Pagi itu, sinar matahari yang masuk melalui celah gorden kamar terasa lebih tajam dari biasanya. Bagi kebanyakan orang, tanggal 14 Mei adalah hari biasa, namun bagi Hana dan Arkan, hari ini adalah penanda sebuah perjalanan panjang. Lima tahun. Setengah dekade mereka mengarungi biduk rumah tangga. Seharusnya ada tawa balita yang ikut merayakan, atau setidaknya kue tart dengan lilin yang ditiup bersama jemari mungil. Namun, yang ada hanyalah keheningan yang menyesakkan di antara sprei abu-abu yang rapi.

​Arkan masih terlelap di sampingnya. Wajah suaminya tampak begitu tenang, jauh dari gurat ketegasan yang ia tunjukkan saat membela Hana di depan ibunya kemarin. Hana menyentuh pipi Arkan dengan ujung jarinya, sangat pelan, takut membangunkan benteng pertahanannya itu.

​"Selamat ulang tahun pernikahan, Mas," bisik Hana lirih. Air matanya menggenang, namun ia segera menyekanya. Ia tidak ingin Arkan bangun dan melihat wajah sembabnya sebagai kado pertama di hari istimewa ini.

​Hana bangkit, mengenakan housecoat-nya, dan melangkah keluar menuju dapur. Ia berniat membuat sarapan yang lebih istimewa hari ini—mungkin pancake blueberry dan omelet keju yang dulu sering mereka nikmati saat bulan madu. Namun, langkahnya terhenti saat melewati ruang tengah yang berbatasan dengan taman belakang.

​Suara cempreng dan penuh nada cemooh itu terdengar lagi. Bu Ratna sedang duduk di kursi rotan, ponsel menempel di telinganya. Hana refleks bersembunyi di balik pilar kayu besar yang memisahkan ruang makan dan ruang tengah. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu mendengarkan pembicaraan orang lain itu tidak sopan, tapi nama "Hana" disebut dengan penekanan yang begitu sinis.

​"Iya, Sari... kamu bayangkan saja, sudah lima tahun!" Bu Ratna bicara pada telepon, kemungkinan besar adalah Sari, adik ipar Arkan yang tinggal di luar kota. "Ibu ini sudah seperti tinggal di kuburan. Sepi sekali. Arkan itu keras kepala, persis ayahnya. Masih saja betah memelihara 'pohon mandul' di rumah ini."

​Hana memejamkan mata erat-erat. Kata-kata 'pohon mandul' itu seperti sembilu yang menyayat jantungnya.

​"Ibu sudah bilang ke dia kemarin, cari saja yang lain. Ibu ada calon, anak teman pengajian Ibu di kampung. Badannya subur, pinggulnya lebar, tipe wanita yang sekali sentuh langsung jadi. Tapi Arkan malah marah-marah. Dia bilang lebih baik tidak punya anak daripada harus menduakan Hana. Coba kamu bayangkan, Sari, ilmu apa yang dipakai Hana sampai Arkan sebodoh itu?"

​Terdengar tawa kecil dari seberang telepon yang samar-samar tertangkap indra pendengaran Hana. Bu Ratna melanjutkan dengan nada yang semakin meninggi.

​"Hana itu di depan Arkan saja sok suci, sok lembut. Tapi Ibu tahu, dia itu cuma mau harta Arkan saja. Kalau dia benar-benar cinta, dia pasti sudah minta cerai dari dulu karena tahu diri tidak bisa kasih keturunan. Dasar wanita tidak berguna. Ibu malu, Sari. Malu kalau arisan ditanya cucu sudah berapa. Ibu bilang saja Arkan sibuk, padahal ya karena istrinya itu yang bermasalah. Ibu curiga, jangan-jangan dulu dia punya masa lalu kelam sampai rahimnya dikutuk seperti itu."

​Dengkul Hana terasa lemas. Masa lalu kelam? Rahim dikutuk? Fitnah itu terasa terlalu berat untuk ditanggung. Hana mencengkeram dadanya, berusaha mengatur napas agar isakannya tidak terdengar. Ia ingin sekali keluar, berteriak, dan membela dirinya sendiri. Ia ingin mengatakan bahwa dia juga terluka, bahwa setiap bulan dia menangis di kamar mandi saat mendapati tamu bulanannya datang lagi. Tapi kakinya seolah terpaku di lantai.

​Tiba-tiba, sebuah tangan hangat mendarat di bahu Hana. Hana tersentak hebat dan hampir berteriak jika sebuah tangan lain tidak segera menutup mulutnya dengan lembut.

​Arkan.

​Suaminya berdiri di sana dengan wajah yang sangat merah, matanya berkilat penuh kemarahan. Arkan rupanya telah berdiri di belakang Hana sejak beberapa saat lalu dan mendengar semuanya. Tanpa berkata apa-apa, Arkan melepaskan tangannya dari bahu Hana dan melangkah lebar menuju taman belakang.

​"Cukup, Bu!" suara Arkan menggelegar, memotong pembicaraan Bu Ratna di telepon.

​Bu Ratna tersentak sampai ponselnya hampir jatuh. "Arkan? Sejak kapan kamu di sana?"

​"Cukup untuk menghina istriku di depan adikku sendiri. Cukup untuk memfitnah masa lalunya yang Ibu sendiri tahu dia wanita baik-baik dari keluarga terhormat!" Arkan merebut ponsel ibunya, menekan tombol loudspeaker. "Sari, dengar Mas baik-baik. Kalau kamu atau Ibu sekali lagi menyebut istrimu dengan sebutan 'pohon mandul' atau memfitnah yang tidak-tidak, jangan harap Mas akan mengirim uang bulanan lagi ke kamu atau mengizinkan Ibu tinggal di sini."

​"Mas! Kok gitu?" suara Sari terdengar panik dari seberang telepon.

​"Karena kalian tidak punya empati! Hana itu kakak iparmu, Sari. Dia yang selalu ingat mengirimkan kado saat kamu ulang tahun, dia yang selalu memesankan makanan kalau kamu bilang sedang malas masak. Dan Ibu..." Arkan menatap ibunya dengan tatapan kecewa yang mendalam. "Ibu yang mengandungku, tapi kenapa hati Ibu tidak memiliki kelembutan seorang ibu untuk wanita lain?"

​Bu Ratna berdiri, wajahnya memerah karena malu sekaligus marah. "Ibu begini karena peduli padamu, Arkan! Ibu mau ada yang meneruskan marga keluarga kita!"

​"Marga tidak lebih penting daripada harga diri istriku!" Arkan membanting ponsel itu ke kursi rotan. "Hari ini ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Aku ingin hari ini menjadi hari yang tenang. Kalau Ibu tidak bisa diam dan terus menghasut keluarga kita untuk membenci Hana, Arkan sendiri yang akan mengantar Ibu pulang ke kampung siang ini juga. Arkan tidak main-main."

​Bu Ratna terdiam. Ia tahu jika Arkan sudah menggunakan nada rendah yang bergetar seperti itu, anaknya benar-benar sedang berada di puncak kemarahan. Dengan sisa-sisa harga diri yang terluka, Bu Ratna berjalan masuk melewati Hana tanpa menoleh sedikit pun, bahkan sengaja menyenggol bahu Hana dengan keras.

​Hana masih terpaku di tempatnya. Arkan mendekat, nafasnya masih memburu. Ia menarik Hana ke dalam pelukannya, sangat erat.

​"Maafkan aku, Hana. Maafkan keluargaku," bisik Arkan di sela rambut Hana.

​Hana menangis sesenggukan di dada suaminya. "Mas... apa aku benar-benar tidak berguna? Apa aku benar-benar kutukan untukmu?"

​Arkan melepaskan pelukannya, memegang kedua pipi Hana dengan tangan yang sedikit gemetar. "Dengarkan aku, Hana Az-Zahra. Kamu adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Lima tahun ini adalah tahun-tahun terbaikku karena ada kamu di sampingku. Anak itu rezeki dari Tuhan, bukan hukuman atau hadiah atas kepatuhan kita. Kalau Tuhan belum kasih, itu urusan Tuhan. Tapi urusanku adalah mencintaimu sampai aku tidak bernapas lagi. Jangan pernah, sekali pun, kamu mempercayai kata-kata Ibu tadi."

​Hana menatap mata cokelat suaminya. Di sana tidak ada kebohongan, hanya ada ketulusan yang murni. Namun, jauh di lubuk hatinya, Hana mulai merasa lelah. Ia lelah menjadi penyebab pertengkaran antara ibu dan anak. Ia lelah menjadi sasaran kebencian yang tidak bisa ia kendalikan.

​"Ayo, ganti baju. Kita keluar," ajak Arkan, mencoba mengubah suasana.

​"Ke mana, Mas?"

​"Ke mana saja yang tidak ada suara sindiran. Kita akan merayakan lima tahun kita. Hanya kita berdua," Arkan mengecup kening Hana, sebuah ritual yang selalu berhasil menenangkan badai di hati Hana, meski hanya sementara.

​Sore harinya, mereka berada di sebuah restoran tepi danau yang tenang. Arkan memesan semua makanan favorit Hana. Namun, pikiran Hana tetap melayang pada percakapan telepon tadi pagi. Kalimat 'pohon mandul' seolah terngiang-ngiang bersamaan dengan denting sendok dan garpu.

​"Mas," panggil Hana pelan.

​"Ya, Sayang?"

​"Apa kita sebaiknya mencoba bayi tabung lagi? Atau... atau kita periksa ke dokter lain di luar negeri? Aku punya simpanan uang dari hasil jualan online-ku selama ini," tanya Hana penuh harap namun cemas.

​Arkan meletakkan garpunya. Ia meraih tangan Hana. "Hana, kita sudah sepakat untuk istirahat dari semua prosedur medis tahun ini, kan? Kamu ingat betapa hancurnya kamu waktu program bayi tabung kita gagal tahun lalu? Aku tidak mau melihatmu disuntik puluhan kali dan berakhir menangis di lantai rumah sakit lagi. Aku tidak mau ragamu rusak hanya karena tekanan orang lain."

​"Tapi Ibu..."

​"Ibu akan belajar menerima, atau dia akan kehilangan anaknya. Itu pilihannya, bukan pilihanmu," tegas Arkan.

​Saat mereka sedang menikmati hidangan penutup, ponsel Arkan bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup keluarga besar. Hana sempat melirik sekilas. Itu adalah foto sepupu Arkan yang baru saja melahirkan anak ketiga, dengan caption dari tantenya: "Alhamdulillah, keluarga kita semakin ramai. Semoga yang lain segera menyusul dan tidak menunda-nunda."

​Hana melihat rahang Arkan mengeras. Tanpa membalas, Arkan mematikan ponselnya dan meletakkannya terbalik di meja.

​"Jangan dilihat," ujar Arkan.

​"Aku sudah lihat, Mas." Hana tersenyum pahit. "Dunia seolah sedang berkonspirasi untuk mengingatkanku pada kekuranganku hari ini."

​"Bukan kekurangan, Hana. Hanya belum waktunya. Dan kalaupun waktu itu tidak pernah datang, aku tetap akan memilihmu di setiap kehidupan yang aku miliki."

​Malam itu, mereka pulang dengan perasaan yang campur aduk. Saat memasuki rumah, keadaan sangat sepi. Bu Ratna sudah mengurung diri di kamar. Namun, di atas meja makan, ada sebuah amplop cokelat besar yang diletakkan secara sengaja.

​Arkan membukanya. Itu adalah brosur klinik kesuburan lain, namun di dalamnya terselip sebuah artikel cetak tentang "Dampak tidak memiliki keturunan terhadap keharmonisan rumah tangga dan kesehatan mental suami". Di bawahnya ada tulisan tangan Bu Ratna: Jangan egois, Arkan. Pikirkan masa depanmu.

​Arkan meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah dengan kasar. Ia menoleh ke arah Hana yang berdiri di ambang pintu dapur, wajah istrinya pucat pasi.

​"Mas... apa kita benar-benar bisa bertahan?" tanya Hana lirih, suaranya nyaris hilang.

​Arkan berjalan mendekat, memeluk Hana dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu istrinya. "Kita bukan hanya bisa bertahan, Hana. Kita akan menang. Selama kita tidak saling melepaskan, dunia tidak akan bisa memecahkan kita."

​Namun di dalam kamar yang gelap, di balik pintu yang tertutup, Hana masih bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang terasa berat. Ia tahu, babak baru perjuangannya baru saja dimulai. Dan musuh terbesarnya bukanlah kemandulan, melainkan rasa bersalah yang terus dipupuk oleh ibu mertuanya.

​Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Hana berdoa dengan permintaan yang berbeda. Bukan lagi meminta seorang anak, melainkan meminta kekuatan agar ia tidak menjadi alasan suaminya kehilangan ibunya sendiri.