Sekar Larasati tahu satu hal yang tidak diajarkan di fakultas keguruan mana pun: bahwa air mata, jika digunakan dengan tepat waktu, adalah senjata yang lebih ampuh dari argumentasi mana pun.
Maka malam itu, di studio apartemen Jalan Pemuda yang dibayar dengan uang bukan miliknya, perempuan itu menangis.
Bukan tangis yang berantakan. Bukan tangis yang membuat maskara luntur atau hidung memerah. Melainkan tangis yang ia latih — dua titik air bening di sudut mata, bibir yang sedikit gemetar, napas yang naik-turun dengan ritme yang tepat. Cukup untuk membuat lelaki yang duduk di hadapannya merasa bersalah tanpa merasa dituduh.
Darwan Kusuma Adi duduk di sofa maroon ruang tamu, menatap Sekar dengan ekspresi seorang pria yang terjepit. Di usianya yang lebih dari setengah abad, ia masih tampan dengan cara yang menyebalkan — tulang rahang yang tegas, bahu yang lebar, rambut yang memutih di pelipis justru menambah kesan berwibawa. Laki-laki seperti ini, pikir Sekar, sudah terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Sekarang saatnya Sekar juga mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Ceraikan istrimu, Mas."
Kata-kata itu sudah dilontarkan. Kini tinggal menunggu.
Darwan melepaskan Sekar dari pelukannya, perlahan, seperti orang yang meletakkan sesuatu yang rapuh. Pelukan itu mengendur — bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena kata-kata itu mendarat tepat di bagian dalam dirinya yang selama ini sengaja tidak ia sentuh.
"Kamu tahu aku tidak bisa melakukan itu, Sekar."
Nada suaranya rendah. Bukan dingin — lebih tepatnya seperti orang yang berbicara sambil menahan sesuatu.
"Lestari adalah ibu dari anak-anakku. Hampir dua puluh tahun kami bersama. Dia tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Aku tidak bisa menceraikannya begitu saja."
Sekar mendengkus. Ia melepaskan dirinya dari lingkaran lengan Darwan, bergerak ke sudut sofa yang lain. Jarak yang dicipta dengan sengaja — cara perempuan yang paham bahwa ruang kosong bisa berbicara lebih keras dari kata-kata.
"Aku sudah menduga jawaban itu," ujarnya. Suaranya datar, tapi matanya berbicara banyak.
"Anggita, c'mon—"
"Sekar," potongnya tajam.
"Ya, Sekar. Maaf." Darwan mengusap wajahnya. "Jangan beri aku pilihan yang mustahil. Apa pun yang kamu mau, aku penuhi. Tapi jangan minta yang satu itu."
Sekar bangkit dari sofa, berdiri memunggungi Darwan. Di luar jendela, Semarang malam hari adalah rimba lampu-lampu. Gedung-gedung tua Kota Lama berdiri seperti saksi bisu, menyaksikan manusia-manusia modern yang mengulang kesalahan-kesalahan lama.
"Waktu terus berjalan, Mas," kata Sekar akhirnya. Suaranya pelan, tapi terukur. "Usiaku bertambah setiap harinya. Kecantikan tidak abadi — kamu sendiri yang sering bilang itu. Dan ketika hari itu tiba, ketika aku sudah tidak lagi muda dan menarik, siapa yang bisa menjamin kamu tidak akan melemparku seperti barang yang sudah usang?"
Darwan bangkit, berjalan menghampiri. Tangannya mendarat di bahu Sekar.
"Itu tidak akan terjadi—"
"Mereka semua berkata begitu, Mas." Sekar berbalik. Tatapannya lurus, membentur mata Darwan yang sedikit lebih tinggi. "Aku bukan anak kecil. Aku tahu bagaimana cerita seperti ini berakhir. Perempuan simpanan selalu jadi pihak yang kalah. Selalu."
Kata simpanan itu tergantung di udara ruangan yang ber-AC, dingin dan tajam.
Darwan menghela napas panjang. Napas orang yang tidak suka dengan argumen ini bukan karena argumen itu salah, melainkan karena argumen itu benar.
"Aku tidak menganggapmu sebagai simpanan," ucapnya.
"Lalu sebagai apa? Sebagai kekasih rahasia? Lebih baik kedengarannya, tapi artinya sama." Sekar melangkah mundur selangkah. "Dan sekarang putrimu sendiri sudah tahu, Mas. Renata. Dia mempermalukan aku di depan seluruh kelas tadi. Tinggal menunggu waktu sebelum Lestari juga tahu. Kalau sudah begitu, aku yang akan jadi sasaran. Aku yang akan dilabrak, dipermalukan, dihancurkan. Sementara kamu? Kamu akan tetap berdiri di tempat yang sama, dengan keluargamu yang utuh, sementara aku sendirian menanggung semuanya."
Darwan diam.
Inilah yang membuat Sekar berbeda dari perempuan-perempuan lain yang pernah ada dalam kehidupan Darwan — ia pandai membungkus tuntutan dalam bingkai kerentanan. Membuat permintaannya terdengar seperti kebutuhan, bukan keserakahan.
"Aku hanya minta satu hal, Mas. Kepastian. Status. Itu saja."
"Sekar—"
"Dan kalau Mas tidak bisa memberikan itu," lanjutnya, suaranya turun menjadi bisikan, "maka mungkin sudah saatnya kita akhiri semua ini."
Darwan menatap perempuan di hadapannya. Wajah yang ia hafal tiap garisnya, tapi belum tentu ia pahami isi di baliknya.
"Jangan bilang begitu."
"Mas juga harus ingat — nama baik Mas ikut tercemar. Putrimu sendiri yang menyebarkan aib ini di sekolah. Apa Mas tidak marah? Nama baik keluarga dicemari oleh anak Mas sendiri?"
Kalimat itu mendarat dengan presisi yang terukur. Sekar melihat sesuatu bergerak di wajah Darwan — bukan kemarahan kepada Sekar, melainkan kemarahan yang diarahkan ke tempat lain. Ke seseorang yang lebih mudah untuk dimarahi.
"Baiklah," kata Darwan akhirnya. "Aku akan bicara dengan Renata malam ini."
Sekar menyembunyikan senyumnya.
Gerbang Komplek Permata Gading terbuka lambat saat mobil Darwan masuk. Satpam yang setengah terlelap di pos jaga buru-buru menegakkan badan, memberi hormat dengan gerakan yang terlalu tergesa untuk terlihat sungguh-sungguh hormat.
Mobil meluncur masuk, melewati jalan komplek yang mulus, melewati barisan pohon palem yang berdiri lurus seperti prajurit, menuju rumah bernomor B-7 yang berdiri dua lantai dengan halaman luas dan air mancur kecil di tengahnya yang dikelilingi tanaman pucuk merah berbentuk mangkuk terbalik.
Darwan turun. Sopirnya dengan sigap menurunkan koper dari bagasi.
Dan di beranda rumah, seseorang sudah berdiri menunggu.
Renata Kusuma tidak tersenyum ketika memandang papanya turun dari mobil. Wajahnya datar seperti permukaan danau di pagi hari — tenang di permukaan, tapi siapa yang tahu berapa dalam dan apa yang bergerak di bawahnya.
"Selamat datang kembali, Pa," ucapnya.
Ada sesuatu dalam nadanya yang membuat kalimat sambutan itu terdengar bukan seperti sambutan.
"Kita perlu bicara, Renata." Darwan berjalan mendekat. Matanya menatap putrinya datar — mata seorang ayah yang sudah disiapkan untuk marah, yang sudah merencanakan kalimat-kalimatnya di dalam mobil tadi.
"Soal apa?" Renata tidak bergerak dari tempatnya berdiri. "Soal Bu Sekar yang sudah mengadu ke Papa? Berapa kali Papa sudah sempat bersamanya sebelum pulang ke rumah ini?"
Suara Darwan meninggi. "Jaga bicaramu, Renata!"
Tangannya sudah terangkat — refleks kemarahan yang bahkan tidak sempat ia pikirkan.
Renata tidak mundur. Ia justru memiringkan wajahnya sedikit, menawarkan pipi kanannya.
"Kenapa, Pa? Tampar saja kalau memang itu yang Papa mau."
Suara gadis itu tenang. Terlalu tenang untuk usianya. Tapi jika Darwan memperhatikan lebih seksama, ia akan melihat bahwa jari-jari putrinya mengepal rapat di sisi tubuhnya.
Darwan menggeram. Tangannya ia turunkan kembali. Dalam dua puluh tahun menjadi ayah, tidak pernah satu kali pun ia memukul anak-anaknya. Dan malam ini tidak akan menjadi yang pertama — tapi bukan karena ia tidak marah. Melainkan karena di suatu tempat yang dalam, di balik semua kemarahan itu, Darwan masih tahu siapa yang sebenarnya salah malam ini.
"Papa dan Mama tidak pernah mengajarimu berbicara seperti itu."
"Papa benar," balas Renata. Suaranya bergetar, tipis, seperti senar gitar yang terlalu kencang ditarik. "Papa dan Mama mengajariku untuk berlaku baik dan jujur. Sayangnya hanya satu dari kalian yang masih melakukannya."
Satu butir air mata meluncur di pipi Renata. Ia usap cepat dengan punggung tangan, sebelum siapa pun sempat melihat.
"Kata orang-orang bijak, seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuannya." Renata menatap Darwan lurus. "Tapi untuk aku, Papa adalah patah hati pertamaku."
Keheningan yang menyusul terasa seperti kaca yang baru saja retak — belum hancur, tapi tidak akan pernah kembali utuh.
Kemudian terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah. Langkah yang ringan, yang Renata hafal sejak ia belajar berjalan.
Lestari muncul dari balik pintu. Mengenakan dress warna gading yang jatuh di bawah lutut, rambutnya tergelung rapi, wajahnya — meskipun lebih tipis dari yang Renata ingat setahun lalu, meskipun matanya menyimpan kelelahan yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya — masih memancarkan ketenangan yang selalu membuat Renata iri sekaligus kagum.
"Mas sudah pulang?" Lestari menyambut dengan senyum. Diraihnya tangan Darwan, diciumnya dengan takzim seperti yang selalu ia lakukan.
"Iya. Mau istirahat dulu," jawab Darwan singkat. Tanpa menoleh ke arah putrinya, ia melangkah masuk, menggeret kopernya menuju kamar utama.
Lestari menatap kepergian suaminya. Sesuatu bergerak di wajahnya — bayangan sebuah pertanyaan yang belum siap diucapkan.
Kemudian ia berbalik ke arah putrinya.
"Ada apa, Renata? Kenapa wajahmu—"
"Tidak apa-apa, Ma." Renata membuang muka. Ia tidak bisa menatap ibunya sekarang. Tidak ketika matanya masih panas. Tidak ketika di kepalanya masih terputar gambar-gambar yang ia lihat di foto-foto yang dikumpulkan Mira selama dua bulan terakhir.
"Nad—"
"Aku ada PR, Ma. Mau ke kamar dulu."
Renata melangkah masuk, melewati Lestari, menapaki anak tangga dua-dua. Di kamarnya, ia menutup pintu, meletakkan punggungnya pada kayu pintu, dan mengembuskan napas panjang dalam kegelapan.
Di sana, dalam kegelapan kamarnya sendiri, Renata Kusuma mengijinkan dirinya untuk sebentar menjadi tujuh belas tahun yang sesungguhnya — rapuh, takut, dan tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Keesokan paginya, matahari Semarang sudah galak sejak pukul tujuh.
Mobil sedan hitam berhenti di depan gerbang SMA Diponegoro 3. Renata turun lebih dulu, pamit pada kedua adiknya — Daffa yang tengah sibuk memasang earphone, dan Rafi si bungsu yang masih mengantuk dengan mata setengah terpejam.
"Assalamualaikum. Hati-hati," ucap Renata.
"Waalaikumsalam," jawab Rafi mengantuk.
Gerbang sekolah riuh seperti biasa — murid-murid berseragam putih-abu bergerak ke sana kemari, pedagang di depan pagar menjajakan gorengan dan es teh, dan di suatu tempat seseorang sedang bergosip tentang sesuatu yang tidak penting.
"Renata!"
Mira dan Neni sudah menunggu di tengah halaman. Mira — yang selama dua bulan terakhir menjadi perpanjangan tangan Renata dalam mengikuti jejak Darwan dan Sekar — berjalan cepat menghampiri.
"Ssst." Mira mencolek lengan Renata, lalu menunjuk ke arah selasar kantor guru.
Di sana, Sekar Larasati tengah membuang gumpalan kertas ke tempat sampah. Sebuah gerakan yang terlihat biasa saja, kecuali bahwa di jari manis tangan kanannya, sesuatu berkilau tertimpa cahaya pagi.
"Cincin baru," bisik Neni.
Renata melihat. Dan matanya langsung terfokus pada benda itu — berlian kecil dalam seting emas putih, berkedip seperti sesuatu yang sedang pamer.
Dari papanya.
Renata merasakan sesuatu menyala di dadanya. Bukan sekadar amarah — lebih dari itu. Ada sesuatu yang terasa seperti penghinaan personal, seperti tamparan yang tidak menggunakan tangan.
"Ayo," kata Renata.
Ia berjalan ke depan. Langkahnya panjang dan cepat. Sekar yang melihat Renata dari kejauhan langsung mempercepat gerakannya, hendak masuk ke kantor guru sebelum gadis itu sampai.
Ia kalah cepat.
Renata sudah berdiri di hadapannya ketika Sekar baru mencapai ambang pintu.
Mereka bertatapan sejenak — guru dan murid, perempuan dewasa dan remaja, dua orang yang masing-masing punya alasan kuat untuk tidak menyukai yang lain.
"Cincin baru, Bu?" Mata Renata turun ke jari manis tangan kanan Sekar.
"Ini—"
"Dari papa saya, kan?"
Sekar tidak menjawab. Diam yang salah.
"Kembalikan."
"Renata, ini bukan—"
"Kembalikan." Renata mengulang kata yang sama, dengan nada yang sama. Bukan membentak. Tidak perlu membentak. Kata yang diucapkan dengan tenang yang tepat memiliki efek yang jauh lebih menakutkan.
"Atau pagi ini juga seluruh sekolah akan tahu apa yang Bu Sekar lakukan di luar sekolah. Enak betul, ya — tidur dengan suami orang, lalu dikasih berlian sebagai souvenir. Cincin itu hak mama saya, Bu. Kembalikan."
Sekar menatap Renata. Matanya mulai memerah — dan untuk pertama kalinya, Renata tidak yakin apakah air mata yang mengancam di pelupuk mata perempuan itu adalah tangis yang direkayasa, atau yang asli.
Tidak masalah. Tidak ada yang berbeda hasilnya.
Renata mengulurkan tangan. Tanpa menunggu persetujuan, jari-jarinya meraih cincin itu dari jari manis Sekar. Sekar menarik tangannya mundur — tapi Renata lebih kuat, atau lebih tepatnya, Sekar tidak cukup berani untuk benar-benar melawan.
Cincin berlian itu berpindah tangan.
Renata menggenggamnya sebentar, merasakan beratnya yang dingin di telapak tangan. Kemudian ia menatap Sekar untuk terakhir kalinya pagi itu.
"Ini peringatan terakhir, Bu. Jauhi papa saya. Atau besok wajah kalian berdua akan jadi poster yang dipasang di setiap sudut kota ini."
Renata berbalik. Berjalan pergi bersama Mira dan Neni, meninggalkan Sekar Larasati berdiri di ambang pintu kantor guru dengan tangan kosong dan wajah yang entah menyimpan apa.
Mira menoleh ke arah Renata saat mereka sudah cukup jauh.
"Kamu nggak takut dia ngadu ke papamu lagi?"
Renata menatap cincin kecil di telapak tangannya sebentar. Lalu ia mengepalkan tangan, menyimpannya rapat.
"Biarkan," jawabnya pelan.
Karena untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, ada satu hal kecil yang terasa benar — cincin ini tidak akan lagi menghias jari perempuan yang salah.
Dan di suatu tempat yang jauh di dalam dadanya, Renata Kusuma tahu bahwa perang ini baru saja benar-benar dimulai.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar