Malam itu langit di atas Kampung Lembah Biru, Kalimantan Selatan, tampak berat seperti dikurung awan hitam yang tidak mau pergi. Tidak ada bintang. Tidak ada bulan. Hanya kegelapan pekat yang menggantung di atas rumah-rumah panggung bercat kusam, dan di antara kegelapan itulah sebuah pernikahan dilaksanakan dengan sangat diam-diam.


Akad nikah sudah selesai. Kedua mempelai telah masuk ke dalam kamar. Bunyi gong tua dari arah balai desa berdentang tujuh kali, pertanda malam sudah pukul tujuh. Langit yang semula hanya kelam kini mulai mengeluarkan petir kecil yang berkedip-kedip di ujung cakrawala, seolah alam pun enggan menjadi saksi pernikahan ini.


Di beranda rumah panggung berukuran sedang, tiga lelaki duduk mengelilingi sebuah tungku tanah yang menyala rendah. Ketiganya berbusana serba gelap — baju baboreh hitam khas pedalaman — dan mengisap rokok daun yang asapnya mengepul ke langit-langit beranda. Bau dupa cendana tercampur dengan bau hutan semalaman menjadi satu wangi yang asing dan mencekam.


Yang paling tua di antara ketiganya adalah Baris Sanrego, lelaki berambut putih yang wajahnya penuh dengan garis-garis usia. Ia terkekeh pelan saat menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat.


"Luweng," katanya kepada lelaki bertubuh tinggi di sebelahnya, "akhirnya kau dapat menantu anak pesantren. Ustad Rafi sepertinya benar-benar jatuh hati pada Mayang, anak bujang satu-satunya. Pernikahan siri ini akan sangat menguntungkan bisnis perdukunanmu. Hahahah." Baris Sanrego tertawa rendah, menepuk pundak rekannya.


Lelaki yang dipanggil Luweng itu — nama lengkapnya Sangaji Luweng — menatap temannya dengan senyum miring. "Tepatnya, Mayang yang jatuh hati lebih dahulu, Baris. Dia coba ilmu Pikat Bayang kepada Ustad Rafi, ndilalah tembus juga. Ya sudah sekalian kuambil menantu."


Ketiganya tertawa kecil.


Pria ketiga yang bernama Darso Abing mengembuskan asap rokoknya dengan perlahan. Ia yang paling jarang bicara di antara ketiganya, tetapi kata-katanya selalu didengar. "Tapi Luweng," katanya tiba-tiba, "sejak tadi dadaku terasa tidak enak. Seperti ada sesuatu yang besar akan terjadi di kampung ini."


"Hal besar apa yang akan terjadi di kampung terpencil ini?" Baris Sanrego mengibaskan tangannya. "Mungkin ada pejabat yang mau datang minta dimuluskan rezeki?"


"Apapun itu, aku harap berdampak baik buat kita bertiga." Sangaji Luweng terkekeh. "Baris, Darso, kalian adalah saudara seperguruan yang paling kubanggakan seumur hidup."


Darso Abing mengangguk. "Kau ini anggota termuda perguruan kita, Luweng. Tapi ilmumu jauh melampaui kami berdua. Kau hanya punya satu anak perempuan. Apakah ilmu yang kau miliki akan diwariskan kepada Mayang?"


Sangaji Luweng terdiam sebentar. Asap rokoknya mengepul pelan. "Mayang tidak terlalu berminat dengan ilmu yang kumiliki. Walaupun sebenarnya bakat itu ada pada dirinya. Buktinya, sekali mencoba Pikat Bayang langsung berhasil menembus pertahanan Ustad Rafi."


"Lalu?" Baris Sanrego mengejar.


"Kemungkinan ilmu ini akan kuwariskan kepada cucuku nanti."


Hening sesaat. Mereka kembali sibuk menikmati asap rokok dan mengunyah uli bakar yang tersaji di atas piring kayu. Di sudut beranda, seekor tokek berteriak berulang kali seperti menghitung sesuatu. Entah pertanda baik atau buruk, tidak ada yang peduli.


Sementara itu, di dalam kamar berukuran tidak terlalu besar yang berhias kelambu putih kuning, Mayang duduk di sisi ranjang kayu jati berukir. Wanita berambut tebal dan panjang itu terlihat cantik sekali dengan kebaya beludru merah tua yang dipakainya. Ustad Rafi duduk di sisinya, menatap istrinya dengan pandangan yang hangat — hangat yang sebenarnya bukan sepenuhnya miliknya sendiri, melainkan kehangatan yang diciptakan oleh ilmu yang diam-diam ditanamkan ke dalam dirinya.


"Mayang," kata Ustad Rafi dengan lembut, "maafkan aku kalau mas kawin yang kuberikan tidak seberapa. Aku berjanji, setelah kembali ke pesantren, aku akan memberimu sesuatu yang lebih layak." Ia mengecup jemari Mayang, tepat di atas cincin emas bermata batu hijau yang melingkar di jari manis.


"Sudah cukup, Mas." Mayang tersenyum tipis.


"Apakah kau sudah kutunjukkan cincin ini sebelumnya?" tanya Ustad Rafi kemudian.


Mayang menghela napas panjang. "Tentu saja. Bukankah Mas datang ke Lembah Biru ini untuk melupakan almarhum Ning Salwa? Kekasih pertama Mas yang meninggal sebelum pernikahan? Aku bahkan tahu ada inisial Ning Salwa terukir di bagian dalam cincin ini."


Ustad Rafi terdiam sejenak. Ada bayangan luka yang melintas di matanya. "Itu cerita lama yang sangat menyakitkan. Tapi sekarang aku sudah menemukan kamu. Aku sangat mencintaimu, Mayang. Aku tidak peduli bagaimana reaksi Ayah di pesantren nanti."


Mayang memejamkan matanya ketika Ustad Rafi meraihnya ke dalam pelukan. Dalam hati kecilnya, ia berbisik kepada dirinya sendiri: *Maafkan aku, Mas. Sebenarnya, perasaan yang kau miliki untukku hanyalah ilusi. Ilmu Pikat Bayangku berhasil menembusmu karena kau sedang dalam keadaan hancur. Ning Salwa yang pergi dua minggu sebelum pernikahanmu meninggalkan luka yang sangat dalam. Tapi percayalah, Mas, ketika pengaruh ilmuku memudar, kau akan mencintaiku dengan tulus seperti kau mencintai Ning Salwa. Sungguh.*


Malam itu, Mayang akhirnya memiliki Ustad Rafi.


Semua berawal setahun lalu. Ustad Rafi datang ke Lembah Biru bersama seorang santri mudanya untuk mengisi pengajian di masjid kampung yang selama ini sepi. Sejak kedatangan lelaki bertubuh tegap dengan suara mengaji yang jernih itu, warga Lembah Biru berbondong-bondong kembali meramaikan masjid. Termasuk Mayang.


Mayang jatuh cinta pada pandangan pertama ketika Ustad Rafi memimpin pengajian malam pertamanya di kampung itu. Ia yang selama ini diremehkan warga karena menjadi anak dukun paling terkenal di Kalimantan Selatan, tiba-tiba menemukan alasan untuk rajin ke masjid — bukan karena ingin belajar agama, melainkan karena ingin dekat dengan Ustad Rafi.


Setahun penuh Mayang berusaha mendekati Ustad Rafi. Ia mempelajari kesukaan dan kebiasaan lelaki itu. Hingga ia tahu mengapa Ustad Rafi memilih kampung terpencil ini sebagai tempat mengabdi: Ning Salwa, calon istrinya, meninggal mendadak akibat penyakit jantung dua minggu sebelum hari pernikahan mereka. Ustad Rafi datang ke Lembah Biru untuk melarikan diri dari kenangan.


Mayang memanfaatkan kehancuran hati itu. Ia menanamkan ilmu pikat melalui minuman yang diberikan kepada Ustad Rafi. Dalam waktu beberapa bulan, Ustad Rafi akhirnya menyatakan cinta dan minta dinikahi secara siri karena tahu pihak pesantren tidak akan mudah menyetujui.


Rencana manusia memang sering tak sejalan dengan rencana Tuhan.


Keesokan paginya, Kang Basri — santri Ustad Rafi yang setia — datang tergopoh-gopoh ke rumah Sangaji Luweng dengan wajah pucat pasi. Ia tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat gurunya keluar dari kamar Mayang dengan kemeja yang tidak dikancingkan rapi.


"Assalamualaikum, Ustad." Kang Basri menyalami tangan Ustad Rafi dengan tangan gemetar.


"Ada apa, Kang?"


"Baru saja ada telepon dari Pak Kepala Desa. Beliau mengabarkan bahwa Abah Kiai sakit parah dan meminta Ustad segera pulang."


Mayang yang baru keluar dari kamar mendekati suaminya. "Pergilah, Mas. Aku akan menunggumu."


"Mayang, aku janji setelah Abah sehat aku akan menjemputmu. Aku akan membawamu ke pesantren dengan kepala tegak."


Mayang mengangguk pasrah, meskipun hatinya berat melepaskan. Pagi itu juga, Ustad Rafi berangkat meninggalkan Lembah Biru bersama Kang Basri.


Tujuh hari setelah kepergian Ustad Rafi, kampung Lembah Biru diguncang serangkaian kematian yang tidak wajar. Tujuh orang muda yang pernah menyimpan perasaan terhadap Mayang ditemukan tewas — satu per satu, setiap malam, dengan cara yang sama: gantung diri di dalam kamar mereka sendiri.


Warga Lembah Biru membakar rumah Sangaji Luweng pada tengah malam kedelapan. Api berkobar menelan seluruh bangunan panggung yang sudah tua itu. Sangaji Luweng tidak sempat menyelamatkan diri karena tertidur sangat pulas — ada yang mengatakan karena ilmunya sendiri yang berbalik kepadanya. Hanya Mayang yang selamat karena masih terjaga, menangisi kepergian Ustad Rafi.


Mayang kabur dari Lembah Biru dengan hanya membawa sebuah tas kecil dan dendam yang membara di dada. Ia bersumpah akan membalas semua yang menyakitinya.


Ia tidak pernah kembali.


🌿🌿🌿


Di suatu kota lain yang jauh dari Lembah Biru, seorang lelaki tua berbaju hitam membaringkan dirinya di atas tikar anyaman, menatap langit-langit ruangannya yang gelap dengan nafas tersengal.


Tepat sembilan bulan setelah peristiwa pembakaran rumah Sangaji Luweng, lelaki tua itu merasakan sesuatu yang aneh — satu per satu, kekuatan yang selama ini ia simpan di dalam tubuhnya mulai meninggalkannya. Sinar kelabu beruntun keluar dari dalam dadanya, masing-masing berbentuk seperti asap yang perlahan menghilang ke udara.


"Celaka!" Lelaki tua itu mengepalkan tangan. "Ilmu Luweng sudah menemukan tuannya yang baru. Cucu Sangaji Luweng — pewaris sah ilmu yang aku curi itu — telah lahir ke dunia."


Ia bangkit duduk, matanya berapi-api meski tubuhnya masih kesakitan.


"Tunggu saja. Aku akan merebut kembali ilmu itu. Cepat atau lambat, kau pasti akan kutemukan, wahai keturunan Luweng!"


Dalam keadaan setengah kesakitan, lelaki tua itu tertawa keras — tawa yang mengerikan, bergema di seluruh dinding kamarnya yang sempit.