Paru-paruku menolak bekerja. Udara yang kuhirup terasa seperti serpihan kaca tajam yang merobek tenggorokan, membeku di dada sebelum sempat diolah menjadi oksigen. Mataku masih terpaku pada kaca spion berbentuk bulat dengan gagang berkarat itu. Sudut pandangannya tidak berubah. Sorot lampu jalan yang kuning pucat terus melintas secara berirama di permukaan kaca, seharusnya cukup untuk menerangi apapun yang ada di balik visor helm pengemudi di depanku.

Namun, kekosongan absolut yang kulihat di sana menghancurkan semua pondasi rasionalku.

Aku memejamkan mata kuat-kuat, meremas lututku sendiri hingga kuku-kukuku menembus kain celana bahan yang kukenakan. Ini cuma ilusi optik, otakku menjerit putus asa, mencoba membangun dinding penyangkalan setebal mungkin. Kacanya kotor. Visornya terlalu gelap. Sudut cahayanya salah. Nggak mungkin nggak ada kepala di sana. Nggak mungkin.

Aku membuka mata perlahan, memaksa diriku untuk bernapas. Satu tarikan napas panjang yang gemetar. Kuputuskan untuk tidak lagi melihat ke arah kaca spion itu. Aku memalingkan wajahku ke arah jalan raya di sebelah kiri, menatap deretan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi menembus badai.

Awalnya, semuanya tampak normal. Kami masih melintasi jalan protokol raksasa di pusat kota. Aku masih bisa mengenali bayangan gedung-gedung perkantoran elit, halte busway sentral yang kosong, dan jembatan penyeberangan berlapis kanopi yang membentang di atas aspal basah. Hujan masih turun dengan intensitas yang mengerikan, menghantam helmku dengan suara tik-tik-tik yang ritmis, mencoba menutupi keheningan tak wajar dari motor yang sedang kunaiki ini.

Namun, sekitar lima belas menit perjalanan dalam kebisuan yang mencekik itu, anomali mulai terjadi.

Perubahan itu tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merayap perlahan seperti bisa ular yang menjalar di pembuluh darah. Aku selalu melewati rute ini setiap kali pulang malam. Setelah melewati bundaran besar di pusat kota, seharusnya kami berbelok ke arah selatan, menyusuri jalan arteri lebar yang dipenuhi papan reklame LED raksasa yang menyala dua puluh empat jam. Di sana biasanya ada deretan ruko, lampu-lampu jalan yang terang benderang, dan setidaknya satu atau dua minimarket yang masih buka dengan cahaya neon putih khas mereka.

Tapi motor ini tidak berbelok ke selatan.

Motor tua tanpa suara ini terus melaju lurus, menembus kabut hujan yang semakin pekat, memasuki sebuah ruas jalan yang sama sekali tidak kukenali.

Aku mengerutkan kening di balik helm. Jalan raya lebar yang tadinya memiliki enam lajur kini perlahan-lahan menyempit, menyusut menjadi empat lajur, lalu dua lajur. Aspal mulus yang sedari tadi kami lewati kini berubah teksturnya. Permukaannya menjadi kasar, bergelombang, dan penuh dengan tambalan yang tidak rata. Setiap kali ban motor melewati jalan berlubang, tubuhku terguncang hebat, namun pengemudi di depanku tetap duduk dengan postur kaku yang mengerikan, bahunya tidak bergoyang sedikit pun menahan keseimbangan.

"Pak," panggilku, suaraku pecah dan nyaris tidak terdengar, tertelan oleh ruang hampa di dalam helmku sendiri. "Pak, kita lewat mana ini? Titik jemputnya... titik antarnya bukan ke sini, Pak."

Sunyi.

Jas hujan hijau lumut di depanku hanya berkibar pelan, basah kuyup, memancarkan hawa dingin yang membuatku menggigil tak terkendali. Tidak ada respons. Tidak ada kepala yang menoleh untuk menjelaskan bahwa ia sedang mengambil jalan pintas.

Aku mulai memperhatikan sekelilingku dengan lebih teliti. Kepanikan yang sejak tadi kutekan kembali meronta di perutku. Pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan benar-benar asing. Gedung-gedung tinggi berlapis kaca telah lenyap, digantikan oleh deretan bangunan tua yang bentuknya tidak jelas. Bangunan-bangunan itu tampak seperti ruko-ruko yang sudah lama ditinggalkan, dengan tembok beton yang menghitam karena lumut dan pintu-pintu gulung berkarat yang tertutup rapat. Tidak ada satu pun jendela yang menyala. Tidak ada lampu teras. Semuanya mati.

Aroma udara di sekitarku juga berubah drastis. Jika tadi di pusat kota yang tercium adalah bau aspal basah, knalpot, dan hujan, kini udara terasa berat dan apak. Ada bau tanah galian basah yang sangat kuat, bercampur dengan aroma amis yang samar, seperti bau air selokan yang menggenang di bawah terik matahari, meski saat ini sedang hujan badai. Bau itu menyusup masuk lewat celah bawah helmku, membuat perutku bergejolak menahan mual.

Aku merogoh saku kardiganku dengan tangan gemetar, menarik keluar ponselku. Layarnya basah oleh air hujan yang memercik, membuat permukaannya licin dan sulit dioperasikan. Aku harus mengusapnya beberapa kali ke paha celanaku sebelum sensor sidik jari akhirnya merespons.

Layar menyala. Pukul 00.12.

Baterai: 9%. Turun lima persen hanya dalam waktu lima belas menit? Ini tidak wajar.

Aku segera membuka aplikasi ojek online yang masih berjalan di latar belakang. Aku butuh peta. Aku harus tahu di mana koordinatku saat ini berada. Jika pengemudi ini memang berniat jahat atau ingin merampokku, aku harus tahu lokasi persisnya sebelum aku melompat dari motor atau berteriak minta tolong.

Namun, antarmuka aplikasi di layar ponselku tidak memberikan jawaban yang kuharapkan.

Peta digital yang seharusnya menampilkan jalan raya, nama jalan, dan gedung-gedung di sekitar, kini hanya menampilkan layar abu-abu dengan garis-garis kotak layaknya kertas milimeter blok yang kosong. Peta itu gagal dimuat. Di tengah-tengah kekosongan abu-abu itu, ada sebuah titik biru kecilβ€”ikon yang mewakili lokasiku saat iniβ€”yang berkedip-kedip dengan sangat cepat, melompat-lompat secara sporadis dari satu sudut layar ke sudut lainnya, seolah satelit GPS sedang kebingungan membaca keberadaanku di atas muka bumi.

Aku melirik ke sudut kanan atas layar ponsel. Bar sinyal yang biasanya selalu penuh 4G, kini hanya menampilkan simbol huruf 'E' yang redup, dengan satu bar tunggal yang terus-menerus hilang dan muncul.

"Ayo dong, ayo..." gumamku panik, ibu jariku menekan-nekan layar dengan kasar, mencoba memperkecil skala peta, berharap ada nama kota atau setidaknya jalan tol yang muncul.

Sambil terus mencoba me-refresh aplikasi, mataku menangkap perubahan lain di lingkungan sekitarku.

Lampu jalan.

Deretan tiang lampu jalan berbahan besi usang berdiri di sepanjang pinggir jalan yang sempit ini. Namun, cahayanya tidak normal. Alih-alih menyala terang, lampu-lampu sodium berwarna kuning keruh itu mulai berkedip-kedip, mengeluarkan suara desis listrik yang anehnya bisa kudengar menembus helmku. Bzzzt... bzzzt... Lampu pertama yang kami lewati berkedip tiga kali, lalu mati total dengan suara letupan kecil. Pop.

Aku menoleh ke belakang, menatap tiang lampu yang baru saja mati itu. Kegelapan langsung menelan aspal di bawahnya.

Lampu kedua di depan kami berkedip. Pop. Mati.

Lampu ketiga. Pop. Mati.

Rasa takut yang sangat murni dan primitif mencengkeram leherku. Jalanan di depan kami ditelan oleh kegelapan pekat secara berurutan, seolah-olah kegelapan itu hidup, merayap dan memakan sumber cahaya tepat sebelum kami melewatinya. Kecepatan motor ini tidak berubah. Mengambang dalam kebisuan, terus melaju membelah jalanan aspal yang kini nyaris tidak terlihat ujungnya. Satu-satunya cahaya yang tersisa hanyalah lampu utama motor ini sendiri, yang menyorotkan sinar kuning redup sejauh beberapa meter ke depan, membelah kabut hujan yang semakin tebal.

Pop. Lampu kelima mati.

Pop. Lampu keenam mati.

Kami kini benar-benar terbungkus dalam kegelapan yang pekat dan menyesakkan. Tidak ada bangunan lagi di sisi kiri dan kanan. Tidak ada ruko kosong. Tidak ada trotoar. Pinggiran jalan aspal itu langsung berbatasan dengan semak belukar liar yang tinggi menjulang, membentuk dinding bayangan hitam yang tampak seperti cakar-cakar monster yang siap menyergap kami dari dalam hutan.

Ponsel di tanganku bergetar panjang.

Aku segera menunduk, menatap layarnya yang kini menjadi satu-satunya sumber cahaya terang di sekitarku, menyinari wajahku dengan pendar biru pucat.

Aplikasi ojek online itu akhirnya berhenti me-refresh. Garis-garis abu-abu di peta menghilang. Layar berhenti berkedip. Titik biruku berhenti melompat-lompat dan terdiam tepat di tengah layar.

Namun, bukan peta Jakarta yang muncul.

Layar itu bersih sepenuhnya, hitam pekat. Hanya ada satu elemen antarmuka yang tersisa: sebuah kotak putih kecil berbentuk pop-up peringatan di tengah layar. Di dalam kotak putih itu, ada sederet teks hitam yang dicetak tebal. Tidak ada nama jalan. Tidak ada estimasi waktu. Tidak ada tombol bantuan darurat.

Hanya ada satu kalimat yang membuat darahku membeku, membuat seluruh organ dalamku terasa seperti dikuras habis hingga tidak menyisakan apa-apa selain kekosongan yang dingin.

LOKASI SAAT INI: TIDAK DITEMUKAN.

Simbol sinyal di pojok kanan atas layarku berkedip untuk terakhir kalinya, lalu berubah menjadi tanda silang merah.

Tidak ada layanan. Tidak ada sinyal. Tidak ada titik koordinat. Di mata dunia digital, aku telah menghilang dari peta.