Hutan perbatasan di malam hari adalah makhluk yang berbeda. Jika di siang hari ia adalah labirin hijau yang menyesakkan, maka di malam hari ia berubah menjadi entitas hitam yang seolah bernapas. Suara serangga hutan bersahut-sahutan, menciptakan simfoni monoton yang justru membuat kesunyian terasa lebih menekan.
Kapten Arga menyesuaikan alat penglihatan malamnya (night vision goggles). Dunia di depannya berubah menjadi gradasi hijau elektrik. Ia memberi isyarat tangan kepada Sersan Budi dan tiga anggota tim lainnya untuk menyebar. Mereka bergerak tanpa suara, sepatu lars mereka seolah menyatu dengan lantai hutan yang empuk oleh dedaunan busuk.
Pikirannya masih terganggu oleh Suster Alya. Setelah penyisiran pagi tadi gagal menemukan jejak lebih lanjut, Arga kembali ke klinik hanya untuk menemukan bangunan itu kosong. Alya menghilang.
"Wanita itu benar-benar ingin mati," gerutu Arga dalam hati. Amarahnya memuncak, bukan hanya karena Alya melanggar perintah, tapi karena ada rasa cemas yang tidak seharusnya ada di sana. Alya adalah tanggung jawabnya sebagai komandan wilayah, namun lebih dari itu, ada sesuatu tentang keberanian nekat perempuan itu yang mulai mengusik ketenangan profesional Arga.
Sementara itu, beberapa ratus meter di belakang tim Arga, Alya merangkak di balik pohon besar dengan napas tertahan. Ia melakukan kesalahan fatal: ia mengikuti tim Arga. Alya tahu ia tidak akan bisa menemukan gua itu lagi sendirian dalam kegelapan, jadi ia memutuskan untuk membuntuti mereka, berharap para tentara itu akan menuntunnya ke lokasi yang sama.
Namun, hutan tidak memihak pada amatir. Ranting pohon yang tadinya diam kini terasa seperti tangan-tangan yang mencoba menarik tas medisnya. Setiap langkah Alya terasa seperti ledakan di telinganya sendiri, meski ia sudah berusaha selembut mungkin.
"Berhenti," suara Arga tiba-tiba terdengar, rendah dan tajam.
Tim Arga membeku. Alya ikut membeku di balik pohon meranti yang lebar. Ia bisa melihat siluet Arga dari kejauhan. Pria itu berdiri tegak, kepalanya miring ke satu sisi seolah sedang mendengarkan detak jantung hutan.
Arga merasakan sesuatu yang salah. Bukan musuh, bukan Gagak Hitam. Tapi ada irama langkah yang tidak sinkron dengan timnya. Ada bau yang tidak asing—bau sabun antiseptik yang tipis, aroma yang selalu menguar dari Klinik Pelita Harapan.
Arga memberi isyarat agar timnya terus maju, sementara ia sendiri memutar jalan, menghilang di balik kegelapan dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi manusia biasa.
Alya menunggu beberapa saat. Saat ia merasa tim itu sudah cukup jauh, ia bersiap untuk melangkah lagi. Namun, saat ia berbalik, sebuah tangan besar yang kuat tiba-tiba membekap mulutnya dan tangan lainnya mengunci pinggangnya, menariknya ke belakang pohon dengan kekuatan yang luar biasa.
Alya meronta, matanya membelalak ketakutan. Ia sudah bersiap untuk menggigit tangan itu ketika suara yang sangat ia kenal berbisik tepat di telinganya.
"Jika Anda bersuara, saya akan memastikan Anda dikirim kembali ke Jakarta dengan tangan terborgol besok pagi."
Alya seketika lemas. Itu Arga.
Arga melepaskan bekapannya perlahan, namun ia tidak melepaskan cengkeramannya di bahu Alya. Ia memutar tubuh perempuan itu untuk menghadapnya. Dalam kegelapan, mata Arga tampak berkilat penuh kemarahan yang tertahan.
"Apa yang Anda lakukan di sini?!" desis Arga. Suaranya ditekan sedemikian rupa hingga nyaris tidak terdengar, namun setiap katanya terasa seperti sabetan cemeti.
"Saya... saya menemukan mainan kayu anak Kang Maman di dekat sini," bisik Alya balik, suaranya gemetar antara takut dan keras kepala. "Ada gua di depan sana, Kapten. Saya mendengar suara tangisan."
Arga terdiam sesaat. Rahangnya mengeras. "Gua?"
"Ya. Di balik akar gantung besar. Tolong, mereka mungkin masih ada di sana."
Arga menatap Alya lama, mencoba mencari kebohongan. Namun, yang ia temukan hanya ketakutan yang jujur dan tekad yang membuta. Arga menghela napas, ia menarik Alya lebih dekat ke batang pohon saat seberkas cahaya senter menyapu area di depan mereka.
Bukan senter milik tim Arga. Cahayanya kuning redup, bergoyang-goyang di antara pepohonan.
"Tundukkan kepala," perintah Arga. Ia menarik Alya ke dalam pelukannya, menekan kepala perempuan itu ke dadanya agar mereka tidak terlihat.
Untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar bagi Alya. Ia bisa mendengar detak jantung Arga yang cepat namun stabil di balik seragam lorengnya yang keras dan beraroma tanah. Ada kehangatan yang kontras dengan udara hutan yang membeku. Untuk pertama kalinya, Alya menyadari bahwa di balik sikap dingin dan kejam pria ini, ada seorang pelindung yang siap menjadi perisai bagi siapa pun yang berada di bawah pengawasannya.
Cahaya senter itu lewat. Arga melepaskan pelukannya perlahan, namun matanya tetap waspada.
"Dengarkan saya baik-baik, Alya," ucap Arga, menyebut namanya untuk pertama kali tanpa embel-embel 'Suster'. "Anda sudah berada di zona merah. Tidak ada jalan kembali sekarang. Jika kita bergerak, Anda harus mengikuti setiap langkah saya. Jangan bertanya, jangan berhenti, dan jangan mencoba menjadi pahlawan. Mengerti?"
Alya mengangguk cepat. "Mengerti."
Arga mengeluarkan pistol dari sarungnya, memberikannya kepada Alya. Alya memandangnya seolah pria itu baru saja menyerahkan seekor ular berbisa.
"Saya tidak bisa menggunakan ini," tolak Alya.
"Gunakan untuk menakuti jika perlu. Jangan lepas pengamannya kecuali saya yang menyuruh. Ini hanya untuk berjaga-jaga jika kita terpisah." Arga memaksa Alya menggenggam senjata dingin itu. "Sekarang, tunjukkan di mana gua itu."
Mereka bergerak maju dengan formasi yang aneh—seorang prajurit terlatih dan seorang perawat yang berusaha keras tidak tersandung akar pohon. Arga bergerak seperti bayangan, setiap beberapa meter ia akan berhenti, memastikan keamanan, lalu memberi isyarat pada Alya untuk maju.
Semakin dekat ke lokasi yang dimaksud Alya, udara mulai tercium berbeda. Bukan lagi bau tanah busuk, melainkan bau asap rokok murah dan bau anyir yang samar.
Di depan mereka, akar gantung dari sebuah pohon beringin raksasa menjuntai seperti tirai alam. Di baliknya, kegelapan tampak lebih solid. Itulah mulut gua.
Arga memberi tanda pada radio panggilnya—ketukan dua kali—untuk memberi tahu timnya agar merapat ke koordinatnya. Namun, saat mereka hanya berjarak sepuluh meter dari mulut gua, hutan tiba-tiba menjadi sangat sunyi. Suara serangga yang tadi memekakkan telinga mendadak berhenti total.
Hening yang mematikan.
Arga langsung menarik Alya jatuh ke tanah, menutupi tubuh perempuan itu dengan tubuhnya sendiri.
"Kapten, ada apa?" bisik Alya panik.
"Diam," perintah Arga.
Tepat saat itu, sesosok bayangan muncul dari balik mulut gua. Orang itu mengenakan seragam gelap tanpa lencana, memegang senjata otomatis. Ia tidak sendiri. Dua orang lainnya menyusul, menyeret sebuah karung goni besar yang tampak bergerak-gerak dan mengeluarkan suara rintihan tertahan.
Alya menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir. Itu pasti anak-anak yang hilang.
Salah satu penjaga itu berhenti, ia mengendus udara, lalu menoleh tepat ke arah tempat persembunyian Arga dan Alya. Ia mengeluarkan peluit logam dari sakunya dan meniupnya kuat-kuat.
Suaranya melengking, membelah kesunyian malam.
"LARI!" teriak Arga.
Arga menarik Alya berdiri dan mereka mulai berlari secepat mungkin menembus semak belukar. Di belakang mereka, suara teriakan dalam bahasa yang tidak mereka mengerti bersahut-sahutan.
Dor! Dor! Dor!
Tembakan dilepaskan. Peluru-peluru itu bersarang di batang pohon di sekitar mereka, mengirimkan serpihan kayu yang beterbangan. Arga membalas tembakan sambil terus mendorong Alya agar terus maju.
"Jangan menoleh! Terus ke arah utara!" Arga berteriak di tengah kebisingan peluru yang mendesing.
Alya berlari hingga paru-parunya terasa mau pecah. Namun, langkahnya terhenti saat ia mencapai tepi sebuah lereng curam yang di bawahnya mengalir sungai perbatasan yang deras dan berbatu.
Ia terjebak.
Di belakangnya, Arga berdiri dengan senjata terarah ke arah semak-semak yang terus bergerak. Suara langkah kaki musuh semakin dekat, jumlah mereka jauh lebih banyak dari yang diperkirakan.
Tiba-tiba, dari arah yang berlawanan—bukan dari arah gua, melainkan dari arah desa—terdengar rentetan tembakan yang jauh lebih berat.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar