Hujan badai menghantam atap seng Klinik Pelita Harapan dengan beringas, seolah langit perbatasan sedang menumpahkan seluruh kemarahannya malam itu. Suara deru air yang memekakkan telinga nyaris menenggelamkan suara napas tersengal dari atas brankar besi berkarat di tengah ruangan.
Alya menekan kain kasa tebal ke bahu kiri pria itu. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena kelelahan yang menggerogoti otot-ototnya. Darah merah pekat merembes dengan cepat, menodai sarung tangan lateks putihnya, mengalir melewati sela-sela jarinya dan menetes ke lantai keramik yang dingin.
"Bertahanlah. Kumohon, tetap buka matamu," gumam Alya, suaranya bergetar menahan panik. Aroma karat dari darah bercampur dengan bau tajam antiseptik dan tanah basah memenuhi udara ruangan yang sempit itu.
Pria di bawah tangannya mengerang. Wajahnya tertutup lumpur dan luka gores, bibirnya pucat pasi. Tidak ada identitas. Tidak ada dompet. Hanya sepotong kain hitam kotor yang melilit lehernya dan jaket kanvas yang kini telah digunting Alya untuk mencapai luka tembak tersebut. Ya, luka tembak. Di desa terpencil ujung negeri ini, peluru bersarang di tubuh seseorang bukanlah kecelakaan biasa.
Alya baru saja meraih jarum suntik berisi anestesi lokal ketika pintu depan klinik ditendang terbuka dengan kasar.
Brak!
Angin malam yang dingin dan tempias hujan langsung menerobos masuk, membuat lampu neon di langit-langit berkedip redup. Alya tersentak, menoleh dengan cepat.
Tiga siluet tegap melangkah masuk, membawa serta aura intimidasi yang membuat udara di dalam ruangan terasa menipis. Air hujan menetes dari helm taktis dan seragam loreng yang mereka kenakan. Di barisan paling depan, melangkah seorang pria dengan rahang tegas dan tatapan mata setajam elang yang mengunci langsung ke arah Alya.
Kapten Arga.
Sepatu lars militernya meninggalkan jejak lumpur tebal di lantai klinik yang baru saja dipel Alya sore tadi. Pria itu menurunkan laras senapannya, tetapi posturnya tetap waspada, menegang layaknya predator yang baru saja menyudutkan mangsanya.
"Hentikan apa pun yang sedang Anda lakukan, Suster Alya. Menjauh dari pria itu," suara Arga menggelegar, berat, dingin, dan sama sekali tidak menerima bantahan. Suaranya mengalahkan deru hujan di luar.
Alya mematung selama satu detik, matanya melebar melihat laras senjata api dan seragam basah itu. Namun, detik berikutnya, insting perawatnya mengambil alih. Ia kembali menekan luka sang pasien.
"Anda gila, Kapten? Pria ini kehabisan darah! Jika saya membiarkannya lima menit saja, dia akan mati di meja ini!" balas Alya, suaranya melengking tajam. Ia menatap nyalang ke arah perwira TNI di depannya.
Arga melangkah maju, memperpendek jarak hingga Alya bisa mencium bau mesiu dan hujan dari seragam pria itu. Wajah Arga datar, tanpa emosi, layaknya dinding beton yang tak bisa ditembus.
"Pria yang sedang Anda tolong itu bukan warga sipil biasa, Suster. Dia adalah bagian dari kelompok penyelundup bersenjata yang baru saja kontak tembak dengan peleton saya di sektor timur. Dia adalah ancaman negara. Serahkan dia kepada kami. Sekarang."
Alya merasakan jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul tulang rusuknya. Tapi ia justru mencengkeram brankar lebih erat, memosisikan tubuhnya seolah menjadi perisai bagi pria asing yang tengah sekarat di belakangnya.
"Saya tidak peduli siapa dia di luar sana, Kapten!" desis Alya, matanya berkilat penuh kemarahan. "Di luar garis pintu itu, dia mungkin musuh Anda. Tapi di dalam klinik ini, di bawah atap ini, dia adalah pasien saya! Dan tugas saya adalah memastikan nyawa tidak melayang sia-sia!"
Rahang Arga mengeras. Otot di pelipisnya berkedut samar. Dalam hati, Arga merutuki keras kepalanya perempuan di depannya ini. Alya baru bertugas tiga bulan di perbatasan, dan idealismenya yang naif sudah berkali-kali membuat kepala Arga pening. Perempuan ini tidak mengerti kegelapan macam apa yang bersembunyi di balik rimbunnya hutan perbatasan.
"Idealisme Anda akan membunuh Anda sendiri, Alya," suara Arga merendah, berubah menjadi geraman tertahan. Ia memberi isyarat dengan kepalanya kepada dua anak buahnya. "Sersan, amankan target."
"Jangan berani-berani menyentuhnya!" Alya setengah berteriak, merentangkan satu lengannya. Tangannya yang berlumuran darah nyaris mengenai dada Arga. "Ini wilayah medis! Kalian tidak bisa membawa pasien kritis yang bahkan belum distabilkan! Apakah kalian ingin membunuhnya perlahan di tengah jalan hujan badai begini?!"
Dua prajurit itu ragu, melirik ke arah komandan mereka. Arga memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang yang terdengar berat. Saat matanya kembali terbuka, tatapan itu berubah lebih kelam. Bayangan masa lalunya—darah, wajah yang pucat, kegagalan yang terus menghantuinya—berkelebat cepat sebelum ia menguncinya rapat-rapat di sudut pikirannya.
"Anda pikir menyelamatkan satu nyawa ini membuat Anda menjadi pahlawan?" Arga mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya nyaris berbisik namun menusuk tepat ke ulu hati Alya. "Pria di belakang Anda itu... jika dia hidup, dia akan membawa belasan nyawa lain ke neraka. Keamanan ratusan warga desa ini ada di atas satu nyawa bajingan penyelundup. Minggir."
"Tidak," jawab Alya. Suaranya tidak lagi berteriak, melainkan bergetar karena emosi yang tertahan. Air mata frustrasi menggenang di pelupuk matanya. "Saya sudah pernah melihat seseorang mati karena saya terlambat. Saya tidak akan membiarkannya terjadi lagi di depan mata saya. Terutama tidak karena arogansi seorang tentara."
Kata-kata Alya seolah menampar Arga. Hening sesaat menguasai ruangan itu, hanya menyisakan deru napas keduanya yang saling beradu di udara dingin. Mata Arga menyipit, mencoba mencari celah keraguan di mata cokelat Alya, namun ia hanya menemukan dinding baja yang sama kerasnya dengan miliknya.
Arga akhirnya menegakkan tubuh. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat kepada pasukannya untuk mundur satu langkah.
"Beri dia waktu lima belas menit untuk menjahit lukanya," perintah Arga tanpa menatap anak buahnya, matanya masih terkunci pada Alya. "Setelah pendarahannya berhenti, dia kami bawa. Dan Anda tidak punya hak lagi untuk mencegah."
Alya menelan ludah, dadanya naik turun. Lima belas menit tidak cukup, tapi itu satu-satunya kompromi yang bisa ia dapatkan dari perwira berhati batu ini. Tanpa membuang waktu, ia berbalik, kembali sibuk dengan peralatan medisnya. Tangannya bergerak cepat, membersihkan luka, menjahit jaringan yang robek, mengabaikan tatapan tajam Arga yang seolah membakar punggungnya.
Dua belas menit berlalu dalam ketegangan yang mencekik. Hujan di luar mulai mereda, menyisakan rintik-rintik kasar.
Alya baru saja memotong benang jahit terakhir dan menempelkan perban penutup. Ia membuang napas lega yang panjang. Pria itu masih belum sadar, tapi denyut nadinya mulai terasa lebih konstan di monitor usang di sudut ruangan.
Arga melangkah maju. "Waktu habis, Suster."
Alya berbalik untuk melayangkan protes terakhirnya. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, sebuah tangan sedingin es tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dari belakang.
Alya terkesiap, tubuhnya tersentak.
Pria yang terbaring sekarat itu... matanya tiba-tiba terbuka lebar, merah dan dipenuhi teror yang luar biasa. Cengkeramannya pada tangan Alya begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih.
Arga seketika mengangkat senjatanya, waspada.
Pria itu tidak menatap Arga. Matanya yang melotot ngeri menatap lurus ke arah Alya. Bibirnya yang kering dan pecah-pecah bergerak lambat. Pria itu menarik napas panjang yang terdengar seperti bunyi gemeratak ranting patah, lalu berbisik dengan suara serak yang membuat darah Alya seketika membeku.
"Mereka... ada di dalam..."
Lalu, mata pria itu bergulir ke atas, dan tangannya terkulai jatuh dari pergelangan Alya. Mesin monitor jantung menjerit dengan nada panjang yang memekakkan telinga.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar