Senin pagi selalu punya cara tersendiri untuk menghancurkan hidupmu.
Bukan dengan cara dramatis. Bukan dengan cara yang bisa kamu ceritakan ke orang lain dan mendapat simpati. Senin pagi selalu memilih cara yang kecil, presisi, dan tepat sasaran — seperti peluru yang tahu persis di mana kamu paling rapuh.
Hari ini, pelurutnya bernama file presentasi.
Aku sudah berdiri di depan ruang rapat sejak pukul delapan kurang sepuluh. Tangan kiri memegang kopi hitam, tangan kanan memegang laptop. Kemeja putih linen yang aku setrika sendiri tadi pagi. Sepatu hak tiga senti yang sudah aku pakai cukup sering sehingga tahu persis bagian mana yang nyaman dan bagian mana yang tidak.
Klien hari ini bukan klien sembarangan.
PT Karya Nusantara adalah akun terbesar yang pernah masuk ke meja Divisi Kreatif dalam dua tahun terakhir. Budget kampanye mereka bisa menghidupi seluruh tim kami selama enam bulan. Pak Direktur sudah mengingatkan aku tiga kali minggu lalu — tiga kali, dengan nada yang makin lama makin terasa seperti ancaman yang dibungkus senyuman.
"Nadira, ini prioritas utama kita, ya."
Aku tahu apa artinya itu. Jangan gagal.
Aku tidak pernah gagal.
Atau begitulah yang selalu aku percaya.
"Mbak Dira." Mbak Yuni muncul dari balik pintu dengan wajah yang sudah aku kenal terlalu baik. Wajah itu — kombinasi antara kasihan dan tidak tahu harus bilang apa — biasanya muncul tepat sebelum sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Apa?"
"File presentasinya..."
"Sudah aku kirim ke Raka kemarin malam. Minta dia buka dari server, format PDF, ukuran A4 landscape."
"Iya, Mbak. Tapi—"
"Yuni." Aku memotong dengan nada yang cukup jelas untuk dimengerti. "Kliennya tiba dua puluh menit lagi. Kalau ada masalah, selesaikan sekarang. Jangan lapor — eksekusi."
Mbak Yuni mengatupkan bibir. Mengangguk. Pergi.
Aku menyeruput kopiku.
Seharusnya aku bertanya lebih lanjut. Seharusnya.
---
Ruang rapat kami terletak di lantai dua belas, menghadap ke arah selatan kota. Pemandangannya bagus — gedung-gedung kaca yang memantulkan cahaya sore, jalanan yang dari sini terlihat seperti miniatur. Tapi aku tidak pernah benar-benar melihat pemandangan itu. Ruang rapat bagiku adalah arena, bukan tempat kontemplasi.
Klien datang tepat waktu. Dua orang — Pak Rendy, kepala divisi pemasaran, dan seorang asisten muda yang mencatat semuanya ke iPad dengan kecepatan yang mengesankan.
Aku membuka laptop. Memindahkan file ke proyektor.
Dan itulah saat segalanya mulai runtuh.
Slide pertama terbuka. Aku memandangnya selama satu detik penuh sebelum aku mengerti apa yang salah.
Font-nya berbeda. Layout-nya berbeda. Beberapa elemen visual yang sudah aku susun dengan teliti — logo placement, color grading, hierarki tipografi — semuanya bergeser. Bukan sedikit. Cukup banyak untuk terlihat oleh mata profesional manapun.
Ini bukan file yang aku kirim.
Aku merasakan panas mulai naik dari perut. Tapi aku orang profesional. Aku senyum kepada Pak Rendy. Aku minta izin sebentar, keluar dari ruang rapat, dan menutup pintu dengan pelan.
Lalu aku mencari Raka.
Ia duduk di meja pojok, area yang kami sebut "kandang junior" — empat meja yang berdesakan di sudut ruangan yang paling dekat dengan dapur. Ia sedang mengetik sesuatu, tidak menyadari aku berdiri dua meter di belakangnya.
"Raka."
Ia menoleh. Wajahnya tenang. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada kepanikan — hanya ekspresi datar yang entah mengapa justru membuatku lebih kesal.
"Mbak Nadira?"
"Ruang rapat. Sekarang."
---
Aku tidak berteriak. Aku tidak pernah berteriak — itu bukan gayaku. Cara yang lebih efektif adalah berbicara pelan, jelas, dan dengan nada yang membuat lawan bicaramu sadar betapa ia telah mengecewakan ekspektasimu.
"Aku minta PDF. A4 landscape. Format yang sudah aku tentukan sejak minggu lalu."
"Iya, Mbak."
"Yang ada di proyektor itu bukan yang aku minta."
"Betul."
Aku berhenti sejenak. "Kamu tidak membela diri?"
Raka berdiri di dekat pintu ruang rapat. Punggungnya lurus. Tangannya tidak bergerak gugup, tidak main-main dengan ujung kemejanya, tidak melakukan hal-hal yang biasa dilakukan orang ketika mereka merasa tersudut.
"Tidak ada yang perlu dibela, Mbak." Suaranya tenang. Bukan tenang karena tidak peduli — tapi tenang seperti orang yang sudah tahu sesuatu yang belum orang lain tahu. "Kalau Mbak Nadira mau cek email dari Pak Rendy yang masuk Minggu malam, mungkin akan lebih jelas."
Aku menatapnya.
"Email apa?"
Ia mengeluarkan ponselnya. Membuka sesuatu. Lalu meletakkannya di meja rapat, digeser ke arahku dengan gerakan yang terlalu tenang untuk situasi ini.
Aku membaca.
Email dari Pak Rendy, dikirim Minggu pukul 22.47. Berisi revisi terakhir dari pihak klien — perubahan pada palet warna dan beberapa adjustment pada hierarki informasi. Persis seperti yang ada di file yang Raka buat.
Email itu ada di inbox-ku juga.
Aku yang tidak membukanya.
Ada sesuatu yang mengeras di tengah dadaku. Bukan rasa malu — aku terlalu terlatih untuk merasakannya secara langsung. Tapi ada sesuatu yang serupa. Sesuatu yang tidak nyaman dan tidak aku suka.
"Kamu menerima forward dari Pak Rendy?"
"Tidak, Mbak. Aku tidak ada di CC. Tapi Mbak Yuni yang memberitahu aku tadi pagi bahwa ada revisi masuk, dan aku minta izin langsung menghubungi asisten Pak Rendy untuk konfirmasi detailnya."
"Kamu mengubah file tanpa izin aku."
"Aku tidak sempat menghubungi Mbak Nadira karena sudah pukul delapan dan kliennya datang jam delapan setengah." Ia sebentar diam. "Aku salah langkah, Mbak. Seharusnya aku bangunkan Mbak Nadira sejak malam. Tapi waktu itu aku pikir revisinya masih bisa dikerjakan pagi."
Aku tidak menjawab.
Di luar ruang rapat, Pak Rendy dan asistennya masih menunggu. Sabar, untungnya.
Aku menarik napas. Mengambil laptop. Memutarnya kembali.
"Tunggu di sini sampai meeting selesai."
Raka mengangguk.
Aku membuka pintu dan memasang senyum yang sudah cukup aku latih untuk terlihat tulus.
---
Meeting berjalan baik. Sangat baik, bahkan — karena file yang Raka buat, dengan semua penyesuaian revisi yang sudah terintegrasi, justru membuat presentasi terasa lebih kohesif dari yang aku rencanakan semula.
Pak Rendy mengangguk-angguk puas. Ia memuji "perhatian tim kami terhadap detail." Aku tersenyum dan berterima kasih.
Aku tidak menyebut nama Raka.
Aku tidak tahu mengapa.
Setelah klien pergi, aku duduk sebentar di kursi rapat yang dingin. AC ruangan ini selalu terlalu kencang — aku sudah komplain tiga kali ke bagian gedung dan tiga kali diabaikan. Tapi hari ini dinginnya terasa berbeda. Seperti masuk ke tulang.
Aku membuka inbox emailku.
Email Pak Rendy ada di sana, persis seperti yang Raka bilang. Minggu, 22.47. Subjek: *Revisi Final - Kampanye Q3 - Mohon Dikonfirmasi*.
Aku membaca isi emailnya. Lalu aku duduk diam selama beberapa detik.
Raka benar. Sepenuhnya benar.
Dan aku sudah mempermalukannya di depan... tidak, aku tidak mempermalukannya di depan orang lain. Kami berdua di ruang rapat. Tapi tetap saja.
Ada yang ganjil di dadaku sepanjang sore itu. Bukan kagum — aku tidak sudi mengakuinya secara langsung. Tapi bukan juga sekadar jengkel. Sesuatu di antara keduanya, sesuatu yang tidak punya nama yang tepat, sesuatu yang lebih menjengkelkan justru karena tidak bisa aku beri label.
Aku tidak suka hal-hal yang tidak bisa aku kategorikan.
Terutama orang-orang yang tidak bisa aku kategorikan.
---
Pukul enam sore, kantor mulai menipis. Mbak Yuni sudah pamit pulang, menawarkan diri untuk membelikan sesuatu dan seperti biasa aku tolak dengan halus. Aku masih duduk di meja kerja, menyelesaikan brief untuk proyek berikutnya.
Notifikasi email masuk.
Aku membukanya dengan setengah pikiran — sudah terlalu sering aku membuka email sambil mengerjakan hal lain, sudah seperti refleks.
Tapi kali ini aku berhenti.
*Yth. Ibu Nadira Kusuma,*
*Berkaitan dengan permohonan perpanjangan Izin Tinggal Terbatas (ITAS) yang diajukan pada 14 Maret lalu, dengan ini kami informasikan bahwa permohonan Anda dinyatakan TIDAK DAPAT DIPROSES karena ketidaksesuaian dokumen pendukung. Anda diwajibkan untuk hadir ke kantor imigrasi dan merespons pemberitahuan ini dalam waktu 14 hari kalender terhitung sejak tanggal email ini dikirimkan, atau status keimigrasian Anda akan...*
Aku berhenti membaca.
Layar laptop itu memandangku. Huruf-hurufnya tidak bergerak, tidak bisa aku tawar, tidak bisa aku revisi seperti file presentasi.
Empat belas hari.
Aku yang lahir di Bandung, dibesarkan di Vancouver, dan sudah tinggal di Jakarta selama tiga tahun terakhir dengan status ekspatriat yang diurus kantor — ternyata dokumenku bermasalah. Dan tidak ada satu pun orang di kantor yang boleh tahu.
Bukan Mbak Yuni.
Bukan Pak Direktur.
Terutama bukan Sinta Dewi, Wakil Direktur yang senyumnya selalu terlalu manis untuk situasi apapun.
Aku menutup laptop. Memasukkannya ke dalam tas.
Berdiri. Memakai jaket.
Di luar jendela, Jakarta masih terang bermandikan lampu. Jutaan orang yang masing-masing punya masalahnya sendiri, punya rahasia yang coba mereka jaga, punya kepanikan yang mereka tutupi dengan ekspresi biasa-biasa saja.
Aku menekan tombol lift.
Empat belas hari.
Dan aku tidak punya siapa pun untuk dimintai tolong.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar