Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah ventilasi klinik tidak membawa kehangatan bagi Alya. Sebaliknya, cahaya itu justru mempertegas kekacauan yang terjadi. Bau darah yang mulai mengering beradu dengan aroma tanah basah dari jendela yang terbuka. Alya berdiri mematung di tengah ruangan, sementara Kapten Arga tampak seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.

"Anda masih ingin mempertahankan idealisme itu, Suster?" Arga bertanya, suaranya kini tenang, namun ketenangan itu jauh lebih mengerikan daripada teriakannya semalam. Ia berjalan perlahan mengelilingi brankar kosong, jemarinya yang terbungkus sarung tangan taktis menyentuh sisa kabel monitor yang menjuntai. "Pasien Anda tidak hanya pergi. Dia dibawa oleh orang-orang yang bisa dengan mudah menggorok leher Anda saat Anda sedang sibuk menyeduh kopi di belakang."

Alya merasakan tenggorokannya tercekat. "Saya tidak tahu mereka akan datang. Saya hanya berusaha menyelamatkan nyawa."

"Dan dalam prosesnya, Anda memberikan mereka kesempatan untuk menghapus jejak!" Arga berbalik dengan cepat, langkahnya yang berat membuat lantai kayu berderit. "Siapa lagi yang tahu Anda merawat orang itu di sini? Apakah ada warga desa yang masuk sebelum saya datang?"

"Tidak ada! Hanya saya dan... dan Tuhan yang tahu saat dia dibawa ke sini," jawab Alya defensif. Namun, matanya tak sengaja melirik ke arah pintu dapur, tempat Bu Ningsih tadi berdiri.

Arga menangkap perubahan mikro pada ekspresi wajah Alya. Ia menyipitkan mata, mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang menjulang. "Suster Alya, di tempat ini, kebohongan terkecil sekalipun bisa berujung pada tumpukan mayat. Apakah Anda menyembunyikan sesuatu? Atau mungkin... Anda sengaja membiarkan mereka masuk?"

Tuduhan itu menghantam Alya tepat di ulu hati. Wajahnya memerah karena marah sekaligus terhina. "Bagaimana mungkin Anda menuduh saya seperti itu? Saya baru berada di sini tiga bulan! Saya melepaskan pekerjaan nyaman di Jakarta untuk mengabdi di lubang terpencil ini karena saya ingin membantu orang, bukan untuk bersekongkol dengan penyelundup!"

"Justru karena Anda baru di sini, Anda adalah sasaran empuk," desis Arga. Ia melangkah maju hingga hanya tersisa beberapa sentimeter di antara mereka. Alya bisa melihat pantulan dirinya yang tampak rapuh di mata hitam Arga yang dingin. "Orang-orang di perbatasan ini punya cara sendiri untuk merekrut 'bantuan' dari orang asing yang naif seperti Anda. Sedikit ancaman, sedikit uang, atau sekadar memanfaatkan rasa kasihan Anda yang berlebihan."

Alya mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. "Jika saya ingin bekerja sama dengan mereka, saya tidak akan memanggil Anda semalam saat saya mendengar suara tembakan!"

"Anda tidak memanggil kami. Tim saya yang menemukan lokasi ini karena mengikuti jejak darahnya!" Arga mengoreksi dengan tajam.

Ketegangan di antara mereka terputus oleh kedatangan Sersan Budi yang masuk dengan tergesa-gesa. "Lapor, Kapten! Kami menemukan sesuatu di bawah jendela luar."

Arga memberikan satu tatapan peringatan terakhir pada Alya sebelum melangkah keluar melalui pintu depan. Alya, didorong oleh rasa ingin tahu dan kebutuhan untuk membela diri, segera mengikuti.

Di bawah jendela ruang rawat, rumput-rumput liar tampak rebah, hancur oleh beban berat. Sersan Budi menunjuk ke sebuah benda kecil yang tergeletak di antara akar pohon tua. Sebuah selongsong peluru, namun ukurannya berbeda dengan yang biasa digunakan oleh standar TNI. Dan di sebelahnya, terdapat sebuah kain kecil berwarna merah kusam dengan simbol bordir yang aneh—seperti mata yang tertutup garis vertikal.

"Ini bukan milik kelompok biasa," gumam Sersan Budi pelan.

Arga berlutut, mengambil kain itu dengan pinset. Matanya berkilat. "Kelompok Gagak Hitam. Mereka bergerak lebih cepat dari yang saya perkirakan."

"Siapa mereka?" tanya Alya, suaranya bergetar.

Arga bangkit, tidak menjawab pertanyaan Alya. Ia justru menatap ke arah pemukiman warga desa yang mulai terlihat sibuk. Beberapa warga tampak memperhatikan mereka dari kejauhan dengan wajah penuh ketakutan. Di antara kerumunan itu, Alya melihat Kang Maman, pria yang menurut Bu Ningsih baru saja kehilangan anaknya.

Kang Maman berdiri mematung di balik pohon pisang, matanya yang cekung menatap lurus ke arah kain merah di tangan Arga. Saat menyadari Alya melihatnya, ia segera berbalik dan berjalan cepat menghilang di balik rumah-rumah panggung.

"Karakteristik kelompok ini adalah penculikan," Arga akhirnya berbicara, suaranya berat seolah membawa beban ribuan ton. "Mereka tidak hanya menyelundupkan barang. Mereka menyelundupkan orang. Dan pasien Anda semalam... dia adalah saksi kunci yang seharusnya bisa membongkar di mana mereka menyembunyikan warga desa yang hilang."

Alya merasakan lututnya lemas. Bayangan pria itu, bisikan terakhirnya—Mereka ada di dalam—kini terasa jauh lebih mengerikan. "Dia ingin mengatakan sesuatu padaku semalam. Dia bilang mereka ada di dalam. Mungkin dia maksudnya... di dalam desa ini?"

Arga menoleh tajam. "Atau di dalam institusi yang seharusnya melindungi mereka. Itulah sebabnya saya menyuruh Anda diam. Sekarang, karena ketidaksabaran Anda untuk menjadi 'penyelamat', satu-satunya harapan kita untuk menemukan anak-anak yang hilang itu sudah dibawa pergi."

Alya ingin membalas, ingin mengatakan bahwa itu bukan kesalahannya, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Rasa bersalah mulai merayap masuk ke dalam hatinya, dingin dan menyesakkan. Ia teringat kembali pada masa lalunya di Jakarta. Seorang pasien anak-anak yang meninggal dalam kecelakaan beruntun karena Alya ragu untuk mengambil tindakan medis darurat di pinggir jalan sebelum ambulans datang. Trauma itu yang membawanya ke sini—keinginan untuk menebus nyawa yang hilang dengan menyelamatkan sebanyak mungkin orang. Dan sekarang, ia merasa seolah sejarah sedang berulang.

"Saya akan mencarinya," ucap Alya tiba-tiba, suaranya mantap meski hatinya hancur.

Arga tertawa sinis, suara yang pendek dan tanpa humor. "Mencari siapa? Kelompok Gagak Hitam di tengah hutan yang luasnya ribuan hektar ini? Anda bahkan tidak bisa membedakan mana suara burung hantu dan mana suara peluit pengintai."

"Saya tahu desa ini lebih baik dari Anda dalam hal interaksi warga! Mereka bicara pada saya, Kapten. Mereka takut pada seragam Anda, tapi mereka percaya pada seragam putih saya," balas Alya.

"Dan kepercayaan itu yang akan membunuh mereka jika Anda salah melangkah," Arga mendekat lagi, kali ini suaranya lebih seperti bisikan peringatan. "Tetap di klinik. Jangan keluar dari perimeter tanpa pengawalan. Ini perintah, bukan saran."

Arga kemudian berbalik, memberi perintah pada timnya untuk mulai melakukan penyisiran radial. Alya hanya bisa berdiri di sana, melihat barisan seragam loreng itu bergerak masuk ke dalam kabut hutan yang belum sepenuhnya menghilang.

Namun, perhatian Alya teralih pada tanah di bawah kakinya. Di dekat jejak sepatu bot yang ditunjuk Arga tadi, ada sesuatu yang terlewatkan oleh para tentara itu. Di balik rimbunnya tanaman pakis, terdapat tetesan darah yang membentuk jalur tipis. Tetesan itu bukan menuju ke arah jalan setapak yang biasa dilalui warga, melainkan menuju ke arah hutan terlarang yang dianggap keramat oleh penduduk lokal.

Alya melirik ke arah Arga yang sedang berbicara melalui radio di kejauhan. Pria itu tampak begitu sibuk dengan dunianya yang penuh strategi dan keamanan.

Alya tahu ia seharusnya melapor. Ia tahu ia seharusnya mengikuti perintah Arga. Namun, bayangan anak Kang Maman, bayangan bisikan pria misterius itu, dan rasa haus akan penebusan dosa di masa lalunya memicu sesuatu yang lebih kuat daripada rasa takut.

Dengan gerakan cepat dan hati-hati, Alya masuk kembali ke dalam klinik, mengambil tas medis daruratnya, dan keluar melalui pintu belakang. Ia tidak akan membiarkan nyawa lain hilang karena ia hanya berdiam diri di balik tembok klinik yang rapuh.

Ia mulai mengikuti jejak darah itu. Semakin jauh ia melangkah, udara semakin dingin dan cahaya matahari semakin sulit menembus kanopi pohon yang rapat. Tanah yang tadinya merah berubah menjadi hitam lembap.

Tiba-tiba, Alya berhenti. Di depan sebuah semak berduri yang lebat, jejak darah itu berhenti. Namun, ada sesuatu yang lain. Di atas tanah yang becek, terlihat sebuah serpihan kecil kayu yang diukir—sebuah mainan kayu berbentuk burung, persis seperti yang sering dibawa oleh anak laki-laki Kang Maman.

Jantung Alya berdegup kencang. Ia membungkuk untuk mengambilnya, namun sebuah suara ranting patah di belakangnya membuatnya membeku.

Alya menoleh perlahan.

Tidak ada siapa-siapa. Hanya kabut yang menggantung di antara pepohonan besar yang tampak seperti raksasa diam. Namun, perasaannya mengatakan bahwa ia tidak lagi sendirian di sana.