Pagi menyapa dengan suasana yang lebih berat dari biasanya. Setelah insiden pengusiran yang gagal tadi malam, suasana di rumah Arkan dan Hana terasa seperti medan perang yang sedang gencat senjata. Arkan benar-benar sudah menyiapkan koper ibunya dan memesan tiket travel, namun Bu Ratna melakukan jurus terakhirnya: serangan jantung palsu. Ia jatuh terduduk di depan pintu, memegangi dadanya sambil merintih menyebut nama mendiang suaminya, membuat Arkan yang keras kepala pun akhirnya luluh dan membatalkan niatnya.
Hana terbangun dengan perasaan cemas yang menggelayuti dada. Ia keluar dari kamar dan mendapati rumah sudah riuh rendah. Bukan riuh yang hangat, melainkan keramaian yang dipaksakan. Di ruang tamu, tumpukan kotak katering sudah menumpuk, dan beberapa asisten rumah tangga sewaan tampak sibuk menata kursi.
"Ibu? Ini ada apa?" tanya Hana bingung saat melihat mertuanya sudah rapi dengan kebaya brokat berwarna emas yang mencolok.
Bu Ratna menoleh dengan senyum kemenangan yang tidak sampai ke mata. "Oh, Hana. Sudah bangun? Jangan banyak tanya dulu. Ini syukuran kecil-kecilan. Lima tahun pernikahan kalian itu angka besar, bukan? Ibu tidak mau tetangga dan keluarga besar berpikir kalian sedang berkabung hanya karena belum punya anak. Jadi, Ibu undang mereka untuk selamatan."
Hana terpaku. Selamatan? Tanpa mendiskusikannya dengan mereka sebagai pemilik rumah?
Arkan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melingkar di leher, wajahnya langsung mengeras melihat kekacauan di ruang tamu. "Ibu! Apa lagi ini? Arkan bilang Ibu harus istirahat, kenapa malah mengundang orang ke rumah?"
"Arkan, ini bentuk rasa syukur Ibu," sahut Bu Ratna dengan nada yang dibuat lembut, seolah ia adalah ibu paling penyayang di dunia. "Ibu ingin mendoakan rumah tangga kalian supaya 'segera' diberi momongan. Masa didoakan saja tidak mau? Ibu sudah undang Tante Melly, Om Surya, bahkan teman-teman arisan Ibu. Mereka akan datang jam sepuluh nanti."
Arkan hendak memprotes lagi, tapi Hana menyentuh lengan suaminya. Hana menggeleng pelan, memberi kode agar Arkan tidak meledak lagi. Ia tahu, melawan di saat tamu akan datang hanya akan mempermalukan Arkan.
"Sudah, Mas. Tidak apa-apa. Biar Hana bantu siapkan minumnya," ucap Hana lirih.
Arkan mendesah frustrasi. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Hana, "Maafkan aku. Aku benar-benar gagal membuatmu tenang di rumah sendiri."
Pukul sepuluh tepat, rumah itu penuh sesak. Suara tawa dan obrolan mengisi setiap sudut ruangan yang biasanya sunyi. Hana sibuk di dapur, memastikan gelas-gelas terus terisi dan piring-piring kotor segera dibersihkan. Namun, meskipun ia menyibukkan diri di dapur, suara lantang mertuanya di ruang tengah tetap saja menembus dinding.
"Iya, Jeng Melly. Itulah sebabnya saya buat acara ini. Biar semua bantu doa. Kasihan Arkan, sudah kerja keras, rumah besar, tapi tidak ada yang panggil dia 'Papa'," suara Bu Ratna terdengar sangat jelas.
"Tapi Ratna, mereka kan masih muda. Sabar saja," sahut Tante Melly, mencoba menetralisir suasana.
"Muda bagaimana? Lima tahun itu sudah cukup untuk punya dua anak kalau ibunya subur," balas Bu Ratna tajam. "Makanya, hari ini saya mengundang seseorang yang spesial. Nah, itu dia orangnya!"
Hana yang sedang memegang nampan berisi teh hangat, penasaran dan sedikit melongok dari balik tirai dapur. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat siapa yang masuk. Seorang wanita cantik, jauh lebih muda dari Hana, mengenakan gaun panjang yang elegan namun sedikit menonjolkan lekuk tubuhnya. Wajahnya berseri, kulitnya sehat, dan ia membawa keranjang buah yang besar.
"Siska! Sini, Nak," panggil Bu Ratna dengan suara yang sangat manis—suara yang belum pernah ia gunakan pada Hana.
Hana terdiam di tempatnya. Siska adalah anak dari teman lama Bu Ratna, wanita yang kemarin disebut-sebut di telepon sebagai "calon yang subur".
Arkan yang sedang duduk di sudut ruangan bersama saudara laki-lakinya, langsung berdiri. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang amat sangat. Ia segera melangkah menuju dapur, mendapati Hana sedang mematung menatap keramaian itu dengan mata berkaca-kaca.
"Hana, jangan keluar. Biar aku yang urus," bisik Arkan tegas.
"Tapi Mas, tamu-tamu..."
"Persetan dengan tamu kalau tujuannya untuk menghinamu," Arkan mengambil nampan dari tangan Hana, meletakkannya di meja, lalu menarik Hana ke dalam kamarnya yang terletak di dekat dapur. "Tetap di sini. Jangan dengarkan apa pun."
Arkan keluar kembali ke ruang tamu dengan aura yang dingin. Ia berdiri tepat di samping ibunya dan Siska.
"Selamat siang, semuanya," suara Arkan berat dan penuh wibawa, membuat seluruh ruangan seketika hening. "Terima kasih sudah datang atas undangan Ibu saya. Tapi saya ingin meluruskan satu hal. Acara hari ini adalah bentuk doa, bukan ajang untuk membandingkan istri saya dengan siapa pun."
Arkan menatap Siska dengan tatapan yang sangat datar, bahkan cenderung mengusir. "Terima kasih buahnya, Siska. Tapi kurasa kehadiranmu di sini agak salah tempat. Ibu saya mungkin lupa memberitahumu bahwa saya tidak pernah mencari pengganti atau tambahan di rumah ini."
Wajah Siska memucat. Ia menoleh ke Bu Ratna dengan bingung. Tamu-tamu mulai berbisik-bisik.
"Arkan! Jaga bicaramu! Siska ini tamu kehormatan Ibu," bentak Bu Ratna, wajahnya merah padam karena malu.
"Dan Hana adalah kehormatan hidupku, Bu," balas Arkan tanpa berkedip. "Ibu mengundang orang-orang ke sini untuk mendoakan keturunan, tapi Ibu sendiri yang memutus berkah itu dengan menyakiti hati orang yang akan mengandung anak itu nanti. Bagaimana Tuhan mau kasih, kalau Ibu terus-menerus membuat calon ibunya menangis?"
Di dalam kamar, Hana duduk di balik pintu, memeluk lututnya. Ia mendengar setiap patah kata yang diucapkan Arkan. Air matanya jatuh bukan karena sedih, tapi karena merasa sangat terlindungi sekaligus merasa bersalah. Suaminya harus bertarung melawan ibunya sendiri setiap hari demi dia.
"Kamu keterlaluan, Arkan! Kamu lebih bela wanita itu daripada ibumu yang melahirkanmu!" teriak Bu Ratna, mulai menggunakan senjata andalannya: tangisan histeris.
"Aku membela yang benar, Bu. Ibu silakan lanjutkan acaranya, habiskan makanannya. Tapi jangan harap aku atau Hana akan keluar untuk berpura-pura bahagia di atas skenario yang Ibu buat untuk menjatuhkan kami."
Arkan masuk kembali ke kamar, mengunci pintunya dengan bunyi klik yang tegas. Ia mendapati Hana sedang duduk di lantai. Tanpa kata, Arkan ikut duduk di lantai di samping Hana, menarik kepala istrinya ke bahunya.
"Mas... Mas harusnya tidak bicara sekasar itu pada Ibu di depan orang-orang," bisik Hana di sela isaknya.
"Lalu aku harus bagaimana, Hana? Membiarkan dia memperkenalkan wanita lain di hadapanmu? Membiarkan dia menguliti harga dirimu di depan keluarga besar? Tidak, Hana. Kalaupun aku harus dicap sebagai anak durhaka oleh seluruh dunia, aku tidak akan membiarkanmu terluka sendirian."
Di luar, suara Bu Ratna terdengar semakin menjadi-jadi. Ia mulai bercerita pada tamu-tamu tentang betapa malangnya nasibnya memiliki menantu seperti Hana yang dianggapnya telah "mencuci otak" anaknya.
Hana mencoba menutup telinganya, namun suara itu menembus celah pintu.
"Ibu bilang apa saja di luar, Mas?" tanya Hana ketakutan.
"Jangan dengarkan. Suara itu tidak lebih penting dari detak jantungku yang hanya untukmu," Arkan menggenggam tangan Hana, menciuminya berkali-kali.
Namun, di tengah kemelut itu, tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar kamar. Bukan suara teriakan Bu Ratna, melainkan suara benda jatuh yang sangat keras diikuti teriakan panik Tante Melly.
"Ratna! Ratna! Kamu kenapa? Arkan! Buka pintunya! Ibumu pingsan!"
Arkan dan Hana saling berpandangan. Ada keraguan di mata Arkan—ia takut ini hanya drama lain—namun Hana langsung berdiri.
"Mas, bagaimanapun itu Ibu. Kita harus lihat!"
Saat pintu kamar dibuka, Bu Ratna sudah tergeletak di lantai ruang tamu dengan wajah pucat. Siska tampak panik memegangi tangan Bu Ratna. Tamu-tamu berkerumun dengan wajah tegang.
Arkan segera menggendong ibunya menuju mobil. Hana berlari mengikuti di belakang, mengambil tas dan dokumen penting. Di dalam mobil menuju rumah sakit, Hana memeluk kepala mertuanya di pangkuannya, meskipun wanita itu baru saja mencoba menghancurkan hidupnya.
"Bu... bangun, Bu. Hana di sini," bisik Hana tulus.
Hana menatap Arkan yang sedang menyetir dengan rahang yang masih mengeras namun matanya memancarkan kecemasan yang mendalam. Di titik ini, Hana menyadari satu hal yang mengerikan: Selama Bu Ratna tetap tinggal bersama mereka, keharmonisan mereka akan selalu berada di tepi jurang. Dan jika terjadi sesuatu pada ibunya saat Arkan sedang marah, Arkan tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri seumur hidup.
Sesampainya di rumah sakit, dokter segera membawa Bu Ratna ke ruang gawat darurat. Arkan berdiri di depan pintu kaca, menatap kosong ke dalam.
"Kalau terjadi apa-apa sama Ibu... aku yang salah, kan, Han?" tanya Arkan dengan suara bergetar.
Hana mendekat, memeluk Arkan dari belakang, menyandarkan wajahnya di punggung suaminya yang lebar. "Tidak, Mas. Tidak ada yang salah. Kita hanya sedang diuji. Mas sudah melakukan yang terbaik untuk menjagaku, dan sekarang, kita akan lakukan yang terbaik untuk menjaga Ibu."
Tiba-tiba, Siska datang menghampiri mereka dengan sisa air mata di pipinya. "Arkan, Hana... maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kedatanganku akan membuat kekacauan seperti ini. Tante Ratna bilang kalian sedang ada masalah dan dia butuh bantuan untuk mendamaikan kalian dengan mengenalkanku sebagai 'teman' Arkan. Aku tidak tahu kalau maksudnya... seburuk itu."
Arkan tidak menoleh sedikit pun. "Pulanglah, Siska. Sebelum aku benar-benar kehilangan kendali."
Siska tertunduk dan pergi dengan terburu-buru. Hana menghela napas panjang. Ia menatap pintu UGD yang tertutup rapat, persis seperti hatinya yang kini sedang berusaha menutup diri dari segala luka, demi tetap kuat menyangga suaminya.
Hana tahu, setelah hari ini, segalanya tidak akan pernah sama lagi. Apakah ini akhir dari tekanan mertuanya, atau justru awal dari rasa bersalah yang akan menghantui rumah tangga mereka selamanya jika kondisi Bu Ratna memburuk?
"Mas," panggil Hana pelan. "Apapun yang terjadi nanti, janji ya, jangan pernah menyalahkan cinta kita?"
Arkan berbalik, memeluk Hana erat di tengah lorong rumah sakit yang dingin. "Janji, Hana. Janji."
Namun, di balik pelukan itu, Hana melihat sosok Tante Melly yang menatap mereka dari kejauhan dengan tatapan penuh simpati sekaligus peringatan. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Hana dari nomor yang tidak ia kenal: "Hati-hati, Hana. Ratna tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia mau. Pingsannya mungkin nyata, tapi rencananya jauh lebih nyata."
Hana merinding. Siapa pengirim pesan itu? Dan apa lagi yang direncanakan mertuanya?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar