Keesokan harinya, saat fajar hampir tiba, Zahra sudah duduk di sudut masjid Pesantren Nur Al-Ikhlas menunggu waktu shalat Subuh. Udara dini hari di tepi Sungai Tabuk terasa dingin dan lembap, membawa aroma tanah basah dan rerumputan yang harum.


Zahra sengaja membuka sedikit mata batinnya — kemampuan istimewa yang tidak pernah ia minta, yang hadir begitu saja bersamaan dengan peristiwa-peristiwa aneh yang menemaninya sejak kecil.


Apa yang ia lihat membuat nafasnya tertahan.


Di sekeliling masjid, ratusan sosok makhluk tak kasatmata sedang berdatangan dari berbagai penjuru. Mereka tidak menimbulkan ketakutan — justru sebaliknya. Sosok-sosok itu berbusana putih bersih, berwajah tenang, berjalan atau melayang dalam barisan yang tertib. Beberapa di antaranya saling memberi salam, saling memeluk seperti sahabat lama yang bertemu setelah sekian lama berpisah.


Di dahan-dahan pohon nangka di halaman pesantren, sekelompok makhluk halus duduk berderet sambil mengucapkan lafadz-lafadz pujian. Di tepian sungai, rombongan lain berdiri sambil menatap langit dengan ekspresi syukur yang mendalam.


Malam terakhir sebelum Ramadhan. Rombongan jin muslim dari seluruh penjuru Kalimantan datang menyambut bulan suci — begitu yang Zahra pahami. Mereka memilih tempat-tempat yang berkah untuk ditinggali selama sebulan penuh.


Zahra menelan ludah. Seumur hidup ini pertama kalinya ia menyaksikan pemandangan sebesar ini — ribuan makhluk Allah yang bukan manusia, namun sama-sama merindu tibanya Ramadhan.


Ia teringat firman Allah yang pernah diajarkan ibunya: *"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."*


Inilah perwujudan nyata dari firman itu.


Air mata Zahra tanpa disadari mengalir pelan.


Kriuuuuk!


Perutnya berteriak protes. Zahra terkekeh kecil, lalu menutup mata batinnya dan bangkit untuk mengambil air wudhu.


Setelah shalat Subuh berjamaah, Zahra melihat Fariz Abdurrahman duduk di teras masjid sambil membaca Al-Quran. Sosok hitam yang kemarin masih menempel di belakangnya kini tidak terlihat lagi. Mungkin doa dan dzikir Fariz semalam cukup efektif.


Zahra mendekat. "Kang, tadi Subuhan di sini juga?"


"Iya." Fariz menutup Al-Qurannya. "Mbak sudah shalat?"


"Sudah." Zahra duduk di teras, memandang sungai yang mulai merah oleh fajar. "Sosok hitam di belakangmu tadi malam sudah pergi, Kang."


Fariz diam sejenak. "Maksudnya?"


"Kemarin, waktu kita bertemu di depan Pesantren Ar-Ridho, ada sesuatu yang menempel di belakangmu. Sekarang sudah tidak ada." Zahra berkata santai seolah sedang membicarakan cuaca.


Fariz memucat. "Se-sesuatu?"


"Jangan khawatir, Kang. Kalau dzikir istirahat dan waktu tidur dirutinkan, insyaAllah tidak mudah kerasukan." Zahra berdiri. "Oh ya, Kang, apakah Ustad Rafi sudah pulang dari perjalanannya?"


"Rencananya siang ini," jawab Fariz masih dengan wajah yang agak pucat.


Zahra mengangguk dan melangkah kembali ke dapur ndalem. Di belakangnya, Fariz menatap punggung gadis itu dengan ekspresi yang sulit dibaca — antara takjub, bingung, dan sesuatu yang lain.


🌿🌿🌿


Ustad Rafi Hidayatullah tiba di pesantren tengah hari, tepat ketika azan Dzuhur selesai berkumandang. Lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu masih terlihat tampan meski rambut di pelipisnya sudah mulai beruban. Matanya tenang seperti permukaan sungai di pagi hari. Ia turun dari mobil sambil membawa beberapa kantong belanjaan yang tampaknya berisi kebutuhan santri.


Zahra melihatnya dari balik jendela dapur. Jantungnya berdetak tidak beraturan — bukan karena jatuh cinta, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih rumit dari itu.


*Apakah ini ayahku?* batinnya.


Ia tidak tahu. Dan ia belum siap untuk mengetahuinya hari ini.


Sore itu, Umi Halimah memanggil Zahra ke ruang tamu untuk berkenalan secara resmi dengan Ustad Rafi. Zahra duduk di kursi kayu berukir, mencengkram ujung kerudungnya erat-erat.


"Ini Mbak Zahra Azkiya dari Tanah Laut, Bi. Yang mau ngabdi di sini selama Ramadhan," kata Umi Halimah.


Ustad Rafi menatap Zahra. Sesuatu melintas di wajahnya — bayangan yang hampir tidak terdeteksi, seperti kilat yang muncul dan menghilang dalam sepersekian detik.


"Dari Tanah Laut?" ulangnya.


"Nggeh, Ustad."


"Ibumu... siapa namanya?" Ustad Rafi bertanya tiba-tiba.


Zahra terdiam sesaat. "Mayang, Ustad. Mayang Sari."


Ustad Rafi menggenggam tangannya di atas meja. Bibirnya tidak bergerak, tapi matanya berbicara banyak sekali — tentang sesuatu yang lama terkubur dan baru saja ditusuk oleh dua kata itu.


*Mayang Sari.*


"Astaghfirullah..." bibirnya akhirnya bergerak, sangat pelan.


Zahra memandang wajah lelaki itu dengan seksama. Ini bukan wajah orang yang tidak mengenal ibunya.