Suara gemericik air dari pancuran shower menghantam ubin porselen berwarna abu-abu, menciptakan dengung bising yang bergema memantul di keempat sisi dinding kamar mandi. Namun, sebising apa pun suara air itu, ia tidak mampu meredam jeritan tertahan yang sedari tadi menyesakkan dada Karina. Di bawah guyuran air sedingin es itu, Karina terduduk melingkar di sudut ruangan, memeluk lututnya sendiri dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Gaun tidur berbahan katun tipis bermotif bunga kecil yang ia kenakan sudah basah kuyup berjam-jam yang lalu, menempel cetak pada tubuhnya yang terus bergetar karena kedinginan dan tangis yang tak kunjung reda.

Ia tidak sedang membersihkan diri. Ia menyalakan pancuran air itu hanya untuk satu alasan: menyembunyikan suara isak tangisnya.

Karina menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, merasakan rasa asin darah yang merembes pelan, bercampur dengan aliran air ledeng dan air mata yang membasahi wajahnya yang pucat pasi. Rasa sesak di rongga dadanya terasa seperti bongkahan batu besar berduri yang tiba-tiba dijatuhkan begitu saja, menghancurkan paru-parunya, membuatnya terengah-engah mencari pasokan oksigen. Matanya terpejam erat, namun di balik kelopak matanya yang membengkak, bayangan kejadian pagi ini kembali berputar bagai kaset rusak yang menyiksa.

Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya dalam kurun waktu enam bulan terakhir, Farel meninggalkannya dengan keheningan yang menyayat hati. Tidak ada kecupan ringan di kening sebelum berangkat. Tidak ada pelukan hangat yang memintanya menunggu di rumah. Bahkan, tidak ada sebersit pun tatapan mata yang menyiratkan bahwa Farel menyadari keberadaannya. Pria yang telah mengikat janji suci pernikahan dengannya selama tiga tahun itu hanya duduk mematung di meja makan, menghabiskan secangkir kopi hitamnya dalam kebisuan total sambil terus menatap lekat layar ponselnya, lalu beranjak pergi begitu saja seperti angin lalu.

Pagi tadi, Karina masih mencoba. Ia selalu mencoba. Ia mendekati suaminya, mengangkat tangan untuk memperbaiki kerah kemeja pria itu.

"Mas, dasi kamu miring," tegur Karina lembut pagi tadi, memaksakan sebuah senyuman di bibirnya yang bergetar.

Namun, balasan yang ia terima adalah penolakan. Farel menepis tangannya. Halus, memang, tapi tepisan itu cukup kuat untuk membuat tangan Karina terhempas dan membeku di udara.

"Biarin aja. Aku buru-buru."

Hanya itu. Tiga kata singkat, padat, dan menusuk yang diucapkan tanpa sedikit pun pria itu menoleh kepadanya. Tiga kata yang seketika menyadarkan Karina pada sebuah realitas pahit yang selalu berusaha ia sangkal: dirinya mungkin sudah tidak lagi terlihat di mata pria itu. Pernikahan yang dulunya dipenuhi tawa ringan, candaan manis saat menyeduh teh di sore hari, dan obrolan panjang di atas kasur hingga larut malam, kini telah berubah wujud menjadi ruang tunggu stasiun yang dingin dan tak berpenghuni.

Karina merasa seperti hantu yang bergentayangan di dalam rumahnya sendiri. Ia bangun pagi, menyiapkan sarapan yang jarang disentuh, menyetrika kemeja kerja yang dipakai suaminya untuk pergi entah ke mana dan bertemu entah siapa, dan menghabiskan sisa harinya untuk menunggu seseorang yang raganya pulang, tapi jiwanya tertinggal entah di dimensi mana.

Tiga puluh menit berlalu sejak Karina meringkuk di lantai kamar mandi. Air shower yang mengguyurnya kini terasa menusuk hingga ke tulang sumsum. Karina akhirnya memaksa tubuhnya bergerak untuk mematikan keran air. Suara putaran keran besi itu berderit pelan. Seketika, keheningan menyergap kamar mandi, membuat dengusan napasnya sendiri yang memburu terdengar begitu keras dan menyedihkan di telinganya. Ia memaksakan diri untuk berdiri perlahan dengan berpegangan pada pinggiran wastafel. Kakinya terasa kebas dan gemetar karena terlalu lama berjongkok di lantai yang keras.

Diraihnya selembar handuk putih tebal yang tergantung rapi di rak stainless steel, lalu membungkus tubuhnya yang menggigil kedinginan. Ia berdiri mematung di depan cermin wastafel yang mengembun. Dengan sebelah tangan yang bergetar, Karina mengusap embun di cermin itu, menampakkan pantulan dirinya yang terlihat sangat menyedihkan. Rambut panjangnya yang biasanya hitam berkilau kini lepek dan menempel di pelipisnya. Matanya bengkak dengan guratan urat merah yang jelas terlihat di bagian putih matanya. Dan bibir bawahnya… bibir bawahnya robek kecil, mengeluarkan titik-titik darah segar akibat terlalu keras ia gigit untuk menahan isakan.

"Kamu kuat, Karina. Kamu bisa melewati ini. Ini cuma fase. Semua rumah tangga pasti ada masa jenuhnya," gumam Karina pada pantulan dirinya di cermin, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Ia mengucapkan kalimat itu berulang-ulang, sebuah mantra penenang yang sudah ribuan kali ia rapalkan di dalam hati, namun ironisnya, tak pernah benar-benar berhasil meyakinkan dirinya sendiri.

Setelah mengeringkan badan dengan saksama dan mengganti pakaian basahnya dengan setelan piyama lengan panjang yang bersih dan kering, Karina melangkah gontai keluar dari kamar mandi. Udara sejuk dari AC kamar tidur langsung menyapanya. Ia berjalan menuju tempat tidur dan merapikan seprai yang separuhnya masih rapi tak tersentuh—karena semalaman suntuk Farel tidur menyamping memunggunginya, menempel di pinggir kasur seolah takut kulit mereka bersentuhan.

Setelah memastikan kasur kembali rapi tanpa kerutan, Karina meraih ponsel pintarnya yang tergeletak sembarangan di atas nakas kayu di samping tempat tidur. Layar ponselnya gelap. Ia menekan tombol daya.

Ada beberapa notifikasi yang menumpuk. Tiga pesan beruntun dari grup keluarga besarnya yang membahas rencana arisan bulan depan, dan dua email berisi promosi dari toko pakaian langganannya. Karina menggeser layar, berniat mengabaikan semuanya dan meletakkan kembali ponselnya. Namun, gerakannya terhenti ketika sebuah notifikasi baru tiba-tiba muncul di bagian atas layar ponselnya, berkedip sejenak dengan lambang kamera khas aplikasi Instagram.

Pesan Permintaan (1)

Kening Karina berkerut dalam. Ia menatap layar ponselnya dengan perasaan heran. Ia sangat jarang menggunakan media sosialnya. Akun Instagram miliknya dikunci untuk publik dan hanya berisi beberapa pengikut yang terdiri dari teman-teman dekat semasa kuliah dan keluarga. Ia lebih sering menggunakan aplikasi itu hanya sebagai penonton diam; melihat-lihat resep masakan untuk ia coba di dapur, atau mencari inspirasi tren dekorasi rumah minimalis. Sangat jarang ada orang yang mengiriminya pesan langsung, apalagi yang masuk ke dalam folder 'Permintaan Pesan' yang dikhususkan untuk orang yang tidak ia ikuti.

Siapa yang mengiriminya pesan di jam sembilan pagi begini?

Dengan ibu jari yang masih menyisakan sedikit sensasi gemetar, ia membuka aplikasi tersebut, mengabaikan beranda yang dipenuhi foto kebahagiaan orang lain, dan langsung menekan ikon pesawat kertas di pojok kanan atas untuk masuk ke kotak masuk tersembunyi.

Sebuah akun anonim tanpa foto profil—hanya menampilkan siluet kelabu bawaan aplikasi—bertengger di urutan teratas. Nama penggunanya hanyalah deretan angka dan huruf yang tampak seperti diketik secara acak: User_99201. Akun itu mengiriminya satu baris kalimat singkat.

Karina menekan pesan tersebut tanpa banyak pikir, mengira itu hanyalah pesan promosi atau spam yang sering dikirimkan oleh akun bot berjualan. Namun, tulisan yang muncul di layar detik berikutnya membuat aliran darah di sekujur tubuh Karina terasa berhenti berdesir seketika. Jantungnya seakan anjlok ke dasar perut.

User_99201: Hari ini kamu nangis di kamar mandi, ya?

Udara di sekitar Karina mendadak terasa ditarik habis. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia menatap layar ponselnya tanpa berkedip, membaca sederetan kata sialan itu berulang-ulang, belasan kali, hingga huruf-huruf hitam di layar putih itu terasa mengabur dan kehilangan maknanya.

Bagaimana… bagaimana orang ini tahu?

Seketika, pandangan mata Karina otomatis menyapu liar ke sekeliling kamar tidurnya yang sunyi senyap. Ia menatap ke arah tirai jendela berwarna krem yang masih tertutup rapat sejak semalam, tidak ada celah cahaya matahari yang masuk. Ia menoleh ke arah pintu kamar yang masih terkunci rapat dari dalam. Ia bahkan menatap ke arah ventilasi udara dan lubang AC di sudut ruangan atas.

Tidak ada siapa-siapa di sana. Tidak ada kamera. Tidak ada alat penyadap yang bisa ia lihat. Tidak ada suara apa pun di dalam rumah besar yang terasa seperti kuburan ini selain dengungan pelan dari kompresor AC.

Tangannya mulai memproduksi keringat dingin, membuat ponsel di genggamannya terasa licin. Ia buru-buru mengetuk profil akun tersebut, mencari petunjuk sekecil apa pun. Kosong. Akun itu benar-benar bersih. Nol postingan. Nol pengikut. Nol mengikuti. Tidak ada bio, tidak ada tautan. Akun ini jelas baru saja dibuat beberapa menit atau jam yang lalu, khusus untuk mengirim pesan ini kepadanya.

"Ini… ini pasti kebetulan," bisik Karina dengan suara gemetar, suaranya memecah keheningan kamar dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan.

Ia memejamkan mata, memaksakan otaknya yang sedang kalut untuk mencari penjelasan paling logis dan masuk akal. Mungkin ini bot? Ya, pasti penipuan bodoh. Pikirannya mencoba merasionalisasi. Spam yang dikirimkan secara massal ke ribuan akun wanita secara acak. Banyak wanita yang merasa sedih dan menangis di kamar mandi, bukan? Itu adalah stereotip adegan sinetron yang sangat umum di masyarakat. Si pembuat bot iseng ini pasti mengirim pesan yang sama ke ribuan akun target, berharap ada satu atau dua wanita kesepian yang sedang bersedih, merasa pesannya 'tertebak' dan akurat, lalu merespons pesan tersebut hingga akhirnya berujung pada penipuan modus psikologis atau pemerasan.

Ya, itu adalah penjelasan yang paling masuk akal. Logika itu berhasil membuat detak jantung Karina sedikit mereda, meski rasa dingin di ujung jari-jarinya belum sepenuhnya hilang.

Sambil terus meyakinkan dirinya sendiri dengan skenario bot penipu itu, Karina segera menekan lambang tiga titik di pojok kanan atas layar, memilih opsi 'Blokir', dan menghapus pesan mengerikan tersebut dari daftar obrolannya hingga tak bersisa. Ia kemudian melempar ponselnya ke atas kasur dengan gerakan kasar, seolah benda pipih persegi panjang itu baru saja berubah menjadi bongkahan bara api yang membakar telapak tangannya.

Ia butuh udara segar. Ia butuh kesibukan yang sangat padat untuk mengalihkan otaknya yang mulai liar memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal.

Sisa hari itu dihabiskan Karina dengan menyiksa tubuhnya sendiri melalui pekerjaan rumah tangga yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Ia membutuhkan kelelahan fisik untuk membungkam kelelahan mentalnya.

Ia membongkar seluruh isi kulkas, membersihkan rak-rak kacanya hingga mengkilap, memilah sayuran layu untuk dibuang. Ia lalu menyibukkan diri di area dapur, memotong bawang, menumbuk bumbu, dan memasak ayam woku bumbu kuning yang sangat pedas dipadukan dengan tumis kangkung terasi segar. Itu adalah menu kesukaan Farel. Menu yang selalu membuat suaminya menambah porsi nasi saat mereka baru menikah dulu. Karina berharap, bau harum dari masakan ini saat Farel pulang nanti bisa sedikit mencairkan kebekuan di antara mereka.

Tidak berhenti di situ, setelah dapur bersih, ia menyeret vacuum cleaner ke ruang tengah, menyedot debu di karpet bulu hingga tak ada satu pun kotoran yang tersisa. Ia memoles meja kaca, merapikan buku-buku di rak sesuai dengan urutan abjad, melipat ulang selimut sofa. Ia melakukan apa saja, bergerak ke sana kemari, memastikan kedua tangannya tidak menganggur sedetik pun agar otaknya berhenti memutar ulang pesan anonim sialan tadi pagi.

Waktu terus merangkak. Matahari terbenam, digantikan oleh langit malam yang pekat. Jarum jam menunjuk tepat di angka setengah delapan malam ketika suara deru mesin mobil yang sangat familiar terdengar memasuki area garasi rumah.

Jantung Karina otomatis berdebar lebih cepat. Itu adalah refleks bawah sadar yang tak pernah hilang, meskipun selama setengah tahun belakangan ini, kedatangan suaminya di rumah jauh lebih sering membawa awan gelap kekecewaan ketimbang seberkas cahaya kebahagiaan.

Terdengar suara putaran anak kunci di pintu utama, disusul decit pelan saat pintu kayu jati itu terbuka. Farel melangkah masuk ke dalam rumah. Penampilannya terlihat berantakan. Ia melonggarkan ikatan dasinya dengan kasar, rahangnya terkatup rapat, dan dahinya berkerut dalam. Ia memancarkan aura kelelahan yang begitu pekat, seolah membangun dinding kasatmata yang menolak siapa pun untuk mendekat atau sekadar menyapanya.

"Mas sudah pulang," sambut Karina, memaksakan senyum terbaik dan termanis yang bisa ia kumpulkan di wajahnya. Ia berjalan setengah berlari menghampiri suaminya, mengulurkan tangan berniat mengambil tas kerja berbahan kulit dari tangan Farel.

"Hmm," gumam Farel sangat pelan, nyaris seperti dengusan. Ia menyerahkan tasnya dengan gerakan asal tanpa repot-repot mengangkat wajahnya untuk menatap mata Karina. Ia melepaskan sepatu pantofelnya dengan kaki, membiarkannya berserakan di dekat rak, lalu langsung mengambil langkah panjang menuju lorong kamar mandi. "Aku mau mandi dulu. Gerah banget."

Karina berdiri mematung di tengah ruang tamu sambil memeluk tas kerja suaminya yang terasa berat di dadanya. Bau parfum Farel menguar kuat, tertinggal di udara sekitarnya—kombinasi aroma musk kayu yang maskulin dan sisa asap tembakau yang tajam. Dulu, kombinasi aroma ini selalu berhasil membuatnya merasa aman, nyaman, dan dilindungi. Namun sekarang, saat aroma itu merasuk ke indera penciumannya, Karina tidak merasakan apa pun selain kehampaan dan jarak yang membentang luas.

Tiga puluh menit kemudian, mereka duduk berhadapan di meja makan. Makan malam yang seharusnya menjadi momen hangat penutup hari itu justru berlangsung dalam keheningan yang mencekik dan menyiksa. Satu-satunya suara yang mengisi ruang makan itu hanyalah denting sendok dan garpu logam yang sesekali beradu dengan piring keramik.

Farel makan dengan gerakan mekanis yang sangat cepat. Matanya sama sekali tidak melirik ke arah makanan yang ia kunyah, melainkan terpaku lekat pada layar ponselnya yang disandarkan pada gelas air putih di depannya. Cahaya terang dari layar ponsel memantul pada lensa kacamata bacanya. Jari jemarinya sesekali bergerak mengetikkan sesuatu di atas keyboard virtual dengan sangat lincah.

Di seberangnya, Karina menelan makanannya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa menyempit. Nasi hangat bumbu woku yang masuk ke dalam mulutnya terasa hambar, kasar seperti mengunyah pasir.

"Mas," panggil Karina pelan, suaranya memecah keheningan ruang makan dengan hati-hati.

Farel tidak merespons. Matanya masih bergerak membaca barisan kalimat di layarnya. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, sudut bibir pria itu terangkat sedikit ke atas. Sebuah senyuman simpul yang sangat tipis. Terlalu tipis untuk disebut tawa, namun terlalu jelas untuk diabaikan. Dan pemandangan itu sudah cukup untuk membuat dada Karina bergemuruh menahan gejolak emosi. Senyuman itu bukan untuknya.

"Mas Farel," panggil Karina lagi, kali ini ia menaikkan volume suaranya satu tingkat lebih keras dari sebelumnya.

Farel tersentak kecil dari dunianya sendiri. Raut wajahnya yang tadi terlihat sedikit rileks seketika menegang, berubah kembali menjadi datar, kaku, dan memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Dengan gerakan defensif, ia membalikkan ponselnya hingga layarnya menghadap ke bawah, menutupi permukaannya dari pandangan Karina.

"Apa sih, Rin? Kamu kalau panggil nggak usah pakai teriak bisa, kan? Suara kamu bikin kepalaku makin pusing. Seharian ini aku udah cukup pusing ngurusin klien di kantor," sungut Farel dengan nada bariton yang menekan, menunjukkan rasa ketidaksukaannya dengan sangat jelas.

Karina menarik napas panjang, berusaha menekan amarah yang mulai merayap naik ke tenggorokannya. "Aku dari tadi nggak teriak, Mas. Kamunya aja yang dari tadi terlalu sibuk sama dunia kamu sendiri sampai nggak dengar aku panggil. Lauknya... pas rasanya? Suka?"

"Pas. Biasa aja," jawab Farel ketus tanpa minat. Ia meraih gelas air putihnya, meneguknya hingga tandas dalam sekali tarikan napas, lalu mendorong piringnya yang masih menyisakan lebih dari separuh makanan ke tengah meja. "Aku udah kenyang. Udah selesai. Aku mau langsung tidur, besok pagi-pagi banget ada meeting sama direksi."

Melihat suaminya bersiap berdiri meninggalkan meja, refleks tangan Karina bergerak memegang ujung lengan kemeja Farel, menahannya agar tidak pergi. "Mas, tunggu dulu."

Farel menghela napas panjang dan sangat kasar, sebuah pertanda jelas bahwa kesabarannya telah habis. Ia menepis pelan tangan Karina dari lengannya, namun tatapannya menajam. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sangat sulit untuk dideskripsikan oleh Karina—kombinasi aneh antara rasa kesal, jengah, dan rasa iba yang sangat merendahkan harga dirinya.

"Kamu mulai lagi, Rin. Tolong banget, jangan mulai drama malam ini. Aku bener-bener capek. Aku kerja keras banting tulang dari pagi sampai malam buat hidupin kita berdua, dan pulang-pulang ke rumah kamu malah cari ribut ngajak berantem? Kamu kurang kerjaan banget mikir yang macam-macam di rumah."

"Aku nggak pernah cari ribut, Farel!" Pertahanan emosi Karina akhirnya runtuh. Suaranya meninggi tak tertahankan hingga bergema di ruang makan. "Aku cuma pengin ngobrol selayaknya suami istri! Aku pengin bicara sama suamiku sendiri! Kamu sadar nggak sih, kamu pulang ke rumah ini cuma buat numpang mandi dan numpang tidur? Raga kamu ada di sini, di depanku, tapi pikiran kamu entah melayang ke mana! Kamu senyum-senyum sendiri menatap HP, tapi sama istrimu sendiri kamu buang muka! Kalau aku coba tanya baik-baik, kamu selalu jadikan kesibukan kerja sebagai tameng. Aku ini sebenarnya apa buat kamu? Istrimu atau cuma pajangan rumah yang bisa kamu abaikan begitu aja?!"

Dada Karina naik turun dengan cepat. Napasnya memburu setelah meluapkan beban yang selama ini menghimpitnya. Matanya mulai berkaca-kaca menatap pria di hadapannya.

Namun, tidak ada sedikit pun raut penyesalan atau rasa bersalah di wajah Farel. Pria itu justru mendengus sinis, mengusap wajahnya dengan kasar, memperlihatkan raut wajah orang yang sangat muak.

"Terus aja, Rin. Terus playing victim. Berlagak jadi korban terus," ucap Farel dengan nada suara yang sengaja dipelankan, namun setiap katanya terasa tajam mengiris batin Karina. "Kamu selalu ngerasa jadi istri yang paling menderita, paling diabaikan, paling tersiksa di dunia ini. Terserah kamu mau ngomong apa. Aku mau tidur."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Karina untuk membalas walau satu suku kata pun, Farel berbalik memunggunginya. Pria itu mengambil langkah panjang, berjalan cepat menyusuri lorong menuju kamar tidur utama. Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu kayu ditutup dengan bantingan yang sangat keras. Bunyi BRAK! itu menggelegar ke seluruh penjuru rumah, membuat bahu Karina terlonjak kaget.

Karina tertinggal sendirian di ruang makan yang mendadak terasa begitu luas, kosong, dan beku. Matanya tertuju pada piring Farel. Makanan kesukaan yang ia siapkan dengan susah payah untuk mengusir lelah suaminya, masih tersisa setengah, menjadi dingin dan tak berguna.

Dinding pertahanannya hancur lebur. Pandangannya mengabur tertutup cairan bening yang akhirnya tumpah membasahi kedua pipinya. Karina menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia menangis terisak sendirian di meja makan itu, merasakan kehampaan yang luar biasa. Farel tahu ia menangis. Farel mendengar suaranya yang pecah tadi. Tapi suaminya itu memilih untuk meninggalkannya sendirian, membiarkan Karina tenggelam dan hancur bersama pikirannya sendiri.

Pukul 23:45. Udara malam terasa semakin dingin merasuk tulang.

Karina berbaring menyamping di sisi kiri ranjang kamarnya. Lampu utama telah dimatikan, menyisakan pencahayaan redup kekuningan dari lampu tidur di nakas sebelah kirinya. Di sisi kanan ranjang berukuran king size itu, Farel sudah tertidur lelap. Dengkur halusnya terdengar teratur, sebuah bukti nyata betapa pria itu sama sekali tidak terbebani oleh pertengkaran hebat mereka beberapa jam yang lalu. Farel tidur memunggunginya, menjaga jarak sejauh mungkin hingga menyisakan ruang kosong di tengah kasur yang seolah cukup lebar untuk menampung satu benua di antara mereka.

Mata Karina masih terbuka lebar, menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang gelap gulita. Kepalanya berdenyut nyeri. Otaknya yang lelah menolak untuk beristirahat, terus memutar ulang rentetan kejadian dan pertengkarannya dengan Farel tadi malam seperti kaset yang tersangkut. Kalimat-kalimat tajam pria itu berdengung tiada henti di telinganya. Playing victim. Kurang kerjaan. Istri paling menderita. Apakah Farel benar? Apakah selama ini dirinyalah yang menjadi sumber masalah? Apakah ia yang terlalu sensitif, terlalu banyak menuntut, dan tidak tahu diri? Ataukah nalurinya yang terdalam sebagai seorang wanita memang sedang memperingatkannya dengan keras bahwa ada sesuatu yang sangat salah dalam pernikahan ini?

Di tengah lamunan menyakitkan dan rasa lelah yang perlahan mulai menggerogoti kesadarannya, layar ponsel Karina yang diletakkan dalam posisi telungkup di atas nakas tiba-tiba menyala terang dalam gelap. Getaran pelan dan berulang menyertainya, menciptakan suara gesekan halus di atas permukaan kayu.

Bzzzt… Bzzzt…

Karina menghela napas panjang dan menoleh dengan enggan. Dengan gerakan malas yang dipenuhi kelelahan, ia mengulurkan tangannya dari balik selimut dan meraih benda pipih bersuhu dingin tersebut. Mungkin pesan otomatis dari operator seluler yang mengingatkan kuota internet, atau notifikasi aplikasi yang tidak penting, pikirnya dalam hati.

Cahaya terang dari layar ponsel itu seketika menyilaukan matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan saat ia membalikkan layarnya. Namun, rasa kantuknya menguap habis dalam sepersekian detik saat matanya membaca asal usul notifikasi yang muncul melintang di lock screen-nya.

Itu bukan pesan dari operator seluler. Itu adalah notifikasi dari aplikasi Instagram.

Sebuah direct message baru masuk. Dan yang mengirimnya adalah akun yang sama sekali tidak ia kenal.

Nama penggunanya berbeda dari akun pagi tadi, namun auranya terasa sama berbahayanya: Truth_Eye00

Jari telunjuk Karina melayang kaku di atas permukaan layar kacanya, ragu-ragu untuk menyentuh dan membukanya. Ada firasat buruk yang mendadak mencengkeram kuat tengkuknya, membuat seluruh bulu kuduk di leher dan lengannya meremang seketika. Naluri bertahannya menyuruhnya untuk mengabaikan dan menghapus notifikasi itu, tetapi rasa penasaran yang bercampur dengan ketakutan mengalahkan akal sehatnya. Dengan tarikan napas tertahan di paru-paru, jarinya bergerak menggeser layar dan membuka pesan tersebut.

Pesan itu berisi dua elemen: sebuah teks kalimat yang cukup panjang, dan di bawahnya terdapat sebuah kotak thumbnail lampiran gambar yang memuat foto kabur.

Karina membaca teksnya terlebih dahulu. Dalam detik berikutnya, ia bersumpah bisa merasakan aliran darahnya membeku seketika di dalam pembuluh darahnya. Tubuhnya mendingin.

Truth_Eye00: Suamimu benar, Karina. Kamu emang terlalu banyak drama dan terlalu sering playing victim. Lagipula, ngapain kamu capek-capek masak ayam woku kalau pada akhirnya dia cuma makan tiga suap dan ninggalin kamu nangis sendirian di meja makan? Oh ya, jangan terus-terusan gigit bibir bawahmu sampai berdarah kayak di kamar mandi pagi tadi. Mukamu makin jelek kalau kayak gitu.

Tubuh Karina menegang kaku seperti manekin. Ponsel tipis di tangannya itu mendadak terasa seberat bongkahan timah. Mulutnya sedikit terbuka, menganga dalam keterkejutan yang luar biasa, namun pita suaranya lumpuh tak mampu mengeluarkan sepotong suara pun. Matanya terbelalak lebar menatap deretan kalimat iblis di layar tersebut.

Ini bukan tebakan acak. Ini jelas bukan ulah bot atau program spam penipuan biasa.

Orang ini… entah siapa pun di balik akun ini, orang ini benar-benar tahu apa yang terjadi secara detail dan spesifik di dalam rumahnya yang tertutup rapat. Orang gila ini tahu menu makan malam yang ia masak. Orang ini tahu secara detail dan mengutip persis apa kata-kata menyakitkan yang diucapkan Farel di meja makan tadi. Orang ini tahu ia menangis sendirian, dan orang ini tahu persis kebiasaan refleksnya yang suka menggigit bibir hingga berdarah saat merasa tertekan di kamar mandi.

Dengan sisa tenaga dan tangan yang bergetar tak terkendali, ibu jari Karina tanpa sengaja menyentuh kotak lampiran foto di bawah teks pesan tersebut. Foto itu mulai mengunduh memuat datanya. Dalam hitungan detik, gambar yang semula kabur itu menjadi jernih dan terbuka penuh, memenuhi seluruh layar ponselnya.

Seketika itu juga, jantung Karina berhenti berdetak sesaat. Paru-parunya seolah lupa caranya menghirup udara.

Itu adalah sebuah foto rumahnya sendiri. Bukan foto sembarangan. Gambar itu diambil pada malam hari. Dari sudut pengambilan gambarnya, foto itu jelas difoto dari seberang jalan, tepat di luar pagar besi rumahnya, menembus rimbunnya pohon mangga di halaman depan.

Namun, bukan objek rumahnya yang membuat napas Karina tercekat hingga ia nyaris tersedak air liurnya sendiri. Lensa kamera di foto itu ternyata sengaja di-zoom sedemikian rupa, menembus pekatnya kegelapan malam, dan difokuskan lurus tepat ke arah satu titik spesifik: jendela kamar tidur utamanya di lantai dua. Jendela kamar tempat ia sedang berbaring saat ini.

Meskipun kain tirai jendela berwarna krem itu tertutup rapat dari dalam, dari luar rumah dalam foto tersebut masih terlihat sangat jelas siluet bayangan dari celah cahaya lampu tidur kekuningan yang menyala redup di dalam kamar.

Di bawah foto menyeramkan itu, gelembung pesan baru tiba-tiba muncul di layar, menandakan sebuah pesan susulan baru saja dikirim detik itu juga.

Truth_Eye00: Tidur yang nyenyak, Karina sayang. Suamimu juga tahu kok kalau kamu nangis jelek di meja makan tadi malam. Jangan lihat ke jendela, ya.

Ponsel di genggaman Karina merosot dan jatuh menimpa selimut tebalnya. Tubuh wanita itu mulai gemetar hebat, giginya bergemeretak tak terkendali karena teror yang melanda mentalnya. Dengan gerakan sangat patah-patah bak robot yang kehabisan daya, ia menoleh perlahan, inci demi inci, ke arah jendela kamarnya yang tertutup tirai tersebut. Ia membayangkan dengan ngeri, bahwa tepat pada detik ini, ada sepasang mata psikopat tak terlihat yang sedang berdiri diam di seberang jalan sana, menatap lurus ke arah siluetnya dari balik kegelapan malam.

Lalu, dengan sisa keberanian yang ia punya, pandangannya beralih menatap punggung tegap suaminya yang masih tertidur pulas tanpa beban di sebelahnya.

Suamimu juga tahu…

Di dalam benteng rumahnya sendiri, di atas kasur pernikahannya yang seharusnya menjadi tempat paling aman di dunia, Karina tak pernah merasa setakut, secemas, dan sedingin ini seumur hidupnya.