Aku tidak pernah takut pada rapat.
Dua belas tahun karier. Tiga negara. Puluhan klien yang semuanya merasa paling penting di dunia. Aku sudah melewati semua itu tanpa gemetar satu kali pun.
Tapi pagi ini, saat aku berdiri di depan pintu ruang rapat lantai delapan, ada sesuatu yang berbeda.
Tanganku baik-baik saja. Suaraku akan tetap stabil. Topengku sudah terpasang sempurna sejak jam enam tadi.
Yang bermasalah adalah dadaku. Ada sesuatu di sana yang tidak mau diam.
---
"Evaluasi mingguan dimulai."
Aku letakkan tablet di atas meja dan menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Delapan pasang mata memandangku. Beberapa dengan hormat. Beberapa dengan takut. Satu pasang — di sudut kiri, dekat jendela — dengan ekspresi yang tidak bisa aku baca.
Raka Santoso duduk dengan punggung tegak dan tangan terlipat di atas meja. Seperti biasa, ia tampak terlalu tenang untuk situasi yang seharusnya membuat semua orang sedikit gugup.
Aku tidak suka itu.
"Tim kreatif." Aku membuka sesi. "Progress kampanye Aldebaran sudah di tangan saya. Ada tiga poin yang perlu kita bahas."
Mas Doni, kepala copywriter, langsung duduk lebih tegak. Persis seperti yang aku harapkan.
"Pertama — palet warna." Aku geser tampilan ke layar proyektor. "Brief klien meminta earthy tones. Yang saya terima semalam adalah desain dengan dominan biru elektrik. Siapa yang bertanggung jawab atas ini?"
Hening.
Bukan hening biasa. Hening yang berisi suara orang-orang berusaha tidak saling tatap.
"Bu Nadira."
Suara itu datang dari sudut kiri.
Aku tidak langsung menoleh. Aku biarkan dua detik berlalu dulu.
"Ya, Raka?"
"Saya yang mengusulkan perubahan palet itu." Suaranya datar. Tidak meminta maaf, tidak juga menantang. "Ada di memo yang saya kirim Jumat lalu, lampiran kedua."
"Saya membaca memo itu."
"Kalau begitu Ibu sudah tahu alasannya."
Beberapa orang menahan napas.
Aku tahu mereka menunggu aku meledak. Itu biasanya yang terjadi. Seseorang berbicara dengan nada seperti itu kepadaku, dan dalam hitungan detik suhu ruangan turun sepuluh derajat.
Tapi Raka tidak berbicara dengan nada menantang.
Ia berbicara seperti seseorang yang menyampaikan fakta cuaca. Seperti orang yang sudah tahu bahwa matahari terbit dari timur dan tidak merasa perlu berdebat tentang itu.
"Memo itu," kataku perlahan, "mengandung asumsi bahwa klien akan setuju dengan reinterpretasi brief. Tanpa konfirmasi terlebih dahulu."
"Betul." Ia mengangguk. "Tapi slide tiga di memo itu juga melampirkan riset perilaku konsumen segmen mereka selama dua kuartal terakhir. Earthy tones mengalami penurunan engagement dua belas persen di demografis target. Biru elektrik justru naik delapan belas persen."
Keheningan berubah teksturnya.
"Angka itu—"
"Bisa dicek di laporan Nielsen yang kami langganan, Bu. Halaman empat puluh tujuh."
Aku tidak menjawab langsung.
Bukan karena tidak punya jawaban. Tapi karena dadaku tiba-tiba melakukan sesuatu yang tidak aku izinkan: membenarkan apa yang ia katakan.
Aku sudah membaca lampiran itu. Aku hanya memilih untuk tidak mengakuinya karena keputusan untuk mengubah brief tanpa konfirmasi tetap salah secara prosedur, terlepas dari apakah data di baliknya benar.
"Prosedur tetap harus diikuti, Raka," kataku akhirnya. "Data yang bagus tidak membenarkan langkah yang salah."
"Saya setuju, Bu." Lagi-lagi ia mengangguk. Tenang. Tanpa ironi. "Saya siap menanggung konsekuensi prosedurnya."
Dan di situlah masalahnya.
Ia tidak melawan. Ia tidak merendahkan diri. Ia hanya... hadir. Dengan caranya sendiri yang tidak bisa aku kendalikan.
Aku tidak suka hal-hal yang tidak bisa aku kendalikan.
---
"Poin kedua." Aku lanjutkan rapat seolah tidak ada yang terjadi. "Timeline pengiriman aset ke vendor—"
"Bu Nadira, boleh saya menyelip sebentar?"
Suara itu berbeda. Lebih halus. Lebih manis.
Sinta Dewi mengangkat tangan setinggi bahunya. Senyumnya sempurna — tipe senyum yang tampak tulus tapi tidak pernah benar-benar mencapai matanya.
"Silakan," kataku.
"Saya hanya ingin memastikan." Ia memiringkan kepala sedikit. "Soal timeline ini — apakah ada kaitannya dengan kontrak kerja jangka panjang yang sedang dalam proses perpanjangan? Saya dengar beberapa vendor tanya-tanya soal kontinuitas kepemimpinan proyek. Biar saya bisa menenangkan mereka jika ada yang perlu dikonfirmasi."
Senyumnya tidak bergerak satu milimeter pun.
Tapi kata-kata itu—
*Kontrak kerja jangka panjang. Kontinuitas kepemimpinan.*
Jantungku berdegup dua kali lebih keras dari yang seharusnya.
Ia tahu.
Atau ia *menduga*, dan sedang memancing untuk melihat seberapa dalam kailnya bisa masuk.
Aku tidak boleh berkedip terlalu lama. Aku tidak boleh menelan ludah dengan cara yang terlihat. Aku tidak boleh membiarkan satu pun otot di wajahku bergerak di luar yang aku izinkan.
"Semua kontrak proyek berjalan sesuai jadwal yang sudah disepakati," kataku dengan nada yang sudah aku latih selama dua belas tahun. "Tidak ada yang perlu dikonfirmasi kepada vendor di luar jalur komunikasi resmi."
"Tentu, tentu." Sinta mengangguk. "Saya hanya ingin memastikan. Soalnya kalau ada perubahan kepemimpinan mendadak di tengah proyek, vendor biasanya perlu waktu untuk penyesuaian. Tapi kalau Ibu bilang semua aman, saya tenang."
*Perubahan kepemimpinan mendadak.*
Kalimat itu ia ucapkan seperti seseorang yang menyebut ramalan cuaca. Ringan. Tanpa beban.
Tapi aku merasakan setiap katanya seperti jarum yang ditancapkan satu per satu.
Aku melihat sekeliling meja. Beberapa orang tampak bingung, tidak mengerti konteks yang sebenarnya sedang terjadi. Mas Doni sibuk mencatat. Staf magang di ujung meja masih mencoba terlihat relevan.
Dan Raka—
Raka menatapku.
Bukan dengan kasihan. Bukan dengan ingin tahu. Ia menatapku seperti seseorang yang sedang menyaksikan sesuatu dan memutuskan apakah perlu bertindak atau tidak.
Aku alihkan pandangan sebelum ia membuat keputusan apapun.
"Kita lanjut." Suaraku tidak bergetar. Itu satu-satunya hal yang masih aku syukuri hari itu.
---
Rapat selesai dua puluh menit lebih cepat dari jadwal.
Semua orang keluar dengan cepat — orang-orang selalu bergerak lebih cepat setelah rapat yang tegang. Sinta pergi sambil berbicara di telepon, senyumnya sudah berganti menjadi ekspresi bisnis yang sibuk.
Aku tinggal sendirian di ruang rapat.
Aku berdiri di depan jendela, memandang gedung-gedung di luar. Jakarta di pagi hari. Semua orang bergerak. Semua orang menuju sesuatu.
Aku merasa seperti satu-satunya orang yang diam.
