Ledakan itu merobek langit malam, mengubah awan gelap di atas Desa Sukahilang menjadi lautan warna jingga kemerahan. Gelombang kejutnya terasa hingga ke tepi jurang tempat Alya dan Arga berada, membawa serta embusan angin panas yang membawa bau hangus dari kejauhan.
Waktu seolah melambat. Alya menatap nanar ke arah cahaya api yang menjilat angkasa. Letaknya terlalu spesifik. Terlalu akurat. Itu bukan api dari pembakaran ladang atau kecelakaan rumah tangga. Itu berada tepat di ujung desa, berbatasan langsung dengan jalan setapak menuju hutan.
Itu adalah letak kliniknya.
"Tidak..." bisik Alya, suaranya nyaris hilang ditelan gemuruh api dari kejauhan dan deru sungai di bawah mereka. "Klinik... pasien-pasienku..."
"Awas!"
Teriakan Arga menarik Alya kembali ke dunia nyata dengan cara yang paling brutal. Pria itu menerjang tubuh Alya, mendorongnya hingga mereka berdua menghantam tanah berlumpur tepat ketika rentetan peluru tajam mendesing, merobek udara di tempat Alya berdiri sedetik yang lalu. Pecahan batu dan kulit kayu dari pohon di belakang mereka berhamburan, menghujani punggung Arga yang menutupi tubuh Alya seperti perisai hidup.
"Tetap menunduk!" geram Arga di dekat telinga Alya. Pria itu berguling dengan cepat, mencabut senapan serbunya yang tersampir di punggung, dan membalas tembakan ke arah semak-semak yang bergerak. Tiga kilatan cahaya dari moncong senjata musuh membalasnya.
Suara tembakan di tengah hutan malam itu terdengar memekakkan telinga, bergema memantul dari dinding-dinding tebing di seberang sungai. Alya menutupi telinganya, tubuhnya meringkuk gemetar di balik akar pohon meranti yang menonjol. Matanya perih karena debu dan serpihan tanah yang berterbangan. Ia belum pernah berada sedekat ini dengan kematian. Di Jakarta, kematian datang perlahan di ranjang rumah sakit, diiringi bunyi monitor yang melemah. Di sini, kematian datang dengan kecepatan ratusan meter per detik, mengincar nyawa tanpa pandang bulu.
Radio komunikasi di bahu Arga berdesis keras, disusul suara Sersan Budi yang dipenuhi kepanikan dan suara latar tembakan.
"Kapten! Masuk, Kapten! Sektor Selatan diserang! Mereka membakar klinik dan puskesmas desa! Beberapa warga terjebak, kami sedang mencoba mengevakuasi, tapi mereka menembak secara membabi buta dari pinggir hutan!"
Rahang Arga mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Matanya yang gelap memancarkan kemarahan yang murni dan mematikan. Kelompok Gagak Hitam tidak sekadar melakukan pengalihan isu; mereka melakukan bumi hangus. Mereka sengaja menarik pasukan Arga ke hutan untuk mengeksekusi serangan massal di desa yang tidak terlindungi.
"Budi, pertahankan perimeter desa! Jangan ada yang mengejar ke hutan. Prioritaskan keselamatan warga dan evakuasi ke balai desa yang bangunannya terbuat dari beton. Saya ulangi, jangan masuk ke hutan!" perintah Arga melalui radio, suaranya tetap stabil dan dingin meski peluru baru saja mengoyak dahan pohon hanya beberapa inci dari kepalanya.
"Tapi, Kapten, posisi Anda—"
"Laksanakan perintah, Sersan!"
Arga mematikan saluran radionya. Ia menoleh ke arah Alya. Perempuan itu terlihat pucat pasi, matanya membelalak lebar menatap kekacauan, napasnya terengah-engah pendek. Baju putihnya kini dipenuhi noda lumpur hitam.
"Alya, dengarkan saya," Arga mencengkeram lengan Alya, memaksanya untuk fokus. "Mereka menjepit kita. Pasukan saya tidak akan bisa datang kemari tanpa membahayakan seluruh desa. Kita harus keluar dari sini sendiri."
"Klinik saya..." Alya bergumam dengan bibir gemetar. "Mereka membakar semuanya."
"Fokus pada malam ini, Alya! Jika Anda mati di sini, tangisan Anda untuk klinik itu tidak akan ada gunanya," kata-kata Arga tajam, dirancang untuk menyentak Alya dari kelumpuhan mentalnya.
Di depan mereka, sekitar dua puluh meter di antara pepohonan yang rapat, kelompok penyelundup itu mulai bergerak menyebar, mencoba mengapit posisi Arga dan Alya. Dalam kegelapan, Alya bisa melihat siluet mereka berkelebat. Saat itulah, mata Alya menangkap sesuatu yang membuat darahnya berdesir dingin.
Di tengah hujan peluru dan kekacauan, salah satu penyelundup melepaskan karung goni besar yang sedari tadi mereka seret. Karung itu jatuh berdebum ke tanah berlumpur, tidak jauh dari tepi jurang. Dan karung itu... bergerak.
Ada rintihan tertahan dari dalam sana. Suara tangisan yang teredam kain tebal.
"Itu... ada orang di dalam karung itu," Alya menunjuk dengan tangan gemetar. "Itu pasti anak Kang Maman. Atau warga yang lain. Mereka meninggalkannya begitu saja di dekat tepi jurang. Kalau tanahnya longsor, dia akan jatuh!"
Arga melirik sekilas ke arah karung tersebut, lalu kembali membidik senjatanya dan menembak jatuh satu siluet yang mencoba mendekat dari sisi kiri. "Itu bukan urusan kita sekarang. Kita kalah jumlah, dan posisi kita tidak menguntungkan. Jika kita bertahan di sini, kita mati."
"Kita tidak bisa meninggalkannya!" Alya mulai panik, insting perawat dan empatinya kembali mengambil alih rasa takutnya. "Dia masih hidup, Kapten!"
"Saya bilang tidak, Alya! Bertahan di belakang saya. Kita akan bergerak menyusuri tepi jurang menuju hilir sungai." Arga mengeluarkan magasin kosongnya dan menggantinya dengan yang baru dalam satu gerakan mulus dan terlatih.
Namun, Alya tidak mendengarkan. Matanya terkunci pada karung goni yang semakin bergeser ke arah bibir jurang setiap kali benda di dalamnya meronta. Tanah di sekitarnya sudah mulai retak akibat hujan lebat yang mengguyur sejak sore. Jika karung itu jatuh, anak di dalamnya akan tewas menghantam bebatuan sungai puluhan meter di bawah.
Saat Arga berbalik untuk menembakkan tembakan perlindungan ke arah kanan, Alya membuat keputusan paling nekat dalam hidupnya. Ia melepaskan pegangan Arga dan merangkak cepat keluar dari balik akar pohon.
"Alya! Apa yang kau lakukan?! Kembali!" teriak Arga, suaranya pecah oleh kepanikan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya di medan tempur.
Alya mengabaikannya. Ia menyeret tubuhnya di atas lumpur yang dingin dan tajam. Peluru berdesing di atas kepalanya, memotong daun-daun pakis yang langsung jatuh menimpa punggungnya. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia bisa merasakannya di gendang telinganya. Rasa takut itu ada, sangat besar, tapi bayangan wajah anak kecil yang tersenyum saat ia memberikannya permen di klinik kemarin jauh lebih kuat.
Alya mencapai karung itu. Bau pesing dan keringat ketakutan langsung menyeruak. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan gunting perban medis yang selalu ia bawa, dan dengan tangan gemetar memotong ikatan tambang kasar yang mengunci mulut karung.
Dari dalam, muncul wajah seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Anak Kang Maman. Wajahnya penuh memar, mulutnya dilakban, dan air mata bercampur darah mengalir deras dari sudut matanya. Matanya membelalak penuh teror saat melihat Alya.
"Sshh... tenang, Sayang. Suster di sini. Suster akan membawamu pulang," bisik Alya menenangkan, tangannya dengan cepat melepaskan lakban di mulut anak itu. Anak itu langsung terbatuk-batuk, meraup udara dengan rakus.
Alya meraih lengan anak itu, bersiap untuk menariknya mundur ke tempat persembunyian Arga. Namun, pergerakan Alya telah menarik perhatian musuh.
Dari arah jam sebelas, siluet seorang pria berbadan besar melangkah keluar dari balik pohon, seringai kejam tergambar di wajahnya yang diterangi kilatan petir kejauhan. Pria itu tidak membawa senapan laras panjang, melainkan sepucuk pistol kaliber besar. Ia mengangkat tangannya, mengarahkan moncong hitam itu tepat ke dada Alya yang masih setengah berlutut sambil memeluk anak Kang Maman.
Alya melihat laras senjata itu. Waktu benar-benar berhenti. Otaknya memerintahkan tubuhnya untuk menghindar, namun otot-ototnya membeku. Ia hanya bisa memeluk anak itu lebih erat, menutup matanya, dan menunggu rasa sakit yang mematikan itu datang.
Ia mendengar bunyi letusan yang sangat nyaring.
Namun, rasa sakit itu tidak datang.
Sebagai gantinya, sebuah kekuatan besar menghantamnya dari samping dengan sangat keras, membuat udara terempas keluar dari paru-parunya. Alya terpelanting ke belakang, tubuhnya berguling di atas lumpur basah bersama anak laki-laki itu.
Saat ia membuka mata, pandangannya berputar. Melalui kabut kebingungan dan ringkikan nyaring di telinganya, Alya melihat Kapten Arga.
Pria itu berada di posisi tempat Alya berlutut sedetik yang lalu. Tubuhnya yang besar dan kokoh terhuyung ke belakang. Senapannya terlepas dari genggamannya. Di dada kanan atas pria itu, tepat di bawah tulang selangkanya, seragam lorengnya robek dan mulai memancarkan cairan pekat yang terlihat hitam dalam kegelapan.
"Kapten!" Alya menjerit parau.
Arga tidak jatuh. Dengan sisa tenaga dan adrenalin yang membanjiri pembuluhnya, ia menarik pistol dari sarung pahanya dan menembakkan tiga peluru berturut-turut ke arah pria besar penembaknya. Pria itu tumbang ke tanah, mati seketika.
Namun, musuh yang lain mulai mendekat, menyadari bahwa komandan tentara itu telah terluka. Suara derap langkah sepatu bot yang menginjak ranting kering terdengar bergemuruh dari tiga arah sekaligus.
Arga menoleh ke arah Alya. Wajah pria itu mulai pucat, peluh bercampur hujan membasahi dahinya, tapi matanya masih memancarkan otoritas yang absolut. Ia menekan tangan kirinya ke luka di bahu kanannya, mencoba menghentikan darah yang menyembur hebat.
"Ke jurang," perintah Arga, suaranya serak dan terengah-engah.
"Apa?! Kita akan mati kalau melompat!" bantah Alya, air mata mulai menggenang melihat darah yang mengalir deras dari tubuh pria yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
"Lebih baik mati oleh sungai daripada oleh mereka," geram Arga. Ia melangkah tertatih, mencengkeram kerah belakang baju Alya dengan satu tangan dan tangan lainnya meraih kerah baju anak kecil itu.
Rentetan tembakan kembali datang, kali ini memercikkan bunga api saat mengenai batu-batu di dekat kaki mereka.
Tanpa ragu lagi, Arga menggunakan seluruh berat tubuhnya untuk mendorong Alya dan anak itu mundur, melewati batas tepi tebing yang rapuh. Tanah di bawah kaki mereka runtuh seketika.
Alya menjerit saat gravitasi menarik mereka jatuh. Sensasi perut yang tertinggal di atas, angin malam yang menderu di telinga, dan cabang-cabang pohon yang menampar wajah mereka dalam perjalanan turun menuju kegelapan jurang.
Sedetik kemudian, air sungai yang sedingin es menghantam mereka dengan kekuatan brutal, menelan mereka ke dalam arus perbatasan yang mengamuk.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar