Kalimat terakhir dari pesan anonim itu terpampang nyata di layar ponsel, berpendar menyilaukan di tengah temaramnya ruang tamu. Huruf-hurufnya seakan menjelma menjadi jarum kasatmata yang menusuk tepat ke kornea mata Karina, menembus lurus hingga merobek akal sehatnya.

Kasihan sekali kamu, diusir seperti anjing buangan. Suamimu juga tahu kamu nangis, Karina. Tapi dia lebih memilih pura-pura buta daripada menolongmu.

Karina masih terduduk di anak tangga terbawah, membeku. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis, menyisakan ruang hampa yang mencekik tenggorokannya. Ia berusaha meraup oksigen, tetapi napasnya tersendat, hanya menghasilkan bunyi derik parau dari dadanya yang naik turun tak beraturan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga menggetarkan tulang rusuknya, memompa darah yang terasa sedingin es ke seluruh penjuru nadinya.

Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap ke arah lantai dua. Tepatnya ke arah pintu kamar utama yang terkunci rapat dari dalam. Farel ada di balik pintu itu. Suaminya ada di sana, di tempat yang seharusnya menjadi singgasana teraman bagi mereka berdua. Namun, alih-alih menjadi pelindung, pria itu justru menjadi algojo yang mengunci rapat pintu benteng, membiarkan istrinya menjadi mangsa teror di luar sana.

Suamimu juga tahu kamu nangis...

Air mata Karina kembali menetes, kali ini bukan sekadar karena rasa sedih akibat penolakan Farel, melainkan karena teror psikologis yang mulai menggerogoti kewarasannya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin sosok tak terlihat ini mengetahui dengan presisi absolut mengenai apa yang baru saja terjadi hitungan detik yang lalu?

Apakah ada kamera tersembunyi di dalam rumah ini? Di ruang tamu? Di tangga?

Naluri paranoianya mengambil alih. Dengan gerakan acak dan panik, Karina merangkak bangun. Matanya menyapu liar ke setiap sudut ruang tamu. Ia menatap curiga ke arah sela-sela pendingin ruangan, ke celah lampu gantung kristal di tengah ruangan, bahkan ke sela-sela buku di rak televisi. Ia mulai membongkar pajangan, membalik bingkai foto pernikahan mereka yang berdebu, menelusuri bagian bawah meja kaca dengan tangan bergetar. Ia mencari lensa sekecil titik jarum, atau mikrofon sebesar kancing baju. Ia mencari apa saja yang bisa membuktikan bahwa privasinya sedang diretas secara fisik.

Nihil. Ia tidak menemukan apa pun selain debu dan sunyi yang menertawakannya.

Lututnya kembali lemas. Karina tertatih-tatih melangkah menuju kamar tamu di lantai bawahβ€”satu-satunya ruangan yang bisa ia akses malam ini. Ia masuk, menekan sakelar lampu, dan mengunci pintu rapat-rapat. Kamar itu terasa pengap karena jarang digunakan. Kasurnya hanya dilapisi seprai tipis yang sedikit berbau kapur barus. Tanpa memedulikan rasa dingin, Karina meringkuk di atas kasur itu, memeluk lututnya kuat-kuat.

Ia kembali menatap layar ponselnya. Jempolnya mengambang di atas layar, ragu antara ingin memblokir akun itu atau membacanya lagi. Sisi masokis dalam dirinya menang. Ia membuka kembali riwayat obrolan dari akun Truth_Eye00.

Ia membaca pesan-pesan itu secara saksama, menelan setiap kata yang tertulis di sana. Semakin ia membacanya, detak jantungnya semakin melambat, digantikan oleh sebuah perasaan ganjil yang merayap naik dari tengkuknya. Ada sesuatu yang janggal. Bukan hanya fakta bahwa orang ini mengetahui kejadian di dalam rumahnya, tetapi cara orang ini merangkai kata-katanya.

Karina menelan ludah yang terasa pahit. Ia menyorot kembali pesan pertama yang ia terima semalam.

Suamimu benar, Karina. Kamu emang terlalu banyak drama dan terlalu sering playing victim. Lagipula, ngapain kamu capek-capek masak ayam woku kalau pada akhirnya dia cuma makan tiga suap... Oh ya, jangan terus-terusan gigit bibir bawahmu sampai berdarah... Mukamu makin jelek kalau kayak gitu.

Mata Karina terpaku pada beberapa frasa spesifik.

Terlalu banyak drama... Playing victim...

Kata-kata itu adalah senjata andalan Farel setiap kali mereka bertengkar. Tadi malam, di meja makan, Farel meneriakkan kata-kata itu tepat di depan wajahnya. Masuk akal jika penyadapβ€”jika memang ada alat penyadap di rumah iniβ€”mendengar pertengkaran mereka dan mengutipnya.

Namun, pandangan Karina turun ke kalimat berikutnya.

...gigit bibir bawahmu sampai berdarah... Mukamu makin jelek kalau kayak gitu.

Napas Karina mendadak terhenti. Darahnya berdesir hebat. Ingatan dari masa lalu, jauh sebelum pernikahan mereka hancur, tiba-tiba menyeruak menghantam kepalanya bagai godam.

Itu adalah kejadian dua tahun lalu, saat ia baru saja mengalami keguguran anak pertama mereka. Saat itu, ia menangis histeris di kamar mandi, menggigit bibir bawahnya untuk menahan jeritan hingga berdarah. Farel mendobrak pintu, memeluknya dengan erat, dan dengan lembut menghapus darah dari bibirnya. Saat itu, sambil tersenyum pedih, Farel menangkup wajahnya dan berbisik pelan, "Jangan gigit bibirmu lagi sampai berdarah begini, Sayang. Jangan nangis gitu, mukamu makin jelek kalau nangisnya kayak gitu. Aku nggak tega lihatnya."

Hanya Farel yang tahu kebiasaannya menggigit bibir saat panik. Hanya Farel yang pernah menggunakan kalimat "mukamu makin jelek" dengan konteks yang dulu terasa manis, namun kini diubah menjadi pisau beracun oleh si akun anonim.

Bagaimana seorang penyadap bisa tahu detail masa lalu itu? Bagaimana orang asing bisa meniru struktur kalimat, pilihan kata, dan kebiasaan spesifik yang hanya ada di dalam ruang lingkup intim pernikahannya?

Tangan Karina bergetar hebat hingga ponsel itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas seprai.

Sebuah pemikiran gila menyusup ke dalam benaknya. Sebuah hipotesis yang begitu mengerikan, begitu gelap, hingga membuat lambungnya bergejolak seolah ingin memuntahkan seluruh isinya.

Apakah... apakah Farel sendiri yang berada di balik akun ini?

"Nggak," bisik Karina seketika, suaranya pecah di tengah keheningan kamar tamu. Ia memukul pelan pelipisnya sendiri, mencoba mengusir pikiran itu. "Nggak mungkin. Farel itu suamiku."

Ia mencoba merasionalisasi segalanya. Farel memang berubah dingin. Farel memang mulai kasar, tidak peduli, dan manipulatif. Tapi menjadi psikopat yang meneror istrinya sendiri menggunakan akun palsu? Mengambil foto dari luar rumah? Untuk apa? Apa untungnya bagi pria itu? Farel sangat sibuk di kantor. Pria itu nyaris tidak punya waktu untuk beristirahat, apalagi merancang teror psikologis serumit ini hanya untuk menyiksa istrinya secara anonim.

"Pasti HP Farel diretas," gumam Karina, mencari alasan yang lebih bisa diterima oleh logikanya. "Ya. Pasti ada hacker. Seseorang meretas ponsel Farel, membaca riwayat chat kami yang lama, menyadap mikrofon ponselnya, dan menggunakan semua informasi itu buat neror aku. Ya... itu masuk akal."

Ia memeluk dirinya sendiri, mati-matian meyakinkan diri bahwa suaminya, betapapun buruk kelakuannya akhir-akhir ini, adalah sesama korban dari teror ini. Ia menolak mempercayai bahwa pria yang pernah berjanji di hadapan Tuhan untuk mencintainya itu adalah monster yang sama yang kini sedang berusaha menghancurkan kewarasannya. Ia menolak karena jika hal itu benar, maka Karina tidak lagi memiliki tempat berpijak di dunia ini. Dunia yang ia bangun selama tiga tahun ini hanyalah sebuah panggung ilusi yang kejam.

Malam itu, Karina meringkuk di kamar tamu dengan mata terbuka hingga matahari kembali terbit, membiarkan tubuhnya digerogoti oleh rasa lelah yang luar biasa dan kecurigaan yang berusaha keras ia sangkal.

Hari-hari berikutnya berlalu layaknya neraka yang dibekukan. Suasana di dalam rumah berubah menjadi arena perang dingin yang tak bersuara. Farel bersikap seolah malam di mana ia mengusir istrinya dari kamar tidur tidak pernah terjadi. Pria itu tetap menjalani rutinitasnya seperti robot yang telah diprogram: bangun, mandi, menuntut kopi hitam di meja makan, pergi ke kantor, dan pulang larut malam dengan wajah ditekuk lelah.

Namun, bagi Karina, setiap detik yang ia lewati di rumah itu terasa seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca. Matanya tidak pernah berhenti mengawasi sekeliling. Ia menutup rapat semua gorden secara permanen. Ia bahkan menutupi lensa webcam di laptopnya dengan selotip hitam. Teror dari pesan-pesan itu telah berhasil mengubahnya menjadi tahanan di rumahnya sendiri.

Sementara itu, perilaku Farel semakin memperdalam jurang kecurigaan di hati Karina.

Jumat malam, hujan turun rintik-rintik di luar, menciptakan suara ketukan halus di atap rumah. Farel sedang duduk bersandar di sofa ruang tengah, menyilangkan kakinya dengan santai. Televisi layar datar di hadapannya menyala, menampilkan acara berita ekonomi dengan volume yang diturunkan hingga nyaris tak terdengar.

Farel tidak sedang menonton televisi. Sepanjang tiga puluh menit terakhir, perhatiannya tertuju sepenuhnya pada ponsel pintar di genggamannya.

Dari arah dapur, Karina berdiri diam, memegang dua cangkir teh kamomil yang baru saja ia seduh. Uap panas mengepul dari cangkir tersebut. Namun kakinya menolak untuk melangkah maju. Ia terpaku di tempatnya, menatap lekat-lekat sosok suaminya dari kejauhan.

Cahaya kebiruan dari layar ponsel menerangi wajah Farel. Pria itu tampak sangat fokus. Ibu jarinya bergerak mengetik dengan kecepatan tinggi, berhenti sejenak seolah sedang membaca sesuatu yang panjang, lalu kembali mengetik.

Lalu, sesuatu yang menyayat hati Karina terjadi. Sudut bibir Farel tertarik ke atas. Pria itu tersenyum. Bukan senyum tipis yang meremehkan seperti yang sering ia tunjukkan pada Karina, melainkan senyuman lebar, tulus, hingga membuat kerutan halus di sudut matanya terlihat. Senyuman yang mengisyaratkan ketertarikan, hiburan, dan kesenangan yang nyata.

Dada Karina terasa seperti dihantam godam tak kasatmata. Kapan terakhir kali Farel tersenyum seperti itu padanya? Kapan terakhir kali mata pria itu berbinar saat menatap wajahnya? Sudah sangat lama hingga Karina bahkan hampir lupa bagaimana rupa suaminya saat sedang bahagia. Dan kini, seluruh kebahagiaan dan perhatian pria itu tersedot habis oleh sebuah kotak bercahaya sebesar telapak tangan.

Siapa yang berada di ujung pesan sana? Apakah itu klien? Tidak ada klien yang bisa membuat Farel tersenyum hingga telinganya sedikit memerah seperti itu. Apakah itu wanita lain? Ataukah...

Pikiran gila itu kembali menyelinap. Apakah Farel sedang mengetik teror baru untuk dikirimkan kepadanya?

Karina menggelengkan kepalanya pelan, menelan kepahitan di pangkal tenggorokannya. Ia memaksakan langkahnya menuju ruang tengah, meletakkan dua cangkir teh itu di atas meja kaca di depan Farel. Bunyi benturan keramik dengan kaca terdengar pelan, namun cukup untuk membuat Farel menyadari kehadirannya.

Seketika itu juga, senyum di wajah Farel lenyap tanpa bekas, bagai disapu ombak. Pria itu dengan cepat mematikan layar ponselnya dan meletakkannya dalam posisi tertelungkup di pangkuannya. Gerakannya begitu cepat dan defensif, sebuah refleks yang secara otomatis memicu alarm tanda bahaya di kepala Karina.

"Teh kamomil, Mas. Biar kamu tidurnya nyenyak," ucap Karina pelan, mencoba terdengar senatural mungkin sambil mendudukkan dirinya di ujung sofa yang sama, menjaga jarak sekitar satu meter dari suaminya.

"Makasih," jawab Farel singkat, nadanya datar dan dingin. Ia meraih cangkir teh itu, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali. Ia tidak menatap mata istrinya sama sekali.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hujan di luar semakin deras. Karina meremas kedua telapak tangannya sendiri yang terasa berkeringat. Matanya diam-diam mencuri pandang ke arah ponsel Farel yang masih tertelungkup. Benda itu terlihat seperti kotak pandora yang menyimpan semua jawaban dari neraka yang sedang ia jalani.

"Mas," panggil Karina hati-hati. Jantungnya berdebar kencang bersiap menghadapi reaksi suaminya. "Kerjaan kantor... lagi banyak banget, ya?"

Farel mendengus pelan tanpa menoleh. "Biasa. Kenapa emangnya?"

"Nggak apa-apa." Karina membasahi bibirnya yang kering. "Cuma ngerasa... akhir-akhir ini kamu sibuk banget sama HP kamu. Kalau di rumah, kamu jarang ngobrol sama aku. Tadi kamu kelihatan seneng banget waktu ngetik. Ada kabar baik dari klien?"

Kalimat itu diucapkan dengan nada selembut mungkin, tanpa maksud menuduh. Namun reaksi Farel sungguh di luar dugaan. Tubuh pria itu menegang. Rahangnya seketika mengeras. Ia menoleh perlahan ke arah Karina, dan menatap istrinya dengan sorot mata yang begitu tajam dan menusuk, seolah Karina baru saja melakukan kejahatan besar yang tak termaafkan.

"Kamu mulai lagi ya, Rin?" desis Farel, suaranya pelan namun mengandung ancaman yang pekat. "Kamu ngawasin aku dari tadi? Kamu bertingkah kayak detektif murahan di rumah sendiri?"

"Aku... aku nggak ngawasin kamu, Mas. Aku cuma tanyaβ€”"

"Tanya apa? Tanya buat nyari-nyari kesalahan aku?" potong Farel dengan suara yang mulai meninggi. Ia meraih ponselnya dari pangkuan dan menggenggamnya erat-erat seolah takut Karina akan merebutnya. "Kamu tahu aku kerja! Semua yang aku lakukan di HP ini urusan penting! Tapi pikiran kamu yang sempit itu selalu curiga. Kamu mau nuduh aku selingkuh? Atau kamu mau mulai halusinasi lagi soal teror-teror nggak jelas itu?!"

"Mas, aku nggak nuduh apa-apa! Aku cuma pengin tahu apa yang bikin suamiku bisa tersenyum lebar kayak tadi, sementara kalau lihat aku boro-boro senyum, natap aku aja kamu kayak jijik!" Dada Karina bergemuruh, suaranya ikut meninggi tanpa bisa dicegah. Perasaannya terluka dalam.

Farel berdiri dengan gerakan tiba-tiba yang sangat kasar, nyaris membuat cangkir teh di atas meja tumpah. Wajahnya merah padam menahan amarah. "Karena di luar sana orang-orang menghargai aku! Klienku menghargai kerjaku! Teman-temanku nyambung diajak ngobrol! Sedangkan di rumah? Aku harus ngadepin perempuan parno, stres, pengangguran yang bisanya cuma nuntut dan curigaan! Pantas aja aku muak lihat muka kamu, Karina!"

Kata-kata itu menghantam Karina tepat di ulu hati, melumpuhkan seluruh fungsi motoriknya. Ia membeku di atas sofa, menatap suaminya dengan mata yang terbelalak ngeri. Ia merasa seperti baru saja ditampar dengan sangat keras di wajahnya. Rasa sakitnya begitu nyata hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan.

Farel tidak memberikan kesempatan bagi Karina untuk membalas. Pria itu menyambar ponselnya, memutar tubuhnya, dan berjalan pergi meninggalkan ruang tengah. "Aku tidur di kamar atas. Jangan berani-berani ketuk pintu kamarku malam ini."

Langkah kaki pria itu terdengar menggema menaiki tangga, disusul oleh suara bantingan pintu yang sangat keras. Kemudian, senyap.

Karina tertinggal sendirian dalam keheningan yang menyesakkan. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah seketika, bahunya bergetar hebat. Ia tidak lagi peduli apakah suaminya mendengar isakannya atau tidak. Ia merasa hancur sehancur-hancurnya. Farel secara terang-terangan telah membuangnya. Pria itu telah mendeklarasikan bahwa Karina tidak lebih dari seonggok sampah yang mengganggu pemandangannya.

Pernikahan ini tidak sedang berada dalam fase jenuh. Pernikahan ini telah mati membusuk dari dalam, dan Karina adalah satu-satunya orang yang masih berusaha memeluk bangkainya.

Tengah malam tiba. Hujan di luar telah reda, menyisakan udara malam yang lembap dan dingin menusuk tulang.

Karina duduk di atas karpet ruang tengah, bersandar pada kaki sofa. Matanya kosong menatap layar televisi yang memutar iklan tanpa suara. Air matanya sudah mengering, menyisakan rasa perih di kelopak matanya yang membengkak. Ia merasa benar-benar hampa. Kosong. Logikanya perlahan mulai mati rasa, digantikan oleh keputusasaan yang absolut.

Dalam keheningan malam yang pekat itu, sebuah suara singkat kembali memecah kebisuan.

Ting.

Ponsel Karina yang tergeletak di atas meja kaca di depannya menyala. Ada satu notifikasi baru yang masuk.

Tubuh Karina tersentak. Sisa-sisa trauma di dalam tubuhnya merespons seketika. Jantungnya berpacu gila-gilaan, telapak tangannya seketika berkeringat dingin. Ia menelan ludah berulang kali, ragu untuk mendekat. Namun, seperti ngengat yang tertarik pada api yang akan membakarnya, tangannya bergerak sendiri meraih benda pipih tersebut.

Bukan dari Truth_Eye00. Bukan juga dari User_99201.

Ada sebuah pesan Direct Message dari akun anonim baru yang lain. Nama penggunanya kali ini jauh lebih terstruktur, seolah dikonsep dengan matang: F_Truth.

Tangan Karina bergetar hebat saat ia membuka pesan tersebut. Kali ini, tidak ada kalimat mengejek atau ancaman secara langsung. Tidak ada foto rumahnya dari luar.

Yang ada di layar ponselnya hanyalah sebuah tangkapan layar (screenshot) berisi teks yang sangat panjang. Dilihat dari bentuk font dan format spasinya, itu bukanlah sebuah percakapan. Itu tampak seperti potongan teks dari sebuah dokumen atau halaman sebuah platform membaca.

Karina menyipitkan matanya yang pedih, membaca deretan kalimat di gambar tersebut. Pada kalimat pertama, napasnya langsung tercekat. Udara seolah direnggut paksa dari paru-parunya.

Wanita itu berdiri mematung di dapur, tangannya yang sedikit bergetar memegang nampan berisi dua cangkir teh kamomil yang perlahan mendingin. Ia menatap punggung suaminya dari kejauhan dengan tatapan memelas bak seekor anjing peliharaan yang ditinggalkan majikannya. Wanita bernama Karina itu tak pernah menyadari, betapapun kerasnya ia mencoba menyeduh teh yang sempurna, atau mengemis sedikit perhatian di malam yang hujan, suaminya tak lagi melihatnya sebagai seorang istri.

Mata Karina membelalak sempurna. Darahnya berdesir hebat hingga wajahnya memucat bak mayat hidup.

Ia terus membaca paragraf berikutnya dengan tangan yang gemetar semakin parah.

Sang suami menyimpan rapat layar ponselnya, menyembunyikan sebuah dunia baru di mana istrinya tidak memiliki tempat. Saat suaminya berteriak menyuruhnya berhenti menjadi perempuan parno dan pengangguran, dunia Karina runtuh. Ia menangis sendirian di atas sofa, tidak tahu bahwa air matanya adalah pertunjukan paling menghibur yang pernah ada. Ia tak tahu bahwa pernikahannya telah lama menjadi sebuah panggung sandiwara, dan ia hanyalah badut utamanya.

Tulisan itu berhenti di sana.

Ponsel di tangan Karina merosot pelan ke pangkuannya. Seluruh otot di tubuhnya kehilangan tenaga. Pikirannya kosong melompong, dihantam syok yang melumpuhkan akal sehatnya.

Ini bukan lagi sekadar teror tebak-tebakan. Ini bukan lagi sekadar kalimat ejekan murahan.

Itu adalah sebuah potongan cerita fiksi. Sebuah narasi yang ditulis menggunakan sudut pandang orang ketiga. Dan tokoh utama yang menderita, dihina, dan menangis sendirian di dalam cerita itu... adalah dirinya sendiri. Kejadian yang digambarkan di teks itu adalah pertengkarannya dengan Farel yang baru saja terjadi tidak lebih dari dua jam yang lalu.

Siapa pun orang gila di balik akun F_Truth ini, ia tidak sekadar meneror Karina. Ia mendokumentasikan setiap inci penderitaan Karina, mengolah rasa sakitnya, dan merangkainya menjadi sebuah cerita yang indah namun luar biasa kejam.

Dan di bagian paling bawah dari tangkapan layar cerita tersebut, terdapat sebuah kalimat kecil bercetak miring yang membuat jantung Karina seakan berhenti berdetak untuk selamanya.