Nada panjang dari monitor jantung itu terasa seperti sirene yang memperingatkan adanya bencana. Alya langsung bereaksi, meraih alat kejut jantung (defibrilator) portabel yang selalu ia siapkan di sudut meja.

"Menjauh darinya!" seru Alya, menyenggol bahu Arga yang mencoba mendekat.

Arga menatap tajam ke arah pasien yang kini kejang ringan sebelum tubuhnya melemas seutuhnya. Pasukan Arga sudah bersiaga penuh di ambang pintu, siap mengamankan target.

"Dia henti jantung! Saya harus melakukan resusitasi!" Tangan Alya bergerak cepat menekan dada pria itu, memompa dengan ritme konstan yang ia hafal di luar kepala. Satu, dua, tiga... ayolah, bernapas! Keringat dingin membasahi dahi Alya. Bayangan wajah pucat dari masa lalunya—wajah seseorang yang nyawanya melayang dari sela-sela jarinya bertahun-tahun lalu—kembali menghantui pandangannya, bertumpang tindih dengan wajah kotor pria asing ini.

“Mereka… ada di dalam…” Bisikan terakhir pria itu terus terngiang di telinga Alya seiring irama kompresi tangannya. Siapa yang ada di dalam? Di dalam militer? Di dalam desa? Di dalam klinik?

Setelah tiga menit yang terasa seperti selamanya, monitor kembali berkedip. Garis lurus itu perlahan berubah menjadi kurva bergelombang. Napas pria itu kembali, meski sangat tipis dan tersendat.

Alya merosot ke lantai, bersandar pada kaki brankar. Kakinya gemetar tak bisa menopang berat badannya sendiri. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang masih terbungkus sarung tangan bernoda darah.

Arga menatap perempuan yang sedang terduduk itu. Ada secercah kilat simpati di mata sang Kapten, tapi ia segera memadamkannya. Di perbatasan, simpati adalah kelemahan yang bisa dimanfaatkan musuh.

"Sersan Budi, Pratu Anton, amankan perimeter klinik. Pastikan tidak ada orang lain yang mengikuti jejak darahnya ke sini," perintah Arga tegas. "Tunggu sampai dia cukup stabil untuk dipindahkan. Kita bawa dia besok pagi."

Arga kemudian menunduk, menatap Alya yang perlahan menurunkan tangannya. Pria itu mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan taktis. Alya menatap uluran tangan itu sesaat sebelum mengabaikannya, memilih bangkit sendiri dengan berpegangan pada pinggiran brankar.

"Jangan keras kepala," ucap Arga pelan, nyaris seperti gumaman.

"Saya hanya melakukan pekerjaan saya," balas Alya dingin, melepas sarung tangan lateksnya dan membuangnya ke tempat sampah medis. "Sekarang, jelaskan padaku, Kapten. Apa maksud bisikan orang ini? Apa yang sebenarnya terjadi di wilayah ini?"

Arga tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju jendela kecil klinik, menyingkap tirainya sedikit. Kegelapan hutan di luar sana terlihat pekat, menyimpan ribuan rahasia yang tak tersentuh cahaya bulan.

"Garis perbatasan bukan sekadar patok beton di tengah hutan, Suster," suara Arga memecah keheningan yang tersisa. "Itu adalah garis imajiner yang memisahkan aturan dan kebiadaban. Bagi Anda, orang ini adalah manusia yang terluka. Bagi kami, dia adalah pion dari kartel yang memperdagangkan obat terlarang, dan... mungkin hal-hal yang lebih buruk lagi."

Alya mengerutkan kening, melipat kedua tangannya di dada untuk menahan udara malam yang dingin. "Manusia? Apakah mereka menyelundupkan manusia?"

Arga menoleh. Tatapannya kembali mengeras. "Itu bukan urusan Anda. Tugas Anda hanya mengobati warga desa yang demam atau kena parang saat berkebun. Berhenti ikut campur dalam urusan yang bisa mengancam nyawa Anda sendiri. Di sini, tahu terlalu banyak adalah hukuman mati."

"Saya bukan anak kecil yang bisa Anda takut-takuti, Kapten!" suara Alya meninggi. "Saya ada di sini karena warga desa butuh akses kesehatan. Dan sekarang, klinik saya diinvasi oleh tentara berbaju basah di tengah malam, pasien saya dituduh sebagai kartel, dan dia berbisik bahwa 'mereka ada di dalam'. Anda pikir saya bisa tidur nyenyak dan pura-pura tidak tahu?!"

Arga melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Ia berdiri menjulang di atas Alya.

"Anda harus pura-pura tidak tahu," tekan Arga, setiap suku katanya sarat akan peringatan berbahaya. "Karena kalau Anda bertindak sok pahlawan, bukan hanya nyawa Anda yang hilang. Anda membahayakan operasi kami. Anda membahayakan warga desa yang Anda klaim ingin Anda lindungi."

Alya membalas tatapan itu tanpa berkedip, meski jantungnya bertalu liar. Di balik sikap dingin pria ini, Alya bisa melihat sesuatu yang gelap. Beban yang terlalu berat. Rasa bersalah yang dipendam terlalu dalam.

"Kita lihat saja nanti, Kapten," bisik Alya menantang.

Arga mendengus pelan, lalu berbalik keluar dari ruangan rawat inap, berjaga di ruang depan bersama anak buahnya.

Malam itu, tak satu pun dari mereka memejamkan mata.

Pagi datang membawa kabut tebal yang menyelimuti Desa Sukahilang. Hujan telah reda, namun tanah merah masih becek dan lengket. Kokok ayam dari kejauhan memecah kesunyian fajar.

Alya sedang menyeduh kopi hitam di dapur kecil belakang klinik ketika Bu Ningsih, seorang wanita paruh baya yang sering membantunya bersih-bersih, datang dengan wajah cemas.

"Suster Alya, Suster ndak apa-apa toh?" tanya Bu Ningsih sambil meletakkan rantang berisi singkong rebus di atas meja. Matanya melirik awas ke arah pintu depan yang masih dijaga oleh Pratu Anton.

"Saya tidak apa-apa, Bu Ning. Hanya... pasien darurat semalam," jawab Alya tersenyum tipis, mencoba menenangkan wanita itu.

Bu Ningsih mendekat, suaranya diturunkan menjadi bisikan yang sangat pelan. "Desa ini mulai tidak aman, Sus. Tadi subuh, Pak Kades bilang, bapak-bapak loreng mondar-mandir semalaman di batas hutan. Belum lagi, minggu lalu, anak laki-lakinya Kang Maman yang biasa cari kayu bakar ndak pulang-pulang. Orang-orang pada takut, Sus. Malam-malam dengar suara motor trail banyak sekali masuk ke arah hutan larangan."

Tangan Alya yang memegang cangkir kopi mendadak kaku. Warga desa menghilang? Suara motor di malam hari? Perkataan Arga semalam kembali terngiang. Ini bukan sekadar kontak tembak biasa. Ada aktivitas berskala besar yang sedang terjadi di wilayah ini.

"Anaknya Kang Maman hilang? Sudah dilaporkan ke pos jaga TNI, Bu?" tanya Alya serius.

Bu Ningsih menggeleng ketakutan. "Mana berani, Sus! Kata orang-orang... ada yang lihat bayangan berseragam aneh malam itu. Bukan seragam TNI kita. Warnanya beda. Makanya warga tutup mulut, takut kalau melapor malah sekeluarga yang diangkut."

Darah Alya berdesir. Bayangan berseragam aneh. Mereka ada di dalam.

"Suster... Suster!" panggilan setengah berteriak dari ruang depan memutus pembicaraan mereka.

Alya segera meletakkan cangkirnya dan berlari ke ruang depan, diikuti Bu Ningsih yang memucat. Di sana, Kapten Arga sedang berdiri kaku di depan pintu ruang rawat inap pasien semalam. Urat-urat di lehernya menonjol, menahan amarah yang siap meledak.

"Di mana dia?!" bentak Arga saat Alya mendekat.

"Apa maksud Anda? Dia ada di—"

Alya terhenti di ambang pintu, napasnya tercekat. Matanya membelalak tak percaya.

Brankar besi itu kosong. Selimut berlumuran darah itu tersingkap ke lantai. Infus dan kabel monitor jantung telah dicabut paksa, ujungnya menjuntai meneteskan cairan ke atas keramik.

Alya berlari ke arah jendela di sisi ruangan. Jendela berteralis kayu itu terbuka lebar, engselnya patah. Tirai tipisnya berkibar pelan ditiup angin pagi yang membawa kabut masuk ke dalam ruangan. Di ambang jendela, terdapat noda darah segar yang membentuk cap tangan berantakan.

"Mustahil," bisik Alya, menggelengkan kepalanya pelan. "Dia henti jantung beberapa jam yang lalu. Kondisinya kritis. Tidak mungkin dia punya tenaga untuk membongkar teralis ini dan kabur begitu saja..."

Arga mendekati jendela, menyentuh noda darah itu dengan ujung jarinya yang bersarung tangan. Darahnya masih segar. Ia melongok ke luar. Jejak kaki samar terlihat menuju arah hutan belantara yang diselimuti kabut tebal, sebelum akhirnya menghilang ditelan rimbunnya semak berduri.

Arga berbalik, menatap Alya dengan sorot mata yang jauh lebih dingin dan mematikan dari malam sebelumnya. Udara di ruangan itu mendadak terasa mencekik.

"Dia tidak kabur sendiri, Alya," suara Arga pelan, namun getarannya membuat bulu kuduk Alya berdiri. Pria itu menunjuk ke lantai di bawah jendela, di mana terdapat jejak sepatu bot tebal berbahan karet lumpur—jejak yang jelas bukan milik sang pasien, dan bukan standar militer milik tim Arga.

"Seseorang dari luar baru saja masuk... dan membawanya." Arga menatap tepat ke manik mata Alya yang kini dipenuhi kebingungan dan teror. "Seseorang telah mengawasi klinik Anda sepanjang malam. Dan Anda, baru saja masuk ke dalam daftar target mereka."