Aku tidak pernah suka dengan ruangan arsip.
Terlalu sempit, terlalu pengap, dan bau kertas lama yang entah mengapa selalu mengingatkanku pada ruang tunggu kantor imigrasi. Tempat yang paling tidak ingin kuingat dalam tiga puluh hari ke depan.
Tapi deadline adalah deadline.
Pitch klien Haruman Group dijadwalkan Jumat depan. Artinya hari ini — Selasa siang — seluruh berkas referensi kampanye tiga tahun terakhir harus sudah rapi dan terarsipkan sebelum aku bisa menyusun strategi baru. Dan karena Mbak Yuni sedang cuti sakit dengan demam yang katanya sudah tiga hari tidak turun, pekerjaan itu jatuh ke tangan satu-satunya staf yang tidak punya pilihan untuk menolak.
Raka Santoso.
Aku menyerahkan tiga kardus berisi dokumen kepadanya pukul sembilan pagi dengan instruksi yang sudah kugaris bawahi dua kali di sticky note kuning: *Arsipkan berdasarkan tahun, lalu klien, lalu jenis dokumen. Jangan dibalik urutannya.*
Ia membaca sticky note itu. Mengangguk sekali. Tidak bertanya apapun.
Itu yang membuatku jengkel sekaligus — entah kenapa — sedikit lega.
---
Aku kembali ke mejaku dan memaksa diri untuk fokus.
Brief kampanye Haruman Group terbuka di layarku. Seharusnya mudah — ini bukan klien baru, bukan industri yang asing. Tapi otakku terus melayang ke email imigrasi yang semalam kubaca untuk keempat belas kalinya sebelum akhirnya menutup laptop dengan lebih keras dari yang seharusnya.
Dua puluh delapan hari.
Bukan tiga puluh lagi. Dua puluh delapan.
Aku mengetik nama klien di header presentasi.
*Haruman Group — Kampanye Branding Q4, Direalisasikan oleh: Nadira Kusma.*
Aku berhenti.
Menatap layar.
*Kusma.*
Bukan *Kusuma*.
Tanganku tiba-tiba terasa berat. Ini bukan pertama kalinya aku salah ketik — tapi ini pertama kalinya aku tidak menyadarinya langsung. Biasanya mataku menangkap kesalahan sekecil apapun sebelum jari sempat beranjak dari keyboard. Tapi tadi?
Tadi aku tidak melihat apa-apa.
Aku menghapusnya. Mengetik ulang. Benar kali ini.
Tapi dadaku tetap tidak nyaman.
Konsentrasiku buyar. Semakin aku memaksa fokus, semakin presentasi ini terasa seperti dokumen asing yang bukan aku yang menulisnya. Satu jam berlalu. Dua jam. Halaman ketiga masih kosong setengah.
Dan kemudian aku menyadari ada yang salah dengan susunan slide kelima.
Data komparasi yang seharusnya jadi argumen terkuat malah terkubur di halaman delapan. Alurnya tidak mengalir. Klien sekaliber Haruman Group tidak akan mau membaca delapan halaman dulu sebelum mendapat alasan untuk tetap duduk mendengarkan.
Aku menarik napas panjang.
Menghembuskannya.
Lalu membuka folder referensi untuk mencari data yang kubutuhkan — dan mendapati satu subfolder yang tidak ada di tempatnya.
"Raka."
Suaraku keluar lebih tajam dari yang kurencanakan. Ia muncul di pintu ruanganku tiga detik kemudian, tanpa ekspresi tergesa-gesa, seolah namanya dipanggil dengan nada seperti itu adalah hal yang biasa saja.
Mungkin memang sudah biasa. Tapi itu bukan alasan untukku merasa bersalah.
"Folder referensi komparasi market share mana?" tanyaku tanpa pembukaan.
"Di subfolder *External Research*, Bu. Di bawah folder *Haruman Pre-2022*."
Aku membuka folder yang ia sebut. Ada.
Tentu saja ada.
"Kenapa tidak ada di tempat yang seharusnya?"
"Karena sistem pengarsipan lama menempatkan data eksternal dan internal dalam satu folder yang sama, jadi waktu saya rapikan tadi pagi, saya pisahkan supaya lebih mudah dicari."
Aku menatapnya.
Ia menatap balik. Tenang. Tidak membela diri berlebihan, tidak juga menyerah begitu saja.
Ada sesuatu yang menyebalkan dari cara ia berdiri di sana — seperti ia sudah memperhitungkan semua kemungkinan jawabanku dan memilih yang paling efisien.
"Lain kali minta izin dulu sebelum mengubah sistem yang sudah ada," kataku akhirnya.
"Baik, Bu."
Ia berbalik pergi.
Aku menghembuskan napas pelan — dan mengakui, hanya dalam kepala, bahwa ia tidak salah.
---
Pukul tiga sore, presentasinya masih di halaman lima.
Aku sudah minum kopi dua cangkir, berdiri di depan jendela selama dua puluh menit menatap gedung-gedung di bawah, dan membaca ulang brief klien sampai kata-katanya terasa kehilangan makna.
Otak lelah bukan karena kurang tidur. Tapi karena terlalu banyak yang sedang disembunyikan.
Aku tahu itu.
Tapi mengakuinya tidak akan menyelesaikan presentasi ini.
Aku menyimpan file, menutup laptop, dan memutuskan untuk turun ke pantry. Lima menit. Hanya butuh lima menit untuk mereset kepala.
Yang tidak kuperhitungkan adalah bahwa lima menit itu cukup untuk seseorang masuk ke ruanganku, membuka laptopku — yang ternyata tidak benar-benar kukunci — dan mengerjakan sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.
Ketika aku kembali, laptop terbuka.
File presentasi terbuka.
Dan di halaman pertama, ada sesuatu yang berbeda.
Aku duduk perlahan. Menggulir halaman satu per satu.
Data komparasi yang tadi terkubur di halaman delapan — sekarang ada di halaman tiga, disusun ulang dengan visualisasi yang lebih bersih dan argumen pembuka yang justru lebih tajam dari yang sempat kupikirkan. Alur presentasi mengalir. Slide kelima yang tadi terasa janggal sekarang terasa seperti klimaks alami dari narasi sebelumnya.
Bahkan nama pada header sudah benar.
*Nadira Kusuma.*
Aku terdiam cukup lama menatap nama itu.
Bukan karena bangga. Tapi karena ada rasa yang lebih aneh dari itu — rasa tidak nyaman karena menyadari bahwa selama hampir tujuh tahun bekerja, ini mungkin pertama kalinya ada seseorang memperbaiki pekerjaanku tanpa diminta, tanpa meributkan, dan tanpa menunggu pujian.
Aku tidak tahu harus marah atau tidak.
Aku tidak tahu caranya merasa terbantu tanpa sekaligus merasa kecil.
Pintu ruanganku sudah tertutup rapi. Tidak ada jejak siapapun. Tapi aku tahu — dengan cara yang tidak bisa kujustifikasi secara logis — siapa yang melakukan ini.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke divisi ini, aku ingin tahu lebih banyak tentang Raka Santoso.
---
Aku memanggilnya masuk pukul lima kurang sepuluh.
Sebagian besar staf sudah mulai membereskan meja. Beberapa sudah pergi. Suara kantor melunak menjadi dengungan latar yang mudah diabaikan.
Raka menutup pintu di belakangnya.
Aku tidak menawarkan ia duduk. Ia juga tidak meminta.
"Kamu yang ubah presentasinya tadi," kataku. Bukan pertanyaan.
Ia tidak menyangkal. Tidak juga langsung mengakui. Ia hanya menunggu — dengan cara yang entah kenapa terasa lebih jujur dari sekedar kata 'ya'.
"Aku tidak minta kamu melakukan itu."
"Tidak," jawabnya.
"Itu melanggar batasan kerja."
"Mungkin."
Aku menghela napas. "Tapi hasilnya bagus."
