Aku membaca email itu untuk kesembilan kalinya.
Bukan karena tidak mengerti isinya. Tapi karena setiap kali mataku menyentuh kalimat terakhir paragraf ketiga, otakku menolak untuk menerimanya sebagai kenyataan.
*"...berdasarkan evaluasi dokumen yang diterima, permohonan perpanjangan izin kerja Saudari Nadira Kusuma dinyatakan tidak memenuhi syarat administratif yang berlaku. Permohonan dapat diajukan kembali dengan kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan dalam kurun waktu tidak lebih dari 30 (tiga puluh) hari kalender sejak tanggal surat ini."*
Tiga puluh hari.
Aku menutup laptopku. Membukanya lagi. Menutupnya lagi.
Jam di pojok kamarku menunjukkan pukul 01.47 dini hari. Apartemenku yang biasanya terasa cukup — dua kamar, view Sudirman dari lantai 22, furnitur yang aku pilih sendiri satu per satu — malam itu terasa seperti kandang.
Aku berdiri. Berjalan ke dapur. Menuang segelas air. Tidak meminumnya.
Tiga puluh hari.
Di Kanada, aku pernah menghadapi audit besar dalam tiga hari. Aku pernah me-rebuild seluruh strategi kreatif sebuah brand dalam seminggu. Aku tidak pernah panik. Tidak pernah meminta tolong. Tidak pernah gagal membaca situasi.
Tapi ini berbeda.
Ini bukan soal presentasi yang bisa diperbaiki atau deadline yang bisa dinegosiasi. Ini soal keberadaanku di negeri ini — yang, secara ironis, adalah negeri leluhurku sendiri. Indonesia yang katanya rumah, tapi aku tidak pernah benar-benar tinggal cukup lama untuk merasa seperti itu.
Aku duduk di lantai dapur. Punggungku bersandar pada lemari pendingin yang berdengung pelan.
Siapa yang bisa aku hubungi?
Tidak ada yang boleh tahu. Terutama tidak Sinta Dewi. Terutama tidak dewan direksi. Dan terutama tidak ada satu pun orang di kantor yang bisa menjadikan ini sebagai amunisi.
Aku adalah Direktur Kreatif. Aku adalah orang yang paling tidak boleh kelihatan lemah.
---
Keesokan paginya, aku tiba di kantor pukul 06.15.
Lift masih sepi. Lorong masih temaram. Hanya satpam shift pagi yang mengangguk padaku dengan kantuk yang tidak disembunyikan.
Aku sengaja datang sepagi ini. Sebelum Mbak Yuni. Sebelum siapapun.
Aku perlu koneksi internet yang stabil, ketenangan, dan waktu untuk menelpon beberapa firma hukum tanpa ada yang mendengar.
Yang tidak aku perhitungkan: Raka sudah ada di mejaku.
Bukan di mejanya sendiri yang terletak tiga meja dari meja tempatnya kemarin duduk. Tapi di mejaku — atau lebih tepatnya, di meja samping mejaku yang digunakan untuk koordinasi tim — dengan setumpuk kertas di tangan dan secangkir kopi yang mengepul tipis di sebelahnya.
Ia mengangkat kepala saat mendengar suara sepatuku.
Tidak terkejut. Tidak gugup. Seperti biasa.
"Selamat pagi, Bu Nadira."
Aku berhenti dua langkah dari meja. "Kamu ngapain di sini sepagi ini?"
"Revisi slide presentasi untuk Kamis." Ia menunjukkan tumpukan kertas itu ke arahku. "Yang kemarin ada beberapa transisi visual yang belum optimal. Saya mau beresin sebelum kamu minta."
Aku menatapnya.
Ia sudah merapikan revisi yang bahkan belum sempat aku minta. Datang lebih pagi dari direkturnya sendiri. Dan ia menyampaikannya dengan nada yang sama datar dan tenangnya seperti saat melaporkan cuaca.
"Taruh di mejaku," kataku akhirnya. "Aku cek nanti."
"Sudah saya taruh."
Aku melirik. Benar. Ada folder tipis di pojok kiri mejaku, sudah rapi dengan sticky note berwarna kuning di atasnya.
Aku tidak mengatakan terima kasih. Aku tidak tahu kenapa.
Mungkin karena pikiranku masih di email imigrasi itu. Mungkin karena ada sesuatu yang mengganggu dari keberadaan Raka di sini sepagi ini, di momen yang seharusnya hanya milikku.
Aku membuka laptopku. Mencari nomor telepon. Mengetik kata kunci di mesin pencari: *firma hukum imigrasi Jakarta terpercaya WNA.*
"Oh, ngomong-ngomong," suara Raka terdengar dari sisi kanan, santai, hampir seperti bergumam pada dirinya sendiri, "kemarin saya nggak sengaja lewat kantor Permata Law Firm di Sudirman. Katanya mereka salah satu yang paling berpengalaman untuk urusan ketenagakerjaan internasional. Banyak klien korporatnya."
Aku tidak bergerak.
Jari-jariku berhenti di atas keyboard.
Permata Law Firm. Nama yang sama dengan firma nomor dua di daftar hasil pencarianku yang baru saja muncul di layar.
Aku memutar kepala perlahan. Raka sudah kembali menunduk ke kertasnya. Pensil di tangannya bergerak, mencoret sesuatu, menambahkan catatan. Wajahnya tidak menunjukkan apapun.
"Kamu dapat info itu dari mana?" suaraku keluar lebih tajam dari yang aku rencanakan.
Ia mengangkat kepala. "Dari spanduk di depan gedungnya. Saya lewat waktu antar dokumen ke klien kemarin sore."
Aku memperhatikan wajahnya.
Matanya tidak berkedip berlebihan. Tidak ada senyum kecil yang menyembunyikan sesuatu. Tidak ada tanda-tanda kebohongan yang bisa kubaca.
Tapi tepat itu yang membuatku tidak nyaman.
Karena orang yang terlalu tenang biasanya bukan orang yang tidak tahu apa-apa. Biasanya mereka adalah orang yang sudah terlalu banyak tahu dan memilih untuk tidak memperlihatkannya.
"Kamu tahu firma hukum itu spesialisasinya apa?" tanyaku, lebih hati-hati kali ini.
"Ketenagakerjaan." Ia mengangkat bahu. "Itu yang tertulis di spanduknya."
"Dan kamu merasa perlu menyebutkan ini padaku karena?"
Jeda pendek. Satu detik, mungkin dua.
"Karena saya pikir informasi yang berguna itu selalu baik untuk dibagikan." Ia kembali menunduk ke kertasnya. "Tidak ada maksud lain, Bu."
Aku menahan napas sebentar. Lalu berbalik ke layarku.
Tidak ada maksud lain.
Tentu saja.
---
Sinta Dewi muncul pukul empat sore, persis saat aku baru selesai menutup telepon terakhirku dengan firma hukum — konsultasi singkat yang aku lakukan di toilet lantai dua biar tidak ada yang mendengar.
Hasilnya: bisa diurus, tapi butuh waktu dan dokumen yang tidak sedikit. Dan aku tidak punya banyak waktu.
"Dira!" Sinta masuk ke ruanganku tanpa mengetuk. Senyumnya lebar, bibirnya merah tua, dan aura 'aku punya kabar bagus' itu terpancar dari setiap langkahnya. "Sibuk banget?"
"Selalu." Aku tidak mengangkat kepala dari laptopku.
Ia duduk di kursi di depan mejaku tanpa dipersilakan. "Ada rapat dadakan minggu depan. Selasa siang. Dewan direksi minta semua kepala divisi hadir."
Aku mengangkat kepala sekarang. "Agenda?"
"Evaluasi kuartalan." Sinyumnya tidak berubah. "Tapi kamu tahu lah, mereka juga mau bahas soal posisi kepemimpinan ke depan. Restrukturisasi kecil. Hal-hal biasa."
Hal-hal biasa.
Tidak ada yang namanya hal biasa jika itu diucapkan oleh Sinta Dewi dengan senyum seperti itu.
Aku mengenal perempuan ini cukup lama. Cukup lama untuk tahu bahwa setiap kali ia menyebut sesuatu sebagai 'hal biasa', itu biasanya adalah sesuatu yang sudah ia rencanakan berbulan-bulan sebelumnya.
"Oke," kataku datar. "Aku akan hadir."
"Bagus!" Ia berdiri. "Oh, dan siapkan ya beberapa data pencapaian timmu. Katanya direksi mau review kontribusi masing-masing kepala divisi secara lebih personal."
Lebih personal.
Aku menahan senyum pahit yang hampir keluar.
Ia keluar. Suara sepatu haksnya menghilang di koridor.
Aku duduk diam selama beberapa detik.
Jika evaluasi itu menyentuh soal status administratifku — dan aku tidak bisa menyelesaikan urusan visa sebelum hari Selasa — maka aku datang ke rapat itu sebagai direktur yang sedang berdiri di atas lantai yang retak.
Dan Sinta Dewi jenis perempuan yang tahu persis kapan waktu terbaik untuk mendorong.
---
Aku yang terakhir meninggalkan kantor malam itu.
Sudah pukul delapan lebih ketika aku akhirnya membereskan mejaku. Raka sudah pulang sejam lalu — ia pamit singkat tanpa banyak kata, seperti biasa. Mbak Yuni sudah pulang sejak pukul enam.
Aku mematikan lampu meja. Meraih tasku.
Dan saat aku mengangkat tas itu, aku melihatnya.
Satu lembar kertas. Terselip di bawah keyboardku. Setengah tersembunyi, tapi cukup menonjol untuk tertangkap mata jika kamu tahu harus mencarinya.
Aku menariknya keluar.
Itu adalah potongan artikel. Dicetak dari sebuah situs berita hukum, judulnya berbunyi: *Regulasi Terbaru Izin Kerja WNA di Indonesia: Yang Perlu Diketahui Pemberi Kerja dan Tenaga Asing.*
Tanggal artikel: bulan lalu.
Tidak ada nama pengirim. Tidak ada sticky note. Tidak ada apapun.
Kecuali tulisan tangan kecil, rapi, di sudut kanan bawah kertas itu.
Tinta hitam. Huruf tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil.
*Jangan tunggu sampai hari ke-30.*
Aku berdiri mematung di tengah ruangan yang gelap.
Jantungku berdegup dengan cara yang tidak aku suka.
Hari ke-30.
Tidak ada orang yang seharusnya tahu tentang hari ke-30. Tidak ada orang yang seharusnya tahu bahwa aku sedang menghitung hari. Bahwa ada sesuatu yang perlu diselesaikan dalam tiga puluh hari kalender sejak kemarin malam.
Aku menatap tulisan itu lebih lama.
Siapa yang menaruh ini di sini?
Dan lebih penting lagi — sudah berapa banyak yang mereka tahu?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar