Dua kata itu terpampang nyata di layar ponselnya, bercetak miring dengan warna keemasan yang seolah mengejek kewarasan Karina. Matanya tidak berkedip menatap barisan piksel bercahaya itu. Napasnya tertahan di tenggorokan, menciptakan sensasi tercekik yang membuat dadanya terasa nyeri. Tangkapan layar yang dikirimkan oleh akun anonim itu bukan sekadar pesan teror biasa. Itu adalah sebuah potongan naskah. Sebuah bab dari cerita fiksi bersambung.

Dan tokoh utama yang sedang ditertawakan, dihina, dan dieksploitasi penderitaannya di dalam cerita tersebut... adalah dirinya.

Karina meletakkan ponsel itu di atas karpet seolah benda itu baru saja mengeluarkan racun berbisa. Tangannya bergetar hebat. Rasa mual yang luar biasa tiba-tiba menghantam perutnya. Ia merangkak menuju toilet di kamar mandi tamu, bertumpu pada pinggiran kloset, dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Hanya cairan asam lambung yang keluar, karena sejak pagi ia belum menelan makanan apa pun. Tenggorokannya perih. Matanya berair. Namun rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan kehancuran mental yang kini sedang meluluhlantakkan isi kepalanya.

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin dari wastafel, menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan kosong. Rambutnya berantakan, wajahnya pias tanpa warna. Pantulan itu persis seperti deskripsi wanita menyedihkan yang baru saja ia baca di tangkapan layar tadi. Seorang istri yang mengemis perhatian bak anjing buangan. Siapa yang melakukan kegilaan ini?

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Karina keluar dari kamar mandi tamu dan setengah berlari menuju meja kerjanya di sudut ruang tengah. Ia membuka lipatan laptopnya. Lensa kamera webcam di bagian atas layar sudah tertutup rapat oleh selotip hitam yang ia pasang kemarin, namun itu tidak membuatnya merasa lebih aman. Jarinya yang masih gemetar menekan tombol daya. Layar menyala, menampilkan wallpaper foto pernikahannya dengan Farel di tepi pantai Bali tiga tahun lalu—sebuah pemandangan ironis yang kini terasa seperti adegan dari kehidupan orang lain.

Karina membuka browser. Ia mengambil ponselnya kembali, menatap lekat-lekat tangkapan layar tersebut, mencari petunjuk. Di bagian atas gambar, terdapat sedikit potongan header situs web dengan warna dominan biru tua dan putih. Ada logo kecil berbentuk pena bulu menyilang.

Otak Karina bekerja cepat. Ia pernah melihat logo itu. Farel pernah membahasnya secara sepintas berbulan-bulan yang lalu saat mereka sedang menonton berita tentang tren digital. Itu adalah logo dari salah satu platform membaca novel dan cerita bersambung terbesar di Indonesia, tempat jutaan pengguna mempublikasikan karya fiksi mereka dan memonetisasinya.

Jari-jemari Karina menari kaku di atas keyboard, mengetikkan alamat situs web tersebut. Halaman utama platform itu terbuka. Ribuan sampul buku digital berderet dengan berbagai genre—romansa, fantasi, thriller, hingga horor. Warna-warni sampul itu membuat mata Karina pusing, namun ia harus fokus. Ia mengarahkan kursor ke bilah pencarian di sudut kanan atas.

Apa judul ceritanya? Tangkapan layar itu tidak menyertakan judul.

Karina memutar otak. Ia mengetikkan beberapa kata kunci spesifik yang ada di dalam potongan cerita tadi: "istri", "teh kamomil", "anjing buangan".

Tidak ada hasil yang relevan.

Ia mencoba lagi. Kali ini ia mengetikkan sesuatu yang lebih mendasar. Sesuatu yang menjadi inti dari pernikahan mereka belakangan ini. "Drama rumah tangga", "suami dingin", "istri yang diabaikan". Sistem pencarian memunculkan puluhan judul. Karina menggulir ke bawah, matanya memindai satu per satu sampul dan sinopsis yang muncul. Jantungnya berdegup semakin kencang, menciptakan dentuman ritmis di telinganya sendiri.

Hingga akhirnya, kursor panah itu berhenti di halaman ketiga.

Napas Karina tercekat. Darahnya seakan berhenti mengalir detik itu juga.

Di tengah layar, terpampang sebuah sampul digital bernuansa gelap. Gambar itu bukan ilustrasi animasi, melainkan sebuah foto yang diedit menjadi hitam putih. Foto sebuah cangkir teh yang retak di atas piring kecil, dengan genangan air di sekitarnya. Dan yang membuat bulu kuduk Karina berdiri adalah judul yang tertulis dengan huruf kapital berwarna merah darah di atas gambar tersebut:

SANGGAKARA: HANCURNYA SANG ISTRI BAYANGAN

Di bawah judul itu, terdapat sebuah tagline kecil: Berdasarkan kisah nyata dari balik pintu yang tertutup.

Karina mengklik sampul tersebut. Halaman profil cerita terbuka. Di sana tercantum statistik yang membuat perut Karina semakin melilit. Cerita itu telah dibaca lebih dari lima ratus ribu kali. Memiliki puluhan ribu pengikut setia. Dan saat ini menduduki peringkat kelima di daftar cerita bergenre Psychological Drama terpopuler minggu ini.

Tangan Karina bergetar saat ia menggulir ke bawah untuk membaca bagian sinopsisnya.

“Karina mengira pernikahannya dengan Farel adalah sebuah akhir yang bahagia. Ia mengorbankan kariernya, masa mudanya, dan kebebasannya untuk menjadi istri yang sempurna. Namun, ia tidak tahu bahwa bagi suaminya, pernikahan ini hanyalah sebuah eksperimen emosional. Ini adalah catatan harian tentang bagaimana menghancurkan kewarasan seorang wanita, perlahan-lahan, dari dalam rumahnya sendiri. Selamat datang di neraka Karina.”

Air mata yang sejak tadi mengering kini kembali menetes, jatuh tepat di atas touchpad laptopnya. Nama aslinya digunakan. Nama suaminya digunakan. Si penulis sialan ini bahkan tidak repot-repot menyamarkan identitas mereka. Ia menguliti kehidupan Karina dan memajangnya di etalase digital untuk ditonton ratusan ribu pasang mata.

Dengan tangan yang sedingin es, Karina mengklik tombol 'Mulai Membaca'.

Bab pertama gratis. Berjudul: Gugurnya Harapan Pertama.

Karina menekan bibirnya kuat-kuat saat matanya mulai membaca paragraf demi paragraf. Bab itu menceritakan secara detail kejadian dua tahun lalu, saat ia mengalami keguguran. Si penulis mendeskripsikan dengan sangat akurat bagaimana darah mengalir di lantai kamar mandi, bagaimana Karina menjerit histeris, dan bagaimana Farel memeluknya, membisikkan kata-kata penenang sambil menahan rahangnya yang mengeras.

Penulis itu bahkan mendeskripsikan secara mengerikan apa yang ada di pikiran Farel saat memeluk istrinya yang berdarah:

“Pria itu mendekap tubuh istrinya yang gemetar. Di luar, ia tampak seperti suami yang hancur karena kehilangan calon anaknya. Namun di dalam kepalanya, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia tidak pernah menginginkan bayi itu. Tangisan istrinya terdengar berisik, namun ironisnya, ia menikmati pemandangan wanita yang hancur di lengannya itu. Ia menikmati kendali yang ia miliki atas emosi wanita tersebut.”

"Ya Tuhan..." Karina menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan yang meronta ingin keluar.

Ia tidak percaya dengan apa yang ia baca. Apakah itu benar-benar isi pikiran Farel saat kejadian itu? Ataukah itu hanya dramatisasi dari si penulis anonim? Tapi dari mana penulis ini tahu detail sekecil itu? Dari mana ia tahu bahwa Farel mencium puncak kepalanya tepat tiga kali saat menenangkannya hari itu?

Didorong oleh rasa penasaran yang bercampur dengan masokisme, Karina terus menggulir ke bab-bab berikutnya. Bab dua, bab tiga, bab empat... Semuanya terbuka tanpa perlu membayar. Semuanya menceritakan kejadian yang benar-benar ia alami.

Pertengkaran pertama mereka karena Farel membuang bekal makan siangnya. Momen ketika Karina menunggu Farel hingga jam tiga pagi di ruang tamu dan berakhir tertidur di sofa. Momen saat Farel menepis tangannya ketika ia mencoba membetulkan dasi suaminya. Semua ditulis dengan gaya bahasa yang sangat puitis, emosional, namun di saat yang sama memancarkan kekejaman yang absolut. Penulis itu menggunakan sudut pandang orang ketiga, memposisikan Karina sebagai objek penderitaan yang layak dikasihani, sekaligus pantas untuk disiksa lebih jauh. Penulis itu membedah setiap inci perasaan Karina, memaparkan rasa tidak amannya, paranoianya, dan kebergantungannya pada sosok suami, seolah penulis ini telah membelah kepala Karina dan membaca langsung dari otaknya.

Kemudian, ia sampai pada Bab 20.

Ketika ia mengklik bab tersebut, sebuah jendela pop-up muncul menghalangi layar. Jendela itu berwarna emas gelap dengan gambar sebuah gembok di tengahnya.

BAB INI TERKUNCI. PREMIUM CONTENT.

Buka kunci bab ini hanya dengan 50 Koin, atau berlangganan Akses VIP Bulanan untuk membaca seluruh kelanjutan siksaan batin Karina lebih cepat dari pembaca lain!

Karina terpaku. Ia menatap angka 50 Koin itu. Di platform ini, koin dibeli menggunakan uang sungguhan. Artinya, ratusan ribu orang yang membaca cerita ini harus membayar sejumlah uang untuk bisa mengetahui kelanjutan dari penderitaannya.

Rahasia pribadinya, air matanya, ketakutannya, jerit tangisnya di kamar mandi, pertengkarannya yang menghancurkan hatinya... semuanya telah dikomersialisasikan. Semuanya telah diubah menjadi komoditas bisnis yang menguntungkan. Ada seseorang di luar sana yang duduk santai menghitung pundi-pundi rupiah dari setiap tetes air mata yang jatuh ke pipi Karina.

Perasaan dikhianati yang teramat dalam membuat seluruh tubuh Karina mati rasa. Ia merasa ditelanjangi di tengah keramaian. Kehidupan privatnya, ruang amannya, telah dirampok dan dijual eceran di pasar malam.

Dengan tangan yang masih gemetar, Karina menggulir ke bawah, menuju kolom komentar di salah satu bab yang menceritakan saat ia diabaikan oleh Farel di meja makan.

Jika membaca cerita itu menggoreskan luka, maka membaca komentar-komentar pembaca adalah proses menaburkan garam dan cuka ke atas luka yang menganga tersebut.

Ada ribuan komentar yang ditinggalkan oleh pengguna anonim dengan berbagai macam foto profil. Karina membaca deretan teks itu, dan setiap kalimatnya sukses membunuh sebagian dari jiwanya.

@BucinFiksi: Gila, tulisan authornya keren banget! Aku bisa ngerasain banget sakitnya Karina. Tapi jujur, Farel ini karakternya badass abis. Dia dingin, manipulatif, dapet banget aura psikopat halusnya! Lanjut Thor!

@PecintaDrama: Karina ini bodoh banget sih jadi cewek. Udah tahu suaminya kayak gitu, masih aja ngarep. Ceraikan aja kali! Gregetan gue bacanya. Istri kok mental tempe.

@DarkMoon99: Premium bab 25 gila banget guys! Adegan Karina nangis dituduh parno sama Farel beneran masterclass! Worth it banget ngeluarin koin buat bab itu. Kasihan sih, tapi seru buat dibaca pas jam istirahat kantor wkwk.

@IbuAnakDua: Kok aku ngerasa ini relate ya. Kadang suami emang suka gitu. Tapi ya jangan lemah banget lah jadi istri. Cengeng amat.

@ReaderSetia: Author, spoil dong, kapan Karina tahu kalau selama ini dia cuma dipermainkan? Tolong kasih adegan dia sujud-sujud nangis ke Farel minta maaf padahal dia yang disakiti. Aku suka banget genre angst kayak gini! Semangat nulisnya!

Karina menutup mulutnya rapat-rapat. Udara di dalam ruangan itu terasa beracun, mencekik paru-parunya.

Mereka tertawa. Mereka menikmati ini. Mereka menganggap kehancuran rumah tangganya sebagai hiburan di sela-sela waktu istirahat kantor. Penderitaannya yang paling kelam, momen di mana ia merasa paling sendirian dan ingin mati, dikonsumsi sebagai tontonan yang diselingi dengan emoji tertawa dan tepuk tangan. Tidak ada empati yang nyata. Bagi mereka, Karina hanyalah karakter fiksi dua dimensi yang kebodohannya patut dicaci, dan penderitaannya layak dibayar mahal.

Orang-orang ini tidak tahu bahwa wanita bodoh dan cengeng yang mereka caci maki itu adalah manusia sungguhan yang saat ini sedang duduk gemetar di lantai rumahnya yang sunyi.

Karina menutup mata, mencoba meredam suara-suara gaung dari komentar pembaca yang berteriak-teriak di dalam kepalanya. "Kenapa... kenapa ada orang sejahat ini..." isaknya lirih, air matanya menetes tiada henti membasahi kemeja tidurnya.

Siapa yang menulis semua ini? Siapa monster tak berwajah yang memiliki akses penuh ke dalam rumah tangganya, menyadap percakapannya, merekam masa lalunya, dan menjualnya tanpa sisa?

Pertanyaan itu membawa Karina pada satu titik. Identitas sang penulis.

Ia kembali menggulir ke atas, menuju bagian bawah judul cerita. Di sana, terdapat foto profil penulis yang hanya berupa lingkaran hitam pekat kosong tanpa gambar apa pun. Di sebelahnya, tertulis nama pengguna yang menjadi dalang di balik semua kekejian ini. Nama yang sama dengan akun yang mengiriminya Direct Message di Instagram tadi.

Mata Karina menyipit, menajamkan pandangannya pada deretan huruf yang tercetak tebal di layar tersebut.

F_Truth

Huruf F.

Karina menelan ludah. Kepalanya mendadak terasa pening, seolah baru saja dipukul dari belakang dengan benda tumpul. Ia menatap lekat-lekat huruf pertama dari nama pengguna tersebut. Huruf alfabet yang sangat sederhana, namun seketika meruntuhkan satu-satunya dinding penyangkalan yang sejak kemarin berusaha ia pertahankan mati-matian.

F.

Bukan sembarang nama acak. Dari sekian banyak kombinasi huruf di dunia ini, penulis itu memilih huruf F.

F untuk Fakta? F untuk Fiksi?

Atau... F untuk Farel?

Farel's Truth. Kebenaran Farel. Jantung Karina seolah berhenti berdetak sesaat. Ingatannya kembali berputar pada rentetan kejadian ganjil belakangan ini. Pertengkaran malam ini. Bagaimana Farel memegang ponselnya dengan sangat protektif. Bagaimana Farel tersenyum lebar menatap layarnya, sementara ia menolak menatap wajah Karina. Bagaimana pria itu tiba-tiba memiliki uang lebih untuk membeli jam tangan mahal bulan lalu, meski ia mengeluh perusahaannya sedang memotong bonus karyawan.

Dan yang paling krusial, bagaimana penulis cerita ini bisa mengetahui dengan persis apa yang dipikirkan oleh sang suami—sebuah detail emosional yang mustahil bisa direkam oleh kamera CCTV atau alat penyadap mana pun. Seorang penyadap bisa mendengar suara pertengkaran mereka. Seorang hacker bisa meretas kamera laptop. Namun, tidak ada teknologi di dunia ini yang bisa menyadap isi pikiran dan perasaan seseorang.

Kecuali... penulis cerita itu adalah orang yang bersangkutan itu sendiri.

Mata Karina kembali tertuju pada layar laptopnya. Ia mengklik nama pengguna F_Truth itu. Halaman profil penulis terbuka. Di bagian bawah biografi singkat yang hanya bertuliskan "Menulis kebenaran dari rasa sakit", terdapat keterangan jumlah pengikut dan sebuah lencana emas yang menandakan bahwa penulis ini adalah 'Penulis Premium Eksklusif'.

Di samping lencana itu, terdapat informasi yang membuat darah di sekujur tubuh Karina membeku.

Tergabung sejak: 3 tahun lalu.

Tiga tahun lalu. Tepat pada bulan yang sama ketika ia dan Farel melangsungkan pernikahan.

Lutut Karina kehilangan seluruh sisa kekuatannya. Ia merosot sepenuhnya ke lantai, bersandar lemas pada kaki meja kerja. Pandangannya kosong menatap langit-langit ruang tengah yang temaram.

Semua teror dari jendela kamar. Semua detail menyakitkan di cerita fiksi. Semua uang yang didapatkan dari penderitaannya.

Farel tidak sedang mengabaikannya. Farel tidak sedang kelelahan karena urusan kantor.

Suaminya itu sedang bekerja. Dan yang menjadi lahan pekerjaannya, adalah menghancurkan Karina.

Suaminya sendiri yang menjual penderitaannya. Suaminya sendiri yang mengarang narasi kehancurannya untuk dikonsumsi ratusan ribu pasang mata. Pria yang tidur di ranjang yang sama dengannya, yang pernah berjanji melindunginya, adalah monster yang setiap malam mengetik naskah eksekusinya.

Di lantai atas, dari balik pintu kamar utama yang terkunci rapat, Karina sayup-sayup mendengar suara tawa pelan. Tawa yang renyah dan santai. Tawa suaminya.

Dan malam itu, di tengah kegelapan rumah mewahnya, Karina akhirnya menyadari bahwa ia tidak pernah memiliki pernikahan. Ia hanyalah sebuah karakter fiksi yang diciptakan untuk disiksa demi sebuah tontonan premium.