Aku masih berdiri mematung. Notifikasi di layar ponselku terus menyala, mengabaikan realitas absurd yang kini tersaji tepat di depan mataku. Hujan badai masih mengamuk di latar belakang, namun di radius lima meter di sekitarku, waktu seolah berjalan lebih lambat. Keheningan yang berasal dari motor usang tak bersuara di depanku menelan segalanya.
Logika normalku mencoba mengambil alih kepanikan yang nyaris meledak. Mungkin dia matiin mesinnya biar ngirit bensin. Mungkin dia mendorong motornya dari arah jalan raya tadi dan aku nggak merhatiin karena asik main hape. Nggak mungkin dia keluar dari jalan buntu. Otakku terus memproduksi skenario-skenario rasional, sebuah mekanisme pertahanan diri murahan untuk menenangkan debar jantung yang sudah mencapai kerongkongan.
Aku menelan ludah, memaksa pita suaraku bekerja.
"Pak... Suryo?" panggilku. Suaraku terdengar bergetar, lemah, dan hilang tertiup angin malam.
Sosok di atasku sama sekali tidak bergeming. Tidak ada anggukan. Tidak ada helaan napas yang biasanya terlihat dari naik-turunnya bahu. Helm hitam pudar dengan kaca penuh goresan itu tetap menghadap ke depan, lurus menembus dinding kaca lobi di belakangku. Ia hanya diam seperti patung lilin yang ditinggalkan di tengah badai.
Lalu, dengan gerakan yang sangat mekanis dan kaku—seperti mesin berkarat yang dipaksa bergerak—tangan kanannya yang terbalut sarung tangan hitam legam melepaskan cengkeramannya dari stang motor. Tangan itu perlahan turun, mengambil sebuah helm half-face butut dari gantungan di bawah stang, lalu menyodorkannya ke arahku tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya terulur ke belakang, mengambang di udara.
Aku menatap helm itu. Warnanya abu-abu kusam, basah kuyup oleh air hujan, dan tali pengikatnya tampak berjumbai.
Setengah ragu, dan didorong oleh rasa putus asa untuk segera pergi dari lobi ini, aku melangkah maju. Tanganku gemetar saat meraih helm tersebut dari tangannya. Saat jemariku tanpa sengaja menyentuh permukaan sarung tangan basah miliknya, aku tersentak pelan. Sensasi yang kurasakan bukan sekadar dinginnya air hujan. Itu adalah rasa dingin yang tajam dan menggigit, seperti menyentuh balok es yang baru dikeluarkan dari freezer. Tidak ada suhu tubuh manusia di balik kain sarung tangan itu.
Aku cepat-cepat menarik tanganku. Jas hujan kelelawarnya yang bagian belakangnya terbuka lebar mengundangku untuk segera naik. Aku memakai helm bau apek yang menyengat hidung—campuran aroma tanah basah, lumut, dan sesuatu yang manis serta anyir—lalu naik ke jok belakang motor. Jok kulit itu terasa keras dan licin karena air.
Aku sengaja duduk agak mundur, menjaga jarak sejengkal dari punggungnya yang terbalut jas hujan basah. Aku harus berpegangan pada besi belakang jok agar tidak tergelincir.
"Ke titik aplikasi ya, Pak," ujarku pelan, setengah berteriak melawan suara hujan.
Lagi-lagi, tidak ada jawaban verbal. Tidak ada gumaman 'ya'.
Hanya dalam hitungan detik setelah aku memposisikan dudukku, motor ini bergerak maju. Tubuhku sedikit terdorong ke belakang karena hentakan awal. Kami meluncur meninggalkan kanopi gedung, langsung menembus tirai hujan lebat dan menyusuri jalan raya Jenderal Sudirman yang kosong melompong.
Seiring berjalannya waktu, kejanggalan demi kejanggalan mulai membombardir kewarasanku secara brutal.
Hal pertama yang menyita perhatianku adalah ketiadaan suara.
Meskipun kami kini melaju di atas jalan aspal yang digenangi air dengan kecepatan yang lumayan kencang—kutebak sekitar enam puluh kilometer per jam—motor ini tidak menghasilkan suara bising sekecil apa pun. Ketiadaan suara mesin pembakaran mungkin bisa dijelaskan jika ini adalah motor listrik, tetapi wujud fisik kendaraan ini adalah motor bebek tua tahun 2000-an awal. Karburator dan knalpot berkaratnya terlihat jelas di bagian bawah. Bagaimana mungkin mesin itu tidak bergetar? Bagaimana mungkin knalpotnya tidak menderu?
Bahkan, suara cipratan air dari ban yang membelah genangan seolah diredam oleh suatu filter pelenyap suara. Aku merasa seperti orang tuli yang sedang menonton film dokumenter tanpa audio. Gemuruh badai yang tadi memekakkan telinga saat aku berada di lobi, kini terdengar seperti bisikan tertahan di luar helmku. Kesunyian absolut di atas motor ini terasa menindas paru-paruku.
Kupandang punggung lebar di depanku. Jas hujan hijau lumutnya terus berkibar pelan. Pengemudi ini sama sekali tidak pernah menyesuaikan posisi duduknya. Ia mematung, kaku, bahunya terkunci lurus. Ia juga tidak menghindari lubang atau genangan air yang besar di jalanan; ia menabraknya begitu saja, membuat motor sesekali berguncang pelan, seolah ia tidak peduli atau memang tidak merasakannya.
Jalanan ibu kota yang biasanya dipenuhi lautan lampu merah dari ribuan kendaraan kini tampak mati. Deretan lampu jalan sodium berwarna kuning membentang tak berujung, namun sinarnya tampak redup dan sakit, tidak mampu menembus pekatnya malam. Tidak ada mobil yang menyalip kami. Tidak ada pejalan kaki di trotoar. Seolah-olah badai ini telah mengevakuasi semua makhluk hidup dari kota, menyisakan kami berdua di jalanan ini.
Hawa dingin kembali menyerang. Kali ini jauh lebih agresif.
Sensasi dingin itu bukan berasal dari air hujan yang merembes ke celah kardiganku. Udara dingin itu memancar keluar dari sosok pengemudi di depanku. Suhu di area tepat di belakang punggungnya terasa seperti minus derajat celcius. Udara membeku di sekitarku, embun napasku sendiri berubah menjadi kabut tebal di dalam visor helm yang kukenakan. Gigi-gigiku mulai bergemeretak tak terkendali. Tulang-tulang rusukku bergetar hebat. Aku mencoba merapatkan kedua tanganku ke dada, memeluk diriku sendiri, namun hawa dingin itu menembus pori-poriku, membekukan darah di pembuluh nadiku.
"P-Pak... bisa pelanan dikit nggak?" suaraku pecah dan bergetar hebat. "D-Dingin banget, Pak."
Sunyi.
Sosok itu terus menggas motor dalam keheningan total. Kecepatannya justru terasa perlahan bertambah. Angin malam yang memukul tubuhku terasa seperti silet es.
Rasa tidak nyaman di perutku perlahan bermutasi menjadi ketakutan murni. Insting primitifku mengambil alih. Ada yang salah dengan orang ini. Ada yang salah dengan motor ini. Ada yang salah dengan perjalanan ini.
Aku harus melihat wajahnya. Aku harus membuktikan pada diriku sendiri bahwa ada manusia—seorang bapak-bapak tua yang kelelahan, atau pemuda yang kedinginan—di balik setelan jas hujan usang dan helm hitam itu.
Posisi dudukku yang berada di kiri belakang memberikanku akses pandangan ke kaca spion kiri motor. Kaca spion itu berbentuk bulat, gagangnya berkarat, posisinya sedikit miring ke dalam. Jika aku mencondongkan kepalaku sedikit saja ke kiri, aku seharusnya bisa melihat pantulan mata atau hidungnya dari balik kaca spion tersebut, diterangi oleh lampu jalan yang kami lewati.
Aku menelan ludah yang terasa tajam seperti pecahan kaca. Dengan gerakan lambat, aku mencondongkan tubuhku ke kiri, memiringkan leherku agar garis pandangku tepat mengenai sudut kaca spion yang berembun itu.
Cahaya lampu jalan kuning melintas di permukaan kaca spion, menerangi pantulan visor helm si pengemudi.
Mataku melebar di balik helmku sendiri. Napasku berhenti mengalir.
Sudut pantulan di kaca spion itu sudah pas. Helm full-face miliknya memiliki visor bening yang seharusnya tembus pandang jika tersorot cahaya langsung dari arah depan atas. Cahaya lampu jalan jelas-jelas mengenai bagian depan helmnya.
Tapi aku tidak melihat apa-apa.
Tidak ada hidung. Tidak ada kilatan mata yang memantulkan cahaya. Tidak ada kulit, tulang pipi, atau bibir. Di balik kaca visor helm yang kusam itu, hanya ada kegelapan absolut. Sebuah kekosongan pekat yang menyerupai lubang hitam, yang dengan rakusnya menyedot semua cahaya lampu jalan di sekitarnya. Seolah-olah di dalam helm itu tidak ada kepala manusia sama sekali, atau ruang di dalamnya terhubung dengan dimensi kegelapan yang tak berdasar.
Tanganku yang tadinya memegang besi belakang jok motor kini bergetar brutal, genggamanku mengendur. Kepanikan yang sesungguhnya meledak di dalam kepalaku. Pandanganku berkunang-kunang.
Motor ini terus meluncur tanpa suara di jalanan beton yang basah, menembus rintik hujan yang membeku. Udara di sekitarku semakin membekukan darahku. Dan di detik itu, menyadari ketiadaan wajah di balik cermin spion, sebuah kenyataan mengerikan menghantam otak rasionalku tanpa ampun.
Aku tidak sedang diantar pulang.
Aku sedang dibawa ke suatu tempat yang tidak seharusnya, oleh sesuatu yang sudah lama tidak bernapas.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar