Ada yang berbeda dari bel pulang sekolah hari itu.
Bunyinya sama — nada panjang tunggal yang bergema dari speaker di atas pintu kelas, membubarkan seisi ruangan dengan sebuah dekrit yang tidak perlu diulang dua kali. Murid-murid berlompatan dari kursi, menyambar tas, menyerbu pintu. Suara sandal dan sepatu memukul lantai keramik lorong menciptakan gelombang berisik yang familiar.
Tapi Renata Kusuma tidak bergerak dari kursinya.
Ia duduk dengan punggung tegak, tangan terlipat di atas meja, menatap papan tulis yang sudah setengah terhapus. Di sebelahnya, Mira sudah berdiri dengan tas di bahu, menatap sahabatnya dengan ekspresi yang mencampurkan rasa ingin tahu dan kekhawatiran dalam proporsi yang hampir sama.
"Kamu serius mau menemui dia sendirian?"
"Ya."
"Nad—"
"Mira." Renata mengangkat wajahnya. "Pulang."
Mira menghela napas. Ia sudah mengenal Renata cukup lama untuk tahu bahwa nada seperti itu bukan undangan berdiskusi. Dengan mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah, ia berbalik dan pergi — meskipun di ambang pintu ia menoleh sekali lagi, memastikan bahwa sahabatnya masih bernafas dan belum berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya dari biasanya.
Renata menunggu sampai suara langkah sepatu Mira menghilang di ujung lorong.
Kemudian ia berdiri, merapikan tasnya, dan berjalan ke arah yang berlawanan dari gerbang utama.
Taman belakang SMA Diponegoro 3 adalah tempat yang hampir selalu dilupakan orang. Tidak ada yang spesial di sana — beberapa bangku beton di bawah pohon mahoni tua, paving block yang retak di beberapa sudut, dan pemandangan tembok belakang sekolah yang dicat hijau lumut. Bukan tempat yang indah. Tapi tepat karena itulah, ia selalu sepi.
Renata memilih bangku di bawah pohon mahoni yang paling ujung. Meletakkan tasnya, duduk, dan menunggu.
Sepuluh menit berlalu.
Renata mengamati semut yang berjalan beriring di retakan paving block. Mengamati bayangan daun mahoni yang bergoyang pelan diterpa angin. Mengamati langit sore yang mulai berwarna keemasan di tepinya.
Lima belas menit.
Ia mulai berpikir bahwa Sekar Larasati memilih untuk tidak datang. Bahwa perempuan itu memilih berlindung di balik koloni guru-guru yang ramai di ruang kantor, menghitung bahwa Renata tidak akan berani macam-macam di hadapan orang banyak.
Ia sudah hampir berdiri ketika terdengar suara langkah sepatu hak rendah di atas paving block.
Sekar Larasati muncul dari sudut gedung. Jalannya tidak tergesa-gesa — langkah yang sengaja dibuat terlihat santai, meskipun Renata bisa melihat dari sini bahwa rahang perempuan itu mengeras. Blouse putihnya sudah tidak serapi tadi pagi. Ada satu kancing di pergelangan tangan yang lepas.
Mereka bertatapan dari jarak sepuluh langkah.
Kemudian Sekar berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Renata dengan tangan terlipat di dada — postur orang yang ingin terlihat dalam kendali.
"Apa yang kamu mau sebenarnya, Renata?" Suaranya datar, direkayasa sekeras mungkin agar tidak bergetar.
"Duduk dulu, Bu." Renata menunjuk bangku di seberangnya.
"Saya tidak punya banyak waktu—"
"Duduk."
Ada sesuatu dalam cara Renata mengucapkan kata itu yang membuat Sekar — meskipun ia tidak ingin mengakuinya pada dirinya sendiri — menurunkan tasnya dan duduk. Bukan karena ia mau mematuhi muridnya. Melainkan karena ada bagian kecil darinya yang menyadari bahwa menolak duduk justru memperlihatkan bahwa ia takut.
Renata menatap perempuan di depannya lama, tanpa berkata apa-apa. Angin yang lewat mengangkat beberapa helai rambut Sekar yang sudah tidak tergelung rapi.
"Bu Sekar tahu kenapa saya panggil Bu Sekar ke sini?"
"Tidak," jawab Sekar cepat. Terlalu cepat.
"Karena saya ingin berbicara sebagai manusia ke manusia. Bukan sebagai murid ke guru." Renata menjeda. "Tapi mungkin itu sulit, karena posisi Bu Sekar sebagai guru adalah satu-satunya tameng yang Bu Sekar punya di depan saya."
Sekar mengangkat dagunya. "Saya tidak butuh tameng dari murid saya sendiri."
"Lalu kenapa Bu Sekar tidak berani mengajar di kelas XI IPS 2 dengan tenang sejak seminggu lalu?"
Diam.
"Kenapa setiap kali Bu Sekar melihat saya di koridor, Bu Sekar mempercepat langkah?"
Sekar membuka mulutnya. Menutupnya. Membuka lagi.
"Saya tidak takut pada kamu."
"Saya tidak bilang Bu Sekar takut." Renata menjawab tenang. "Saya hanya bertanya kenapa."
Angin lewat lagi. Di kejauhan, terdengar suara motor keluar dari parkiran guru — beberapa rekan Sekar yang sudah pulang, tidak tahu bahwa salah satu kolega mereka sedang duduk di taman belakang berhadapan dengan seorang murid berusia tujuh belas tahun yang membawa jenis bahaya yang berbeda dari apapun yang pernah mereka bayangkan.
"Bu Sekar," Renata melanjutkan, suaranya turun menjadi lebih pelan. Bukan bisikan, tapi bukan pula suara yang ingin didengar orang selain mereka berdua. "Saya akan tanya satu hal, dan saya ingin jawaban yang jujur."
Sekar tidak berkata apa-apa. Tapi matanya tidak berpaling.
"Apakah Bu Sekar pernah — sekali saja — memikirkan konsekuensinya? Bukan untuk diri Bu Sekar sendiri. Tapi untuk orang-orang lain?"
"Maksud kamu—"
"Mama saya sedang dalam pemulihan pasca kemoterapi." Renata berkata lurus. Bukan dengan nada menuduh. Lebih seperti orang yang menyampaikan fakta. "Dokter bilang Mama tidak boleh terlalu banyak pikiran. Stres bisa memengaruhi proses penyembuhan. Itu bukan kalimat dramatis — itu kenyataan medis."
Sesuatu bergerak di wajah Sekar. Sesuatu yang kecil, yang cepat, tapi Renata melihatnya.
"Papa saya," lanjut Renata, "adalah satu-satunya orang yang harusnya memastikan Mama tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Tapi karena pilihan yang Papa dan Bu Sekar buat bersama-sama — Mama terpaksa menanggung beban yang seharusnya tidak ada."
Sekar menelan ludah. Jari-jarinya yang terlipat di dadanya bergerak, mengurai, meremas ujung tasnya yang tergeletak di pahanya.
"Kamu tidak perlu menggurui saya soal itu—"
"Saya tidak menggurui." Renata tetap tenang. "Saya hanya memberitahu Bu Sekar apa yang ada di dalam kepala saya. Setiap kali Bu Sekar memilih untuk tetap bersama Papa, setiap kali Bu Sekar menerima telepon darinya, setiap kali Bu Sekar memakai perhiasan yang dibeli dengan uang Papa — ada harga yang dibayar oleh orang-orang yang tidak pernah memilih untuk terlibat dalam semua ini."
"Hubungan saya dengan papa kamu adalah urusan orang dewasa—"
"Dan tindakan orang dewasa," potong Renata, "punya konsekuensi yang tidak terbatas hanya pada orang dewasa itu sendiri."
Sekar berdiri. Gerakannya tergesa. "Saya tidak harus mendengarkan kamu, Renata. Kamu murid saya—"
"Duduk, Bu Sekar."
Nada itu lagi. Yang membuat Sekar berdiri setengah detik lebih lama dari yang ia rencanakan sebelum akhirnya — dengan gerakan yang ia usahakan agar terlihat seperti pilihannya sendiri — duduk kembali.
Renata berdiri. Ia membuka resleting tas, mengeluarkan amplop cokelat tipis, dan meletakkannya di bangku antara mereka.
"Ini masih sedikit," kata Renata. "Tapi ini baru permulaan."
Sekar menatap amplop itu tanpa menyentuhnya.
"Di dalamnya ada foto-foto kalian. Tidak terlalu banyak. Belum cukup untuk dibawa ke ranah hukum." Renata menatap Sekar lurus. "Tapi cukup untuk dibawa ke kepala sekolah. Dan lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan apapun yang mungkin diajukan dewan guru tentang kenapa murid saya tahu di mana papanya menginap minggu lalu."
Wajah Sekar memutih secara bertahap, seperti warna yang ditarik keluar dari kanvas.
"Saya tidak menginginkan kehancuran Bu Sekar," lanjut Renata, dan kalimat itu — justru karena diucapkan dengan tenang, bukan dengan amarah — terdengar lebih meyakinkan dari ancaman mana pun. "Yang saya inginkan sederhana. Jauhi papa saya. Berhenti mengangkat teleponnya. Kembalikan kunci apartemen yang dia berikan."
"Kamu tidak berhak—"
"Saya tahu saya tidak berhak," kata Renata. "Tapi saya juga tahu bahwa Bu Sekar, dalam posisi ini, tidak punya banyak pilihan selain mendengarkan."
Sekar Larasati — yang di depan kelas bisa membuat tiga puluh murid diam hanya dengan satu tatapan — tidak berkata apa-apa.
Di antara mereka, amplop cokelat itu tergeletak seperti sesuatu yang tidak ingin diakui keberadaannya oleh siapa pun, tapi tidak bisa pula diabaikan.
Renata berjalan sendirian menuju gerbang utama lima belas menit kemudian.
Amplop itu masih di tasnya — Sekar tidak mau menyentuhnya, dan Renata tidak memaksanya. Itu bukan intinya. Intinya adalah bahwa Sekar kini tahu persis apa yang ada di dalam amplop itu, dan tahu bahwa Renata tahu cara menggunakannya.
Di depan gerbang yang sudah hampir sepi, sebuah mobil sedan metalik terparkir di pinggir jalan dengan mesin menyala. Seseorang di balik kaca depan yang sedikit terbuka melihat Renata keluar, dan turun dari kendaraan sebelum Renata sempat menyadari siapa itu.
"Mama?"
Lestari berdiri di tepi trotoar dengan dress warna dusty rose yang sederhana, rambut terkepang satu di bahu, tanpa riasan wajah yang berarti. Matanya menelusuri tubuh putrinya dari kepala ke kaki dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh ibu — memindai, menilai, mencari tanda bahaya.
"Tidak ada yang luka?" tanya Lestari.
Renata berkedip. "Mama datang ke sini?"
"Masuk dulu."
Mereka duduk berdua di dalam mobil. Lestari menghidupkan AC, tapi tidak langsung menjalankan kendaraan. Di luar, satu-dua siswa yang terlambat menyebrang berlalu-lalang dengan tergesa.
"Mama tahu dari mana?" tanya Renata.
"Dari ponsel Papa." Jawaban Lestari singkat. "Sekar mengadu. Papa berjanji akan bicara denganmu."
Renata menatap tangannya sendiri. "Mama tidak perlu ke sini."
"Mama tahu." Lestari menjawab tenang. "Tapi Mama ingin ke sini."
Mereka terdiam sebentar. Di luar, seorang penjual es krim bersepeda melintas, lonceng kecil di setangnya berdenting tipis.
"Bagaimana tadi?" tanya Lestari akhirnya.
Renata bersandar ke jok. "Mama sudah membaca amplop itu?"
"Sudah."
"Fotonya belum cukup."
"Mama tahu itu." Lestari menatap ke depan, ke jalanan yang mulai ramai dengan kendaraan jam pulang kantor. "Dan itulah yang harus kita pikirkan selanjutnya."
Renata menoleh ke ibunya. "Mama sudah punya rencana?"
Lestari tidak menjawab langsung. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka sesuatu, lalu menyerahkannya ke Renata.
Di layar, ada sebuah nama kontak yang belum pernah Renata lihat sebelumnya. Liana — Advokat.
"Mama punya teman lama. Pengacara. Kami akan bertemu minggu ini." Lestari mengambil ponselnya kembali. "Selain itu, Mama sudah bicara dengan Papa hari ini. Kita akan ke notaris bersama-sama minggu depan — memindahkan aset-aset keluarga menjadi atas nama Mama."
Renata terdiam.
"Papa setuju?"
"Papa tidak punya pilihan untuk tidak setuju." Nada Lestari datar, tapi di baliknya ada sesuatu yang keras seperti baja yang baru selesai ditempa. "Satu hal yang perlu kamu ingat, Renata — dalam permainan seperti ini, yang menang bukan yang paling keras berteriak. Yang menang adalah yang paling sabar mengumpulkan kartu sebelum meletakkannya di meja."
Renata menatap ibunya lama. Di dapur semalam, ia melihat Lestari sebagai perempuan yang sedang terluka. Di taman sekolah tadi, ia melihat dirinya sendiri sebagai gadis yang marah.
Tapi di dalam mobil ini, melihat cara ibunya bicara dengan tenang tentang notaris dan pengacara dan strategi — Renata menyadari sesuatu yang belum pernah terpikir sebelumnya.
Bahwa selama ini, ia pikir hanya dirinyalah yang cukup keras hati untuk menghadapi ini.
Ia salah.
"Mama," ucap Renata pelan.
"Hmm?"
"Maaf Mama jadi tahu tentang semua ini."
Lestari mengangkat tangan, meletakkannya di kepala Renata — usapan singkat, ringan, cara yang sama persis dengan yang dilakukannya ketika Renata berusia tujuh tahun dan baru jatuh dari sepeda.
"Bukan salahmu, Nak."
Mobil mulai berjalan. Memasuki arus lalu lintas kota Semarang yang padat di jam-jam seperti ini, melewati bangunan-bangunan tua Kota Lama yang berdiri seperti saksi peristiwa-peristiwa manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di kursi penumpang, Renata menatap kota yang bergerak di luar jendela. Pikirannya sudah melompat ke malam nanti — ke meja makan, ke wajah papanya yang akan turun dari lantai dua, ke performa yang harus ia pertahankan di depan adik-adiknya yang tidak tahu apa-apa.
Jaga adik-adik, jangan sampai mereka curiga, katanya dalam hati, kepada dirinya sendiri. Daffa dan Rafi tidak perlu tahu dulu. Belum saatnya.
Lestari mengemudi dengan kedua tangan di setir, wajahnya tenang, matanya fokus ke depan.
Tidak ada yang tahu — dari luar, mereka hanya tampak seperti ibu dan anak yang pulang dari sekolah, biasa saja, tidak ada yang istimewa.
Tidak ada yang tahu bahwa di dalam mobil itu, dua perempuan sedang menyusun perang dalam keheningan.
Malam itu, Darwan pulang pukul sebelas lebih.
Lestari menunggunya di ruang tengah, duduk di sofa dengan segelas teh yang sudah dingin di atas meja. Lampu utama dimatikan — hanya lampu tembok yang menyala, membuat ruangan itu berwarna amber, hangat di mata tapi dingin udaranya.
Darwan membuka pintu. Melihat istrinya. Terkejut.
"Kamu belum tidur?"
"Belum." Lestari tidak berdiri. "Saya menunggu Mas."
Darwan melangkah masuk, melonggarkan dasinya, meletakkan kunci mobil di meja konsol. Gerakannya pelan, hati-hati — gerak orang yang sedang mengukur medan.
"Tadi ada rapat mendadak—"
"Di Royal Apartment?"
Kalimat itu jatuh di tengah ruangan seperti benda berat.
Darwan membeku. Wajahnya, yang terlatih untuk tampil tenang di ruang rapat dan meja negosiasi, tidak bisa menyembunyikan apa yang terjadi di bawah permukaannya sekarang. Sesuatu bergerak di matanya — kepanikan yang ditahan, kalkulasi yang sedang berjalan.
Ia pasti mengira ini dari Renata. Lestari membiarkannya berpikir begitu. Untuk saat ini, tidak perlu semua kartu diletakkan di meja.
"Sayang, saya bisa jelaskan—"
"Mas tidak perlu menjelaskan apa-apa malam ini." Lestari berdiri perlahan. Mengambil gelasnya, membawanya ke dapur, meletakkannya di wastafel. Semua dilakukan dengan tenang yang membingungkan — dan justru karena itulah Darwan tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Dari dapur, Lestari berkata, "Kita ngobrol di kamar, Mas. Jangan sampai terdengar siapa-siapa."
Mereka naik berdua. Di dalam kamar yang tertutup, Darwan memulai dengan kalimat pembelaan yang sudah ia susun di perjalanan pulang. Tapi Lestari tidak memberinya ruang.
Ia mengambil ponselnya. Membuka sebuah video. Menyerahkannya ke Darwan.
Darwan menatap layar itu.
Di dalam video yang direkam dengan tangan yang sedikit gemetar — karena tangan Lestari memang gemetar waktu itu, meskipun ia tidak akan mengakuinya — tampak punggung seorang lelaki dan seorang perempuan berdiri di depan lift. Si lelaki mencium pipi si perempuan dengan cara yang tidak mungkin disalahartikan.
Wajah Darwan, yang sebelumnya masih berusaha terlihat normal, berubah dalam hitungan detik. Merah di pipi. Pucat di sekitar mata.
"Lestari, aku—"
"Jangan," kata Lestari pelan. Tenang. Dingin dengan cara yang berbeda dari marah. "Mas tidak perlu berkata apa-apa malam ini. Mas hanya perlu mendengarkan."
Dan Darwan Kusuma Adi — yang sudah setengah abad lebih berjalan di dunia ini, yang membangun perusahaan dari nol, yang dikenal sebagai pria yang tidak pernah kehilangan kendali dalam situasi apapun — berdiri diam di hadapan istrinya seperti seseorang yang baru menyadari bahwa tanah yang selama ini ia pijak tidak sepadat yang ia kira.
"Ada dua pilihan, Mas," kata Lestari. Ia meletakkan ponselnya kembali ke dalam tas dengan gerakan yang terukur. "Tinggalkan perempuan itu — sekarang, bukan besok, bukan minggu depan. Atau, saya dan bukti ini pergi ke tempat yang seharusnya."
Darwan menatap istrinya.
Lestari menatap balik. Tidak bergetar.
"Mas bisa pikirkan malam ini."
Ia berbalik, menarik selimut, dan berbaring memunggungi suaminya.
Darwan berdiri di sana — di kamar yang sudah dua puluh tahun ia tiduri, di rumah yang dibangun bersama, di antara foto-foto keluarga yang tergantung di dinding — dan merasakan untuk pertama kalinya bahwa ia tidak tahu di mana ia berdiri lagi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar