hanya menjadi pajangan pengaman. Ia menodongkan moncong pistol itu ke pelipisnya sendiri.
"PAPA!" Alya menjerit histeris. Ratna berteriak menutup mata.
"Lebih baik Papa mati malam ini daripada harus menanggung malu dan melihat kalian hidup gembel!" ancam Herman, tangannya gemetar di pelatuk. "Pilih, Alya! Pernikahanmu dengan Raka, atau nyawa Papamu?!"
"Jangan, Pa! Tolong turunkan pistolnya!" Alya menangis sejadi-jadinya, tubuhnya merosot ke lantai. "Iya! Iya, Alya mau! Alya akan menikah dengan Raka! Turunkan pistolnya, Pa! Tolong!"
Herman melepaskan pistol itu ke atas meja dan langsung memeluk Alya. Pria itu menangis keras, mengucapkan terima kasih berkali-kali. Tapi di pelukan ayahnya, Alya merasa nyawanya sendiri yang baru saja dicabut.
End of Flashback
Alya meremas map cokelat itu hingga kusut. Air mata kembali mengalir di pipinya yang masih memucat. Ia telah mengorbankan segalanya. Cintanya. Masa depannya. Kebebasannya.
Ia menerima lamaran Raka seminggu setelah malam itu. Sebuah pertemuan keluarga yang kaku, di mana Raka hanya menatapnya dengan pandangan menilai, seolah Alya adalah barang antik yang sedang dinegosiasikan harganya.
"Alya sudah setuju, Johan," kata ayah Alya saat itu dengan senyum palsu yang dipaksakan.
Johan Pradipta tertawa puas, sementara Raka, yang duduk di seberang meja, menyilangkan kakinya dan menatap langsung ke mata Alya.
"Pastikan saja," kata Raka saat itu, suaranya berat dan datar, "dia tahu konsekuensi menjadi seorang Pradipta. Tidak ada kata mundur setelah cincin melingkar di jarinya."
Alya menatap pantulan dirinya di cermin kamar pengantin itu. Ia menyeka air matanya dengan kasar. Tidak. Ia tidak boleh terlihat lemah. Raka mungkin menguasai hidupnya di atas kertas, tapi Alya berjanji pada dirinya sendiri, pria itu tidak akan pernah mendapatkan hatinya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar