"Ini saya, Pak. Zahra." Zahra langsung mengenali suara itu β€” Pak Wahid Sudarmanto, bapak angkatnya yang sedang bersiap menuju mushola untuk shalat Subuh.


Tak lama kemudian, cahaya senter menerangi wajah Zahra yang kotor belepotan. Pak Wahid β€” lelaki sepuh berusia sekitar enam puluhan dengan rambut memutih di pelipis β€” menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kondisi anak angkatnya.


"Kamu habis dari mana, Nduk? Kotor sekali badanmu." Ia menerangi wajah Zahra dengan senternya.


"Ada yang minta tolong, Pak." Zahra cengengesan.


"Kapan kamu ini bisa hidup normal seperti anak-anak lain?" desah Pak Wahid sambil mengelus dadanya.


"Zahra mau ke rumah Nita dulu, Pak. Monggo, Pak, shalat dulu."


Pak Wahid memandangi punggung anak angkatnya yang berlari menghilang ke dalam kegelapan pagi dengan perasaan campur aduk antara khawatir dan bangga. Wahid Sudarmanto adalah pemilik kebun lada terluas di daerah Tanah Laut, Kalimantan Selatan β€” seorang lelaki terpandang yang sembilan belas tahun lalu menemukan seorang wanita setengah pingsan di ladangnya, wanita yang tidak lama kemudian melahirkan bayi perempuan bernama Zahra.


🌿🌿🌿


Zahra berlari ke arah utara, menembus jalan setapak yang basah oleh embun pagi. Meski tubuhnya lelah dan betisnya penuh goresan, ia tidak merasakan kecapekan yang berarti. Sejak kecil ia ditempa dengan latihan fisik keras di perguruan pencak silat Tapak Sakti, dan tubuhnya sudah terbiasa.


Rumah Nita berada di ujung kampung, sebuah rumah papan sederhana dengan lampu yang masih menyala di dalam. Zahra yakin orang tua Nita tidak akan menyadari bahwa nyawa anak mereka sedang dalam bahaya β€” karena tubuh Nita akan terlihat seperti orang tidur lelap, padahal sukmanya sudah melayang jauh.


Zahra duduk bersila di depan jendela kamar Nita. Ia mengeluarkan cincin delima merah dari jarinya dan meletakkannya di atas rumput yang masih basah embun. Kemudian dari punggungnya, dua asap putih keluar perlahan, membentuk dua ekor elang berbulu keemasan yang memandangnya dengan mata yang jernih dan cerdas.


"Yai Jaga, Nyai Jaga," bisik Zahra, "tolong satukan sukma Nita kembali ke tubuhnya. Waktu kita tidak banyak."


Pasangan makhluk gaib berwujud elang itu terbang mendekati cincin, kemudian berubah menjadi asap setelah menyedot energi dari dalamnya. Mereka melayang memasuki kamar Nita melalui celah jendela, lalu kembali ke dalam tubuh Zahra beberapa saat kemudian.


"Alhamdulillah." Zahra menghembuskan napas lega. "Terima kasih, Yai, Nyai. Tugasku malam ini selesai."


Ia berdiri, mengibaskan kotoran dari pakaiannya, lalu berlari kecil kembali menuju rumah Pak Wahid.


🌿🌿🌿


Dua hari kemudian, di beranda rumah kayu jati yang luas dan rapi, Pak Wahid duduk berhadapan dengan Zahra sambil menikmati teh hangat dan kue cucur pagi hari.


"Kamu benar-benar yakin mau berangkat sekarang, Nduk?" Pak Wahid bertanya dengan nada setengah khawatir. "Sebentar lagi bulan Ramadhan. Kenapa tidak menunggu setelah lebaran?"


"InsyaAllah siap, Pak." Zahra menyeruput tehnya. "Seratus hari ibu sudah berlalu tiga hari lalu. Sudah saatnya Zahra mencari jati diri. Ibu hanya meninggalkan satu petunjuk: Pondok Pesantren Ar-Ridho di Banjarmasin, dan nama Ustad Rafi Hidayatullah. Doakan Zahra, Pak."


Pak Wahid mendesah panjang. "Doaku selalu bersamamu. Kamu sudah kuanggap anak kandung, Nduk." Ia menatap jauh ke arah ladang yang masih berkabut. "Sembilan belas tahun lalu, ibumu Mayang datang ke ladangku dalam keadaan lemah dan hampir pingsan kelaparan. Aku dan ibu angkatmu menampungnya. Kasihan sekali nasib ibumu β€” seluruh keluarganya habis, rumahnya dibakar massa."


Zahra mengangguk pelan, mendengarkan cerita yang sudah ribuan kali ia dengar namun tidak pernah bosan.


"Ibumu wanita yang sangat tegar, Nduk," lanjut Pak Wahid. "Setelah melahirkanmu, banyak pria yang ingin meminangnya. Tapi Mayang menolak semua. Dia fokus membesarkanmu, memastikan kamu sekolah dan belajar agama dengan baik. Ibu angkatmu yang mengajaknya tinggal bersama kami. Alhamdulillah, ibumu akhirnya menemukan kedamaian hatinya di sini."


Bu Wahid β€” ibu angkat Zahra β€” sudah meninggal empat tahun yang lalu. Pasangan itu hanya memiliki satu anak laki-laki yang sudah berumah tangga dan tinggal di kota.


Pak Wahid mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya β€” amplop putih tebal yang disodorkan kepada Zahra. "Ini bekal perjalananmu. Semoga Allah memudahkan jalanmu."


Mata Zahra memanas. Ia tidak sanggup menahan air mata yang menggenang. "Bapak sudah terlalu baik pada Zahra dan Ibu. Berkat Bapak, Zahra bisa sekolah. Berkat Bapak, Zahra bisa belajar agama. Zahra tidak tahu bagaimana membalasnya."


"Jangan bicara balas membalas, Nduk. Ini sudah kewajiban." Pak Wahid menepuk tangan Zahra dengan lembut. "Kalau nanti keluargamu di sana kurang menerima kehadiranmu, pulanglah. Selalu ada tempat untukmu di sini."


Setelah berpamitan dan menitipkan salam untuk Mas Ridwan β€” anak angkat Pak Wahid β€” Zahra pun melangkah keluar dari rumah yang selama ini menjadi surganya. Ojek motor sudah menunggu di ujung jalan, siap mengantarkannya ke terminal bus kota Tanah Laut.


🌿🌿🌿


Perjalanan darat dari Tanah Laut ke Banjarmasin memakan waktu hampir empat jam. Zahra menghabiskan waktu perjalanan dengan membaca buku tipis tentang sejarah Kesultanan Banjar dan melihat pemandangan hutan karet yang berganti dengan sawah, lalu berganti lagi dengan perkebunan kelapa sawit yang hijau tak bertepi.


Di saku bajunya, ada cincin emas bermata batu hijau tosca β€” satu-satunya peninggalan ibunya. Mayang tidak pernah menceritakan siapa pemberi cincin itu, namun di bagian dalamnya Zahra bisa membaca inisial yang terukir halus: "R.H & S.A." β€” inisial yang tidak dikenali Zahra, tapi yang selama ini membuatnya penasaran.


Kini inisial itu membawanya ke Banjarmasin. Membawanya mencari seseorang bernama Ustad Rafi Hidayatullah.


Bis berhenti di depan gerbang Pondok Pesantren Ar-Ridho yang menghadap ke Sungai Martapura. Zahra turun sambil membawa ransel hitamnya yang tidak terlalu berat. Ia berdiri lama memandang gerbang besi hitam yang setengah terbuka itu.


Debarannya tidak wajar β€” bukan sekadar gugup, tapi sesuatu yang lebih dalam, seperti ada bagian dari dirinya yang sudah pernah berada di tempat ini tanpa ia sadari.


Pletak!


Sebuah kerikil kecil menghantam bahunya dari arah kiri. Zahra langsung waspada.


Di sisi kiri gerbang pesantren, tumbuh sebatang pohon beringin tua yang rimbun dan besar. Di bawahnya ada sebuah bangku kayu sederhana yang sudah berlumut di bagian bawahnya. Sinar sore yang keemasan membuat pohon itu tampak anggun dan misterius sekaligus.


Zahra celingukan mencari siapa yang usil melempar kerikil. Tidak ada siapapun.


"Hei," ia berbisik ke arah pohon, "mau kenalan? Ayo keluar, jangan sembunyi."


Angin berhembus, menjatuhkan puluhan biji beringin yang menghujani kepala dan bahu Zahra.


"Oke, oke. Makasih sudah menyapa."


"Maaf, Mbak." Sebuah suara yang berat dan sopan membuat Zahra menoleh.


Di hadapannya berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun β€” tampan dengan dahi yang lebar dan mata yang jernih, mengenakan baju koko putih dan sarung hijau. Dan di belakang pemuda itu, Zahra melihat sesuatu yang membuat detak jantungnya berubah ritme.


Sosok hitam bermata merah seperti bara api, berdiri persis di belakang pemuda itu, memeluk bahunya dari belakang.


---