Ia tidak tersenyum puas. Tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja mendapat pujian pertamanya dari atasan yang terkenal pelit apresiasi. Ekspresinya datar — seperti ia sudah tahu sejak tadi bahwa percakapan ini akan berakhir ke sini.
Itu yang akhirnya membuatku memutuskan untuk mengatakannya.
"Duduk," kataku.
Ia menarik kursi di depan mejaku. Duduk dengan punggung tegak, tangan di lutut — postur seseorang yang sudah terbiasa mendengar hal-hal yang tidak menyenangkan tanpa menunjukkan keterkejutan.
Aku membuka laci bawah meja. Mengeluarkan satu amplop cokelat tipis.
Meletakkannya di antara kami.
"Aku akan langsung ke intinya," kataku. "Situasiku saat ini mengharuskan aku untuk memiliki seseorang yang bisa berperan sebagai... rekan terdekat. Secara resmi. Dalam konteks yang sangat spesifik dan terbatas waktu."
Raka menatap amplopnya. Tidak membukanya.
"Tiga bulan," lanjutku. "Tidak lebih. Selama itu, kamu akan bertindak sebagai tunangan saya di hadapan pihak-pihak tertentu yang perlu melihat bahwa saya memiliki keterikatan personal yang kuat di Indonesia. Sebagai imbalan, kamu mendapat promosi dua tingkat efektif bulan depan, dan bonus tunai setara enam bulan gaji."
Sunyi.
Bukan sunyi canggung. Tapi sunyi yang terasa seperti seseorang sedang menimbang sesuatu yang beratnya tidak setara dengan yang terlihat di permukaan.
"Ini bukan permintaan," kataku sebelum ia sempat menjawab. "Ini penawaran bisnis. Ada perjanjian tertulis, ada batas waktu yang jelas, dan ketika kontrak selesai, semuanya kembali seperti semula. Tidak ada yang perlu tahu kecuali kita berdua."
Raka masih diam.
Aku menahan diri untuk tidak mengisi kesunyian itu.
Kemudian ia mendongak. Menatapku langsung — dengan tatapan yang untuk pertama kalinya terasa seperti ia sedang benar-benar melihatku, bukan sekadar mendengar instruksi atasannya.
"Saya bisa pertimbangkan," katanya akhirnya.
Aku merasa sedikit lega yang langsung kusembunyikan di balik ekspresi netral.
"Tapi," lanjutnya — dan nada suaranya berubah tipis, "saya minta satu syarat tambahan, Bu."
Aku mengerutkan alis. "Syarat apa?"
Ia membuka mulutnya —
Dan telepon mejaku berdering.
Kami sama-sama menoleh ke arah yang sama. Layar menampilkan nama yang membuat perutku turun satu tingkat: *Sinta Dewi.*
Ketika aku kembali menatap Raka, ekspresinya sudah kembali ke bentuk semula. Datar. Sabar. Seolah syarat itu tidak kemana-mana dan bisa menunggu selama yang diperlukan.
"Besok pagi, Bu," katanya pelan. "Setelah saya selesai mengarsipkan folder terakhir."
Ia berdiri. Mengangguk sekali. Dan meninggalkan ruanganku dengan langkah yang sama tenangnya seperti ia masuk.
Aku menatap pintu yang tertutup di belakangnya.
Telepon masih berdering.
Dan di lantai bawah, di ruangan arsip yang lampunya baru saja dipadamkan Raka — sebuah folder berwarna biru muda tertinggal terbuka di atas meja. Nama pada tab pembatasnya tertulis jelas dalam huruf kapital: *NADIRA KUSUMA — DOKUMEN KEIMIGRASIAN.*
Sinta Dewi memasuki ruangan itu dua menit kemudian.
Ia tidak mencari apapun secara khusus.
Tapi ketika matanya jatuh pada folder itu — pada halaman pertama yang terbuka, pada stempel merah besar yang tidak bisa disalahartikan siapapun yang pernah berurusan dengan imigrasi — bibirnya melengkung ke atas.
Senyum yang sangat tipis.
Sangat puas.
Seperti seseorang yang baru saja menemukan kartu truf yang sudah lama dicarinya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar