*Sembilan belas tahun kemudian.*


Mereka semakin dekat!


Seorang gadis berlari terengah-engah menembus kegelapan hutan perbukitan di luar Kota Balikpapan. Langit malam tertutup rapat oleh kanopi pepohonan yang rapat, sehingga cahaya bulan purnama yang seharusnya terang tidak mampu menerobos. Hanya kepekatan yang tersisa, ditemani suara jangkrik bersahutan dan sesekali gonggongan anjing hutan dari kejauhan — pertanda bahwa makhluk dari dimensi lain tengah berkeliaran.


Gadis berkerudung warna cokelat tanah itu sudah tidak mempedulikan kondisi tubuhnya yang berantakan. Segenggam rambutnya mencuat dari bawah kerudung, berhamburan tak beraturan, lembab oleh peluh yang mengalir deras. Ranting-ranting semak belukar menggores betisnya, tapi ia tak merasakannya.


"Aku harus sampai ke arah barat. Di situlah cahaya itu berada!" jeritnya dalam hati.


Gadis itu terus berlari. Namanya Zahra — Zahra Azkiya, gadis delapan belas tahun yang tidak pernah meminta untuk dilahirkan berbeda dari kebanyakan orang.


Lima meter di belakangnya, tiga sosok berpakaian merah pekat berlari sambil melayang-layang dari pucuk pohon ke pucuk pohon yang lain. Mereka tertawa terkikik dengan suara yang memekakkan gendang telinga, seperti senar gitar yang ditarik terlalu keras hingga putus. Rambut mereka gimbal dan panjang hingga menyapu tanah. Tatapan mereka penuh kesenangan kejam, seperti kucing yang bermain-main dengan seekor tikus sebelum menerkamnya.


"Sebentar lagi! Ya Allah, tolong aku..." Mata Zahra berair saat ia melihat dari kejauhan ada seberkas cahaya kekuningan yang berpendar di balik sebatang pohon ulin raksasa — pohon besi yang terkenal di Kalimantan, batangnya sebesar delapan orang dewasa berpelukan.


"Pohon portal!" teriak Zahra.


Ia memacu kakinya sekuat tenaga. Berburu dengan waktu. Jangan sampai ketiga makhluk itu berhasil merebut benda berharga yang saat ini ada di dalam genggamannya.


Ekor mata Zahra melirik cincin delima merah yang melingkar di jari manisnya — cincin ajaib yang susah payah ia ambil dari kerajaan kuntilanak merah di balik Gunung Merapi Kalimantan, cincin yang bisa menyelamatkan nyawa sahabat terbaiknya yang saat ini sekarat karena sukmanya dicuri.


"Kembalikan cincin kami, manusia curang!" lengking salah satu makhluk itu, bersamaan dengan angin dingin yang tiba-tiba berhembus kencang.


Sosok yang berbicara itu — yang telinganya terbelah memanjang hingga ke pipi — mendahului dua rekannya dan berhasil berdiri di depan Zahra, tepat di antara gadis itu dan pohon ulin berpendar.


"Minggir!" Zahra berseru.


"Coba kalau bisa!"


Gadis itu memasang kuda-kuda pencak silat yang selama bertahun-tahun ia pelajari di perguruan Tapak Sakti, lalu memejamkan mata sesaat. Bibirnya mulai bergerak membaca ayat-ayat yang telah dihafal sejak kecil.


Makhluk-makhluk itu berguncang seperti terkena aliran listrik. Dari tubuh mereka mengepul asap hitam dengan bau yang sangat tidak sedap.


"Kalau kalian mau selamat, biarkan aku lewat," kata Zahra dengan nada yang jauh lebih tenang dari yang ia rasakan. "Kalau sukma Nita sudah kembali ke tubuhnya, aku akan mengembalikan cincin ini kepadamu."


"Tidak semudah itu, manusia!" Si Telinga Belah meraih pergelangan kaki Zahra dengan kedua tangannya. "Sukma itu adalah tawanan kami. Kami tidak akan melepaskannya begitu saja!"


"Mencuri sukma manusia itu dosa besar." Zahra berkacak pinggang, menatap satu per satu ketiga makhluk itu dengan tatapan yang tidak gentar. "Tahukah kalian apa hukumannya?"


Para makhluk itu hanya diam melotot.


"Hukumannya adalah potong tangan!" Zahra menirukan gerakan menggergaji pergelangan tangan.


Tawa mereka berderai-derai. Angin dingin berhembus makin keras.


"Lancang sekali, manusia lemah! Cepat serahkan cincin itu atau nyawamu yang akan kami ambil!"


Zahra mendengus. Ia memasang kuda-kuda lagi, lalu membaca Ayat Kursi dengan keras dan penuh. Ketiga makhluk itu menggeliat seperti terbakar dari dalam. Zahra tidak menunggu lebih lama — ia mengayunkan kaki kanannya keras-keras hingga Si Telinga Belah terlempar dan menghantam batang pohon ulin.


"Dasar setan!" umpat Si Telinga Belah dari batang pohon tempat ia mendarat.


Zahra sudah tidak menghiraukan. Dengan membaca basmalah, ia melangkah masuk ke dalam pendar kekuningan dari pohon ulin raksasa itu. Dunia berputar. Tubuhnya seperti terjatuh dari ketinggian yang sangat tinggi, melayang-layang di antara dua dimensi yang tidak memiliki batas, sebelum akhirnya kakinya menjejak tanah.


"Hoek!" Zahra memegang perutnya. Ia tidak pernah terbiasa dengan perjalanan lewat portal pohon. Mabuk darat, laut, dan udara seolah bergabung menjadi satu di dalam perutnya setiap kali ia melewati portal seperti ini.


Gadis itu melihat sekelilingnya. Ia berada di area rumpun bambu di belakang Rumah Pak Wahid — bapak angkatnya. Bulan purnama menggantung indah di antara awan yang bergerak pelan.


"Siapa itu!"


Suara berat dari arah kegelapan membuat Zahra berjengit.