Hari berganti. Seminggu setelah pernikahan, Alya secara resmi pindah ke kediaman Pradipta—sebuah mansion bergaya modern minimalis yang didominasi warna monokrom dan kaca. Rumah itu sangat besar, sangat mewah, dan luar biasa sunyi. Persis seperti pemiliknya.
Sore itu, Alya duduk di balkon kamarnya di lantai dua, menatap kosong ke arah kolam renang di bawah sana. Angin sore meniup rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai.
Di tangannya, tergenggam sebuah ponsel tua yang layarnya sudah sedikit retak. Ponsel itu tidak pernah ia biarkan aktif sejak hari pernikahannya, namun hari ini, pertahanannya runtuh. Jari Alya yang bergetar menekan tombol power.
Layar menyala. Ia membuka ruang obrolan. Nama 'Adrian' berada di urutan paling atas.
Pesan terakhir dari Alya yang dikirim tepat di hari pernikahannya: “Adrian, angkat teleponnya. Kamu di mana? Aku butuh kamu. Kumohon, bawa aku pergi dari sini. Aku tidak mau menikah dengannya.”
Status pesan itu: Centang satu. Tidak pernah terkirim. Nomor Adrian tidak aktif.
Alya menekan layar itu ke dadanya, mencoba meredam rasa sakit yang kembali mengoyak ulu hatinya.
Flashback
Sebulan sebelum pernikahan paksa itu terjadi, Alya berhasil menemui Adrian secara diam-diam. Mereka bertemu di taman kecil di belakang apartemen Adrian. Hujan rintik-rintik tidak menyurutkan niat mereka.
Adrian berdiri di sana, mengenakan jaket denim lusuhnya. Pria itu menatap Alya dengan sorot mata yang terluka, rahangnya mengeras menahan amarah yang tidak bisa ia luapkan.
"Kamu mau menyerah begitu saja, Al?" suara Adrian bergetar, memecah suara rintik hujan.
Alya menangis terisak. "Aku harus bagaimana, Ian? Papa mengancam akan bunuh diri. Hutang keluargaku ratusan miliar. Kau tidak mengerti posisiku!"
Adrian maju selangkah, mencengkeram kedua bahu Alya. Matanya yang cokelat terang menatap tajam ke dalam mata Alya yang basah. "Aku mengerti! Tapi menikah dengan bajingan arogan itu bukan solusinya! Raka Pradipta tidak tahu cara menghargai manusia, Alya. Kau akan mati pelan-pelan di sana!"
"Lalu aku harus apa?!" Alya setengah berteriak. "Kabur bersamamu? Membiarkan ayahku mati dan ibuku dipenjara? Aku tidak seegois itu, Adrian!"
Adrian terdiam. Rahangnya berkedut keras. Tangannya perlahan turun dari bahu Alya, turun mencari tangan wanita itu, lalu menggenggamnya erat-erat.
"Beri aku waktu," bisik Adrian. Suaranya kini terdengar memohon, sebuah keputusasaan yang tulus. "Beri aku waktu satu minggu, Al. Aku punya tabungan. Aku punya relasi. Aku akan cari pinjaman ke luar negeri, aku akan hubungi investor yang aku kenal. Aku janji, aku akan bawa uang itu ke depan wajah ayahmu dan membatalkan pernikahan sialan ini."
Alya menatap Adrian tidak percaya. "Ian, ini bukan uang puluhan juta. Ini mustahil."
"Tidak ada yang mustahil!" bantah Adrian keras. Ia menarik Alya ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah takut wanita itu akan menguap ke udara. "Aku mencintaimu, Alya. Aku tidak akan membiarkan bajingan mana pun mengambilmu dariku. Tunggu aku."
Adrian mengurai pelukannya, menatap wajah Alya dalam-dalam, lalu mencium keningnya lama.
"Dengar aku, Al," ucapnya tegas. "Pada hari H, sebelum kau melangkah ke pelaminan, aku akan datang menjemputmu. Aku akan membawa jalan keluarnya. Percayalah padaku. Apapun yang terjadi, jangan pernah mengucap janji dengan pria itu sampai aku datang."
Alya mengangguk dalam tangisnya. Harapan kecil itu tumbuh, meski rapuh. "Aku akan menunggumu, Ian. Aku janji."
Namun, hari demi hari berlalu. Satu minggu terlewati tanpa kabar. Telepon Alya tidak diangkat. Pesannya tidak dibalas.
Hingga tibalah hari H.
Di ruang rias pengantin, Alya duduk dengan jantung berdebar keras. Perias sedang merapikan veil di kepalanya. Tangan Alya basah oleh keringat dingin, menggenggam ponselnya di bawah tumpukan gaun.
"Alya, sayang, sudah siap?" Ibunya masuk dengan senyum yang dipaksakan. "Keluarga Pradipta sudah menunggu di bawah."
Alya melirik jam dinding. Pukul 09.30 pagi. Setengah jam lagi akad nikah dimulai.
Adrian, kamu di mana? Alya menjerit dalam hati.
Ia mencoba menelepon nomor Adrian untuk yang keseratus kalinya. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
Suara operator itu terasa seperti vonis mati.
"Al? Ayo," Mamanya menyentuh pundak Alya lembut, namun tarikannya terasa seperti paksaan.
"Ma, tunggu sebentar. Lima menit lagi. Tolong," Alya memohon, matanya menatap pintu ruang rias dengan penuh harap. Berharap pintu itu didobrak, dan sosok Adrian yang terengah-engah muncul di sana.
"Tidak bisa, Nak. Raka tidak suka menunggu. Papa sudah stres di bawah."
Dengan langkah gontai dan jiwa yang mati rasa, Alya akhirnya melangkah keluar dari ruangan itu. Sepanjang lorong, menuju altar, matanya terus mencari sosok Adrian di antara kerumunan tamu.
Kosong.
Hingga saat Raka meraih tangannya—tangan yang dingin dan tak berperasaan itu—Alya akhirnya sadar. Pria yang berjanji akan menjemputnya, pria yang berjanji akan menyelamatkannya... tidak pernah datang. Adrian lari. Adrian meninggalkannya saat ia paling membutuhkannya.
End of Flashback
Alya mematikan kembali ponsel lamanya. Air matanya sudah mengering, menyisakan rongga kosong di dadanya yang terasa nyeri setiap kali ia bernapas.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari pintu kamar yang terbuka.
"Berapa lama lagi kau akan duduk di sana meratapi nasib?"
Alya terkesiap. Ia menyembunyikan ponsel lamanya di balik bantal kursi dengan cepat. Raka berdiri di ambang pintu balkon. Pria itu sudah pulang. Kemeja putihnya digulung hingga siku, dasinya sudah longgar.
Raka berjalan menghampiri Alya. Tatapannya jatuh pada bantal kursi tempat Alya menyembunyikan sesuatu.
"Apa yang kau sembunyikan?" tanya Raka dingin.
"Bukan apa-apa," jawab Alya cepat, menatap lurus ke depan, menghindari mata Raka.
Tanpa peringatan, tangan Raka menyambar bantal itu dan menarik ponsel tua yang ada di baliknya.
"Kembalikan!" Alya refleks berdiri dan berusaha merebutnya, tapi Raka dengan mudah mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi.
Raka menatap layar ponsel yang retak itu. Meski layarnya mati, senyum sinis perlahan mengembang di bibirnya. Senyum yang membuat bulu kuduk Alya berdiri.
"Mengharapkan telepon dari pria pengecut itu?" Raka berbisik, mendekatkan wajahnya ke telinga Alya. "Sudah kubilang, dia membuangmu. Dan satu-satunya alasan aku tidak melempar benda sampah ini ke kolam renang adalah agar kau bisa terus melihatnya, dan menyadari bahwa di dunia ini, hanya aku yang memilikimu."
Raka melempar ponsel itu dengan kasar ke atas meja kaca hingga menimbulkan suara benturan keras.
"Malam ini kita ada makan malam dengan dewan direksi," ucap Raka, nadanya kembali menjadi perintah mutlak. "Pakai gaun merah yang kusiapkan di ranjang. Bersiaplah dalam tiga puluh menit. Jangan buat aku malu dengan wajah menyedihkanmu itu."
Raka berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Alya yang mematung, dadanya bergemuruh oleh rasa benci yang perlahan mulai mengalahkan rasa sakitnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar