Lorong rumah sakit yang dingin dan beraroma karbol menjadi saksi bisu betapa rapuhnya sebuah keluarga ketika ego menguasai hati. Setelah pemeriksaan intensif, dokter menyatakan bahwa Bu Ratna mengalami serangan jantung ringan akibat tekanan darah yang melonjak drastis. Dokter berpesan bahwa beliau tidak boleh mengalami stres atau emosi yang meledak-ledak selama masa pemulihan.
Pesan dokter itu seolah menjadi rantai baru bagi Arkan dan Hana. Arkan yang tadinya bersikap tegas, kini dirundung rasa bersalah yang teramat dalam. Ia duduk di kursi tunggu depan ruang perawatan dengan kepala tertunduk, meremas jemarinya sendiri.
"Ini salahku, Han," gumam Arkan tanpa menoleh. "Aku anak durhaka. Aku membentaknya di depan orang banyak sampai dia seperti ini."
Hana berlutut di depan suaminya, menggenggam tangan Arkan yang dingin. "Mas, jangan bicara begitu. Mas hanya membela kebenaran. Ibu sakit bukan karena Mas, tapi karena beban pikirannya sendiri. Sekarang, fokus kita adalah kesembuhan Ibu."
"Tapi bagaimana kalau dia bangun dan tetap membencimu?" Arkan menatap Hana dengan mata yang merah.
Hana tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan ribuan luka namun tetap terlihat tulus. "Biar itu jadi urusan aku dan Ibu. Mas istirahatlah, Mas belum makan sejak siang. Biar aku yang masuk ke dalam menjaga Ibu."
Di dalam kamar perawatan VIP yang sunyi, hanya terdengar suara ritmis dari monitor jantung. Bu Ratna terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya. Wajah yang biasanya keras dan penuh amarah itu kini tampak pucat dan keriput, menunjukkan gurat usia yang tak bisa dibohongi.
Hana mendekat tanpa suara. Ia mengambil waslap dan baskom berisi air hangat. Dengan perlahan, ia menyeka tangan mertuannya yang mulai nampak bintik-bintik penuaan. Ia melakukannya dengan penuh kelembutan, seolah-olah wanita di hadapannya ini adalah ibu kandungnya sendiri yang sangat ia sayangi.
Tiba-tiba, kelopak mata Bu Ratna bergerak. Perlahan, ia membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Hana yang sedang tersenyum lembut sambil memeras waslap.
Bu Ratna mencoba menarik tangannya, namun ia terlalu lemah. "Mau apa kamu?" suaranya serak, nyaris tak terdengar, namun ketajamannya masih terasa.
"Ibu sudah bangun? Syukurlah," ucap Hana tanpa sedikit pun rasa dendam. "Hana cuma mau membersihkan badan Ibu supaya lebih segar. Ibu mau minum?"
Bu Ratna memalingkan wajah ke arah jendela. "Mana Arkan? Kenapa kamu yang di sini? Kamu senang kan, lihat aku terkapar begini? Kamu pasti berpikir sekarang tidak ada lagi yang akan mengganggumu."
Hana menghentikan gerakannya sejenak. Ia menarik napas dalam, mencoba menahan sesak di dadanya. "Ibu, demi Allah, tidak sedetik pun Hana berpikiran begitu. Hana ingin Ibu sehat. Arkan sedang di luar, dia sangat cemas sampai tidak mau makan. Hana minta dia istirahat sebentar supaya tidak ikut jatuh sakit."
"Halah, kamu pintar sekali bersilat lidah," cibir Bu Ratna, meski suaranya masih lemah. "Kamu itu cuma mau mengambil hati Arkan dengan pura-pura jadi malaikat di depanku. Kamu pikir dengan mengurusku, aku akan lupa kalau kamu belum bisa memberikan cucu?"
Hana tetap tenang. Ia mengambil sesendok air putih dan mendekatkannya ke bibir Bu Ratna. "Ibu, soal anak, Hana tidak pernah berhenti berdoa. Tapi untuk sekarang, biarkan Hana mengurus Ibu sebagai menantu. Ibu benci Hana pun tidak apa-apa, tapi tolong biarkan Hana berbakti pada Ibu."
Bu Ratna terdiam. Ia meminum air yang disodorkan Hana, namun matanya tetap menatap Hana dengan penuh kecurigaan.
Malam semakin larut. Arkan akhirnya tertidur di sofa kecil di sudut ruangan karena kelelahan. Hana tetap terjaga di samping tempat tidur Bu Ratna. Setiap dua jam sekali, ia mengoleskan pelembab ke bibir mertuanya agar tidak kering, mengatur posisi bantal, dan menyelimuti kaki Bu Ratna yang sering kedinginan.
Sekitar pukul tiga pagi, Bu Ratna terbangun karena ingin ke kamar mandi. Ia mencoba bangun sendiri, namun kepalanya berputar hebat.
"Ibu mau ke mana? Biar Hana bantu," Hana dengan sigap merangkul bahu mertuanya.
"Tidak usah! Aku bisa sendiri!" Bu Ratna mencoba menepis tangan Hana, namun ia hampir terjatuh jika Hana tidak segera menopang tubuhnya dengan kuat.
"Ibu, tolong. Jangan keras kepala dulu. Ibu masih lemas," bisik Hana tegas namun lembut.
Dengan susah payah, Hana memapah mertuanya ke kamar mandi. Ia menunggu di balik pintu dengan sabar, lalu memapahnya kembali ke tempat tidur. Saat membetulkan posisi kaki Bu Ratna, Hana menyadari bahwa kaus kaki mertuanya basah karena sedikit percikan air. Tanpa diperintah, Hana berlutut di lantai, melepas kaus kaki basah itu, dan menggantinya dengan yang baru dan bersih yang ia ambil dari tasnya.
Bu Ratna menunduk, menatap puncak kepala Hana yang sedang memasangkan kaus kaki ke kakinya dengan telaten. Ada sebuah perasaan aneh yang menyelinap di hati Bu Ratna—sebuah rasa bersalah yang kecil, namun segera ia tepis dengan egonya yang setinggi langit.
"Kenapa kamu lakukan ini, Hana?" tanya Bu Ratna tiba-tiba.
Hana mendongak, masih dalam posisi berlutut. "Karena Ibu adalah ibu dari laki-laki yang sangat Hana cintai. Tanpa Ibu, Arkan tidak akan ada di dunia ini. Menyayangi Arkan berarti harus menyayangi Ibu juga, meskipun mungkin Ibu belum bisa menyayangi Hana."
Bu Ratna tertegun. Ia membuang muka, tak sanggup menatap mata Hana yang begitu jernih. "Jangan harap ini akan mengubah segalanya. Aku tetap ingin cucu."
Hana tersenyum kecil, lalu berdiri. "Hana tahu, Bu. Hana juga ingin sekali memberikan itu untuk Ibu dan Mas Arkan. Sekarang Ibu istirahat ya."
Keesokan paginya, Arkan terbangun dan melihat pemandangan yang membuatnya terenyuh. Hana sedang menyisir rambut ibunya yang acak-acakan dengan sangat pelan, sambil menceritakan hal-hal ringan tentang tanaman di rumah mereka agar ibunya tidak bosan.
Arkan mendekat, mengecup kening Hana di depan ibunya. "Terima kasih, Sayang. Kamu sudah begadang semalaman ya?"
"Hana tidak apa-apa, Mas. Ibu juga sudah lebih baik," jawab Hana.
Bu Ratna hanya diam, namun ia tidak lagi mengeluarkan kata-kata pedas saat Hana menyuapinya bubur rumah sakit yang tawar. Namun, kedamaian itu terusik ketika Tante Melly datang berkunjung.
"Wah, Hana telaten sekali ya," puji Tante Melly saat masuk ke ruangan. "Ratna, kamu beruntung punya menantu sesabar Hana. Coba kalau orang lain, mungkin kamu sudah ditinggal karena mulutmu yang tajam itu."
Bu Ratna mendengus. "Dia cuma menjalankan tugasnya, Mel. Jangan berlebihan."
Tante Melly mendekat ke arah Hana, lalu membisikkan sesuatu yang cukup keras untuk didengar Arkan. "Hana, kamu hati-hati ya. Kemarin waktu di rumah, Siska sempat bilang kalau ibumu ini sudah menjanjikan sesuatu pada keluarganya kalau Arkan mau menikahinya. Jangan terlalu polos."
Wajah Arkan langsung berubah gelap. "Janji apa, Tante?"
Bu Ratna tampak panik. "Melly! Jangan bicara sembarangan di sini! Aku sedang sakit!"
"Lho, ini kan kenyataan, Ratna. Kamu bilang ke ibunya Siska kalau kamu akan memaksa Arkan menceraikan Hana kalau sampai tahun kelima belum hamil juga, kan? Dan kamu janji akan kasih rumah yang di desa untuk Siska kalau dia bisa kasih cucu laki-laki," Tante Melly bicara tanpa beban.
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Hana merasakan tangannya bergetar hebat. Ia menatap mertuanya yang kini memejamkan mata, berpura-pura tidur.
Arkan berdiri, melangkah mendekati tempat tidur ibunya. "Jadi... serangan jantung kemarin itu benar-benar hanya bagian dari rencana supaya aku merasa bersalah dan mau mengikuti kemauan Ibu?"
"Arkan, tidak begitu..." Bu Ratna membuka matanya, suaranya mulai gemetar karena takut.
"Jawab, Bu! Apa Ibu sengaja merancang semua ini? Mengundang tamu, membawa Siska, lalu pura-pura sakit supaya Hana merasa bersalah dan aku mau menikah lagi?" suara Arkan meninggi, membuat Hana harus segera memegang lengannya untuk menenangkannya.
"Mas, sabar. Ibu masih sakit," cegah Hana, meski hatinya sendiri hancur berkeping-keping mengetahui kenyataan itu.
"Sakit? Atau hanya akting?" Arkan menatap dokter yang baru saja masuk untuk memeriksa. "Dokter, tolong jujur. Apakah kondisi ibu saya benar-benar gawat, atau ini hanya kelelahan biasa yang dibesar-besarkan?"
Dokter itu tampak ragu, melihat ke arah Bu Ratna yang memberinya isyarat lewat mata. Namun, melihat ketegasan Arkan, dokter itu menghela napas. "Secara medis, memang ada penyempitan ringan, Pak Arkan. Tapi serangan kemarin... sejujurnya lebih banyak dipicu oleh serangan panik yang disengaja. Tekanan darahnya naik karena beliau sangat emosional, bukan karena kegagalan fungsi jantung yang kronis."
Arkan tertawa getir. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang paling dingin yang pernah Hana lihat.
"Luar biasa," bisik Arkan. "Ibu menggunakan nyawa Ibu sendiri sebagai taruhan untuk menghancurkan rumah tanggaku. Dan Hana... dia merawat Ibu semalaman tanpa tidur, menangisi Ibu, berdoa untuk Ibu... sementara Ibu sedang merencanakan cara untuk membuangnya."
Hana hanya bisa tertunduk. Air matanya jatuh menetes di atas seprai tempat tidur mertuanya. Ia merasa sangat bodoh, namun di saat yang sama, ia merasa lega karena kebenaran terungkap.
"Keluar, Arkan! Keluar kalian semua!" teriak Bu Ratna yang merasa terpojok. "Ibu lakukan ini untukmu! Ibu tidak mau kamu menyesal di masa tua tanpa anak!"
"Yang akan aku sesali di masa tua adalah jika aku membiarkan wanita sebaik Hana disakiti oleh ibuku sendiri," Arkan menarik tangan Hana. "Ayo pulang, Hana. Kita sudah cukup berbakti di sini."
"Tapi Mas, Ibu belum boleh pulang..."
"Ada perawat, ada Tante Melly. Aku akan bayar semuanya. Tapi kamu tidak akan menginjakkan kaki di ruangan ini lagi untuk dihina," tegas Arkan.
Saat mereka berjalan keluar, Bu Ratna berteriak dari dalam kamar, "Kalau kamu pergi sekarang, jangan pernah anggap aku ibumu lagi, Arkan!"
Langkah Arkan terhenti di ambang pintu. Ia menoleh sedikit, tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Hana. "Ibu yang memutuskan ikatan itu sejak Ibu mencoba menghancurkan kebahagiaanku. Semoga Ibu cepat sembuh secara fisik... dan hati."
Hana mengikuti langkah Arkan dengan hati yang berkecamuk. Di satu sisi, ia merasa bebas dari beban merawat orang yang membencinya. Namun di sisi lain, ia melihat punggung suaminya yang bergetar. Ia tahu, Arkan sedang menangis tanpa suara. Menangisi ibunya yang telah hilang ditelan ambisi.
Di dalam mobil, Arkan memukul setir dengan keras. "Kenapa, Hana? Kenapa dia begitu membencimu? Padahal kamu sudah memberikan segalanya!"
Hana memeluk lengan Arkan, mencoba memberikan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. "Karena Ibu belum melihatku sebagai manusia, Mas. Dia hanya melihatku sebagai penghalang keinginannya. Tapi tidak apa-apa... aku masih punya kamu."
Namun, di tengah kesedihan itu, Hana merasakan mual yang luar biasa di perutnya. Aroma parfum mobil yang biasanya ia sukai tiba-tiba terasa sangat menyengat dan memuakkan. Ia menutup mulutnya, berusaha menahan keinginan untuk muntah.
"Hana? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," Arkan panik melihat istrinya.
"Hanya... hanya kurang tidur mungkin, Mas. Dan stres," jawab Hana lirih.
Tapi dalam hati, sebuah harapan kecil yang sangat takut untuk ia akui, mulai berdenyut. Apakah mungkin, di tengah badai yang paling hebat ini, Tuhan sedang mengirimkan pelangi yang selama ini mereka nantikan? Ataukah ini hanya efek dari kelelahan batin yang ia alami?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar