Kontak: Ibu Mertua (Bu Ratna)

Status: Online

โ€‹Bu Ratna:

Puas kamu sekarang, Hana? Puas sudah bikin anak saya jadi anak durhaka? Kamu pikir dengan cuci otak Arkan supaya lawan ibunya sendiri, kamu menang?

โ€‹Bu Ratna:

Jangan senang dulu. Saya sengaja lepaskan kalian pulang supaya kamu sadar diri. Liat Arkan tadi, mukanya kuyu, stres. Itu semua karena KAMU. Kalau dia nikah sama wanita normal, dia nggak perlu akting jadi pahlawan kesiangan tiap hari cuma buat belain kamu.

โ€‹Hana:

Mohon maaf Bu, Hana tidak pernah bermaksud memecah hubungan Ibu dan Mas Arkan. Hana sayang sama Ibu, makanya Hana rawat Ibu semalaman. Tolong istirahat ya Bu, tensinya jangan sampai naik lagi.

โ€‹Bu Ratna:

HALAH! Gak usah sok suci pake bawa-bawa sayang. Kamu rawat saya cuma biar kelihatan baik di depan Arkan kan? Biar dia makin merasa berdosa kalau ninggalin kamu. Strategi murahan! ๐Ÿคฎ

โ€‹Bu Ratna:

Denger ya Hana, pohon yang nggak berbuah itu cuma pantes jadi kayu bakar. Kamu itu cuma parasit di hidup Arkan. Sampai kapan kamu mau nahan dia? Kamu mau liat Arkan tua sendirian tanpa ada yang nerusin namanya cuma gara-gara rahim kamu yang kering itu?

โ€‹Bu Ratna:

Saya nggak akan berhenti. Siska itu masih nunggu. Dia jauh lebih pantas dampingi Arkan daripada kamu yang cuma bisa bikin malu keluarga. Kalau kamu beneran cinta Arkan, kamu harusnya pergi. Sadar diri, kamu itu CACAT sebagai wanita!

โ€‹Bu Ratna:

Ingat, doa ibu itu tembus ke langit. Dan saya nggak akan pernah ridho Arkan sama kamu. Kamu mau liat Arkan sial terus hidupnya karena ibunya nggak ridho? Silakan bertahan kalau kamu memang seegois itu.


โ€‹Hana hanya membaca (Read) pesan terakhir itu dengan tangan gemetar hebat. Ia tidak sanggup membalas lagi. Kalimat "Cacat sebagai wanita" dan "Tidak Ridho" terasa lebih tajam daripada jarum suntik yang ia lihat di rumah sakit tadi.

โ€‹Hana segera menghapus seluruh percakapan tersebut sebelum mobil sampai di rumah, karena ia tahu, jika Arkan melihatnya, perang besar yang lebih mengerikan akan meletus.