Sinar matahari pagi menembus celah-celah kecil tirai jendela kamar, menciptakan garis-garis cahaya yang jatuh tepat di atas karpet beludru di lantai. Namun, cahaya yang biasanya membawa kehangatan itu kini sama sekali tak mampu mengusir hawa dingin yang membekukan darah Karina.

Sepanjang malam, wanita itu tidak memejamkan mata sedetik pun.

Ia duduk bersandar pada sandaran ranjang, menarik selimut tebal hingga menutupi dagunya, dengan kedua lutut ditekuk merapat ke dada. Matanya yang sembap dan dihiasi lingkaran hitam pekat terus menatap nanar ke arah jendela yang tertutup rapat. Ponselnya yang tergeletak di samping bantal seolah berubah menjadi benda pusaka yang dikutuk—ia terlalu takut untuk menyentuhnya, namun juga tidak berani membuang pandangannya dari benda pipih itu. Setiap kali layar ponsel itu menggelap, napas Karina tertahan, mengantisipasi kilatan cahaya yang mungkin membawa teror baru.

Di sebelahnya, Farel mulai menggeliat. Pria itu menarik napas panjang, mengerjapkan mata, lalu bangkit duduk sambil mengusap wajahnya yang masih mengantuk. Tidak ada sapaan selamat pagi. Tidak ada sentuhan. Farel hanya menoleh sekilas ke arah Karina, keningnya berkerut tipis melihat istrinya duduk membeku seperti patung dengan wajah sepucat mayat.

"Kamu nggak tidur?" tanya Farel datar, suaranya serak khas orang yang baru bangun. Tidak ada intonasi khawatir dalam pertanyaannya, lebih terdengar seperti teguran basa-basi.

Bibir Karina bergetar. Ia ingin menjerit. Ia ingin menghambur ke pelukan suaminya, menceritakan teror mengerikan yang merampas kewarasannya semalaman suntuk. Ia ingin Farel mendekapnya, memeriksa keluar jendela, memastikan bahwa mereka aman, dan berjanji akan melindungi rumah ini.

"Mas..." Suara Karina keluar berupa cicitan parau. Tenggorokannya terasa kering seperti disumpal pasir. "Tadi malam... ada yang ngirim pesan..."

Namun Farel sudah memutar tubuhnya, menurunkan kakinya dari ranjang dan meraih handuk yang tergantung di kursi rias. "Nanti aja ceritanya, Rin. Aku kesiangan. Jam delapan ada briefing penting di kantor."

Pria itu melangkah ke kamar mandi tanpa menoleh lagi. Suara pintu yang ditutup dan dikunci dari dalam terdengar seperti vonis hukuman mati bagi Karina. Harapannya untuk mendapatkan perlindungan hancur seketika, terkikis oleh sikap apatis suaminya yang luar biasa dingin.

Setengah jam kemudian, Farel keluar dari kamar mandi dengan kemeja kerja yang sudah rapi. Aroma sabun mandi dan parfumnya yang maskulin menguar memenuhi ruangan, kontras dengan bau keringat dingin dan ketakutan yang menyelimuti tubuh Karina. Wanita itu memaksakan diri untuk turun dari ranjang, kakinya terasa seperti jeli saat menapak lantai. Ia mengikuti langkah suaminya keluar kamar, menuruni tangga, hingga tiba di ruang makan.

Karina tidak menyiapkan sarapan pagi ini. Pikirannya terlalu kalut untuk sekadar memikirkan menu makanan. Farel menyadari meja makan yang kosong, mendengus pelan, lalu mengambil sebotol air mineral dingin dari kulkas.

"Mas, tolong dengar aku sebentar aja," mohon Karina. Ia berdiri di dekat meja dapur island, meremas ujung piyamanya dengan kedua tangan yang saling bertaut erat. "Ada orang yang ngawasin rumah kita. Ada yang tahu kejadian di dalam rumah ini."

Farel yang sedang meneguk air mineralnya berhenti sejenak. Ia meletakkan botol itu di atas meja dengan sedikit bantingan, menciptakan bunyi thud yang membuat bahu Karina tersentak. Pria itu menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh dengan rasa jengah.

"Ngasal kamu kalau ngomong. Siapa yang mau kurang kerjaan ngawasin rumah kita? Ini bukan rumah presiden, Rin. Lagipula, kompleks ini penjagaannya ketat. Satpam keliling dua jam sekali," jawab Farel dengan nada meremehkan. Pria itu meraih tas kerjanya dan mencari kunci mobil di atas mangkuk porselen dekat pintu.

"Tapi ini beneran, Mas! Dia ngirim foto rumah kita dari luar jendela kamar! Dan dia tahu... dia tahu persis apa yang kita omongin semalam di meja makan!" Nada suara Karina mulai naik, kepanikan yang sejak semalam ia bendung perlahan mulai bocor keluar.

Farel menghentikan langkahnya tepat di depan pintu utama. Ia berbalik, menatap Karina dengan tatapan tajam yang mengintimidasi. Tidak ada empati di sana. Hanya ada kemarahan yang tertahan.

"Kamu tahu apa masalah utama kamu, Karina? Kamu itu terlalu sering baca cerita-cerita nggak jelas di internet, makanya otakmu isinya cuma halusinasi. Kamu paranoid!" bentak Farel pelan, namun kata-katanya sangat menekan. "Mungkin semalam tirai kamar belum ketutup rapat, atau suara kamu yang nangis-nangis teriak itu kedengaran sampai ke luar pagar. Udah aku bilang berkali-kali, jangan suka cari ribut. Sekarang kamu yang parno sendiri kan? Udah, aku berangkat. Jangan hubungi aku kalau bukan urusan gawat darurat. Aku sibuk."

Tanpa menunggu balasan istrinya, Farel membuka pintu kayu jati tersebut dan melangkah keluar. Pintu ditutup kembali. Beberapa detik kemudian, terdengar deru mesin mobil yang dinyalakan, dan perlahan suaranya menjauh, meninggalkan pekarangan rumah, meninggalkan Karina sendirian di dalam bangunan dua lantai yang kini terasa seperti sebuah sangkar emas yang menakutkan.

Keheningan total menyergap. Suara detak jam dinding di ruang tamu terdengar bagai palu godam yang menghantam keheningan. Tik. Tok. Tik. Tok. Karina berdiri mematung di ruang tengah. Tubuhnya menggigil parah. Udara pagi yang merangsek masuk dari celah ventilasi terasa membekukan sumsum tulangnya. Kalimat suaminya terus terngiang di kepalanya. Kamu paranoid. Kamu halusinasi. Suara kamu kedengaran sampai luar. "Nggak... nggak mungkin," bisik Karina pada dirinya sendiri. Rumah mereka dibangun dengan dinding yang cukup tebal. Jarak antara rumah dan pagar besi di depan juga cukup jauh, dipisahkan oleh taman kecil dan carport. Sangat tidak masuk akal jika percakapan dengan volume biasa—bahkan setengah berbisik seperti yang dilakukan Farel semalam—bisa terdengar hingga ke jalan raya.

Orang asing itu pasti menggunakan cara lain.

Dengan napas yang memburu dan dada yang naik turun dengan cepat, Karina memaksakan kakinya untuk bergerak. Naluri bertahan hidupnya mengambil alih. Ia harus memastikan rumah ini aman. Ia tidak bisa diam saja menjadi target yang pasif.

Dengan langkah mengendap-endap bak seorang pencuri di rumahnya sendiri, Karina mulai menelusuri setiap inci lantai satu. Ia berjalan menuju ruang tamu, memeriksa tiga jendela kaca besar yang menghadap ke halaman depan. Ia menekan setiap tuas pengunci, memastikan kait besinya berbunyi klik dan terkunci sempurna hingga tak ada celah sekecil apa pun yang bisa digeser dari luar. Ia menarik rapat-rapat gorden berbahan beludru cokelat itu, menutupi seluruh akses pandangan dari luar. Ruang tamu seketika berubah menjadi remang-remang.

Ia berpindah ke dapur, memeriksa pintu belakang yang menuju ke area cuci jemur. Terkunci. Ia mengecek jendela kecil di atas wastafel cuci piring. Terkunci. Ia beralih ke pintu garasi samping. Terkunci juga. Karina mengelilingi seluruh rumah seperti orang gila, memeriksa setiap slot kunci, engsel, dan celah angin. Tangannya bergetar hebat saat menyentuh gagang-gagang pintu itu, seolah takut ada tangan lain dari sisi luar yang akan memutarnya secara tiba-tiba.

Semua pintu dan jendela di lantai bawah aman. Tidak ada tanda-tanda kerusakan, tidak ada kaca yang pecah, tidak ada jejak kaki asing di lantai marmernya yang mengkilap.

Karina mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia bersandar di dinding koridor, mengusap peluh dingin yang membasahi keningnya. Jika fisik rumah ini tidak tertembus, lalu dari mana teror itu berasal?

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Kamera pengawas.

Rumah ini dilengkapi dengan empat titik CCTV yang dipasang setahun lalu setelah sempat marak kasus pencurian di kompleks sebelah. Satu menyorot ke arah gerbang luar, satu di carport, satu di taman belakang, dan satu lagi menghadap ke pintu utama dari sudut ruang tamu. Semua rekaman terhubung langsung ke kotak Digital Video Recorder (DVR) yang berada di ruang kerja Farel di lantai dua.

Tanpa membuang waktu, Karina berlari menaiki anak tangga. Ia bergegas masuk ke dalam ruang kerja suaminya—sebuah ruangan beraroma kertas, kopi basi, dan sisa asap rokok yang sangat pekat. Ia menghidupkan monitor komputer di atas meja kerja, tangannya dengan cepat mengklik mouse untuk membuka aplikasi pemantau CCTV.

Layar monitor yang terbagi menjadi empat kotak kecil menampilkan tangkapan kamera secara langsung (live). Semuanya normal. Hanya jalanan kompleks yang sepi dan tukang sapu jalanan yang melintas sesekali.

Karina menelan ludah, menekan tombol Playback untuk melihat rekaman mundur. Ia mengatur kalender ke tanggal kemarin malam, menggeser kursor waktunya tepat di pukul 23:00—waktu perkiraan saat ia berbaring di kasur setelah pertengkaran dengan Farel, beberapa saat sebelum pesan beserta foto dari akun Truth_Eye00 itu masuk.

Mata Karina memicing, menatap tajam ke arah kamera Channel 1 yang menyorot area gerbang dan jalanan depan rumah. Ia menekan tombol percepat (fast forward). Waktu di sudut kanan atas layar berjalan cepat.

23:10... 23:25... 23:40...

Jantung Karina berdegup semakin kencang, menanti kemunculan sosok berjaket hitam, atau mobil mencurigakan yang berhenti di depan rumah, atau siapa pun yang mungkin berdiri di trotoar seberang jalan sambil mengarahkan kamera ponsel ke lantai dua rumahnya. Seseorang pasti terekam. Seseorang pasti ada di sana.

23:45... 23:50... 00:15...

Karina menghentikan pemutaran rekaman. Ia memutar kembali (rewind) dan menontonnya dengan kecepatan normal. Kecewa dan ngeri bercampur aduk mengoyak dadanya.

Layar monitor itu hanya menampilkan jalanan aspal yang kosong melompong disinari cahaya lampu jalan yang kuning pucat. Hanya ada daun-daun dari pohon mangga yang bergoyang tertiup angin malam, sesekali bayangan ranting jatuh ke aspal menciptakan ilusi optik yang menipu mata. Sepanjang jam sebelas malam hingga lewat tengah malam, tidak ada satu orang pun yang melintas di depan rumah mereka. Tidak ada bayangan manusia. Tidak ada apa pun.

"Nggak mungkin," desis Karina, suaranya terdengar putus asa di ruangan yang sunyi itu.

Ia memutar ulang rekaman itu berkali-kali. Memperbesar gambarnya hingga pikselnya pecah, mencari sosok yang mungkin bersembunyi di balik tiang listrik atau di sela-sela rimbunnya tanaman hias tetangga seberang. Hasilnya nihil. Area yang disorot kamera benar-benar bersih.

Lutut Karina mendadak lemas. Ia merosot dan jatuh terduduk di atas kursi kerja bersandaran kulit milik suaminya. Jika tidak ada orang di luar sana, lalu dari sudut mana foto itu diambil? Apakah si pengirim pesan itu memotret dari titik buta (blind spot) kamera? Atau... apakah foto itu tidak diambil semalam?

Pertanyaan demi pertanyaan bertumpuk di kepalanya, menciptakan benang kusut yang mencekik kewarasannya. Ketakutan akan ancaman fisik yang terlihat masih jauh lebih bisa diterima oleh akal sehat dibandingkan teror kasatmata seperti ini. Fakta bahwa ia tidak bisa menemukan jejak pelaku sedikit pun justru membuat rumah ini tidak lagi terasa seperti tempat berlindung. Rumah ini terasa seperti perangkap kaca, di mana ia bisa dilihat dari segala arah, ditelanjangi privasinya, sementara ia sendiri buta akan keberadaan pemburunya.

Sepanjang hari itu, Karina mengunci dirinya di dalam kamar. Ia mematikan semua lampu, membiarkan kamarnya temaram. Ia tidak mandi, tidak makan, dan setiap kali lantai papan di lantai bawah berderit karena penyusutan suhu, seluruh tubuhnya menegang kaku, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Ia memeluk lututnya di sudut kasur, terus menerus memandangi layar ponselnya dengan perasaan waspada tingkat tinggi.

Beberapa kali ia mencoba menelepon Farel. Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua ditolak secara sepihak. Pada percobaan ketiga, pesan otomatis dari operator seluler menyatakan bahwa nomor tujuan sedang sibuk atau berada di luar jangkauan. Farel dengan sengaja mematikan ponselnya, atau setidaknya memblokir panggilannya untuk sementara waktu. Pria itu mengabaikannya, membiarkannya tenggelam dalam lautan kepanikan seorang diri.

Waktu seakan berjalan merayap. Matahari perlahan turun dari singgasananya, mengubah langit sore menjadi senja yang muram. Pukul tujuh malam, suara decit rem mobil Farel akhirnya terdengar dari luar.

Alih-alih merasa lega, perut Karina justru melilit. Ia turun dari tempat tidur dengan langkah gontai, berjalan keluar kamar dan menuruni tangga tepat ketika Farel membuka pintu utama.

Kondisi rumah yang gelap gulita menyambut pria itu. Farel meraba-raba dinding mencari sakelar, menyalakan lampu ruang tamu hingga terang benderang. Pria itu terlonjak kaget saat melihat Karina berdiri mematung di ujung anak tangga bawah, dengan wajah sepucat kapas, kantung mata yang menghitam parah, dan rambut panjang yang berantakan karena terus-menerus diremas sepanjang hari.

"Ya Tuhan, Karina! Kamu ngapain berdiri di situ kayak setan? Kenapa rumah gelap-gelapan begini? Kamu nggak bayar listrik?!" sembur Farel, nada suaranya tinggi, mencerminkan kejengkelan yang memuncak. Ia melempar tas kerjanya dengan kasar ke atas sofa.

Karina menelan ludah, berusaha mencari suaranya yang serak. "Mas... aku takut. Aku cek CCTV, nggak ada orang di depan rumah semalam. Tapi foto itu... foto itu jelas banget, Mas. Ada yang neror aku. Tolong, Mas... kita lapor polisi ya?"

Farel mengusap wajahnya dengan kedua tangan, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia berjalan menghampiri Karina, namun alih-alih memeluk istrinya, ia menatap wanita itu dari atas ke bawah dengan pandangan penuh penilaian yang menyudutkan.

"Lapor polisi?" Farel tertawa hambar, sebuah tawa kering yang sama sekali tidak mengandung unsur humor. "Kamu mau bilang apa ke polisi, Rin? 'Pak Polisi, tolong saya, ada orang iseng kirim pesan di Instagram bilang saya habis nangis?' Begitu? Kamu mau bikin aku malu di depan penegak hukum gara-gara hal sepele begini?"

"Ini bukan hal sepele, Farel!" Karina akhirnya meninggikan suaranya, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Ia mengangkat ponselnya, membuka galeri, dan menyodorkan layar yang menampilkan screenshot pesan dan foto tadi malam tepat ke depan wajah suaminya. "Lihat ini! Dia foto kamar kita! Dia ngincar aku! Dia tahu semua yang terjadi di dalam rumah ini!"

Farel menatap layar itu hanya selama dua detik, lalu menepis tangan Karina dengan kasar hingga ponsel wanita itu hampir terjatuh ke lantai.

"Itu cuma orang iseng, Karina! Orang kurang kerjaan yang mungkin kebetulan lewat depan rumah, iseng foto, dan bikin akun palsu buat nakut-nakutin kamu! Mungkin itu followers lama kamu yang tahu kamu tinggal di mana!" bentak Farel, urat lehernya terlihat menonjol menahan amarah. "Kamu tuh lebay banget, tahu nggak? Semua hal dibesar-besarkan! Bukannya nyambut suami pulang kerja pakai muka senyum, bikinin teh, malah bikin rumah kayak kuburan dan ngajak berantem pakai cerita halusinasi!"

"Aku nggak halusinasi, Mas!" Dada Karina naik turun dengan cepat. Air mata keputusasaan membasahi pipinya. "Kenapa kamu nggak percaya sama aku? Aku ini istrimu! Kamu yang seharusnya jadi pelindung aku, Mas! Tapi kamu malah nyalahin aku! Kalau kamu nggak mau lapor polisi, seenggaknya panggil tukang, kita ganti semua kunci rumah. Kita pasang pengaman ekstra. Kumohon, Mas..."

Farel berkacak pinggang, menatap langit-langit seolah mencari kesabaran tambahan, lalu menunduk menatap mata Karina dengan tatapan sedingin es.

"Nggak akan ada yang diganti. Kunci kita baik-baik aja. Rumah ini baik-baik aja," desis Farel penuh penekanan di setiap suku katanya. "Yang nggak baik-baik aja itu otak kamu, Rin. Kamu terlalu lama nganggur di rumah, terlalu sering ngurung diri, makanya kamu jadi paranoid dan stres sendiri. Berhenti nyari perhatian dengan cara murahan begini. Aku muak."

Kata-kata itu meluncur bagai belati tajam yang langsung menusuk dan merobek ulu hati Karina. Rasa sakitnya jauh lebih nyata dan menyiksa daripada ancaman dari akun anonim mana pun. Suaminya baru saja menyebut ketakutannya sebagai 'cara murahan mencari perhatian'. Orang yang paling ia percayai di dunia ini, orang yang berjanji di depan altar untuk melindunginya, baru saja melemparnya ke dalam jurang dan menolak untuk mengulurkan tangan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Farel memutar tumitnya. Ia melangkah menuju dapur, mengambil air minum, lalu berjalan menaiki tangga melewati Karina begitu saja, seolah wanita yang tengah menangis terisak itu hanyalah patung kayu yang tidak berharga.

"Aku capek. Mau langsung tidur. Jangan bangunin aku," ucap Farel tanpa menoleh, masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Bunyi putaran anak kunci dari dalam terdengar jelas. Pria itu mengunci istrinya sendiri di luar kamar.

Karina perlahan merosot hingga terduduk di anak tangga terbawah. Tubuhnya meluruh. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis sejadi-jadinya tanpa suara. Penolakan dari Farel menghancurkan sisa-sisa pertahanan mentalnya. Ia merasa sangat kecil, sangat sendirian, dan sangat tidak berdaya. Rumah mewah ini telah berubah menjadi penjara isolasi yang sempurna, dan penjaga penjaranya adalah suaminya sendiri.

Ia terisak pilu di tengah kesunyian ruang tamu, meratapi nasib pernikahannya yang hancur perlahan-lahan dari dalam, dan ketakutan yang kini sepenuhnya menguasai hidupnya. Ia tidak punya siapa-siapa lagi untuk bersandar.

Di tengah isakan tangisnya yang memilukan, layar ponsel yang tergeletak di atas karpet di samping kakinya tiba-tiba menyala terang, memecah temaramnya ruangan.

Sebuah getaran pelan menyertai kedatangan notifikasi baru.

Bzzzt.

Tubuh Karina menegang seketika. Tangisannya terhenti di tenggorokan. Dengan gerakan patah-patah yang dipenuhi rasa ngeri yang teramat sangat, ia meraih ponsel tersebut. Cahaya dari layarnya memantul di bola matanya yang basah dan memerah.

Notifikasi itu berasal dari aplikasi Instagram. Dari akun yang sama. Sebuah pesan Direct Message baru masuk, tepat pada detik ia baru saja ditolak mentah-mentah oleh suaminya.

Jari Karina bergetar tak terkendali saat ia mengusap layar untuk membuka pesan tersebut. Tidak ada foto kali ini. Hanya satu baris teks kalimat singkat, namun dampaknya ribuan kali lipat lebih menghancurkan dan mengerikan dari apa pun yang pernah ia baca seumur hidupnya.

Truth_Eye00: Kasihan sekali kamu, diusir seperti anjing buangan. Suamimu juga tahu kamu nangis, Karina. Tapi dia lebih memilih pura-pura buta daripada menolongmu.