Jam menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit ketika Renata Kusuma turun dari kamarnya bukan karena ada urusan, melainkan karena tenggorokannya kering dan kepalanya terlalu penuh untuk tidur.
Lorong lantai satu gelap. Mbak Parti — asisten rumah tangga mereka yang sudah belasan tahun setia — sudah mematikan semua lampu sejak pukul sepuluh. Hanya ada rambatan cahaya kekuningan dari lampu taman yang masuk melalui ventilasi jendela, melukis bayangan-bayangan panjang di atas lantai marmer.
Renata menapak pelan. Kakinya hafal setiap inci rumah ini bahkan dalam kegelapan.
Ia sudah hampir mencapai dapur ketika ia melihatnya.
Satu siluet di kursi makan. Tidak bergerak. Tidak ada suara. Hanya bayangan seorang perempuan yang duduk sendirian dalam gelap, seolah duduk bukan karena ingin duduk, melainkan karena tidak tahu lagi harus pergi ke mana.
Renata menekan saklar. Cahaya lampu dapur menyala, dan Lestari — yang tidak mendengar langkah putrinya — terlonjak kecil dari lamunannya.
Kedua perempuan itu saling bertatapan sejenak.
"Mama belum tidur?"
"Belum, Sayang." Lestari tersenyum — senyum cepat yang dipasang terlalu tergesa. "Tenggorokan kering. Tadi minum air hangat."
Renata mengedarkan pandangan. Di atas meja, tidak ada gelas. Di wastafel, tidak ada bekas tetesan air. Tidak ada apa-apa kecuali keheningan yang terlalu berat untuk sekadar disebabkan oleh tenggorokan kering.
Mamanya berbohong.
Dan Lestari tahu bahwa putrinya tahu.
Renata menarik kursi, duduk berhadapan dengan ibunya. Tidak mengambil air minum. Tidak mengerjakan apa-apa yang menjadi alasan awalnya turun. Ia hanya duduk, dan menatap wajah ibunya di bawah cahaya lampu dapur yang remang.
Wajah itu — yang bahkan setelah setahun kemoterapi, setelah operasi yang mengambil lebih dari sekadar jaringan tubuh, setelah malam-malam yang pasti lebih berat dari yang pernah diceritakan — masih cantik dengan cara yang membuat dada Renata sakit setiap kali memandangnya lama-lama.
"Ma," panggilnya pelan.
"Hmm?"
"Everything okay?"
Lestari terdiam satu detik terlalu lama. "Tentu saja. Kenapa memangnya?"
"Karena Mama bohong soal air minum tadi." Renata berkata lurus, tanpa tuduhan, tanpa nada menghakimi. Hanya pernyataan. "Dan karena wajah Mama malam ini berbeda dari biasanya."
Lestari membuka mulut, barangkali untuk membantah. Tapi kemudian menutupnya kembali.
Sesuatu dalam dirinya, malam ini, tidak punya cukup tenaga untuk terus berpura-pura.
"Mama ke kantor Papa tadi siang," ucapnya akhirnya. Suaranya rendah, seperti orang yang mengaku melakukan sesuatu yang memalukan. "Mama mau kasih makan siang kejutan. Bawa red velvet yang Papa suka."
Renata tidak bergerak.
"Dan di depan lift—" Lestari berhenti. Menelan ludah. "Mama melihat mereka. Dia dan perempuan itu. Sedang membuat janji untuk malam ini."
Keheningan dapur terasa berbeda sekarang. Lebih berat. Seperti udara yang bertambah massa.
"Mama dengar sendiri?"
Lestari mengangguk pelan.
Renata memejamkan matanya sebentar. Di balik kelopak matanya, berkelebatan gambaran wajah ibunya — berdiri di depan lift dengan kotak red velvet di tangan, mendengar suara suaminya membuat rencana dengan perempuan lain. Gambaran itu terlalu nyata dan terlalu menyakitkan untuk dibayangkan lebih lama.
"Renata." Suara Lestari berubah — lebih serius, lebih dalam. "Kamu sudah tahu lebih dulu, kan? Sebelum Mama."
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Renata membuka matanya. Bertemu dengan mata ibunya yang tidak menuduh, tidak marah — hanya bertanya dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ibu yang benar-benar ingin tahu.
"Sejak sekitar dua bulan lalu, Ma."
Lestari menutup matanya sebentar. Menghitung sesuatu dalam kepalanya — dua bulan, berarti sejak pertengahan semester, berarti selama itu putrinya menanggung ini sendirian, menanggungnya sambil tetap pergi ke sekolah setiap pagi, duduk di kelas yang diajar oleh perempuan yang sama, dan tidak satu kali pun memperlihatkan betapa beratnya semua itu.
"Kenapa tidak bilang ke Mama dari awal, Nak?"
"Karena Mama sedang dalam proses pemulihan." Renata menjawab tanpa ragu. "Dokter bilang Mama tidak boleh terlalu banyak pikiran. Aku tidak mau jadi penyebab Mama mundur."
Lestari menatap putrinya. Ditatapnya gadis tujuh belas tahun yang duduk di hadapannya — dengan rambut lurus yang sedikit kusut karena baru dari kasur, dengan mata yang menyimpan terlalu banyak hal untuk usianya, dengan bahu yang menopang terlalu banyak beban untuk tubuh yang masih tumbuh.
Kapan putrinya menjadi seperti ini? Kapan anak yang dulu menangis keras ketika terjatuh dari sepeda itu berubah menjadi perempuan yang memilih menanggung segalanya dalam diam demi tidak membebani orang lain?
"Mama minta maaf, Renata."
"Mama tidak perlu minta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahan Mama."
"Tapi mungkin ada yang kurang dari Mama—"
"Jangan," potong Renata. Kata itu keluar lebih keras dari yang ia rencanakan, tapi ia tidak menariknya kembali. "Jangan pernah bilang begitu, Ma. Aku serius. Kesalahan orang lain bukan kekurangan Mama. Papa yang membuat pilihan ini. Perempuan itu yang mau diajak membuat pilihan ini. Bukan Mama."
Lestari diam. Airmatanya jatuh — satu, dua — dan ia tidak berusaha menahannya.
"Mama," ucap Renata pelan. Ia mengulurkan tangan, meletakkan jari-jarinya di atas punggung tangan ibunya. "Apakah Mama punya foto-foto buktinya?"
Lestari menggeleng. "Belum. Tadi Mama terlalu shock untuk berpikir sejauh itu."
Renata mengangguk. Tangannya bergerak ke arah laci kecil di sudut dapur — laci tempat ia menyimpan amplop cokelat yang selama ini ia sembunyikan dari ibunya, di antara tumpukan buku resep yang tidak pernah dibuka Mbak Parti.
Amplop itu sudah ada di sana sejak tiga minggu lalu.
Renata meletakkannya di meja, di hadapan Lestari. Tidak berkata apa-apa.
Lestari menatap amplop itu. Kemudian menatap putrinya.
"Ini dari Mira?" tanyanya. Ia sudah tahu bahwa sahabat Renata itulah yang selama ini melakukan pengintaian.
"Ya, Ma. Tapi Mama perlu tahu — fotonya belum cukup kuat. Mereka hanya tertangkap di lobi hotel, di restoran. Tidak ada yang benar-benar... eksplisit."
"Mama mengerti." Lestari mengambil amplop itu dengan kedua tangan. Dibukanya perlahan, seperti orang yang tahu bahwa apa yang ada di dalamnya akan menyakitinya, tapi memilih untuk tetap tahu karena tidak tahu justru lebih menyakitkan lagi.
Foto pertama — Darwan dan Sekar di lobi Hotel Pondok Indah Sejati, berdiri berdekatan, Darwan dengan tangan di punggung bawah Sekar.
Foto kedua — keduanya di sebuah restoran, makan malam, lilin di atas meja, tawa yang terlalu intim untuk sekadar rekan kerja.
Foto ketiga — Sekar di depan sebuah bangunan apartemen, kunci di tangan, sementara di latar belakang yang sedikit buram tampak mobil Darwan terparkir.
Lestari tidak bersuara. Tapi Renata melihat rahangnya mengeras, melihat jari-jarinya yang memegang tepi foto itu memutih di sendi-sendinya.
"Ma—"
"Mama baik-baik saja." Lestari meletakkan foto-foto itu menghadap ke bawah di atas meja. Ia mengambil napas panjang — satu, dua, tiga — dengan cara orang yang sudah belajar mengelola rasa sakit fisik, dan kini menggunakan teknik yang sama untuk rasa sakit yang berbeda jenisnya. "Mama baik-baik saja, Nak."
Renata tidak percaya sepenuhnya. Tapi ia diam, membiarkan ibunya mengumpulkan dirinya kembali.
"Apa yang akan Mama lakukan?" tanya Renata akhirnya.
Lestari menatap putrinya. Di matanya ada sesuatu yang baru — bukan sekadar kesedihan, bukan sekadar kemarahan. Sesuatu yang lebih dingin. Lebih terukur.
"Mama tidak akan melakukan sesuatu yang tergesa-gesa," jawabnya. "Perempuan itu sedang menunggu kita membuat kesalahan, Renata. Menunggu kita panik, menunggu kita bertindak bodoh, supaya dia bisa memanfaatkan situasi. Mama tidak akan memberinya kesempatan itu."
Renata mendengarkan.
"Untuk sementara, di depan Papa, Mama akan bertindak seolah tidak tahu apa-apa. Biarkan Papa merasa rahasianya aman. Kalau ia merasa tenang, ia tidak akan menutup-nutupi gerakannya — dan kita akan punya lebih banyak kesempatan untuk mengumpulkan bukti yang lebih kuat."
"Dan setelah buktinya cukup?"
Lestari tersenyum — tipis, tapi untuk pertama kalinya malam ini, senyum itu tidak dipaksakan.
"Setelah buktinya cukup, Mama akan memastikan bahwa perempuan itu tidak hanya kehilangan Papa. Ia akan kehilangan semua yang ia sudah bayangkan akan ia dapatkan."
Renata menatap ibunya lama. Di dapur yang remang ini, di tengah malam yang sepi, ia melihat sesuatu yang selama ini ia pikir hanya ada pada dirinya sendiri — kobaran api yang disimpan di balik ketenangan. Nyala yang tidak membutuhkan udara untuk terus hidup, karena ia sudah belajar bernafas dari sesuatu yang lain.
"Aku tidak akan tinggal diam, Ma," kata Renata. "Ini bukan hanya masalah Mama."
"Mama tahu." Lestari meraih tangan putrinya. Menggenggamnya. "Dan itulah mengapa kita akan melakukannya bersama. Dengan kepala dingin, dengan rencana yang matang, dan tanpa memberi mereka senjata untuk balik menyerang kita."
"Kita lawan sama-sama?"
"Sama-sama."
Darwan pulang lewat tengah malam.
Lestari sudah berbaring di ranjang ketika suara mobil masuk halaman itu terdengar — mesin yang dimatikan, pintu yang ditutup pelan-pelan dengan hati-hati, langkah kaki yang berusaha tidak membuat suara di anak tangga.
Semua kehati-hatian itu terasa seperti tamparan tersendiri. Karena orang yang berjalan dengan langkah seperti itu bukan orang yang pulang dari lembur kantor. Melainkan orang yang pulang dari tempat yang tidak ingin diketahui siapapun.
Lestari miring memunggungi sisi tempat tidur Darwan. Matanya terbuka lebar dalam kegelapan.
Kasur bergerak ketika Darwan berbaring. Satu menit berlalu. Dua menit. Kemudian dengkuran itu terdengar — cepat, berat, dengkuran orang yang kelelahan.
Lestari menggigit bibir bawahnya. Airmata mengalir ke bawah secara horizontal, melintasi batang hidungnya, membasahi bantal. Dalam kegelapan kamar yang mereka bagi selama dua puluh tahun, ia menangis tanpa suara.
Kemudian ia berhenti.
Bukan karena tidak lagi sakit. Melainkan karena ada sesuatu yang perlu ia lakukan.
Perlahan, sangat perlahan, Lestari menggeser tubuhnya ke tepi tempat tidur. Kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin. Ia berdiri, berjalan mengelilingi ujung ranjang menuju nakas di sisi Darwan.
Ponsel Darwan tergeletak di sana, layarnya gelap.
Lestari mengambilnya. Tangannya tidak gemetar — ia sudah mempersiapkan dirinya untuk ini sejak tadi di dapur. Jari-jarinya mengetikkan kode empat angka yang tidak pernah diubah Darwan sejak lima tahun lalu — tanggal anniversary pernikahan mereka.
Layar terbuka.
Lestari membaca. Membaca percakapan yang harusnya tidak pernah ada. Kalimat-kalimat mesra yang harusnya hanya ditulis untuk dirinya. Janji-janji yang dibuat di atas fondasi pengkhianatan. Dan di antara semua itu, nama Renata disebut — nama putrinya disebut dengan cara yang membuat dada Lestari membara.
Perempuan itu menyebut Renata dengan kata-kata yang tidak akan Lestari ulangi.
Dan Darwan — suaminya, ayah dari anak-anaknya, lelaki yang bersamanya membangun semua ini dari nol — hanya menjawab dengan menenangkan perempuan itu. Berjanji akan menasehati Renata.
Lestari mengembalikan ponsel ke posisi semula.
Ia kembali ke sisinya, berbaring, menarik selimut tipis ke atas bahunya. Di luar jendela, Semarang masih menyala — lampu-lampu yang tidak pernah benar-benar padam, kota yang tidak pernah benar-benar tidur.
Besok, pikir Lestari, semuanya akan terlihat sama seperti biasa. Ia akan menyiapkan sarapan. Akan tersenyum di meja makan. Akan mencium tangan suaminya sebelum ia berangkat ke kantor.
Dan tidak satu orang pun — termasuk Darwan — yang akan tahu bahwa malam ini, sesuatu telah bergeser selamanya di dalam diri Lestari Kusuma.
Bahwa perempuan yang berbaring di sini bukan lagi perempuan yang sama dengan yang berbaring di sini kemarin malam.
Pagi hari berikutnya, Renata turun ke meja sarapan dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Di seberang meja, Daffa sibuk mengoleskan selai kacang ke roti tawarnya dengan konsentrasi yang tidak proporsional, sementara Rafi si bungsu duduk dengan postur orang yang setengah masih bermimpi.
Darwan belum turun.
Lestari bergerak di dapur dengan tenang yang terlatih — menyendokkan nasi goreng ke piring-piring, menuang susu untuk Rafi, memeriksa apakah termos berisi air panas sudah penuh.
Renata mengamati ibunya dari kursinya.
Tidak ada yang berbeda. Dari luar, Lestari adalah ibu yang sama seperti kemarin — gerakan yang efisien, senyum yang hangat, perhatian yang terbagi rata untuk ketiga anaknya.
Tapi Renata melihat sesuatu yang tidak dilihat Daffa dan Rafi — cara Lestari menatap pintu tangga setiap beberapa menit sekali. Cara jari-jarinya berhenti sejenak setiap kali terdengar suara langkah di lantai atas. Cara ia menarik napas tipis ketika suara langkah itu akhirnya mendekat.
Darwan turun dengan setelan kantor yang rapi. Kemeja biru muda, dasi abu-abu, rambut yang sisir ke satu sisi.
"Pagi," ucapnya ke arah meja.
"Pagi, Pa," jawab Daffa dan Rafi hampir bersamaan.
Renata tidak menjawab. Ia menunduk ke piring nasinya.
Darwan duduk. Lestari meletakkan piring di depannya, menuangkan kopi, melakukan semua itu dengan ekspresi yang tidak menyimpan satu pun dari apa yang ada di matanya tadi malam.
"Mas tidak terlalu malam pulangnya tadi?" tanya Lestari sambil duduk di kursinya.
"Ada meeting tambahan. Makan dulu, ya, nanti telat." Darwan menjawab tanpa mengangkat wajah dari ponselnya.
Lestari tersenyum tipis. "Iya, Mas."
Di bawah meja, di luar pandangan siapa pun, Renata mengepalkan tangannya di atas lutut.
Meeting tambahan.
Ia tahu persis meeting macam apa itu.
Dan dari sisi meja yang lain, ia melihat ibunya minum teh paginya dengan tenang, dengan wajah yang tidak menampilkan apa pun kecuali ketenangan — ketenangan yang sekarang Renata pahami bukan sebagai ketidaktahuan, melainkan sebagai sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi orang-orang yang mengiranya lemah.
Strategi.
Di atas meja makan keluarga Kusuma, pagi itu berlalu seperti pagi-pagi biasanya.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sarapan yang hangat dan percakapan yang biasa, dua perempuan sedang mempersiapkan sesuatu dengan diam-diam.
Dan bahwa badai yang sesungguhnya belum juga dimulai.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar