Pemuda itu menundukkan pandangannya ketika ia menyadari bahwa Zahra memandangnya dengan tatapan yang sangat intens β€” bukan tatapan biasa, tapi tatapan yang seolah melihat sesuatu jauh di belakangnya.


"Maaf mengganggu. Njenengan siapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya pemuda itu sopan.


"Aku Zahra Azkiya. Aku ke sini mau bertemu Ustad Rafi."


"Oh." Pemuda itu mengangguk. "Ustad Rafi Hidayatullah sudah lama tidak menetap di sini. Sekarang beliau mendirikan pesantren sendiri di daerah Sungai Tabuk, sekitar empat belas kilometer dari sini."


Zahra mengangguk mencerna informasi itu. "Baiklah. Terima kasih, Kang."


"Njenengan mau nyantri di sana? Oh ya, saya dulu Kang Ndalem di pesantren ini."


"Mungkin." Zahra mulai melangkah pergi.


Satu. Dua. Tiga. Pada langkah keempat, Zahra berbalik. Pemuda itu masih berdiri di tempat yang sama dengan sorot mata yang mulai kosong β€” dan sosok hitam bermata merah di belakangnya semakin erat memeluknya.


"Kang!"


Pemuda itu tersadar dan tergopoh mendekat. "Iya?"


"Jangan sering melamun, Kang. Nanti kerasukan."


"Ha?"


"Perbanyak dzikir, Kang. Walau dalam hati." Zahra membalikkan badan lagi dan melanjutkan langkahnya. Di belakangnya, pemuda itu masih berdiri kebingungan dengan telinga yang memerah.


Namanya, Zahra baru tahu belakangan, adalah Fariz β€” Fariz Abdurrahman, mantan kang ndalem Pesantren Ar-Ridho yang kini bekerja sebagai pengurus masjid dekat sana.


Zahra melanjutkan perjalanannya ke arah halte bus. Pesantren Ustad Rafi ada di Sungai Tabuk. Dan sambil menunggu bus, Zahra memutuskan untuk mampir dulu ke makam Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari di Dalam Pagar β€” salah satu ulama besar Kalimantan yang sangat ia kagumi.


🌿🌿🌿


Tiga jam kemudian, Zahra sudah berdiri di depan Pondok Pesantren Nur Al-Ikhlas di tepian Sungai Tabuk yang tenang. Pesantren ini jauh lebih kecil dari Ar-Ridho, tapi justru terasa lebih hidup. Bangunan kayu berwarna hijau muda dengan ukiran khas Banjar menghiasi setiap sudutnya. Di sebelah kiri, ada masjid kecil yang kubahnya berwarna hijau toska. Di seberang jalan, aliran Sungai Tabuk mengalir pelan membawa batang-batang kayu hanyut.


Zahra mengeluarkan cincin peninggalan ibunya dari saku, meneliti inisial di dalamnya sekali lagi, lalu memasukkannya ke dalam kantong kecil di ranselnya. Ia menghirup napas panjang.


"Bismillah." Ia mengetuk pintu pagar kayu ndalem.


"Assalamualaikum."


Pintu terbuka. Seorang gadis yang tampaknya dua atau tiga tahun lebih tua dari Zahra menyambutnya dengan senyum ramah.


"Waalaikumsalam. Mencari siapa, Mbak?"


"Ustad Rafi ada? Saya... saya ada perlu."


Gadis itu β€” yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Mbak Lina β€” menyuruh Zahra menunggu di teras. Tidak lama, seorang wanita paruh baya berbadan subur dengan wajah yang sangat ramah keluar sambil mengulurkan tangan.


"Assalamualaikum. Saya Umi Halimah. Dari mana, Nduk?"


"Waalaikumsalam, Umi. Saya Zahra Azkiya dari Tanah Laut." Zahra mencium tangan lembut itu. "Saya ingin mengabdi di pesantren ini selama bulan Ramadhan, kalau diizinkan. Dan kalau ada lowongan kerja, saya juga sedang mencari pekerjaan."


Umi Halimah memandang gadis di hadapannya dengan tatapan yang hangat dan penuh rasa ingin tahu. "MasyaAllah, jauh sekali, Nduk."


"Nggeh, Umi."


Setelah berbincang sebentar dan menyerahkan kartu identitas, Zahra pun diterima sebagai abdi ndalem sementara selama Ramadhan. Mbak Lina mengajaknya masuk melalui samping rumah ndalem, menunjukkan dapur lebar yang akan menjadi tempatnya bekerja, serta kamar sederhana di belakang yang akan ditempatinya.


"Total santri di sini seratus dua puluh orang," Mbak Lina menjelaskan sambil memotong-motong sayur kangkung. "Enam puluh santri putra, enam puluh putri. Semua anak yatim dan dhuafa yang belajar gratis. Ustad Rafi yang menanggung semua biayanya sendiri."


"Subhanallah." Zahra tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.


"Ada Kang Ndalem yang membantu di sini. Tapi tenang, kamarnya di asrama masjid."


Zahra mengangguk-angguk sambil membantu Mbak Lina. Di sudut benaknya, ia terus memikirkan bagaimana cara menyampaikan kepada Ustad Rafi tentang siapa dirinya sebenarnya. Ibunya Mayang berpesan agar Zahra mencari Ustad Rafi dan memberitahu bahwa ada keturunannya yang hidup di dunia ini. Apakah itu artinya Ustad Rafi adalah ayah kandungnya? Zahra tidak tahu. Ibunya pergi tanpa sempat menjelaskan lebih jauh.


"Mbak Zahra?" Mbak Lina tiba-tiba menegur. "Ada yang kurang? Kenapa melamun?"


"Nggak, Mbak. Maaf." Zahra tersenyum dan kembali menghiris bawang merah.


Saat itulah pintu dapur terbuka dan seseorang masuk membawa beberapa kardus yang ditumpuk tinggi.


"Mbak Lina, kurma titipan donatur sudah datang. Naruh di sini dulu ya, Mbak."


Zahra mendongak β€” dan mengulang-ulang pertemuannya dengan wajah yang tidak asing.


"Kang... Kang yang kerasukan?"


Pemuda itu nyaris menjatuhkan kardus di tangannya. Ia menatap Zahra dengan ekspresi terkejut bercampur tidak percaya. "Mbak Zahra? Kok bisa ada di sini?"


"Pertanyaan yang sama buatmu, Kang." Zahra tersenyum miring.


Fariz Abdurrahman β€” Kang Kerasukan, sebutan yang langsung melekat dalam benak Zahra β€” meletakkan kardus-kardus itu dan menggaruk tengkuknya dengan ekspresi canggung.