Tawa pelan yang bergaung dari lantai dua itu terdengar seperti sayatan bilah pisau berkarat yang menggores langsung ke gendang telinga Karina. Suara tawa suaminya sendiriβsuara yang dulu menjadi melodi favoritnya setiap kali pria itu pulang kerjaβkini menjelma menjadi gema iblis yang menertawakan kehancurannya dari atas takhta.
Karina masih terduduk meringkuk di atas karpet ruang tengah, bersandar lemas pada kaki meja kerjanya. Layar laptop di hadapannya masih menyala terang, memancarkan pendar cahaya kebiruan yang menerangi wajahnya yang sepucat mayat. Matanya terpaku pada nama pengguna berhuruf tebal di sudut layar itu.
F_Truth.
Huruf F. Tergabung sejak tiga tahun lalu. Tepat di bulan pernikahan mereka. Menggunakan semua detail intim masa lalu yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Dan saat ini, pria berinisial F itu sedang tertawa santai di kamarnya, mengetik entah apa lagi di ponselnya.
Satu per satu potongan puzzle yang berserakan di kepala Karina mulai bergerak, mencoba menyatukan diri membentuk sebuah gambar yang terlalu mengerikan untuk dilihat oleh mata telanjang. Farel yang selalu protektif dengan ponselnya. Farel yang mendadak dingin dan memancing pertengkaran. Farel yang tersenyum saat mengetik, sementara istrinya menangis di meja makan.
Semuanya sangat masuk akal. Semua benang merah itu terhubung dengan sempurna ke satu titik: suaminya adalah sang dalang. Suaminya adalah penulis cerita yang melacurkan privasi pernikahan mereka.
Namun, tepat pada detik ketika kesimpulan itu hampir terbentuk utuh di kepalanya, akal sehat Karina memberontak keras. Sisi rapuh dalam dirinya membangun dinding penyangkalan yang tebal dan tinggi, menolak mentah-mentah realitas yang disodorkan di depan matanya.
"Nggak... nggak mungkin," bisik Karina, suaranya bergetar hebat memecah keheningan ruang tamu. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, seolah gerakan fisik itu bisa mengusir pikiran gila tersebut dari otaknya. "Itu nggak mungkin Farel. Nggak masuk akal. Ini pasti kebetulan."
Ia mengangkat tangannya yang sedingin es, meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi. Ia mulai berdebat dengan dirinya sendiri, mencari celah, mencari alibi untuk membela pria yang baru saja mengusirnya.
Farel adalah seorang manajer di perusahaan logistik. Pria itu bekerja dari jam delapan pagi hingga jam delapan malam. Setiap hari ia pulang dengan raut wajah kelelahan yang nyata, dengan dasi yang berantakan dan bahu yang merosot. Pria yang kelelahan bekerja tidak mungkin memiliki waktu dan energi ekstra untuk merangkai ribuan kata setiap malam menjadi sebuah novel drama psikologis yang terstruktur rapi. Menulis novel butuh dedikasi, butuh imajinasi, butuh waktu berjam-jam untuk menatap layar. Kapan Farel melakukan semua itu? Di sela-sela meeting? Di dalam kemacetan tol? Tidak mungkin.
Lagipula, Farel pernah mencintainya. Farel yang melamarnya di bawah rintik hujan tiga tahun lalu. Farel yang rela berdebat dengan ibunya sendiri demi bisa menikahi Karina yang hanya berasal dari keluarga sederhana. Pria dengan tatapan seteduh itu tidak mungkin memiliki jiwa sehitam psikopat yang tega membedah mental istrinya sendiri hidup-hidup demi uang recehan dari pembaca internet.
"Pasti ada penjelasan lain," gumam Karina, napasnya memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Pikirannya kembali bekerja, merajut skenario baru yang lebih bisa diterima oleh hatinya yang hancur. Ia teringat akan sebuah kasus yang pernah ia tonton di televisi. Peretasan. Hacking. Kejahatan siber.
"Iya... ini pasti ulah hacker," ucap Karina, kali ini nadanya terdengar sedikit lebih yakin, seolah ia baru saja menemukan pelampung di tengah badai samudra.
Pasti ada sindikat kejahatan siber yang meretas jaringan Wi-Fi rumah mereka. Mereka menyadap ponsel Farel, membaca seluruh riwayat pesan mereka sejak zaman pacaran. Mereka menyadap mikrofon di rumah ini, mendengarkan setiap pertengkaran mereka dari balik layar monitor di entah berantah. Lalu, si peretas yang kebetulan memiliki kemampuan menulis fiksi, menggunakan semua informasi curian itu untuk membuat akun F_Truth.
Si peretas sengaja menggunakan huruf 'F' dan mendaftar dengan memanipulasi tanggal join agar terlihat seolah-olah Farel pelakunya. Tujuannya? Tentu saja untuk menghancurkan mental Karina sepenuhnya, mengadu domba mereka berdua, dan mendulang uang dari tulisan tersebut.
Itu adalah sebuah skenario yang sangat rumit, jauh dari kata sederhana. Namun bagi Karina saat ini, skenario fiksi tentang hacker jenius yang terobsesi pada rumah tangganya jauh lebih bisa ditelan daripada kenyataan bahwa pria yang memeluknya setiap malam adalah monster tak berwajah yang sama. Ia memeluk erat ilusi itu, karena jika ia melepaskannya, ia tidak tahu bagaimana caranya melanjutkan hidup keesokan harinya.
Dengan sisa tenaga dan determinasi yang didorong oleh rasa penasaran yang menyiksa, Karina kembali menarik laptopnya mendekat. Ia memperbaiki posisi duduknya. Matanya yang sembap kembali menatap layar. Ia harus mencari bukti. Ia harus membuktikan bahwa platform ini penuh dengan sindikat kriminal, bukan suaminya.
Karina mulai mengeksplorasi platform membaca digital tersebut lebih dalam. Ia membuat akun baru dengan nama acak hanya agar bisa mengakses fitur pencarian secara penuh. Ia menekan menu kategori, matanya menelusuri puluhan genre yang tersedia. Romansa, Fantasi, Fiksi Ilmiah, Horor... dan langkah matanya terhenti pada satu sub-kategori yang posisinya berada di jajaran atas dengan label "Sedang Tren".
Real Life Domestic Drama β (Drama Rumah Tangga Nyata)
Jari Karina bergetar saat ia mengklik kategori tersebut.
Layar memuat ulang, dan seketika puluhan sampul cerita bermunculan. Masing-masing menampilkan judul yang provokatif dan mengerikan.
Jeritan Istri di Balik Tembok Mewah.
Catatan Perselingkuhan Suamiku.
Menjual Air Mata Mertua.
Suamiku Membayar Penderitaanku.
Karina menelan ludah. Ia mengklik salah satu cerita yang menduduki peringkat teratas, sekadar untuk melihat apa isinya. Sinopsis cerita itu dengan terang-terangan menyebutkan bahwa sang penulis sedang menceritakan kehancuran rumah tangganya sendiri secara real-time atau langsung, dan setiap koin yang diberikan oleh pembaca akan digunakan untuk menyewa pengacara cerai.
Di cerita lain, seorang penulis pria dengan bangga menulis tentang bagaimana ia memanipulasi istrinya yang depresi agar selalu bergantung padanya, dan ribuan pembaca berkomentar memuji 'kegeniusan' taktik manipulasi pria tersebut.
Karina merasa perutnya kembali bergejolak. Rasa mual itu kembali menyerang.
Ternyata, ia tidak sendirian. Ada sebuah pasar gelap emosional yang terang-terangan beroperasi di bawah radar moralitas. Ada sebuah ekosistem menjijikkan di mana orang-orang menjual privasi, aib, luka, dan pengkhianatan di dalam rumah tangga mereka untuk ditukar dengan koin virtual bernilai rupiah.
Orang-orang ini tidak mempublikasikan fiksi. Mereka mempublikasikan penderitaan manusia sungguhan. Mereka membedah pasangan mereka hidup-hidup di atas meja operasi digital, dan mengundang ratusan ribu pembaca untuk menonton sambil melempar uang receh ke dalam toples.
Karina membuka tab baru dan mengetikkan kata kunci di mesin pencari Google: "Berapa penghasilan penulis premium di platform X".
Ia mengklik salah satu artikel wawancara dari sebuah blog komunitas penulis. Matanya membulat sempurna saat membaca deretan angka yang tertera di layar. Seorang penulis premium dengan posisi top ten bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan juta rupiah per bulan hanya dari pembagian hasil koin pembaca dan akses VIP. Semakin kontroversial ceritanya, semakin nyata konflik yang disajikan, dan semakin menderita tokoh utamanya, maka semakin deras pula koin yang mengalir masuk.
Tiba-tiba, tanpa bisa dicegah, otak Karina kembali memutar rentetan kejadian aneh seputar suaminya.
Dinding penyangkalan yang susah payah ia bangun mulai retak, dihantam oleh palu realitas yang bertubi-tubi.
Dua bulan yang lalu, Farel pulang ke rumah membawa sebuah jam tangan bermerek yang harganya Karina tahu persis mencapai puluhan juta. Saat itu, Farel beralasan bahwa ia mendapat diskon besar dari temannya yang sedang butuh uang. Namun, ironisnya, di minggu yang sama Farel mengeluh bahwa perusahaan sedang memotong bonus akhir tahun akibat krisis pengiriman.
Bulan lalu, Farel tiba-tiba mengganti mobil lamanya dengan SUV keluaran terbaru. Alasannya? Cicilan ringan dan bonus dari side job yang tak pernah ia jelaskan secara rinci kepada Karina.
Dari mana uang-uang itu berasal?
Karina melirik ke arah judul novel Sanggakara di tab sebelahnya. Novel itu berada di peringkat kelima terpopuler dengan ratusan ribu pembaca berbayar. Jika artikel itu benar, penulis anonim bernama F_Truth ini pasti sudah meraup uang dalam jumlah yang sangat fantastis setiap bulannya.
"Nggak..." Karina merintih pelan, air matanya kembali menggenang. "Mas Farel nggak sepicik itu. Mas Farel nggak mungkin ngejual aku buat beli jam tangan."
Ia terus menyangkal. Ia memaksakan logikanya untuk menolak kesimpulan tersebut.
"Ini pasti sindikat hacker. Iya, hacker itu yang dapat uangnya, bukan Farel," ucap Karina dengan suara gemetar, berusaha meyakinkan pantulannya sendiri di layar laptop yang gelap.
Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan badai kepanikan di dadanya. Jika ia ingin membuktikan bahwa Farel tidak bersalah, ia harus mencari kelemahan dari tulisan F_Truth ini. Ia harus menemukan sesuatu yang tidak akurat, sesuatu yang membuktikan bahwa penulis ini hanyalah penonton dari luar yang menyadap mereka, bukan Farel yang hidup satu atap dengannya.
Dengan tangan yang masih dingin, Karina kembali ke halaman profil F_Truth. Ia mengarahkan kursor ke daftar bab cerita Sanggakara. Ia melihat urutan bab dari yang paling awal hingga yang paling baru.
Bab 20, yang baru saja diperbarui beberapa jam yang lalu, menceritakan tentang pertengkarannya di meja makan. Itu adalah kejadian masa lalu yang baru saja terlewat. Seorang penyadap bisa dengan mudah menuliskannya segera setelah menyadapnya.
Namun, saat Karina menggulir layar lebih ke bawah, matanya menangkap sesuatu yang aneh.
Di bawah tulisan Bab 20 yang tergembok, terdapat sebuah kotak preview kecil berwarna abu-abu. Itu adalah fitur dari platform untuk penulis yang ingin menjadwalkan bab berikutnya. Sebuah cuplikan (teaser) dari bab yang belum dirilis penuh, sebagai umpan agar pembaca tidak sabar menunggu dan bersedia membayar lebih mahal untuk akses kilat.
Di sana tertulis:
BAB 21 : (Scheduled for Tomorrow 08:00 AM)
Judul: Rencana Pelarian ke Pelukan Ibu.
Kening Karina berkerut dalam. Ia mendekatkan wajahnya ke layar laptop, matanya menyipit membaca satu paragraf cuplikan yang terbuka secara gratis di bawah judul tersebut.
Karina berdiri di depan lemari kayu jati di kamar tamu. Matanya menatap kosong ke arah koper kanvas berwarna biru laut yang berdebu di atas lemari. Dalam keheningan malam itu, sebuah keputusan pahit akhirnya terbentuk di kepalanya. Besok pagi, saat suaminya berangkat bekerja, ia akan pergi. Ia akan menyeret koper biru itu, melarikan diri dari neraka ini, dan kembali ke rumah ibunya di Bandung. Namun ia tak pernah tahu, bahwa tiket kereta yang belum sempat ia pesan, sudah diketahui oleh bayangan yang mengawasinya.
Udara di dalam ruang tamu itu seolah membeku seketika.
Paru-paru Karina berhenti bekerja. Matanya terbelalak sedemikian lebar hingga urat-urat kemerahannya terlihat jelas. Jantungnya, yang sedari tadi berpacu kencang, kini seakan berhenti berdetak sepenuhnya, meninggalkan rongga dadanya kosong melompong.
Keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahi dan pelipisnya. Seluruh bulu halus di sekujur tubuhnya berdiri tegak, merespons teror absolut yang tidak bisa lagi dijelaskan oleh akal sehat mana pun.
Koper kanvas berwarna biru laut.
Karina menoleh dengan sangat lambat, dengan gerakan patah-patah bak sebuah boneka kayu yang rusak, menatap ke arah pintu kamar tamu yang sedikit terbuka di ujung lorong.
Di dalam kamar itu, di atas lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati tua peninggalan mertuanya, memang terdapat sebuah koper kanvas berwarna biru laut. Koper usang yang dulu ia bawa saat pindah ke rumah ini tiga tahun lalu.
Namun, bukan koper itu yang membuat kewarasan Karina hancur berkeping-keping.
Hal yang membuat dunianya runtuh adalah isi dari paragraf tersebut.
Sebuah rencana pelarian. Pergi ke rumah ibunya di Bandung esok pagi.
Faktanya adalah... ide itu baru saja melintas di kepala Karina kurang dari lima belas menit yang lalu. Tepat setelah ia memuntahkan isi perutnya di kamar mandi, saat ia merasa tidak sanggup lagi berada di rumah ini, sekelebat pikiran melintas di benaknya: Aku harus pergi. Besok pagi aku harus kabur pakai koper biru itu ke Bandung. Aku nggak kuat lagi.
Itu hanyalah sebuah pikiran. Sebuah suara batin di dalam kepalanya yang tak pernah ia suarakan melewati bibirnya. Ia belum memesan tiket apa pun. Ia belum menyentuh koper itu. Ia belum menelepon ibunya. Ia tidak melakukan gerakan fisik apa pun yang mengindikasikan rencananya. Ia bahkan belum mencatatnya di buku harian atau mengetiknya di mana pun.
Itu murni hanya ada di dalam otaknya.
Lalu... bagaimana mungkin?
Bagaimana mungkin cerita sialan yang terpampang di layar ini menceritakan sebuah adegan tentang masa depannya? Tentang sesuatu yang belum ia lakukan, melainkan baru saja ia rencanakan di dalam pikirannya yang paling sunyi?
Ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas karpet mendadak bergetar keras.
Bzzzt!
Tubuh Karina melonjak kaget hingga punggungnya menabrak ujung meja kerja dengan keras. Rasa nyeri menjalar di tulang belakangnya, namun ia mengabaikannya. Dengan tangan gemetar parah, nyaris tak bisa mengontrol jari-jarinya sendiri, ia meraba karpet dan meraih ponsel tersebut.
Sebuah notifikasi baru muncul di layar kunci. Bukan dari akun penulis. Tapi sebuah pesan singkat dari aplikasi WhatsApp.
Pengirimnya adalah Farel.
Pria yang saat ini berada di dalam kamar utama yang terkunci di lantai dua. Pria yang tadi membuangnya ke ruang tamu.
Karina menelan ludah yang terasa seperti menelan pecahan beling. Jari telunjuknya yang bergetar menekan pesan tersebut untuk membukanya.
Mas Farel: Tidur, Rin. Jangan begadang. Oh ya, besok pagi kamu jadi mau ke rumah ibumu, kan? Aku minta tolong sekalian bawain dokumen asuransi yang di laci.
Napas Karina putus seketika.
Ponsel itu lolos dari genggamannya, terhempas ke lantai. Layarnya retak membentuk jaring laba-laba. Namun Karina tidak memedulikannya. Ia meringkuk, membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan sekuat tenaga untuk menahan jeritan histeris yang meronta di tenggorokannya.
Air mata keputusasaan tumpah ruah bagai bendungan jebol. Bahunya berguncang hebat.
Farel baru saja menanyakan rencananya ke rumah ibu. Rencana yang belum pernah ia beri tahukan kepada siapa pun di dunia ini. Rencana yang baru saja ia baca di cuplikan cerita fiksi dari akun F_Truth.
Dinding penyangkalan yang ia bangun susah payah kini hancur lebur tanpa sisa menjadi debu. Skenario tentang hacker, tentang peretasan Wi-Fi, tentang kamera tersembunyiβsemuanya terbakar habis.
Tidak ada alat penyadap di dunia ini yang bisa membaca pikiran. Tidak ada hacker yang bisa meramalkan masa depan yang belum terjadi.
Hanya ada satu penjelasan yang paling masuk akal, dan penjelasan itu adalah kebenaran paling gelap dan menakutkan yang pernah menghantam hidupnya.
Cerita itu tidak sedang memprediksi masa depannya.
Cerita itu sedang mengendalikannya.
Farel tidak sedang menyadap pikiran Karina. Sebaliknya, Farel-lah yang memanipulasi situasi, menciptakan kondisi emosional yang sedemikian rupa, sehingga Karina secara tidak sadar selalu bereaksi dan mengambil keputusan yang persis sama dengan apa yang sudah Farel tuliskan di naskahnya sebelumnya.
Pernikahannya bukan sekadar diretas. Kehidupannya sedang disutradarai. Farel adalah penulisnya, sutradaranya, sekaligus dalang yang memegang tali bonekanya. Dan setiap langkah, setiap tangisan, setiap niat kabur yang Karina rencanakan, semuanya telah tertebak dan tertulis rapi di dalam skenario suaminya.
Di lantai atas, suara langkah kaki terdengar pelan menuruni tangga.
Tap... tap... tap...
Bayangan panjang tubuh tinggi Farel mulai terlihat dari pantulan kaca jendela ruang tamu. Pria itu tidak sedang tidur. Pria itu sedang turun.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Karina memandang sosok suaminya bukan sebagai pahlawan yang ia cintai, melainkan sebagai monster psikopat yang baru saja membukakan pintu neraka untuknya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar