Ada kalanya sebuah pertanyaan tidak lahir dari ketidaktahuan.

Ada kalanya pertanyaan justru adalah senjata — diasah tajam-tajam di balik ketenangan, disimpan rapat-rapat di dalam dada seorang gadis yang usianya baru tujuh belas tahun, lalu dilontarkan pada saat yang paling menyayat: di hadapan tiga puluh pasang mata yang tidak akan pernah lupa.

Di sinilah cerita ini bermula.

Siang itu, kelas XI-IPS 2 SMA Diponegoro 3 Semarang terasa seperti akuarium — semua orang terjebak di dalam ruangan sempit dengan udara panas yang berputar-putar, sementara kipas angin di sudut kelas hanya berhasil memindahkan gerah dari satu wajah ke wajah yang lain.

Sekar Larasati berdiri di depan whiteboard, spidol biru di tangan kanan, senyum terlatih tergantung di sudut bibirnya. Usianya baru dua puluh enam tahun, dan ia adalah guru yang paling banyak dibicarakan di sekolah ini — oleh para guru perempuan dalam bisikan penuh iri, oleh para guru lelaki dalam kerlingan yang tak bisa mereka sembunyikan, dan oleh para murid lelaki dalam gumaman kagum di belakang punggungnya.

Sekar Larasati adalah guru bahasa Inggris yang cantik. Dan ia tahu betul soal itu.

"So, class, before we continue to the next material—"

"Bagaimana rasanya tidur dengan papa saya, Bu Guru?"

Suara itu tidak keras. Justru karena itulah ia lebih berbahaya.

Satu per satu kepala berputar ke arah yang sama, seperti bunga matahari yang serentak mencari sumber cahaya — hanya saja yang mereka cari bukan cahaya. Mereka mencari Drama. Dan Drama itu berdiri di sudut kiri ruangan, mengenakan seragam putih abu-abu dengan dasi merah yang dikencangkan rapi.

Renata Kusuma.

Gadis dengan rambut lurus sepunggung dan sepasang mata yang, jika kau memperhatikannya baik-baik, selalu menyimpan sesuatu di baliknya. Bukan keangkuhan — meski banyak yang salah mengiranya begitu. Melainkan beban. Beban yang terlalu berat untuk bahu selebar itu.

Sekar Larasati merasakan ujung jari-jarinya mendadak kehilangan rasa. Spidol biru itu hampir saja jatuh.

"Maaf, Renata, tapi Ibu tidak mengerti maksud kamu—"

"Darwan Kusuma Adi."

Renata menyebut nama itu dengan nada datar, seperti membacakan daftar hadir. Namun justru karena kedatarannya itulah ruangan terasa seperti miring. Seperti ada sesuatu yang baru saja bergeser di bawah lantai.

"Itu nama papa saya, Bu. Kemarin kalian masih check-in bersama di Hotel Pondok Indah Sejati, kan? Masa Bu Sekar sudah lupa secepat itu?"

Kelas meledak dalam gumaman. Tiga puluh remaja tujuh belas tahun adalah tiga puluh pasang telinga yang sangat tajam dan tiga puluh mulut yang tidak akan bisa diam.

Sekar merasakan panas menjalar dari lehernya ke wajah. Tapi ia adalah perempuan yang sudah terlatih mengenakan topeng — ia memasang ekspresi bingung, membesarkan matanya sedikit, menggeleng pelan.

"Renata, Ibu tidak tahu kamu sedang membicarakan apa, tapi hati-hati. Tuduhan tanpa bukti namanya fitnah—"

"Fitnah?" Renata mengulang kata itu, dan di bibirnya muncul lengkung tipis yang bukan senyum. "Bu Sekar berani buktikan? Atau justru saya yang harus membuktikan bahwa ini semua nyata?"

Gadis itu melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.

Di setiap langkahnya, detak jantung Sekar Larasati semakin tidak teratur.

Renata berhenti tepat di depannya — cukup dekat sehingga Sekar bisa mencium aroma shampo dari rambut gadis itu. Mata keduanya bertemu. Dan untuk pertama kalinya sejak berdiri di kelas ini, Sekar Larasati merasa kecil.

"Jauhi papa saya, Bu Sekar." Suara Renata turun menjadi bisikan, namun dalam keheningan kelas yang mendadak sunyi, setiap kata terdengar seperti vonis. "Jika sampai saya melihat sekali lagi mama menangis karena ulah Ibu dan laki-laki yang masih saya panggil ayah itu — Ibu akan tahu siapa yang sedang Ibu hadapi."

Hawa napas Renata terasa hangat di kulit wajah Sekar.

"Jika Ibu memang sangat membutuhkan uang, carilah pria lain. Banyak yang bisa memberi lebih. Tapi bukan papa saya. Karena menyakiti mama saya, sama artinya menyakiti saya. Camkan itu baik-baik."

Kelas diam. Bukan diam yang nyaman. Melainkan diam dari orang-orang yang sedang menyaksikan sesuatu yang tidak akan mereka lupakan sampai hari kelulusan — bahkan mungkin sesudahnya.

Beberapa jam kemudian, di studio apartemen di Jalan Pemuda yang disewa dengan uang yang bukan uang Sekar sendiri, perempuan itu mendorong tangan Darwan Kusuma Adi menjauh.

Darwan — yang di usianya lima puluh dua tahun masih tampak seperti lelaki yang dipinjam dari masa dua belas tahun silam — mengerutkan dahi. Biasanya tidak begini. Biasanya Sekar adalah matahari kecil yang hangat dan manja ketika mereka akhirnya bisa bertemu setelah sepekan berpisah.

"Ada apa denganmu?" tanya Darwan.

"Saya ingin kita akhiri semua ini, Mas."

Darwan terdiam. Matanya menelusuri wajah Sekar, mencari tanda bahwa ini hanya gertak.

"Kenapa?"

"Karena anak kamu yang melakukan ini." Sekar berbalik, merapatkan kimono tipis yang dikenakannya. "Renata tahu soal kita. Dia mempermalukan aku di depan seluruh kelas tadi. Mas tanyakan sendiri padanya."

"Renata tidak mungkin tahu—"

"Dia tahu, Mas! Dan dia mengancamku." Sekar memutar badannya. Matanya basah — tangis yang terlatih sempurna. "Aku lelah jadi simpanan. Mau sampai kapan begini? Aku juga butuh kepastian."

Darwan menghela napas panjang. Napas orang yang merasa dirinya ada di antara dua pilihan, namun sebenarnya sudah jauh sejak lama memilih yang salah.

"Katakan apa yang kamu inginkan," kata Darwan akhirnya. "Apa saja."

Sekar menatapnya lurus.

"Ceraikan istrimu, Mas."

Di rumah berlantai dua di Komplek Permata Gading, seorang gadis duduk di tepi tempat tidurnya, memeluk lutut rapat-rapat dalam kegelapan.

Renata Kusuma baru saja melakukan sesuatu yang tidak akan bisa ia tarik kembali. Kata-kata sudah dilepaskan, anak panah sudah melesat.

Ia tidak menyesal.

Yang ia rasakan justru jauh lebih kompleks dari sesal — campuran kemenangan kecil yang pahit, dan rasa sakit yang jauh lebih besar dari yang ingin ia akui.

Di bawah sana, ia bisa mendengar langkah-langkah lembut ibunya menyusuri koridor. Suara telapak kaki Lestari yang sudah dikenalnya sejak ia belajar berjalan.

Mama tidak boleh tahu dulu, pikir Renata. Mama harus fokus sembuh dulu. Aku yang akan mengurus ini.

Gadis itu menelan ludah. Ia tujuh belas tahun dan ia merasa seperti menanggung rumah di atas bahunya.

Tapi tidak ada yang lain. Ia anak pertama.

Dan menjadi anak pertama memang tidak pernah mudah.