*Apakah Dewan sudah tahu?*
Kalimat Sinta tadi masih berputar di kepalaku. Ia tidak menyebut kata "visa" secara langsung. Ia cukup pintar untuk itu. Tapi aku tahu apa yang ia maksud. Dan aku tahu dari cara ia tersenyum bahwa ia juga tahu bahwa aku tahu.
Ini bukan permainan yang aku pilih untuk dimainkan. Tapi tampaknya permainan ini sudah dimulai dengan atau tanpa persetujuanku.
Aku kembali ke meja, mulai membereskan tablet dan dokumen—
Dan aku melihatnya.
Selembar kertas kecil. Dilipat dua. Diletakkan tepat di samping gelas air mineralku yang belum sempat aku sentuh.
Aku mengambilnya.
Tulisan tangannya rapi tapi tidak kaku. Tinta biru. Tiga baris saja.
*Nielsen Q3 2024, hal. 47-49 — data terlampir di drive bersama, folder 'Riset Eksternal > Trend Warna'. Engagement biru elektrik +18% di segmen 25-35 tahun. Sumber sudah diverifikasi dua kali.*
*Tidak ada pembelaan. Hanya datanya.*
Di bawah, tidak ada nama. Hanya inisial kecil: *R.*
Aku membaca tiga baris itu dua kali.
Lalu tiga kali lagi.
Ia tidak mencoba memenangkan perdebatan. Ia tidak mengirim pesan, tidak mengetuk pintu, tidak mencari validasi. Ia cukup meletakkan bukti di depanku dan pergi. Seperti seseorang yang sudah selesai dengan urusannya dan tidak membutuhkan tepuk tangan untuk itu.
Aku tidak bisa marah.
Aku mencoba. Aku mencari sesuatu untuk dimarahkan. Tapi tidak ada yang bisa aku pegang.
Yang ada justru sesuatu yang jauh lebih merepotkan dari kemarahan: rasa ingin tahu.
Siapa sebenarnya lelaki ini?
Staf junior tidak bertindak seperti ini. Staf junior membuktikan diri dengan kerja keras yang terlihat, dengan laporan yang dikirim tepat waktu, dengan cara-cara yang bisa dilihat dan dihitung. Mereka tidak meninggalkan catatan tanpa nama. Mereka tidak menyelamatkan presentasi orang lain diam-diam. Mereka tidak berbicara kepada direktur mereka dengan ketenangan yang terasa seperti... setara.
*Raka Santoso.*
Aku simpan pertanyaan itu di tempat yang tidak aku beri nama.
---
Aku masih di meja kerjaku pukul setengah delapan malam ketika notifikasi email masuk.
Bukan dari alamat kantor. Bukan dari alamat yang aku kenal.
Pengirimnya: *noreply\_999@* — deretan angka yang tidak beraturan. Alamat acak. Alamat yang dibuat untuk satu tujuan saja: dikirim, lalu menghilang.
Aku membuka emailnya.
Pesan itu pendek. Tidak ada basa-basi. Tidak ada pembukaan.
*Ibu Direktur, visa Anda habis bulan depan — apakah Dewan sudah tahu?*
Aku berhenti bernapas selama tiga detik.
Mataku turun ke bagian bawah pesan. Mencari nama. Mencari tanda tangan. Mencari sesuatu yang bisa aku pegang sebagai bukti, sebagai petunjuk, sebagai titik awal untuk melawan.
Tidak ada nama.
Hanya satu simbol di baris paling bawah.
Tanda tanya.
Aku menutup layar laptop perlahan.
Di luar jendela, Jakarta sudah menyalakan lampunya. Jutaan titik cahaya yang bergerak tanpa tahu bahwa di lantai delapan sebuah gedung, seorang perempuan yang selalu punya jawaban untuk segalanya baru saja menghadapi pertanyaan yang tidak ia tahu harus dijawab mulai dari mana.
Dan yang lebih mengganggu dari email itu—
Dari semua orang yang mungkin mengirimkannya—
Mengapa yang pertama kali muncul di benakku bukan nama Sinta Dewi?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar